Chapter 7

1884 Kata
Julian menghempaskan tubuhnya di atas sofa merasa lega karena syutingnya hari ini di dalam apartemennya sudah usai. Apartemennya tadi yang dipenuhi banyak orang yang merupakan kru dan staff sudah pergi menyisakan hanya dirinya dan manajer Han. Manajer Han sengaja tetap tinggal untuk membicarakan beberapa hal pada Julian.  "Apa kau sudah selesai membaca naskah drama yang ditawarkan kepadamu?" Julian mengangguk kecil kemudian meneguk minuman soda dingin yang tadi sempat ia ambil. "Lalu bagaimana? apa kau tertarik? pihak produksi terus menghubungiku agar kau secepatnya memberi keputusan. Mereka benar-benar berharap kau bisa bergabung." "Siapa pemeran utama wanitanya? apa sudah ada?" "Yuna Alona, dia sudah menerimanya dan dalam waktu dekat akan menandatangani kontrak. Kau tau kan, dia memiliki kemampuan akting yang sangat bagus dan reputasinya juga sangat tinggi belakangan ini. Bahkan penggemar sudah menebak-nebak jika kalian yang akan benar-benar memerankan drama ini." Julian tampak berpikir sejenak. Jujur saja, setelah membaca naskahnya dan mengetahui ceritanya secara garis besar ia sangat tertarik karena ceritanya sangat bagus. Yuna Alona adalah salah satu aktris dengan kemampuan akting yang sangat mumpuni. Sejujurnya Julian juga penasaran bagaimana beradu peran dengan gadis itu. "Baiklah, aku terima," ucap Julian akhirnya membuat manajer Han tersenyum senang. "Ah sudah ku duga, kau pasti akan menerimanya. Aku akan urus semuanya secepatnya." "Apakah keadaan panti asuhan baik-baik saja?" "Tentu saja, aku baru saja meminta bagian keuanganmu untuk kembali memberikan dana untuk acara akhir tahun yang akan anak-anak lakukan." Julian mengangguk-anggukkan kepalanya kecil. Ia sudah menjadi donatur tetap beberapa panti asuhan sejak 1 tahun yang lalu. Jiwa sosial Julian memang sangat tinggi. Hal itu juga karena ia merasa memang harus melakukannya dan merasa memiliki rasa tanggung. Ia jadi teringat masa kecilnya. Baru Julian ingin kembali bersuara, tiba-tiba ponselnya berdering. Julian berdecak kesal melihat nama siapa yang tertera menghubunginya malam-malam begini. Tidak ingin diganggu oleh siapapun apalagi seseorang yang sedang menghubunginya sekarang membuat Julian memutuskan untuk mengabaikannya saja.  "Kenapa tidak diangkat?" tanya Manajer Han penasaran. Julian hanya diam tidak berniat untuk menjawab.  "Erika?" tebak Manajer Han tepat sasaran. Kini Julian hanya menatapnya malah masih tidak berniat untuk menjawab. Hal itu membuat Manajer Han semakin yakin bahwa jawabannya benar hingga ia tersenyum. "Menurutku, kau dan Erika sangat cocok." "Aku tidak butuh pendapatmu." "Kenapa kau sangat tidak suka padanya?" "Dia sangat menganggu." "Kenapa kau tidak memberhentikannya saja? kau terlihat cukup pasrah padanya." Julian menyipitkan matanya mendengar penuturan Manajer Han.  "Cukup pasrah apanya? aku hanya tidak ingin mempersulit hidupku dengan melawannya." "Kalau kau benar-benar merasa terganggu, kau bisa melaporkannya. Bukankah negara kita sangat menjunjung tinggi privasi dan melarang keras penguntit? Tapi kau tidak melakukannya karena sebenarnya kau sama sekali tidak merasa terganggu dengannya. Benarkan?" "Berhentilah sok tahu, pulanglah. Aku ingin istirahat." Manajer Han terkekeh mendengar ucapan Julian yang terlihat sangat kesal tapi sama sekali tidak merespons dugaan yang ia