Erika menghempaskan tubuhnya di atas sofa empuk berbulu tebal berwarna pink pastel yang berada di dalam kamarnya membuat ia merasa sangat nyaman dan lega. Rasanya benar-benar sangat nyaman saat sudah berada di kamarnya seperti ini.
"Ini beberapa laporan yang harus kau cek dan tanda tangani serta beberapa proposal kerja sama yang diajukan. Aku tadi juga sudah mengecek progres toko cabang terbaru kita." Arin meletakkan tumpukan berkas-berkas di atas meja yang berada di hadapan Erika.
"Sebelum kita membicarakan tentang berkas-berkas sialan itu, bisakah kau ambilkan aku satu kaleng soda? rasanya aku sangat haus," pinta Erika yang sangat enggan untuk beranjak dari posisinya sekedar untuk mengambil sekaleng soda di dalam lemari es. Tanpa menjawab apapun Arin langsung berlalu menuju lemari es yang berada di dalam kamar Erika untuk mengambil sekaleng soda sesuai permintaannya.
"Terima kasih Arin yang cantik tapi kecantikannya tidak ada apa-apanya dibanding denganku," kata Erika setelah mendapat minuman yang ia mau yang membuat Arin mencibir. Arin duduk di samping Erika untuk mengistirahatkan dirinya sejenak. Hari ia cukup banyak pekerjaan di luar membuatnya juga merasa lelah. Ia meneguk minuman soda dingin yang ia ambil juga tadi untuknya.
"Aku tidak mengerti denganmu. Disaat di kantor sedang banyak pekerjaan, kau malah melakukan pekerjaan yang tidak penting," keluh Arin. Bagaimana tidak bingung, Erika yang selama ini sangat susah disuruh bekerja itu tiba-tiba saja menjadi sangat rajin untuk bekerja menjadi asisten pribadi Julian beberapa hari belakangan ini. Entah sejak kapan gadis itu bahkan bisa bangun pagi tanpa ia bangunkan. Benar-benar sebuah keajaiban.
"Tidak penting apanya, pekerjaan ini sangat penting. Aku jadi bisa lebih dekat dengan Julian."
"Apakah kau sangat menyukainya?" Erika mengangguk sembari meneguk minuman sodanya.
"Bukankah masih banyak pria tampan yang lebih mudah didapati di luar sana? kenapa kau malah mempersulit hidupmu?"
"Arin, terkadang sesuatu yang kita dapati dengan susah payah akan terasa lebih berharga dari pada yang mudah kita dapati."
"Apakah kata-kata mutiara itu kau ciptakan sendiri?"
"Tidak, aku membacanya di internet," balas Erika santai kemudian kembali menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa. Rasanya hari ini sangat melelahkan mengikuti jadwal Julian yang sangat padat kesana kemari. Julian benar-benar memperlakukannya seperti asisten dengan menyuruhnya banyak hal.
"Sebenarnya aku mendekati Julian seperti ini bukan hanya karena aku menyukainya. Tapi ada sesuatu yang janggal bagiku," kata Erika mengungkapkan sesuatu yang mengganggu pikirannya beberapa waktu belakangan ini.
"Apa itu?" tanya Arin ingin tahu.
"Kau ingat Julian teman masa kecilku dulu saat keluargaku pindah ke salah satu desa di Gwanju?" tanya Erika membenarkan posisi duduknya untuk lebih fokus bercerita dengan Arin.
"Julian?" Arin terlihat berpikir sejenak, pasalnya ia tidak terlalu mengingatnya. Arin ingat dulu Erika beserta keluarganya pernah pindah ke Gwanju, tapi mengenai Julian ia masih berusaha untuk mengingatnya.
"Ah ya aku ingat. Julian itu temanmu satu-satunya disanakan? saat itu kau bahkan merajuk pada ayahmu dan tidak ingin bicara padanya beberapa hari karena dia kembali membawamu ke Seoul," ucap Arin saat berhasil mengingat. Erika mengangguk-anggukan kepalanya.
"Lalu apa hubungannya?"
"Aku rasa, Julian teman masa kecilku saat sekolah menengah pertama itu adalah Julian yang sama dengan Julian Emilio."
"Benarkah? lalu apa dia juga mengenalimu?"
"Itu dia yang membuat aku bingung. Dia seperti tidak pernah kenal denganku, nama belakangnya juga berbeda. Aku masih belum tau nama aslinya. Tapi kenapa dia tidak mengenaliku? bukankah namaku masih sama? atau jangan-jangan dia hanya pura-pura tidak mengenaliku?" ucap Erika menduga-duga. Terlalu banyak kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi yang ia pikirkan selama ini namun belum diketahui mana yang benar.
"Mukanya memang agak berubah, dulu dia tidak setampan itu. Atau mungkin karena dulu ia tinggal di desa dan karena masih kecil? aku bahkan ingat betul wajahnya dulu dan aku melihat fotonya di apartemen Julian saat itu dengan wajah yang sama. Ah benar-benar membingungkan."
"Kenapa kau tidak bertanya saja?"
"Aku masih belum yakin. Aku akan mencari tahu sendiri."
"Bagaimana jika kau bertanya saja pada manajer Han tentang asal Julian. Ia pasti mengetahuinya. Lagi pula ia sangat dekat dengan Julian."
"Ah benar juga, aku akan tanyakan padanya."
"Baiklah kalau begitu cukup membicarakan tentang Julian dan sekarang mulailah untuk memeriksa berkas-berkas yang sudah aku siapkan," ucap Arin melirik tumpukan berkas di meja yang belum di sentuh oleh Erika sama sekali.
"Aku rasanya butuh berendam, aku akan memeriksanya saat senggang nanti," balas Erika kemudian langsung berlalu memasuki kamar mandinya membuat Arin melongo. Gadis itu mulai lagi menguji kesabaran Arin dengan tingkahnya yang selalu semaunya saja.
***
Erika terlihat kesusahan mengangkat barang-barang milik Julian. Dalam hati gadis itu terus merutuki Julian yang selalu memerintahnya dengan seenaknya saja. Untung saja besok adalah hari terakhirnya bekerja dengan pria itu, jadi setelah itu ia bisa kembali bersantai untuk menghabiskan hari-harinya atau mungkin bisa kembali mengerjakan pekerjaannya karena Arin sudah sangat mengomel karena banyak pekerjaan yang menumpuk.
"Ahhh pinggangku rasanya akan patah membawa barang-barang ini," keluh Erika setelah berhasil meletakkan kotak makeup besar serta 2 tas berisi pakaian Julian. Gadis itu terlihat merenggangkan otot-ototnya
"Aku suka hasil kerjamu, sepertinya kita bisa memperpanjangnya hingga satu bulan," ucap Julian yang sudah mengambil posisi duduk di depan cermin menunggu make up artis datang untuk mendadaninya saat untuk hadir di salah satu acara talk show.
"Tidak, terima kasih," sahut Erika ketus yang membuat Julian tertawa kecil. Entah mengapa Julian suka sekali saat melihat gadis itu menggerutu atau merengut kesal.
"Julian, besokkan hari terakhir aku bekerja, bisakah kita makan malam bersama? aku sudah sangat bekerja keras," kata Erika mendekati Julian kemudian merangkul pundak pria tampan itu. Nadanya terdengar merengek manja.
"Ingin makan malam?" Erika mengangguk cepat dengan senyum sumringahnya.
"Baiklah, kau bisa memasak di apartemenku, setelah itu kita makan malam bersama." Erika langsung menjauhkan tangannya dari tubuh Julian dan kembali memasang wajah masamnya. Jawaban Julian benar-benar tidak sesuai dengan keinginannya. Padahal Erika menginginkan makan malam romantis di restoran yang mewah dengan lilin-lilin diatas meja sembari melihat pemandangan dari gedung yang sangat tinggi, bukankah itu sangat manis? jika memasak, itu sama saja Erika kembali membuat dirinya dalam kesulitan. Bagaimana tidak, ia bahkan tidak pernah memasak selama ini.
Tidak lama, make up artis datang juga dan mulai mendadani Julian diikuti stylist yang langsung berunding dengan Julian untuk memilih apakah style pilihannya sudah tepat atau belum pasalnya Julian cukup pemilih dan ia cendrung mengenakan apa yang ia suka dan nyaman dari pada mengikuti kemauan atau yang sudah disediakan. Saat sedang memperhatikan Julian yang sedang bersiap-siap, tiba-tiba saja ponsel Erika berdering. Tidak hanya Erika yang terlihat langsung menatap ponselnya, tapi diam-diam Julian juga melihat gerak-gerik Erika dari pantulannya di cermin besar di hadapannya karena saat itu Erika duduk di belakang Julian.
"Halo?"
"Ah aku benar-benar sangat lupa, maafkan aku."
"Aku sedang disuatu tempat. Jangan merajuk seperti itu, tentu saja kau penting bagiku. Apakah harus sekarang?"
"Baiklah, baiklah, kau bisa menjemputku." Kira-kira seperti itulah percakapan Erika dengan seseorang melalui telfonnya yang bisa Julian dengar. Tidak lama gadis itu terlihat menutup telfonnya membuat Julian langsung berhenti memperhatikan Erika.
"Julian, aku harus pergi," ucap Erika setelah beberapa saat menunggu Julian usai didandani dan hanya tinggal mereka berdua di ruangan itu.
"Pekerjaanmu belum selesai."
"Aku tau, tapi aku benar-benar harus pergi. Sampai ketemu besok," ucap Erika kemudian langsung berlalu pergi terburu-buru tanpa menunggu balasan dari Julian membuat Julian menghela nafas panjang. Akan kemana gadis itu? lagi pula urusan apa yang benar-benar membuatnya harus pergi seperti itu? Julian menghalau pikirannya jauh-jauh dan berusaha untuk tidak peduli saja.
***
Erika memasuki sebuah gedung yang terlihat cukup ramai dengan para tamu bersama Mark. Tangannya merangkul lengan Mark membuat mereka terlihat sangat serasi dan cukup menjadi pusat perhatian. Bagaimana tidak, wajah cantik serta gaya Erika yang sangat berkelas itu terlihat sangat cocok di sandingkan dengan pengusaha sukses nan tampan sekelas Mark Anderson. Balutan gaun panjang dengan model sabrina di lehernya berwarna merah maroon terlihat sangat pas membaluti tubuh ramping Erika. Rambut panjangnya ia biarkan terurai sekaligus untuk sedikit menutupi bagian belakang gaunnya yang bermodel terbuka. Meskipun sedang musim dingin, namun di acara seperti ini Erika tetap ingin terlihat modis. Ia sengaja melepaskan coat tebalnya tadi sebelum turun dari mobil.
"Selamat atas pernikahanmu Kak," kata Erika pada Claudia Anderson, yang merupakan kakak kandung Mark. Wanita itu terlihat sangat cantik dengan balutan gaun pengantinnya membuat Erika berdecak kagum. Pasti rasanya sangat menyenangkan memakai gaun seperti itu dan bersanding bersama pria yang dicintai.
Terima kasih Erika. Kau terlihat sangat cantik seperti biasanya," puji Claudia membuat Erika tersenyum.
"Queena Erika, akhirnya kau datang juga," kata seorang pria paruh baya yang tiba-tiba ikut bergabung bersma mereka.
"Selamat malam tuan Anderson," sapa Erika ramah pada ayah Mark itu. Karena ini adalah acara pernikahan kakak Mark, tentu saja Erika akan bertemu banyak keluarganya disini.
"Kau tidak perlu seformal itu pada paman," balas Eldrick Anderson.
"Bagaimana kabarmu? apa semua pekerjaanmu lancar?" tanya Eldrick.
"Semuanya baik-baik saja."
"Kau jangan ragu-ragu meminta bantuanku jika kau membutuhkannya, mengerti?" ucap Eldrick terdengar perhatian membuat Erika mengangguk sembari tersenyum. Keluarga Anderson selama ini memang sangat baik dengannya apalagi sejak kedua orang tuanya meninggal terutama Mark.
"Jadi kapan Mark dan Erika akan menyusul?" tanya Jay, suami Claudia yang sedari tadi hanya menyimak pembicaraan itu terdengar menggoda.
"Secepatnya," balas Mark sembari merangkul pinggang Erika mesra membuat Erika mengerutkan dahinya. Secepatnya? ah Mark selalu suka mengarang-ngarang.
"Baguslah, aku sangat menantikannya," ucap Eldrick terlihat ingin ikut serta menggoda.
"Apakah kau sudah siap Sayang?" tanya Mark mengedipkan sebelah matanya pada Erika yang membuat Erika memutar bola matanya malas. Sepertinya satu keluarga ini sangat suka menggodanya.
"Tentu saja aku siap. Siap untuk mencubitmu," balas Erika kemudian mencubit pelan bagian perut Mark membuat Mark meringis.
"Berhentilah menggodaku Mark," rengek Erika protes.
"Baiklah.. baiklah..."