Bab 2. Jadilah Pemuas Nafsuku

1021 Kata
Tak pernah sekalipun terlintas di benak Katherine bahwa ia akan kembali bertemu dengan pria yang paling ingin ia lupakan, mantan kekasihnya, Paul Jackson. Lima tahun berlalu sejak mereka berpisah tanpa kata, dan luka serta rasa bersalah itu belum juga sembuh. Tapi kini, nasib mempertemukan mereka dalam keadaan yang begitu menyakitkan. Paul, pria yang dulu pernah ia cintai, berdiri tegap di hadapannya. Matanya menatap tajam, penuh amarah yang tak lagi bisa disembunyikan. Sementara Katherine, dengan pakaian kusam dan wajah pucat karena kelaparan hanya mampu mundur selangkah, terkejut, malu, dan sedikit takut. “Well, well… coba lihat siapa yang berdiri di tengah jalan seperti pengemis. Apa kau ingin mati, Katherine?” Suaranya sinis, menusuk seperti sembilu. Paul yang tidak pernah mengucapkan perkataan seperti itu padanya, kini mengucapkan perkataan itu dengan begitu mudah. Memangnya apa yang diharapkan? Katherine tersenyum lemah. Ia tahu, Paul membencinya. Dan dia tidak menyalahkan pria itu. Bagaimanapun, dia memang yang bersalah. “Lama tak bertemu, Paul. Kau masih terlihat seperti dulu,” ucapnya basa-basi. Walaupun pria itu membencinya tapi dia tidak boleh terlihat begitu menyedihkan meskipun keadaan sudah menunjukkan apa yang terjadi dengannya saat ini. “Seperti apa maksudmu? Pria yang dulu kau campakkan tanpa alasan, Memangnya kau tahu apa?” balas Paul tajam. Ada nada kecewa bercampur amarah dari nada bicaranya. Katherine menunduk, tak mampu menjawab. “Maaf, aku?” “Sudah terlambat!” Ucap Paul. Dia melangkah maju dan mencengkeram dagu Katherine. Jemarinya mencengkeram kuat, membuat wajah Katherine menegang. “Sudah terlalu terlambat untuk permintaan maaf, Katherine. Kau bisa pergi, tapi jangan pernah kembali tanpa alasan. Kau tahu betapa hancurnya aku saat itu?” Kebencian di mata Paul bukan tanpa sebab. Dia mencintai Katherine sepenuh hati. Dulu, dia rela melakukan apa pun demi wanita itu. Katherine adalah segalanya. Dia memberikan apa pun untuknya karena Katherine begitu berharga bagi dirinya. Namun tanpa penjelasan, wanita itu pergi. Meninggalkan dirinya begitu saja. Malam saat ia menyadari kepergian Katherine, Paul menghabiskan waktunya di bar, menenggelamkan diri dalam alkohol. Dia bertanya pada diri sendiri. Kesalahan apa yang telah dia lakukan sampai membuat Katherine pergi meninggalkan dirinya? Dia menghabiskan banyak minuman tapi dia tak menemukan jawabannya karena dia tidak merasa telah menyakiti Katherine. Dalam mabuknya, ia bertemu Elena. Satu malam yang tak disengaja membawa konsekuensi seumur hidup. Elena hamil, akibat ulahnya. Dengan enggan, Paul memilih bertanggung jawab. Ia menjadikan wanita itu tunangannya, meski tak mencintainya sedikit pun. Untuk menyembunyikan aib itu, Paul berbohong kepada semua orang. Di mengaku sebagai duda dan menyembunyikan hubungannya dengan Elena. Semua demi menjaga harga diri yang hancur karena Katherine Katherine tersenyum tipis. Apa yang harus dia katakan? Apakah Paul akan percaya dengan apa yang dia katakan? “Apa yang membuatmu tersenyum sekarang?” Nentak Paul. Cengkramannya semakin kuat. “Aku tidak punya pilihan lain, Paul,” ucap Katherine perlahan. “Kita tidak lagi memiliki hubungan. Dan aku rasa, aku tak punya hak untuk menjelaskan alasan kepergianku.” “Oh, jadi begitu? Jadi, bagimu hubungan yang kita jalin sekian lama tidaklah penting? Kebersamaan kita berdua, dan hari-hari yang kita lewati, jadi semua itu tidak berarti bagimu?" Amarah dan rasa kecewa semakin besar dia rasakan “Tidak, aku… aku merasa tak pantas untukmu. Itu sebabnya aku pergi.” “Omong kosong!” Desis Paul. Dagu Katherine didorong dengan kasar, “Jika hubungan kita hanya seumur jagung, mungkin aku bisa menerimanya. Tapi kita sudah bersama selama bertahun-tahun, Katherine! Aku mencintaimu. Tapi kau... kau menghancurkanku!” “Aku tahu kau tidak akan percaya,” Katherine terdiam, tak kuasa melanjutkan kata. “Menjijikkan. Aku benci padamu, Katherine. Melebihi siapa pun.” Ucapan Paul seperti cambuk. Katherine tersenyum tipis, senyuman yang menyimpan sejuta luka. Dia sudah tahu itu. Tapi mendengarnya secara langsung, rasanya cukup menyakitkan meskipun dia yang salah. “Maaf,” lirihnya. Senyuman yang kembali dia tunjukkan membuat Paul gusar. "Cih!" Paul berbalik, menuju mobilnya. Dia meninggalkan Katherine karena dia tidak ingin berlama-lama dengan wanita yang telah mencampakkan dirinya. Bahkan rasa ingin tahu akan alasan Katherine pergi pun telah mati. Katherine memandanginya dengan tatapan sayu. Dia tahu Paul kecewa pada dirinya. Dia memang pantas dibenci oleh pria itu. Hatinya sakit karena masih ada rasa cinta untuk pria itu. Tapi dia sudah tidak berhak memiliki dirinya lagi. Mereka berdua telah selesai. Akan tetapi, sebuah ide gila pun muncul. Pertemuan itu, dia yakin terjadi bukan tanpa disengaja. Selama lima tahun, mereka tidak pernah bertemu sama sekali tapi kenapa sekarang mereka justru dipertemukan? Disaat dia sedang membutuhkan bantuan? Paul hampir mencapai pintu mobil, Katherine memanggilnya dengan suara lirih namun penuh tekad. “Paul, tunggu!” Paul berhenti, dia menoleh dengan pandangan dingin. “Aku hanya ingin bicara… bukan tentang kita.” “Aku tak peduli,” balas Paul tajam. “Kita adalah orang asing sekarang. Dan aku benci dirimu.” “Aku tahu. Tapi tolong, aku butuh bantuanmu.” Paul mengangkat alis, mencibir. “Bantuan? Kau datang padaku, meminta tolong, setelah lima tahun menghilang? Urat malumu sudah putus, atau kau sudah gila?” “Ya, aku mungkin tak tahu malu dan sudah gila. Anggap demikian tapi aku sudah tidak punya jalan lain.” "Bukan urusanku." "Aku mohon, Paul. Ayahku, dia sakit. Kami tak punya uang dan aku?" "Lakukan!" "Apa?" Katherine terkejut. "Berlutut, Katherine. Buktikan betapa putus asanya dirimu!" Katherine menggigit bibirnya, tubuhnya bergetar. Tapi ia tahu, ini bukan tentang harga diri lagi. Ia butuh bantuan, dan Paul satu-satunya harapan. Dengan perlahan, ia berlutut di hadapan pria yang dulu begitu ia cintai. "Aku mohon, ayahku butuh operasi. Aku butuh uang. Hanya kau yang bisa membantu aku!" Paul menatapnya dari atas. Dulu, ia tak akan pernah membiarkan wanita itu dipermalukan. Tapi kini, hatinya sudah membeku. "Kenapa tidak menjual dirimu saja?" Ucapnya dingin. "Aku bukan w************n!" "Kalau begitu, jadilah w************n, untukku." "Apa maksudmu?" Katherine terperanjat. "Jika kau ingin uang, jadilah pemuas nafsuku. Jika kau bersedia, temui aku besok malam" Tatapannya tajam, menyakitkan. Tanpa menunggu jawaban, Paul masuk ke mobil, meninggalkan Katherine yang masih berlutut di trotoar. Inikah ganjaran dari apa yang telah dia lakukan lima tahun lalu? Angin malam mengusap pipinya. Ia tidak bergerak. Tidak marah. Tidak menangis. Hanya menatap kosong ke arah mobil yang menjauh. Jika harga dirinya harus dikorbankan untuk menyelamatkan ayahnya… mungkin ia akan melakukannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN