Bab 9. Dosa Yang Mencuat

1050 Kata
Katherine mematung. Dunia di sekelilingnya seperti menghilang, tenggelam dalam kabut yang membungkus pikirannya. Hanya anak laki-laki itu yang ada dalam pandangannya, dengan wajah polos yang membawanya pada satu laki-laki yang telah dia kecewakan. Tangannya gemetar saat ia mengulurkan jari, menyentuh lembut kepala anak itu. Dia menahan diri, berusaha kuat. Meski di dalam dirinya puluhan pertanyaan saling bertabrakan, membentuk kekacauan yang menyakitkan. Bagaimana mungkin anak ini begitu mirip dengan Paul? Apakah Paul telah menikah setelah dia pergi? “Tolong aku, Aunty,” suara anak itu lirih, hampir tak terdengar, namun jelas menyayat hati. “Mommy ingin memukulku, Aunty harus tolong aku,” Air mata dihapus dengan punggung tangannya yang tampak rapuh. “Apa yang terjadi, mana ibumu?” “Mommy ingin memukulku, Aunty,” dia kembali mengucapkan perkataan yang sama. “Benarkah?” Katherine melihat sekeliling, untuk mencari keberadaan ibu dari anak itu. “Kau pasti hanya salah paham saja. Ibumu tidak mungkin memukulmu,” dia mengambil sebuah permen dari dalam saku kemejanya, “Aunty punya permen, jangan menangis lagi,” air mata anak itu dihapus. “Tidak, Aunty. Mommy memang ingin memukulku!” “Alex!” Sebuah suara tajam menyela. Katherine berdiri. Seorang wanita muda melangkah cepat ke arah mereka. Anak itu, Alex, bergegas bersembunyi di balik kaki Katherine, tubuhnya gemetar hebat. Dia mencengkram permen yang tadi diberikan seolah itu adalah satu-satunya hal yang bisa menyelamatkannya. “Alex!” seru wanita itu lagi. Dia berdiri tepat di depan Katherine. “Apa yang kau lakukan? Mengapa kau berlari begitu saja?!” Dia hendak menarik anaknya, tapi Alex menolak. “Tidak mau, Mommy!” “Alex!” Wanita itu kembali memanggil. Apakah mereka memiliki hubungan dengan Paul? Wanita itu, dia adalah Elena. Wanita yang telah menghabiskan satu malam dengan Paul ketika pria itu begitu kecewa akan kepergiannya. Dia tidak pernah tahu akan hal itu, dia tidak pernah tahu jika dia telah menghancurkan Paul begitu dalam. “Kemarilah, kita harus pulang!” Elena hendak meraih tangan putranya lagi tapi Alex kembali menghindar. “Tidak mau. Alex tidak mau pulang. Mommy pasti akan menghukum Alex lagi karena Daddy tidak datang!” Jantung Katherine seolah jatuh padahal apa yang dia pikirkan belum tentu. Dia pernah mendengar Paul memiliki saudara kembar. Bisa saja anak itu adalah putra dari saudara kembarnya. “Mommy tidak akan menghukummu, percayalah,” Elena jadi malu karena kelakuan putranya. Alex pun begitu menempel pada pelayan itu. Dia memeluknya seolah-olah tidak mau menyingkir darinya. Dan sialnya, pelayan itu pun tidak mau menyingkir. “Mommy bohong, Mommy berbohong!” Alex kembali menangis. Dia selalu menjadi sasaran empuk atas amarah ibunya jika jika ayahnya tidak jadi datang untuk menemui mereka. “Nyonya, aku merasa?” “Menyingkir. Jangan menghalangi aku!” Elena menyela ucapannya dengan sinis. “Maaf, ini memang bukan urusanku tapi kau tidak boleh menakuti anak kecil seperti ini.” “Dia adalah Putraku. Atas dasar apa kau berbicara seperti itu padaku?!” Elena memandangi Katherine dari atas sampai ke bawah. Dia tak dapat mengenali Katherine karena masker yang dia gunakan itu. “Sebaiknya menyingkir sebelum aku memanggil manajer mu lalu melaporkan hal ini padanya. Aku pastikan kau kehilangan pekerjaanmu jika kau berani ikut campur dalam permasalahanku!” “Tapi jangan memperlakukan dirinya seperti ini apalagi dia adalah