Setiap kali Katherine mengingat janin yang pernah dia gugurkan, rasa bersalah menyelimuti dadanya seperti kabut tebal yang tak pernah bisa menghilang. Dosa itu membekas, menancap di relung hatinya, dan menjadi mimpi buruk yang terus menghantui malam-malamnya. Sudah beberapa hari mimpi itu tidak datang. Katherine sempat mengira dia tidak akan pernah melihat mimpi buruk itu lagi. Namun malam ini, mimpi itu kembali. Seperti biasa, dalam mimpinya, seorang anak kecil berdiri di kejauhan. Matanya penuh air mata. Tubuhnya mungil, namun sorot matanya menyayat. “Mama, kenapa kau membunuh aku?” Katherine menggigil dalam tidurnya. “Kenapa, Mama? Aku juga ingin hidup. Kenapa Mama membunuhku?” Tangis anak itu menggema, seperti gaung dari alam yang tidak terlihat. Suara-suara bayi menangis terde

