"Bisakah kau membuka kacamata dan topimu, disini sama sekali tidak ada paparazi. Benda-benda sialan itu menutupi wajah tampanmu."
"Cepatlah selesaikan urusanmu, aku tidak punya banyak waktu." Erika mendengus kesal mendengar balasan Julian yang sedari tadi hanya berdiri sembari melipat kedua tangannya di depan d**a persis seperti seorang bodyguard. Ia bahkan sengaja memakai kacamata hitam dan topi untuk menutupi identitasnya berjaga-jaga ada yang mengenalinya.
Erika kembali melihat-lihat ekstrak-ekstrak aroma baru yang bisa ia explore. Persediannya sudah hampir habis, jadi ia harus kembali mencarinya dan berharap menemukan sesuatu yang menarik. Juliah hanya menunggu dengan hati yang kesal karena harus terjebak dengan gadis itu di tempat ini. Ia hanya tidak ingin nantinya gadis ini membuat sesuatu yang lebih nekat lagi jika Julian tidak mengikuti keingannya untuk menemaninya pergi hari ini.
Masih teringat jelas oleh Julian saat Erika tiba-tiba datang ke tempat pemotretannya dan menyusup ke dalam ruang gantinya. Ia benar-benar gadis yang sangat berani. Bahkan sama sekali tidak terlihat keraguan dalam hidupnya. Julian tidak mengerti mengapa bisa ada gadis sepertinya di dunia ini. Benar-benar di luar nalar.
Mata Julian mengedar ke sekeliling toko ini yang tidak terlalu ramai pengunjung. Wangi berbagai macam maupun jenis parfum menyerebak memasuki indra penciumannya. Wanginya enak, tapi Julian sama sekali tidak tahu wangi apa ini. Pandangan Julian tiba-tiba terfokus pada seorang anak kecil yang tidak begitu jauh darinya sedang melihat-lihat ke arah lantai kesana kemari. Umurnya mungkin sekitar 5 tahun. Sepertinya gadis kecil itu kehilangan sesuatu. Julian awalnya hanya diam memperhatikannya. Wajahnya terlihat sangat lucu saat sedang kebingungan seperti itu. Melihatnya membuat Julian tertarik untuk juga melihat ke arah lantai merasa penasaran apa yang ia cari.
Baru saja Julian beberapa kali melirik kesana kemari, ia melihat sesuatu yang berkilau hanya beberapa langkah darinya. Julian mengambil barang berkilau yang merupakan anting-anting berbentuk kupu-kupu itu.
"Apa kau sedang mencari ini?" tanya Julian pada gadis kecil itu sembari memperlihatkan anting yang tadi ia temukan. Pupil mata gadis itu terlihat membesar lucu membuat Julian tersenyum. Itu artinya anting ini memang miliknya.
"Ya, itu yang aku cari. Bagaimana bisa paman menemukannya?"
"Entahlah, anting ini tadi ada disana." Julian menunjuk dimana tempat ia menemukannya. Ia memberikan anting itu pada gadis kecil itu.
"Terima kasih." Senyum lebar dengan deretan gigi yang rapi membuat gadis itu terlihat semakin menggemaskan.
"Sama-sama. Lain kali lebih berhati-hati agar tidak kembali hilang, mengerti?" Gadis kecil itu mengangguk paham. Julian tidak tahan untuk tidak menyentuhnya sehingga ia mengelus pucuk kepalanya lembut.
"Ya Julian! kenapa kau mengelus kepalanya?" Erika yang tiba-tiba datang langsung mengejutkan mereka.
"Hei anak kecil, pria ini adalah kekasihku, jadi jangan menatap dia seperti itu." Erika menggandeng lengan Julian membuat Julian menatapnya jengah. Bisa-bisanya ia mengatakan hal seperti itu kepada anak kecil. Gadis kecil itu hanya menatap Erika aneh kemudian berlalu pergi. Julian langsung melepaskan tangannya dari rangkulan Erika.
"Pasti anak itu menganggap kau sudah gila dengan mengomel seperti itu."
"Biar saja, aku tidak peduli," balas Erika santai terkesan tak acuh.
"Kenapa kau mengelus kepalanya seperti itu? harusnya kau mengelus kepalaku juga, cepat lakukan!" Erika mendekatkan kepalanya pada Julian. Julian menggeleng-gelengkan kepalanya semakin bingung dengan sikap gadis di hadapannya ini yang tidak pernah bisa ia tebak.
"Kau ingin ku elus?" Erika mengangguk cepat dengan senyuman sumringah yang tercipta di bibir tipis berwarna merah muda miliknya.
"Kembalilah menjadi anak umur 5 tahun," ucap Julian dengan nada datarnya kemudian berlalu begitu saja dari hadapan Erika keluar dari toko. Erika menghentak-hentakkan kakinya kesal kemudian mengikuti Julian yang sudah lebih dulu keluar dan memasuki mobilnya. Bisa-bisanya ia pergi setelah mengatakan hal yang menyebalkan seperti itu. Untung saja Erika sudah mendapatkan apa yang ia inginkan sehingga mereka bisa pergi sekarang.
***
"Ternyata kau bisa memasak."
"Apa bisa memasak ramen instan terlihat begitu luar biasa di matamu?"
"Entahlah. Bagiku semua yang kau lakukan terlihat luar biasa. Lagi pula aku tidak bisa memasak ramen." Julian hanya memutar bola matanya malas kembali menyesap ramen miliknya. Rasanya sangat pas memakan ramen yang cukup pedas ini saat kondisi cuaca di luar sangat dingin.
"Apakah kau tidak berniat untuk pulang?" Erika menggeleng setelah meminum habis kuah ramen dari mangkoknya. Gadis itu kini menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi saat merasa perutnya sudah terisi penuh sangat kenyang.
Julian meneguk habis sojunya sembari memperhatikan gadis yang seharian ini selalu menempel padanya. Ia bahkan tidak ingin diantarkan pulang hingga membuat Julian membawanya ke apartemen miliknya. Sebenarnya bukan Julian yang ingin membawanya, hanya saja ia memang ingin ikut. Memusingkan sekali sikap gadis ini bagi Julian. Padahal dirinya sedang lelah sekali. Ingin sekali rasanya menghabiskan waktu seharian di atas ranjang empuknya saat sedang tidak memiliki kesibukan bekerja seperti ini.
"Aku ingin mandi, dimana kamar mandimu? di dalam kamar?" Julian langsung menahan pergelangan tangan Erika yang hendak pergi ke kamarnya.
"Kau akan mandi disini? kau bisa pulang dan mandi dengan nyaman di rumahmu."
"Arin baru akan menjemputku sekitar satu jam lagi. Aku sudah tidak tahan untuk mandi. Aku berjanji tidak akan memegang barang-barangmu. Jangan khawatir Sayang." Erika mengedipkan sebelah matanya kemudian melepaskan tangannya dari Julian dan bergegas pergi melenggang memasuki kamar Julian begitu saja.
Julian mencoba mengatur nafasnya hingga ia menghela nafas sangat kasar. Ia merasa sebentar lagi akan gila jika terus menghadapi sikap gadis yang selalu seenaknya itu. Julian bergegas menyusul Erika untuk memberikannya stok jubah mandinya yang masih baru untuk di pakai gadis itu.
***
Sembari menunggu Erika selesai mandi, Julian memutuskan untuk kembali melanjutkan membaca naskah yang ia dapat untuk tawaran membintangi sebuah drama terbaru. Sejauh ini Julian suka dengan alur ceritanya yang unik dan beda dari karakter-karakter yang ia perankan sebelumnya. Ia duduk di kursi yang terdapat di balkon sembari menyesap coklat hangat untuk menghangatkan tubuhnya. Ia tidak tahu apa yang dilakukan gadis itu di dalam kamar mandi miliknya karena ia cukup lama berada di dalam sana.
Setelah beberapa lama akhirnya Erika keluar dari kamar mandi. Ia membutuhkan waktu cukup lama untuk mengeringkan rambutnya tadi. Erika keluar masih dengan jubah mandinya. Erika mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Julian. Matanya langsung menangkap sosok Julian yang sedang duduk di balkon. Sebelum menghampiri Julian, Erika memilih untuk melihat-lihat kamar Julian terlebih dahulu. Kamar ini tidak memiliki banyak barang dan hiasan. Warna abu-abu tua dan putih mendominasi kamar ini.
Erika tertarik pada sebuah meja di sudut ruangan yang berisi piala, sepertinya itu adalah piala pertama yang Julian dapatkan sebagai penghargaannya di dalam seni peran. Mata Erika menangkap beberapa foto yang terpanjang di atas meja. Senyumana terukir disudut bibirnya melihat foto-foto itu yang memperlihatkan Julian berpose dengan begitu tampannya. Satu foto mencuri perhatian Erika. Ia mengangkat foto itu agar bisa melihatnya secara dekat. Julian terlihat masih sangat muda di foto itu.
"Dia jauh banyak berubah," gumam Erika pelan mengelus foto itu dengan senyum semakin melebar.
"Bukankah kau mengatakan tidak akan menyentuh barangku?" Erika menoleh ke belakang mendapati Julian yang tengah berdiri beberapa langkah di belakangnya.
"Tadinya seperti itu. Tapi setelah melihat fotomu aku tidak tahan untuk tidak menyentuhnya. Kau tumbuh dengan sangat baik." Julian mendekati Erika kemudian mengambil fotonya dari tangan Erika dan melatakannya ke tempat semula.
"Apa menurutmu aku juga tumbuh dengan sangat baik?" tanya Erika. Julian terdiam sesaat menatap Erika.
"Sepertinya kau tumbuh dengan menyebalkan," ketusnya berlalu dari Erika. Erika mengerucutkan bibirnya kesal. Ia selalu membalas ketus seperti itu.
"Julian, pinjamkan aku bajumu."
"Tidak." Erika melangkah cepat mengikuti Julian yang hendak kembali ke balkon.
"Aku tidak mungkin memakai baju yang tadi lagi."
"Terserah."
"Ayolah, sepaling tidak pinjamkan sweatermu." Julian menghentikan langkah menatap gadis itu geram. Sedangkan yang ditatap hanya memberikan cengirannya.
"Aku hanya membiarkanmu mandi disini, bukan mengizinkanmu memakai pakaianku."
"Ya sudah kalau begitu aku tidak pakai baju saja." Erika bersiap untuk membuka jubah mandinya. Julian membulatkan matanya kemudian dengan cepat memeluk tubuh gadis itu agar menghentikan aksinya. Erika mati-matian menahan kekehannya melihat wajah panik Julian.
"Aku akan meminjamkannya, tapi jangan buka jubahmu disini."
"Baiklah." Julian langsung melepaskan pelukannya kemudian menuju lemarinya untuk mencarikan sweaternya untuk Erika. Ia memberikannya pada Erika dan membiarkan gadis itu kembali masuk ke dalam kamar mandi. Nafas Julian naik turun, gadis itu benar-benar membuatnya dalam kesulitan.
***
"Apa kasurmu sudah tidak senyaman biasanya hingga kau tidur di sofa?"
Julian yang baru terjaga menggeliatkan tubuhnya yang terasa tidur dengan tidak nyaman. Saat matanya setengah terbuka, ia bisa melihat manajer Han yang sudah berada di apartemennya. Setelah mengumpulkan kesadarannya, Julian langsung bangkit dari posisinya menjadi terduduk di sofa. Ia memijat sedikit bagian bahunya yang terasa lelah.
"Ini semua karenamu," balasnya dengan suara berat bercampur serak khas bangun tidurnya.
"Kenapa aku?" Julian hanya menatap manajer Han kesal. Rasanya ia terlalu malas untuk menjelaskan. Jika ia kembali mengingat bagaimana ia kemarin begitu lelah menghadapi Erika hingga berujung langsung tertidur di sofa ini saat gadis itu akhirnya pergi ia pasti akan kembali kesal.
"Kenapa kau datang sepagi ini?"
"Aku hanya ingin memastikan bahwa kau sudah bangun karena kau tidak mengangkat telfonmu. Aku juga ingin memastikan bahwa asisten apartemenmu sudah datang untuk berberes. Kau tidak lupakan kalau siang ini kau harus syuting di apartemenmu?"
"Tentu saja tidak."
"Baguslah. Wah kau bahkan sudah menempelkan banyak foto lamamu di dinding. Benar-benar seorang aktor yang unik. Disaat orang-orang akan menyembunyikan foto masa kecilnya, kau malah memajangnya." Manajer Han mengedarkan pandangannya melihat-lihat.
"Jika aku tidak membutuhkannya, aku juga tidak ingin memajangnya. Wajahku dulu bahkan terlihat seperti kentang rebus," keluhnya membuat tawa manajer Han pecah.
"Dulu kau bukannya tidak tampan, hanya saja kau belum bisa merawat ketampananmu. Mandilah, sebentar lagi stylist akan datang." Julian mengangguk pelan. Merasa urusannya sudah selesai, manajer Han langsung bergegas pergi keluar dari apartemen Julian untuk mengurus hal yang lainnya.