putramu!” “Menyingkir!” Teriakan itu menggema di seluruh ruangan. Beberapa tamu menoleh. Suasana menjadi tegang. Dan Katherine tahu, dia tak bisa berbuat apa-apa. Dengan perasaan berat, ia melangkah mundur. Alex ditarik dengan kasar. Tangisnya tetap terdengar, menggema dalam benak Katherine seperti gema dari masa lalu yang tak pernah selesai. Dadanya semakin sesak. Bukan saja karena sosok anak laki-laki itu, bukan karena kenangan masa lalunya bersama dengan Paul, tapi karena dosa besar. Dosa yang berusaha dia lupakan tapi dengan perlahan mulai terpampang jelas di depan matanya. Ia berlari, tak tahan lagi menahan tangis. Tangisan bayi menggema di telinganya. Bayi yang tak pernah sempat ia peluk, yang tak pernah sempat menangis di pelukannya. Dia mengunci diri di kamar mandi, menutup wajahnya, menjerit dalam diam. “Maaf… maafkan aku…” Tangannya mencengkram perutnya sendiri. Tempat di mana dulu, sebuah kehidupan sempat tumbuh. Kehidupan yang dia tolak dan yang dia bunuh. Dosa dan aib yang dia lakukan, terpampang nyata di depan mata seolah menuntut pertanggungjawabannya sekarang. Seharusnya tidak dia bunuh, seharusnya tidak tapi waktu itu dia terlalu takut dan sekarang hanya tersisa penyesalan saja yang dia rasakan. Apakah waktu bisa diulang? Apakah dia bisa memperbaiki segala dosa dan kesalahan yang telah dia lakukan? Katherine keluar dari kamar mandi. Wajahnya dicuci terlebih dahulu. Dia memandangi rupanya dari depan cermin. Lihatlah. Dia adalah seorang penjahat, penjahat yang telah merenggut hidup bayi mungil tak berdosa yang tidak menginginkan hadir dalam hidupnya. Dia telah membunuhnya padahal bayi itu berhak hidup. Pantas saja dia tidak pernah bahagia setelah kejadian itu. Dia mendapatkan hukumannya, hukuman yang setimpal atas dosa-dosanya. Dia malu, malu pada diri sendiri dan malu pada dunia. Benar yang Paul katakan, dia hanyalah seorang p*****r dan dia tidak akan pernah bahagia. Masker kembali dikenakan karena Emma dan teman-temannya masih berada di sana. Dia tak ingin siapapun mengenali dirinya. Akan tetapi, ketika dia keluar dari kamar mandi, dia justru berpapasan dengan Emma. “Tunggu!” Emma menahannya. Hati kecilnya berkata dia harus melakukan hal itu. Dia pun sangat yakin wanita itu adalah Katherine, sahabat baiknya dulu. “Apa ada yang bisa aku bantu, Nona?” Dia berpura-pura. “Tidak perlu berbohong. Kau pasti Katherine. Jangan kau kira kau bisa membohongi aku!” “Nona, sudah aku katakan, aku bukan Katherine. Aku permisi karena banyak pekerjaan yang harus aku lakukan!” Katherine melangkah pergi, meninggalkan dirinya. “Aku tahu itu kau, Katherine. Kau bisa menipu yang lain, tapi kau tidak akan bisa menipu aku. Kenapa, kenapa kau pergi tanpa kabar dan kenapa kau tidak pernah mencari kami lagi?!” Emma terdengar kecewa dan dia pantas dibenci oleh sahabat-sahabatnya. Katherine tak menjawab. Dia melangkah dengan cepat sambil menahan segala perasaan yang menyesakkan d**a. Semuanya terasa sakit. Pertemuannya dengan sahabat-sahabatnya dan pertemuannya dengan anak laki-laki yang mirip dengan Paul, justru mengingatkan dirinya akan dosa besar yang telah dia lakukan. Kenapa? Dia sudah berusaha melupakan semuanya tapi masa lalu yang berusaha dia singkirkan seolah mencuat dan menuntut dirinya untuk menjelaskan pada dunia apa yang telah dia lakukan pada waktu itu. Dan dia tidak akan pernah sanggup, saat mereka tahu aib dan dosa yang telah dia lakukan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN