Bab 1. Putus Asa
POV
"Lepaskan pakaianmu. Sekarang."
Nada suaranya dingin dan mengancam, bagai cambuk yang mencambuk harga diri Katherine hingga koyak. Tatapan matanya menembus tajam, menelanjangi bukan hanya tubuhnya, tapi juga seluruh martabatnya.
Tak ada ruang untuk menolak. Perintah itu adalah vonis.
Paul menarik tubuhnya ke atas ranjang yang dulu pernah menjadi saksi bisu dari cinta mereka. Namun kini, tempat itu hanya menyisakan kenangan pahit. Sentuhannya tidak lagi hangat. Tidak lagi mencintai. Yang tersisa hanya amarah, dendam, dan kebencian yang membakar habis segala sisa kasih di antara mereka.
Dia memperlakukannya seperti seorang wan*ta mur*han, seolah ia bisa dibeli dengan segenggam uang kotor di klub malam. Setiap gerakan Paul seperti hukuman, seperti upaya untuk menenggelamkan Katherine ke dasar jurang yang paling gelap.
Dan ia pasrah, tubuhnya membeku, begitu juga hatinya.
Apakah penderitaan ini akan berakhir?
Atau justru ini awal dari kehancurannya?
***
"Dokter! Cepat panggil dokter!"
Katherine berlari keluar dari ruang perawatan, wajahnya pucat, napasnya memburu. Suaranya menggema panik di lorong rumah sakit yang lengang.
Ayahnya baru saja memuntahkan darah. Darah segar. Begitu banyak. Dan itu membuatnya nyaris kehilangan akal.
"Dokter! Tolong, seseorang tolong aku!" teriaknya sambil menahan isak. Ketakutan membekukan tubuhnya, tapi dia tetap berlari karena itulah satu-satunya hal yang bisa dia lakukan.
Seorang perawat mendekat dengan langkah cepat. “Apa yang terjadi, Nona?”
“Ayahku! Dia... dia sekarat!” Katherine mencengkeram lengan perawat itu, tubuhnya gemetar. Air matanya jatuh tanpa henti, seolah ingin menyuarakan semua rasa putus asa yang tak sanggup diucapkan.
"Aku mohon… selamatkan dia..."
Dia tidak memiliki siapapun selain ayahnya saja. Dia tidak mau kehilangannya.
Tanpa berkata apa-apa, sang perawat segera bergegas. Katherine mengekor di belakangnya, jantungnya seperti akan meledak. Lima tahun. Lima tahun ayahnya melawan penyakit itu, dan selama itu pula dia mengorbankan segalanya. Harta, masa depan, bahkan cinta.
Kini, mereka tinggal sebatang kara. Rumah dan perusahaan sudah tak ada. Harapannya pun nyaris punah.
Keadaan ayahnya mulai diperiksa. Katherine menunggu dengan perasaan cemas. Dia harap ayahnya baik-baik saja dan tidak meninggalkan dirinya.
“Bagaimana, apakah ayahku baik-baik saja?”
“Nona tidak perlu cemas. Ayahmu hanya butuh istirahat saja,” mendengar itu membuatnya sedikit lega.
“Segeralah tebus obatnya, keadaannya akan lebih membaik setelah dia meminum obatnya,” Katherine menunduk mendengar perkataan dokter itu.
Dia sudah tidak memiliki uang lagi untuk menebus obat yang begitu mahal. Dia hanya bekerja di sebuah restoran dengan gaji yang tidak terlalu besar. Seluruh uangnya pun dia gunakan untuk biaya rumah sakit tapi semua itu kurang.
“Nona, biaya administrasi juga harus segera dibayar,” perawat menambahkan.
Katherine mengangguk pelan. “Akan aku bayar,” padahal ia tahu, dia tidak memiliki uang lagi.
Setelah semua pergi, Katherine duduk di sisi tempat tidur. Ia meraih tangan ayahnya yang kurus itu dan menggenggamnya erat.
Alan Theron meraba pelan, mencari keberadaan putrinya.
"Aku di sini Dad."
“Jangan melakukan apa pun lagi, Daddy tahu kau sudah tidak mampu.”
“Tidak, Dad. Aku masih bisa berjuang untukmu. Aku akan segera menebus obatnya dan membayar biaya rumah sakit. Daddy tidak perlu mencemaskan hal ini.”
“Tidak, kita sudah kehilangan semuanya tapi penyakit ini tidak kunjung sembuh. Seharusnya Daddy disuntik mati supaya tidak mempersulit dirimu.”
“Stop, Dad. Jangan berbicara seperti itu. Selagi aku masih bernafas, aku tidak akan menyerah dan aku akan terus berjuang sampai penyakit Daddy bisa disembuhkan!”
“Jangan menipu diri sendiri!” Alan menggenggam tangan putrinya, “Penyakit ini sudah tidak bisa sembuh dan kau tahu itu.
Apa pun yang dilakukan oleh dokter itu, dia tidak akan pernah bisa menyembuhkan penyakit Daddy!” Dia lebih suka Tuhan mengambil nyawanya daripada mempersulit putrinya.
“Walaupun penyakit Daddy sudah tidak bisa disembuhkan, bukan berarti aku harus meninggalkan Daddy begitu saja. Aku pun tidak setuju dengan keputusan Daddy untuk disuntik mati!”
“Jika begitu biarkan ayahmu ini melompat dari jendela. Aku yang akan menanggung segala dosanya daripada aku mempersulit hidupmu,” Ucapan ayahnya menghujam seperti pisau
“Tidak, tolong jangan berpikir seperti itu!” Katherine tak kuasa menahan air matanya, “Yang aku miliki hanya Daddy saja. Jika sampai Daddy mengambil jalan nekat dengan melompat keluar dari jendela maka aku akan menyusul. Aku akan merasa bersalah karena aku begitu tidak berguna sebagai putrimu,” dia akan mengutuk dirinya jika sampai ayahnya bunuh diri hanya karena tidak mau merepotkan dirinya.
“Tidak, jangan melakukan hal itu!” Perkataan putrinya justru membuatnya cemas. Jangan sampai Katherine menyusul dirinya dengan melakukan tindakan bodoh seperti itu.
“Oleh karena itu jangan melakukan hal bodoh. Jika Daddy melakukannya maka percayalah, aku pun akan melakukannya.”
“Daddy hanya tidak ingin mempersulit hidupmu, Katherine. Kau mengorbankan kebahagiaanmu demi Daddy. Kau pun harus berjuang mati-matian demi Daddy. Bagaimana Daddy bisa mati dengan tenang ?” Dialah yang telah merenggut hidup putrinya dan kebahagiaan Katherine.
“Daddy tidak perlu memikirkan hal itu. Aku akan mendapatkan kebahagiaanku nanti,” dia tidak tahu apakah dia akan mendapatkannya lagi karena dia telah meninggalkan orang yang sangat dia cintai dulu.
“Daddy merasa bersalah padamu, Katherine,” air mata membanjiri kelopak mata pria tua itu.
“Jangan menangis, Dad. Tolong jangan menangis!” Katherine pun tak kuasa menahan air mata. Dia tidak akan berhenti memberikan yang terbaik untuk ayahnya tapi apa yang harus dia lakukan?
Semua terasa begitu mustahil. Semua jalan tertutup untuk dirinya. Apa dia harus menjual diri untuk mendapatkan sejumlah uang?
“Beristirahatlah, Dad. Aku harus keluar untuk mengurus biaya administrasi. Ingat, jangan melakukan perbuatan bodoh karena aku akan menyusul!”
“Daddy tahu,” ayahnya tersenyum. Guratan di wajahnya terlihat jelas. Tubuhnya begitu kurus dan kedua pipinya sudah cekung ke dalam.
Katherine mencium dahi ayahnya terlebih dahulu sebelum dia keluar dari ruangan itu. Dia pergi ke tempat pembayaran. Dia diminta untuk segera menyelesaikannya tapi Katherine meminta waktu selama beberapa hari.
Dia berjanji akan melunasinya tapi jika dalam waktu 3 hari dia tak mampu maka ayahnya akan diusir dari rumah sakit itu.
Sekarang dia berada di dalam dilema berat. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan untuk mendapatkan uang.
Katherine berjalan pergi, tanpa tujuan arah. Dia mencoba menenangkan pikiran tapi dia tak menemukan jawaban atas permasalahan yang sedang dia alami.
“Apakah harus berakhir seperti ini, Dad?” Dia memiliki pikiran jahat. Dia akan mati bersama dengan ayahnya agar beban hidupnya segera berakhir. Uang untuk membeli racun, tentu dia punya.
Dia kembali berjalan tanpa melihat sekitarnya. Dia sudah siap mati jika memang hal itu terjadi. Dia tidak peduli dengan nyawanya bahkan dia tidak menghindari sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi ke arahnya.
Katherine menghentikan langkah, dia menantang maut karena dia diam saja. Dia siap mati, benar-benar siap mati tapi sebelum mobil itu menabraknya, mobil itu mengerem mendadak.
Sopir mobil itu keluar, "Nona, apa kau sudah gila?!” Sopir itu berteriak marah padanya.
Katherine tak menjawab, hanya air mata saja yang tak berhenti mengalir.
“Menyingkir dari jalanku!” Sopir itu kembali berteriak tapi Katherine tidak juga menyingkir.
Apa yang dia lakukan membuat kesal. Seorang pria yang duduk dengan nyaman melihat ke arah Katherine. Pria itu terkejut, dia bergegas keluar dari mobil sebelum Katherine pergi.
“Katherine!”
Langkahnya terhenti. Suara itu…
Dia berbalik perlahan. Wajahnya pucat, tubuhnya lelah, tapi hatinya masih mengenali rupa pria itu dengan jelas.
“Pa… Paul…” gumamnya lirih, nyaris tak terdengar.
Pria itu berdiri di hadapannya, menatap dengan dingin. Matanya penuh kebencian.
Tatapan yang membuat segalanya runtuh.