Julian kembali mencoba menghafal dialog yang harus ia ucapkan serta mendalami ekspresi apa yang harus ia keluarkan nantinya saat melakukan adegan untuk teaser drama terbarunya yang akan berlangsung hari ini. Julian tampak begitu tenang sembari seorang make up artis terus memoles wajahnya untuk make up khas pria serta menata rambutnya sesuai karakter yang akan ia perankan. Lokasi syuting hari ini terlihat sangat sibuk, banyak kru berlalu lalang untuk menyiapkan semuanya. Selain syuting untuk teaser, hari ini juga dilakukan pemotretan untuk bagian cover drama untuk promosi.
Kabar bahwa drama terbaru berjudul 'A Piece of Love' ini sudah menyebar luas di berita-berita online meskipun kabar resminya belum rilis. Penggemar terlihat sangat antusias saat mendapat kabar-kabar bahwa Julian dan Yuna akan memainkan drama ini bersama. Bagaimana tidak antusias, mereka berdua sama-sama sedang digandrungi penggemar beberapa waktu belakangan ini karena drama terakhir mereka masing-masing yang sama-mana mendapat rating yang sangat bagus. Jadi bisa dibayangkan bagaimana bagusnya jika mereka disatukan nantinya. Tapi tidak sedikit juga penggemar yang masih belum bisa move on dari drama sebelumnya merasa bahwa baik Julian maupun Yuna lebih cocok dengan pasangan sebelumnya. Hal seperti ini akan selalu terjadi di dunia hiburan saat penggemar terlebih yang sangat fanatik akan selalu mencoba mengatur kehidupan idolanya.
"Maaf aku terlambat," ucap seseorang menghampiri Julian dan langsung mengambil posisi duduk di samping Julian. Julian yang masih dirias melihat pantulan gadis itu dari cermin di hadapannya.
"Bagaimana bisa kau terlambat di hari pertama kerjamu," sindir Julian membuat gadis itu memutar bola matanya malas. Ia bahkan sudah terlambat bekerja sepanjang kariernya, jadi tidak heran jika dalam pekerjaan barunya yang terpaksa ia lakukan ini ia masih akan tetap terlambat.
"Kenapa dengan penampilanmu?" tanya Julian saat sang make up artis sudah berlalu pergi usai menyelesaikan tugasnya. Ia kini beralih menatap gadis yang tidak lain adalah Erika di sampingnya. Penampilan gadis itu terlihat berbeda, meskipun begitu Julian masih cukup mudah mengenalinya apalagi dengan suaranya.
"Apa kau pikir aku ingin orang-orang tau bahwa sekarang aku menjadi seorang asisten? aku ini Queena Erika, pengusaha kaya raya berkelas," kata Erika menyombongkan diri. Julian hanya mencibir melihatnya, meskipun begitu gadis itu tetap mau melakukan apa yang ia minta. Benar-benar sangat tangguh. Julian pikir ia tidak akan mau melakukannya dan akan menyerah untuk mengganggu Julian. Julian merasa ini adalah kesempatan yang baik untuk memberi gadis ini pelajaran dan agar ia jengah secepatnya.
"Ambilkan aku ice americano di sebelah sana," kata Julian memperlihatkan sebuah coffe truck yang sudah di sediakan yang berada jauh di ujung lokasi.
"Kau menyuruhku mengambilnya? yang benar saja. Kau saja ambil sendiri. Aku baru saja sampai, jadi biarkan aku beristirahat sebentar," tolak Erika.
"Apakah aku harus mengambil sendiri saat aku memiliki asisten?" Erika berdecak kesal. Ia bangkit dari duduknya kemudian berlalu pergi dengan wajah ditekuk masam. Julian tersenyum puas melihat kepergian gadis itu.
Sembari menunggu Erika kembali, Julian membuka ponselnya dan media sosialnya. Ia membaca pesan-pesan dari penggemarnya kemudian membalas beberapa yang menarik. Julian ingin tetap memiliki hubungan baik dengan penggemarnya karena mereka juga selama ini selalu mendukung Julian bahkan sejak Julian masih belum seterkenal saat ini.
"Kau harus membelikanku kopi saat aku selesai bekerja nanti," kata Erika setelah beberapa saat kembali kemudian memberikan segelas ice americano pesanan Julian.
"Jangan duduk dulu, minta jasku pada bagian stylist, aku akan memakainya sekarang." Baru saja Erika akan duduk, Julian langsung menyuruhnya kembali membuat Erika menghentakkan kakinya kesal.
"Apa kau sedang mengerjaiku?"
"Tentu saja tidak, itu memang kerjamu. Menyiapkan semua keperluanku. Apa sudah mulai muak dengan pekerjaan ini? kau boleh berhenti dan berhenti pula mengganguku."
"Tidak akan Sayang," bisik Erika kemudian kembali berlalu dari hadapan Julian. Julian di buat geleng-geleng kepala melihat gadis itu. Benar-benar gadis yang sangat unik.
"Selamat pagi Julian," sapa seseorang dan membungkuk untuk memberi salam padanya. Julian langsung membalas salamnya dan melemparkan senyuman pada seorang gadis cantik di hadapannya.
"Senang bisa bertemu lagi," ucapnya lagi.
"Tentu kita akan lebih sering bertemu setelah ini. Jangan terlalu formal padaku, kita akan bekerja sama selama beberapa waktu ke depan," ucap Julian mencoba agar tidak begitu canggung. Demi profesionalitas kerjanya, tentu saja Julian tidak ingin menjadi canggung dengan lawan mainnya siapapun itu termasuk Yuna. Hal seperti ini akan selalu terjadi di awal-awal proses syuting, tapi nantinya pasti akan mencair dengan sendirinya hingga menghasilkan chamistry yang baik.
"Ah baiklah, terima kasih. Aku harus siap-siap terlebih dahulu. Sampai nanti," pamit Yuna yang dibalas anggukan oleh Julian memiarkan gadis itu berlalu dari hadapannya untuk bersiap-siap. Ini adalah proyek kerja sama Julian dan Yuna yang pertama kali. Tapi sebenarnya mereka pernah beberapa kali menghadiri acara yang sama seperti acara penghargaan, namun tidak pernah saling bertegur sapa.
"Biar aku saja yang memakainyannya, Julian tidak suka orang lain yang membantunya berpakain," ucap Erika yang kembali datang bersama seorang stylist. Staylist itu mengerutkan dahinya heran, selama ini ia bekerja bersama Julian, Julian tidak pernah berkomentar apapun.
"Memangnya apa salahnya? selama ini aku yang memakaikannya."
"Ah kenapa kau susah sekali mendengarkanku, biar aku saja." Erika mengambil alih jas di tangan stylist itu kemudian mendekati Julian untuk memasangkannya.
"Kerjakanlah yang aku perintahkan, kenapa kau malah mengambil alih pekerjaannya," bisik Julian pelan agar stylist yang masih berada disana tidak begitu mendengarnya.
"Aku sedang mengerjakan tugasku. Sebagai calon istrimu aku harus membiasakan diri untuk merapikan pakaianmu," jawab Erika acuh sembari merapikan jas Julian membuat Julian membulatkan matanya mendengar jawaban gadis itu. Ia benar-benar selalu melakukan semaunya saja.
"Bisa tolong ambilkan beberapa jamku? sepertinya akan lebih bagus jika aku memakai jam," ucap Julian pada stylist-nya.
"Ah benar juga. Sebentar, aku akan mengambilkannya di koper." Stylist itu langsung berlalu pergi.
"Erika, jaga sikapmu saat kita sedang berada dikeramain seperti ini. Itu akan membuat orang-orang curiga," tegur Julian sembari menepis pelan tangan Erika yang tengah mengelus bagian bahu hingga d**a Julian memuja tubuh Julian yang luar biasa bagusnya dibalik setelan jas yang terlihat sangat pas di badannya itu.
"Jadi jika tidak dikeramaian aku bisa melakukan sesukaku?" tanya Erika menggoda tersenyum senang. Julian hanya mampu menghembuskan nafas kasar tidak tahu lagi harus seperti apa merespons Erika.
"Apakah kau sudah siap?" tanya Manajer Han yang tiba-tiba datang untuk memastikan.
"Ya," balas Julian.
"Oh apa dia asisten penggantimu?" tanya manajer Han saat menyadari kehadiran Erika. Ia terlihat meneliti penampilan Erika dari atas kepala hingga ujung kakinya.
"Siapa namamu?" tanya manajer Han pada Erika.
"Queen," balas Erika seadanya terdengar tidak begitu ramah. Persis seperti sikap Erika aslinya.
"Sepertinya bosmu sebelumnya sangat baik hingga memberikanmu jam mahal seperti itu," canda manajer Han melirik jam rolex keluaran terbaru yang melingkar di tangan Erika. Erika menatap pria paruh baya itu kesal. Apa ia tidak mengenali Erika? apa tadi ia bilang? pembelian bos? Erika bahkan punya satu lemari koleksi jam mahal di mansionnya.
"Baiklah, aku akan memantau proses syuting hari ini. Jika kau sudah selesai, langsung saja ke set. Dan kau Queen, bekerjalah dengan baik untuk Julian," ucap manajer Han setelah itu berlalu pergi. Erika mengepalkan tangannya geram kemudian memukul-mukulnya ke udara.
"Apakah orang tua itu tidak mengenaliku hingga ia menatapku dengan tatapan merendah seperti itu. Akan ku beri dia pelajaran nanti," kesal Erika tidak terima. Julian yang menatapnya hanya terkekeh kecil.
"Kau memang agak berbeda."
"Tapi aku tetap saja terlihat cantik," bela Erika. Ia hanya menambahi kaca mata besar, rambut yang ia kepang, serta make up tipis dan juga sedikit totolan berupa t**i lalat buatan di sekitar wajahnya dan yang agak besar di bagian bawah mata. Apa itu sangat merubah dirinya?
"Benarkan aku cantik?" tanya Erika saat Julian hanya diam saja. Bukannya membalas, Julian malah berlalu begitu saja membuat Erika semakin kesal. Sepertinya kesabarannya hari ini benar-benar diuji dala segala hal.
***
Erika fokus melihat Julian yang sedang melakukan pemotretan. Senyuman gadis itu melengkung indah melihat Julian yang terlihat begitu ahli di depan kamera dan bergaya dengan begitu naturalnya. Karena pada dasarnya tampan, pose apapun yang ia lakukan terlihat bagus-bagus saja.
Erika meminum ice americano miliknya sembari menunggu Julian selesai bersama beberapa staf yang lainnya. Rasanya cukup lega saat Julian bekerja itu artinya waktunya ia yang beristirahat. Erika yakin Julian sengaja membuat dirinya sangat sibuk dengan berbagai permintaan Julian yang mengada-ngada. Erika juga yakin hal itu dilakukan Julian untuk membuatnya jengah. Namun Erika sama sekali tidak pantang menyerah, ia ingin membuktikan pada Julian bahwa ia akan mendapatkan apapun yang ia mau bagaimanapun caranya meskipun dengan melakukan hal gila seperti ini. Bagaimana tidak gila, bahkan Erika meninggalkan pekerjaannya yang tentu masih sangat banyak di kantor dan malah menjadi asisten Julian disini.
Saat sedang asik menikmati proses pemotretan Julian, tiba-tiba mata Erika membulat sempurna saat melihat sang aktris ikut masuk ke tempat berfoto dan mulai berpose dengan Julian. Pupil gadis itu semakin membesar saat melihat Julian merangkul aktris itu di bagian pinggangnya dan mereka bertatapan sangat mesra.
"Aishhh! apa yang dilakukan wanita sialan itu," rutuk Erika kesal. Merasa tidak terima, Erika langsung bangkit dari duduknya berniat menghampiri mereka, tapi salah satu staf langsung menahan pergelangan tangannya.
"Kau akan kemana?"
"Aku akan memberi pelajaran pada wanita itu yang sudah berani menyentuh milikku."
"Apa yang kau katakan? kau akan menganggu proses pemotretan?"
"Lepaskan tanganmu bodoh! biarkan aku pergi," racau Erika membuat orang-orang menatapnya bingung.
"Apa kau seorang fans yang menyamar sebagai asisten? apa kau penyusup?" tebak staf itu menyadari keanehan sikap Erika dan berpikir bahwa ia adalah fans Julian yang berpura-pura. Erika langsung tersadar dengan apa yang ia lakukan. Dalam hati Erika merutuki mengapa ia harus berpura-pura menjadi asisten Julian. Ia sepertinya harus bersabar sebelum orang-orang menyadari siapa dirinya.
"Ti.. tidak, aku tidak ingin mengganggu mereka. Aku tadi sedang latihan dialog mencoba untuk berakting. Aku akan mendaftar menjadi trainee aktris nanti," kata Erika asal sembari tersenyum kikuk. Staf itu menatapnya aneh.
"Begitukah?"
"Iya, bagaimana aktingku?"
"Sepertinya kau masih harus banyak belajar."
"Ah baiklah, aku akan lebih banyak berlatih." Erika kembali duduk di tempatnya. Ia mengepalkan tangannya kesal menahan amarahnya. Ingin sekali rasanya ia mencakar wajah cantik Yuna yang terlihat tersenyum tanpa dosa berani-beraninya memeluk Julian seenaknya.
***
"Kau harus membatalkan untuk menerima berperan dalam drama itu," kata Erika mengikuti langkah Julian yang besar-besar menyusuri lorong-lorong menuju kamar apartemennya.
"Apa kau akan beradegan romantis seperti tadi dengannya? dia bahkan merangkulmu seenaknya."
"Julian! apa kau dengar aku?"
"Aku akan membayar kerugianmu jika kau membatalkan kontrak kerja sama itu, tenang saja."
"Aish! kenapa kau diam saja? apa kau tidak dengar? bagaimana jika nanti mereka memintamu melakukan adegan yang tidak-tidak? contohnya berpelukan, berciuman, atau bahkan adegan panas di ranjang, aku ti..." ucapan Erika terhenti saat tiba-tiba Julian yang sudah memasuki apartemennya diikuti Erika berbalik dan menyudutkan Erika di dinding membuat Erika menahan nafas karena terkejut.
"Kenapa kau terlalu jauh memasuki kehidupanku? apa kau pikir kau berhak untuk melarangku?" Erika merasa suaranya tercekat untuk beberapa saat. Tatapan Julian yang tajam dalam dalam serta wajahnya yang sangat dekat membuat Erika membeku sesaat.
"Kau boleh menggangu hidupku, tapi jangan ganggu pekerjaanku," kata Julian penuh penekanan. Erika mendongakannya wajahnya untuk membalas tatapan tajam Julian. Ia tidak mungkin kalah dengan apapun termasuk Julian.
"Aku berhak karena kau adalah milikku."
"Aku tidak milik siapa-siapa." Erika tidak bisa fokus menatap mata Julian karena bibir Julian yang terlihat begitu kenyal itu terlihat lebih menarik.
"Terserah, yang penting kau adalah milikku." Erika menutup mulut Julian dengan mulutnya agar Julian tidak bisa menjawab lagi. Pupil mata Julian membesar mendapati aksi tiba-tiba nan berani gadis ini yang tiba-tiba mencium bibirnya.
"Erika! apa yang kau lakukan?" pekik Julian setelah melepaskan dirinya dari Erika.
"Menandai milikku sebelum wanita itu mencicipinya," balas Erika santai membuat Julian sudah tidak tahu lagi harus merespon seperti apa. Erika benar-benar membuatnya gila dan kualahan menghadapinya.
"Pulanglah, aku tidak pernah meminta asisten untuk tinggal di apartemenku."
"Baiklah, samapi berjumpa lagi besok." Erika mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum pada Julian sebelum ia berlalu keluar dari apartemen Julian. Julian menyandarkan tubuhnya pada pintu usai menutupnya. Membiarkan Erika bebas berkeliaran di hidupnya sepertinya bukanlah pilihan yang tepat. Tapi mengapa ia tetap membiarkannya? sepertinya Julian harus berendam malam ini agar pikirannya lebih jernih dan bisa lebih bijak lagi nantinya dalam mengambil keputusan menghadapi sosok Queena Erika.