Aku tersipu ketika Mas Adam mengusap keringat di pelipisku dengan lembut. Kemudian, ia melumat bibirku sebelum akhirnya ia memindahkan tubuhnya dari atasku menjadi ke samping. Masih dengan napas yang terengah-engah, sama sepertiku. Si pencuri ciuman tadi yang tiba-tiba membangunkanku tentu saja Mas Adam. Tidak mungkin orang lain. Meski sebelumnya aku takut kalau itu orang lain yang menyelinap masuk ke kamar Mas Adam, namun aku kembali tenang ketika mendengar suara Mas Adam menyapaku. Aku menarik selimut hingga ke dadaku, dan menatap langit-langit kamar dengan perasaan canggung. Ini bukan pertama kalinya memang, tapi tetap saja aku masih malu. "Mas Adam kalo datang tuh jangan tiba-tiba kek tadi. Kirain orang jahat," sungutku membuka pembicaraan. Mas Adam justru tergelak. Ia tiba-tiba m