berikan. Lagi pula Erika sangat cantik, ia juga memiliki kepribadian yang unik dan sangat berani, berbeda dari wanita-wanita yang lain. Bagi Julian yang cukup tertutup pada orang-orang baru, sosok Erika sangat tepat untuknya. Jadi bukannya tidak mungkin Julian juga tertarik padanya. "Baiklah anak muda. Besok kau tidak ada jadwal apapun, jadi beristirahatlah seharia." Manajer Han bangkit dari duduknya kemudian memakai long coat untuk melindunginya dari dinginnya cuaca di luar. Sepertinya sebentar lagi akan turun salju. "Tapi jika kau ingin menghabiskan waktu dengan Erika, tidak masalah juga. Asalkan jangan sampai ketahuan, agensi kita tidak menerima skandal apapun," kata Manajer Han dengan nada menggoda sabil terkekeh sebelum benar-benar keluar dari apartemen mewah milik Julian.  "Ingin sekali rasanya aku mengganti manajer," dengus Julian kesal. Disaat menajer-manajer lain menasehati artisnya untuk tidak memiliki skandal hubungan dengan siapapun, ia malah bertingkah seolah-olah mendukung. Julian yakin Erika sudah menyogoknya dengan banyak barang. Termasuk parfum yang ia pakai tadi. Aroma itu adalah aroma Parfum keluaran Queeno de Parfum limited edition yang harganya cukup mahal. Julian ingat betul aromanya saat ia menjadi model iklan waktu itu. Julian kembali melihat ponselnya yang layarnya masih menyala pertanda Erika masih tidak putus asa menghubunginya. Kembali pria tampan itu berdecak kesal. Julianpun akhirnya memutuskan untuk menjawab panggilan itu. Meskipun ia memiliki pilihan untuk memutuskan panggilannya, entah mengapa ia malah memilih untuk menerimanya. "Bisakah kau berhenti menghubungiku?" "Tentu tidak Sayang. Jemput aku di Sky Night Bar sekarang ya. Aku tunggu 15 menit." "Tidak." "Ayolah Julian. Aku tidak bawa mobil, teman-temanku sudah pulang. Apa kau tega jika ada seseorang yang berniat jahat padaku?" "Bukankah kau memiliki puluhan sopir? mintalah salah satu dari mereka menjemputmu. Dan tolong jangan ganggu waktu istirahatku." Julian langsung mematikan sabungan telfon itu. Ia tidak habis pikir, bagaimana bisa Erika menelfonnya tengah malam seperti ini untuk memintanya menjemputnya. Apakah mereka sudah sedekat itu? mereka bahkan baru beberapa kali bertemu. Sepertinya Erika benar-benar beranggapan bahwa Julian adalah miliknya sebagai mana yang ia klaim saat pertemuan pertama mereka. Benar-benar aneh. *** Erika menopang dagunya di atas mini bar yang terdapat di dapur mansionnya sembari melihat Mark yang terlihat sangat lihai kesan dan kemari menyiapkan steak untuk Erika. Wajah gadis itu terlihat di tekuk kesal. Matanya memang memperhatikan Mark, tapi pikirannya melayang entah kemana. "Kematangannya medium rare, sesuai dengan kesukaanmu." Mark terlihat puas saat memotong steak buatannya di hadapan Erika. Ia menatanya di piring kemudian menyuguhkannya pada Erika. "Makanlah." "Bisakah buatkan aku ramen juga? jika sedang kesal aku ingin banyak makan." Mark terlihat tertawa kecil kemudian bergegas membuatkan ramen untuk Erika sesuai yang ia minta.  "Jadi apa yang membuatmu kesal?" tanya Mark mengambil posisi duduk di samping Erika yang tengah melahap steak dengan begitu lahapnya.  "Apa aku tidak cantik?" dahi Mark mengernyit heran mendnegar pertanyaan aneh yang Erika lontarkan. "Kau sangat cantik." "Tentu saja, aku luar biasa cantiknya." "Lalu apa masalahnya." "Aku sedang menyukai seorang pria, tapi dia bersikap sangat dingin padaku. Tadi aku memintanya untuk menjemputku di bar, tapi dia menolak. Menyebalkan sekali. Dia pasti hanya pura-pura tidak tertarik kepadaku. Mana mungkin ada yang bisa menolak pesonaku," kesal Erika di sela-sela makannya.  Mark terdiam sesaat. Jadi Erika sedang menyukai seorang pria? ah kau lagi-lagi hanya menjadi pilihan kedua saat pilihan pertama tidak ada Mark! Mark menggerutu dala hati. Bisa-bisanya Erika mengatakan hal seperti ini di hadapannya padahal ia sangay menyukai Erika. Bahkan bisa dikatakan mereka selama ini lebih seperti pasangan dari pada sepasang teman. Tapi sepertinya hanya Mark yang merasakan begitu. "Siapa pria itu?" "Aku tidak akan memberi tahunya padamu sebelum aku benar-benar mendapatkannya." Kini Erika beralih pada ramennya karena steak buatan Mark yang selalu lezat itu sudah habis ia makan. "Jika kau disuruh memilih, kau lebih pilih dia atau aku?" tanya Mark kemudian meneguk segelas red wine di hadapannya. Erika menoleh pada Mark kemudian tersenyum. "Tentu saja aku memilihmu." Erika merangkul lengan Mark kemudian memeluknya sembari menyenderkan kepalanya di d**a bidang milik Mark. Mark tersenyum penuh kemanangan. "Tapi aku juga akan memilih dia. Kenapa aku harus pilih salah satu jika aku bisa mendapatkan keduanya." Erika kembali pada posisi duduknya kemudian mengedipkan sebelah matanya membuat senyum Mark sirna. Baru saja ia dibuat senang, tapi langsung dijatuhkan begitu saja. Sepertinya Erika akan selalu menganggapnya sahabat. "Aku akan pulang." "Kenapa pulang? kau bisa menginap." "Tidak ada, aku hanya ingin pulang saja." Dengan wajah ditekuk, Mark bangkit dari duduknya bergegas pergi, namun dengan cepat lengannya di tahan oleh Erika.  "Terima kasih sudah menjemputku tadi," kata Erika menahan pergelangan tangan Mark. Ia tersenyum tulus membuat Mark mau tidak mau ikut tersenyum. Erika selalu mampu meluluhkan hatinya, padahal ia tadi ingin merajuk pada gadis itu karena secara terang-terangan menyukai pria lain. Mark memajukan wajahnya kemudian mencium bibir Erika membuat Erika terpejam. Ia melumat lembut beberapa saat menyesapi bibir Erika yang entah mengapa selalu terasa manis baginya itu.  "Istirahatlah," kata Mark setelah melepaskan ciumannya yang dibalas Erika dengan anggukan. Mark pun langsung bergegas pergi. Erika terus memperhatikan Mark hingga hilang dari pandangannya. Wajar jika Arin mengira bahwa mereka adalah sepasang kekasih karena mereka selalu bertingkah seperti sepasang kekasih sungguhan. Rasanya ciuman seperti itu sudah sangat biasa bagi mereka. Erika merasa sudah sangat dekat dengan Mark sebagai sahabatnya, jadi hal seperti itu sudah sangat biasa. Usai menyelesaikan makannya, Erika memutuskan untuk ke ruang kerjanya. Ia harus mengerjakan sesuatu malam ini. Ia juga belum merasa ngantuk. Lagi pula ia tidak mungkin langsung tidur sehabis makan, ia harus tetap menjaga badannya agar tetap terlihat sempurna. *** Julian melangkahkan kakinya memasuki sebuah bar. Ia terus melihat ke sekeliling untuk memastikan tidak ada yang mengenalinya disini. Masker, kacamata dan pakaian santai yang tidak terlalu mencolok seperti ini sepertinya tidak akan membuat siapapun menyadari bahwa ia adalah seorang aktor terkenal disini. Julian mencari keberadaan Erika di dalam bar yang tadi ia sebutkan namanya melalui sambungan telfonnya. Tapi sejauh matanya memandang, ia sama sekali tidak melihat keberadaan Erika.  Julian memutuskan untuk menghubungi Erika, namun tidak mendapatkan jawaban. Ia mencoba berkali-kali, tapi tetap saja Erika tidak menjawabnya. Hal itu membuat Julian berdecak kesal. Sepertinya ia hanya telat 15 menit, apa gadis itu sudah pergi? tapi dia bilang tadi dia menunggu disini. Ah sial sekali! bagaimana jika memang seseorang berbuat jahat padanya. Julian dibuat bingung dengan dirinya sendiri. Ia tadi sempat bertarung dengan pikirannya tadi hingga tidak bisa fokus untuk berisitirahat saja. Akhirnya disinilah ia sekarang, berniat menjemput Erika. Entah apa yang membuatnya datang, yang pasti bagi Julian ini hanya alasan kemanusian saja. Erika menghubunginya, jadi jika sesuatu hal buruk terjadi pada Erika, pasti namanya akan dibawa. Lelah mencari Erika yang tidak ada, Julian pun akhirnya memutuskan untuk pergi ke mansionnya untuk memastikan apakah ia sudah pulang untuk belum. Sesampainya di mansion milik Erika, Julian langsung di arahkan oleh pelayannya untuk menuju ruang kerja Erika. Julian bilang ia adalah teman Erika yang sudah janji akan datang, oleh karena itu pelayannya langsung mempersilahkannya masuk. "Apa kau harus datang semalam ini? kitakan bisa bicara di kantor besok. Itupun kalau aku datang. Aku berniat akan libur besok dan menghabiskan waktu di tempat spa," kata Erika yang masih sibuk berkutat dengan botol-botol parfum di hadapannya dan buku catatan kecilnya saat mendengar pintu ruang kerjanya terbuka dan langkah kaki seseorang msuk.  "Kenapa kau tidak angkat telfonku?" badan Erika langsung membeku seketika mendengar suara seseorang yang bukanlah merupakan suara Arin. Ia kira Arinlah yang datang menemuinya saat ini. Erika langsung berbalik dan mendapati Julian yang sedang berdiri tidak jauh darinya. Mata gadis itu berkedip beberapa kali untuk memastikan bahwa orang itu adalah Julian. "Julian? kenapa kau ada disini?" "Kenapa kau tidak menjawab telfonku?" tanyanya lagi dengan nada kesal mengabaikan pertanyaan Erika. "Aku tidak tahu kau menelfon. Sepertinya ponselku masih berada di dalam tas, sedangkan tasku ada di kamar. Jadi aku tidak mendengarnya," jelasnya. "Merepotkan saja," desis Julian pelan kemudian langsung berbalik pergi. Dengan cepat Erika menyusul Julian dan menahannya. "Kau belum menjawab pertanyaanku. Kenapa kau ada disini?" "Lain kali, jika tidak butuh bantuanku, setidaknya kabari aku lagi. Merepotkan saja." "Jadi kau datang untuk menjemputku ke bar?" Julian hanya diam. Erika membulatkan matanya tidak percaya bahwa Julian benar-benar melakukan hal itu. Padahal ia tadi mengatakan bahwa ia tidak akan pergi. "Salah kau sendiri tadi menolaknya, aku kira kau tidak akan menjemputku. Apakah kau sangat khawatir padaku? wajahmu terlihat begitu tegang," tanya Erika dengan nada menggoda sembari memperhatikan wajah Julian membuat Julian salah tingkah.  "Jangan terlalu percaya diri. Aku hanya tidak ingin ikut terlibat jika ada orang yang berbuat jahat padamu, akan sangat merepotkanku," pungksa Julian kemudian berlalu dari hadapan Erika untuk segera pulang. Erika mengulum senyumnya melihat kepergian Julian. Apapun alasan pria itu, ia tidak peduli. Yang penting Julian mengkhawatirkannya, itu artinya ada sebuah kemajuan. Sepertinya Erika harus lebih giat lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN