Panik dan ketakutan menyerbu Elena seperti badai yang datang tanpa aba-aba. Tubuhnya gemetar saat tangannya meraih ikat pinggang yang tergeletak di lantai. Dengan tergesa-gesa, ia menyembunyikan benda itu di balik lemari. Jangan sampai Paul melihatnya. Dia tidak menduga, Paul akan datang. Dia sangat berharap pria itu tidak mengetahui apa yang dia lakukan. “Elena!” Suara Paul menggelegar dari luar kamar. Lalu... BRAK! Pintu ditendang keras hingga terbuka. Wajah Paul merah padam oleh kemarahan. Napasnya memburu. Matanya menatap tajam seperti elang siap menerkam. Elena terkejut, begitu juga dengan Alex. Dia tahu barada dalam masalah dan dia harus mencari cara agar Paul tidak curiga. Tanpa berpikir panjang, Elena menggendong Alex. Hanya putranya yang bisa menjadi penyelamat saat ini.

