Chapter 8

1301 Kata
Julian berdecak kesal saat telfonnya tidak juga kunjung diangkat. Ia sepertinya sudah mencoba lebih dari sepuluh kali. Kemana perginya gadis itu? Ini bahkan sudah hampir pukul 12 siang, tidak mungkin jika ia masih tidur, bukankah ia harusnya bekerja di jam seperti ini? Julian kembali mencoba untuk yang terakhir kalinya berharap kali ini gadis itu benar-benar akan mengangkatnya. Benar saja, ternyata tidak lama setelah sambungan telfon terhubung, gadis itu mengangkatnya. "Aku tau kau merindukanku, tapi bisakah tidak menelfonku sepagi ini?" Terdengar racauan dengan suara serak khas bangun tidur di sebrang sana membuat dahi Julian mengernyit, jadi dia benar-benar masih tidur? Luar biasa sekali. "Ambil kembali mustang mu ini dari apartemenku," kata Julian dengan nada datarnya langsung mengutarakan maksudnya menghubungi gadis yang tidak lain adalah Erika itu. Tentu saja jika tidak memiliki maksud yang jelas, ia tidak mungkin mau menghubungi Erika seperti ini. "Kenapa? Bukankah kau menginginkannya? Atau kau tidak suka warnanya?" Tanya Erika masih dengan setengah sadar. Suaranya terdengar tidak jelas seperti gumaman. Sepertinya ia sedang berusaha untuk mengumpulkan nyawanya. "Aku akan membelinya dengan uangku sendiri. Berhentilah melakukan hal-hal gila seperti ini Erika. Apa kau sadar kau baru saja membuang-buang uang?" "Aku bahkan bisa membelikan 10 untukmu Sayang." "Berhentilah bicara omong kosong. Aku tidak ingin mobil itu ada di parkiran apartemenku." "Baiklah, jika kau tidak ingin kembalikan sendiri ke mansionku." Setelah mengucapkan kalimat itu, Erika langsung mematikan sambungan telfonnya tanpa menunggu jawaban Julian membuat Julian berdecak kesal. Semakin hari kelakuan Erika semakin menjadi-jadi. Ia tidak jera-jeranya menggangu Julian. Sebenarnya pernah terbesit dalam pikiran Julian untuk melaporkan Erika yang sudah sering mengganggu privasinya, tapi entah mengapa pria itu tidak pernah benar-benar melakukannya. Bagaimana tidak menggangu, tiba-tiba pagi ini sebuah mobil mustang berwarna hitam mengkilap terparkir di parkiran apartemen dan seseorang menemuinya mengatakan bahwa mobil itu di belikan khusus oleh Erika untuknya. Ya memang Julian menginginkan mobil itu, ia sempat mengatakannya saat di undang di salah satu acara variety show kemarin, dan sepertinya Erika melihatnya. Tapi bukan berarti Julian bisa menerima hadiah dari Erika yang harganya fantastis itu. Lagi pula Julian tahu betul maksud Erika. Jika ia menerima mobil itu, sama saja dengan ia menukarkan dirinya dengan mobil itu karena Erika sangat menginginkannya. Julian langsung mengambil coat tebal miliknya, masker, kacamata hitam, serta topi miliknya sebagai penyamaran sempurna dan langsung bergegas keluar apartemen tentu saja tidak lupa mengambil kunci mustang di atas nakas. Ia harus mengembalikan mobil itu sesuai dengan permintaan Erika agar masalahnya dan Erika cepat usai. Julian berdecak kagum melihat mustang yang terlihat begitu gagah itu. Ia tidak bisa memungkiri bahwa ia sangat menyukainya. Tapi ia bisa membelinya dengan uangnya sendiri. Bukannya ia tidak mampu, pasalnya beberapa bulan yang lalu ia baru memberi lamborghini aventador berwarna putih miliknya yang menjadi salah satu mobil impiannya, lagi pula ia masih memiliki pengeluaran yang lainnya yang lebih penting. Ia tidak segila Erika yang tiba-tiba membeli mobil baru seperti ini apalagi untuk orang lain, aneh sekali. Entah apa yang Erika lihat dari dirinya hingga gadis itu begitu gencar mendekatinya. *** Julian mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang terlihat sangat nyaman ini. Udara disini sudah tercampur beberapa aroma yang langsung masuk ke dalam indra penciuman Julian. Julian tidak tahu aroma apa ini, tapi yang pasti wanginya sangat enak. Di lemari kaca besar di dinding sebelah kanan terdapat banyak sekali botol-botol kaca berisi cairan yang Julian yakini itu adalah parfum. Terdapat dua lemari besar yang berisi sama, dan dapat Julian simpulkan yang satu khusus parfum perempuan sedangkan yang satunya lagi parfum laki-laki. Julian akui, parfum keluaran Queeno de Parfum wanginya sangat enak dan unik. Ia jarang mencium aroma-aroma parfum seperti itu sebelumnya. Saat menjadi model iklannya, Julian merasa senang karena produk yang ia bawakan benar-benar bagus dan sangat pantas di rekomendasikan kepada banyak orang. Sepengetahuan Julian, parfum Queeno de Parfum yang ia iklankan saat itu sudah terjual banyak sekali botol dan masuk ke dalam daftar parfum paling banyak dicari bulan ini. Julian kini sedang berada di ruang kerja Erika yang berada di mansionnya. Pelayannya tadi mengarahkannya untuk ke ruangan ini dan mengatakan ia bisa menunggu Erika disini karena Erika sedang mandi. Pelayan Erika mengatakan mungkin agak lama, dan benar saja, sudah setengah jam lebih Julian menunggu, gadis itu tidak kunjung usai mandi padahal ia sudah mulai mandi sebelum Julian datang. Sungguh gaya hidup yang tidak teratur. Julian mengambil stik untuk yang terendam di salah satu aroma parfum di meja yang terdapat di samping lemari kemudian menghirup aromanya. Aromanya cukup ia kenali, wangi citrus. Julian sedikit mengerutkan dahinya saat wanginya terasa cukup kuat dan menyengat. "Aroma sandalwood ini sangat cocok dengan kepribadianmu." Julian membeku saat tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang. Julian bahkan bisa merasakan orang itu sedang menciumi aroma punggungnya. "Pilihan parfum yang sangat bagus, tapi kau cenderung tidak konsisten padahal parfum adalah salah satu penentu identitas diri kita, terakhir aku mencium aroma oud yang kau pakai. Tapi tidak apa, karena masih aroma kayu-kayuan berarti seleramu tidak jauh berubah," katanya lagi. Julian bisa merasakan pelukannya semakin erat. "Bisakah kau jauhkan dirimu dariku?" Tanya Julian terlihat jengah tapi tidak berusaha sendiri melepaskannya. "Tidak." Julian kembali diam kemudian menutup botol ekstrak parfum yang tadi sempat ia buka sementara Erika tampak setia tidak mau membuang kesempatan yang ada. "Lain kali jangan membuang uangmu untuk hal yang tidak berguna." Akhirnya Julian melepaskan tangan Erika yang melingkar di perutnya kemudian berbalik melihat gadis itu sembari memberikan kunci mobilnya. "Tidak berguna apanya? Kau yang membuatnya tidak berguna. Andai saja kau menerimanya pasti akan jauh lebih berguna," balas Erika tak mau kalah. "Kenapa kau begitu menyukaiku?" Tanya Julian. Julian duduk bersandar pada meja. Ia melipat kedua tangannya di depan d**a menunggu jawaban dari Erika. "Karena kau tampan." Julian terdengar terkekeh pelan. Alasan macam apa itu? Bahkan di luar sana masih banyak pria yang lebih tampan darinya, kenapa Erika tidak mengejar dan menyusahkan hidup mereka saja? "Hanya itu?" "Karena di dahimu sudah ada tulisan bahwa kau adalah milik Queen." Kini jawaban gadis itu mulai tidak masuk diakal. Sepertinya ia hanya gadis-gadis yang memuja ketampanan Julian yang tidak jauh berbeda dari para penggemar Julian yang lainnya. "Aku harus pergi," kata Julian mengingat bahwa manajer Han pasti sudah menunggunya di luar. Ia sempat meminta manajer Han untuk menjemputnya tadi agar mereka bisa datang ke rumah produksi dimana reading pertama untuk drama terbarunya akan di lakukan hari ini. "Karena kau berbeda," ucap Erika menahan lengan Julian yang hendak pergi. Julian terlihat tidak mengerti maksud perkataan Erika. Berbeda? Berbeda apanya? "Kita baru bertemu beberapa kali tapi kau sudah bisa menilaiku? Luar biasa." "Kenapa? Bukankah tidak semua orang butuh waktu yang lama untuk menilai? hanya menilai saja, apa susahnya." "Apakah kau begitu mengenaliku?" "Tentu saja." "Aku bahkan tidak begitu mengenali diriku sendiri. Jadi berhentilah berpikir bahwa kau sudah sangat mengenalku," kata Julian. "Terserah, yang penting kau tetap milikku, hanya milikku, dan sampai kapanpun menjadi milikku," kata Erika. Julian terdengar menghela nafas panjang. Sepertinya apapun yang ia katakan tidak akan berpengaruh apa-apa bagi Erika. "Apakah kau benar-benar ingin memilikiku?" Erika langsung mengangguk cepat dengan wajah sumringah. Ia sudah menduga, secepatnya Julian pasti akan jatuh juga pada pesonanya. Selama ini Julian pasti hanya menyangkalnya saja. "Asistenku sedang mengambil cuti selama seminggu. Gantikan posisi dia, dan mungkin aku bisa pikirkan ulang untuk memberimu kesempatan untuk memilikiku." Julian tersenyum menyeringai pada Erika kemudian mengedipkan sebelah matanya sebelum ia pergi. "Ha? Asisten? Yang benar saja? Kau pikir kau bisa melakukan hal seperti itu padaku? Aku ini Queena Erika, seorang billioner, aku bahkan bisa mencarikan 100 asisten pribadi untukmu." Erika berteriak tidak terima agar Julian yang sudah melenggang pergi bisa mendengarkan. "Jika kau tidak mau melakukannya, aku akan melaporkanmu pada kepolisian karena selalu menganggu privasiku. Silahkan pikirkan. Jika tidak sanggup, maka jangan pernah mendekatiku lagi," ucap Julian di ambang pintu. Erika dibuat melongo mendengar ucapan pria itu. Sangkin kesalnya ia menghentak-hentakkan kakinya kesal ke lantai. Ia bahkan tidak bisa mengurus dirinya sendiri selama ini, apalagi mengurus orang lain.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN