Erika meletakkan asal dua tas jinjing milik Julian yang sedari tadi ia bawa ke lantai kemudian menghempaskan tubuhnya di atas sofa empuk yang berada di apartemen Julian untuk melepaskan penatnya. Julian hanya melirik gadis itu sesaat kemudian langsung berlalu ke kamarnya. Ia yakin gadis itu tidak akan langsung pulang. Erika akan pulang jika nanti Julian sudah memintanya dengan sedikit terlihat tegas agar gadis itu menurut. Biarlah ia sekarang beristirahat sejenak, lebih baik Julian mandi dan membersihkan dirinya agar lebih segar. Rasanya hari ini sangat melelahkan melakukan banyak kegiatan.
Setelah membersihkan dirinya beberapa saat, sesuai dugaan Julian, Erika terlihat masih berada di tempatnya dengan posisi yang sama dengan memainkan ponselnya. Menyadari kehadiran Julian membuat Erika langsung kembali meletakkan ponselnya di dalam tas untuk fokus pada Julian.
"Hmmm aku suka wangi lavender ini," kata Erika mencium aroma lavender dari tubuh Julian saat ini. Penciuman gadis ini benar-benar sangat tajam dan tepat."
"Pulanglah," kata Julian dengan nada datarnya sembari duduk di samping Erika dan menyalakan TV-nya agar suasana tidak terlalu sunyi.
"Pekerjaanku sudah selesai dan ini sudah seminggu penuh," ucap Erika membenarkan posisi duduknya dan kini menghadap pada Julian.
"Jadi apa sekarang kita sudah resmi berkencan?" Lanjutnya.
"Apa yang kau bicarakan?"
"Bukankah menjadi asistenmu merupakan syarat agar kita bisa berkencan?" Julian terdengar terkekeh kecil mendengar ucapan Erika. Ia ikut membenarkan posisi duduknya agar menghadap Erika.
"Aku memintamu menjadi asisten sebagai syarat agar kau bisa menggangguku, bukannya untuk berkencan. Apa kau pikir berkencan bisa sesederhana itu? Lagi pula aku sedang tidak ingin memiliki hubungan, aku sedang fokus dengan karirku. Kita bisa berteman."
"Berteman? Tidak, aku ingin menjadi pacarmu," tolak Erika spontan. Ia tidak ingin menghabiskan waktunya untuk berteman dengan Julian. Jika ia menginginkan Julian, itu artinya Julian harus menjadi miliknya dengan status sebagai kekasihnya, bukan temannya.
"Erika, dengarkan aku." Kali ini Julian terlihat serius.
"Kau dan aku berbeda, aku tidak sebebas dirimu. Kau mungkin bisa melakukan apapun sesukamu, pergi dengan siapapun yang kamu mau, berkencan dengan siapapun. Tapi itu tidak berlaku untukku. Aku bisa menyulitkan banyak pihak jika berbuat semauku, jika kau benar-benar menyukaiku, harusnya kau mengerti itu," kata Julian mencoba memberi pengertian. Untuk pertama kalinya ia menggunakan nada yang sangat bersahabat dengan Erika karena ia pikir Erika akan semakin keras jika ia lawan. Jadi yang harus ia lakukan adalah memberikan pengertian, dan bukan melawannya.
"Bukankah kita bisa melakukannya secara diam-diam? Pasti banyak selebritis yang melakukannya."
"Bisa jika kita saling mencintai, tapi jujur, aku belum memikirkan tentang percintaan saat ini," tutur Julian jujur.
"Aku pulang sekarang," ucap Erika bangkit dari posisi duduknya. Ia mengambil tas sandangnya di atas meja kemudian hendak pergi namun dengan cepat di tahan oleh Julian.
"Aku akan mengantarkanmu."
"Tidak usah, ada orang yang akan menjemputku."
"Siapa?"
"Apa urusannya denganmu? Hanya pacarku yang boleh tahu apapun tentangku," balas Erika ketus kemudian benar-benar berlalu keluar dari apartemen Julian. Julian hanya menatap gadis itu hingga hilang di pintu saat pintu tertutup. Sepertinya ia sedang merajuk karena kejujuran Julian.
Julian masih belum mengerti harus menghadapi Erika seperti apa. Kenapa Erika sangat mudah menyukainya? Bukankah rasa suka atau cinta itu butuh proses? Apa jangan-jangan Erika hanya terobsesi padanya dan berambisi saja? Bahkan mereka baru saja kenal. Ah rasanya sangat membingungkan sekali. Tidak ingin ambil pusing, Julian pun memutuskan untuk beristirahat. Besok adalah hari pertama ia syuting untuk drama terbarunya, jadi ia harus banyak beristirahat agar wajahnya terlihat bagus dan tidak kelelahan di depan kamera. Julian sudah tidak sabar untuk memperlihatkan penampilan terbaiknya untuk para penggemar yang sudah menunggu.
***
Erika memasuki ruang kerjanya yang berada di mansion. Karena terlalu fokus pada Julian belakangan ini membuat ia jarang memasuki ruangannya dan berkutat dengan aroma-aroma yang ia sukai ini. Erika mengikat rambutnya yang panjang agar tidak menggangu fokusnya dalam bekerja malam ini.
Seperti biasa, Erika lebih suka bekerja di malam hari bahkan cenderung tengah malam karena menurutnya suasananya lebih sepi dan tenang meskipun suasana di mansionnya selalu sepi dan tenang juga.
Erika mengambil sebuah botol berisi cairan parfum dengan aroma floral. Di hirupnya aroma itu dalam-dalam hingga matanya terpejam. Lengkungan senyum tipis terukir di bibir gadis itu. Aroma ini adalah aroma kesukaan ibunya. Dalam bisnis keluarganya, sebenarnya ibunya lah yang paling pandai berinovasi, namun ayahnya yang lebih pandai dalam bisnis. Oleh karena itu mereka saling melengkapi hingga bisa membangun bisnis yang sangat maju dan sukses seperti sekarang.
Ada kalanya Erika merindukan kedua orang tuanya, apalagi saat sedang bekerja seperti ini seolah dirinya benar-benar menggantikan sosok kedua orang tuanya. Tapi itu sama sekali tidak membuat Erika sedih ataupun frustasi, karena Erika yakin kedua orang taunya sudah bahagia disana dan ingin melihat Erika bahagia pula. Erika tidak bisa bohong bahwa ia sendiri sampai detik ini masih belum mengetahui apa yang membuat ia bahagia dan kehidupan seperti apa yang akan ia jalani ke depannya. Oleh karena itu Erika cenderung melakukan apa saja yang ia mau dan ia nyaman tanpa memikirkan siapapun, karena baru itulah cara untuk bahagia yang ia temukan sejauh ini.
Erika berencana untuk mengeluarkan aroma parfum yang sangat terbatas dalam waktu dekat ini untuk edisi tahun baru hingga awal tahun. Memang ini adalah menjadi agenda rutin perusahaannya. Tapi sejauh ini Erika belum juga menemukan apa yang akan ia keluarkan yang berbeda dari sebelumnya. Oleh karena itu Erika harus kembali bereskperimen. Tidak jarang juga Erika membaca berbagai sumber untuk mendapatkan inspirasi.
Malam ini ia berencana untuk mencampurkan wangi floral dan kayu-kayuan yang nantinya akan beraroma lembut. Sangat cocok untuk menyambut tahun yang baru dengan aroma yang sangat lembut tapi juga khas membuat siapa saja bisa dengan mudah mengingatnya.
Gadis itu terlihat mulai mengerjakan pekerjaannya dan mencampurkan beberapa bahan sesuai takarannya. Gerak geriknya terlihat begitu ahli. Tidak seperti Erika yang biasanya, jika sudah fokus bekerja seperti ini aura Erika terlihat begitu berbeda.
***
Erika melenggang memasuki sebuah kantor agensi yang cukup terkenal ini. Gadis itu terlihat modis seperti biasanya dengan dress berwarna pink pastel yang tertutup oleh long coat berbulu miliknya. Tidak lupa kaca mata hitam yang selalu bertengger di hidungnya. Semua yang ia pakai terlihat mewah dan mahal.
Erika tanpa ragu langsung memasuki sebuah ruangan yang ia yakini sebagai tempat dimana ia akan bertemu seseorang yang sudah ia rencanakan sebelumnya.
"Selamat siang Nona Erika," sapa orang itu melihat ke datangan Erika. Erika hanya menunduk kecil menyapa salamnya kemudian langsung duduk di sebuah sofa dengan begitu anggunnya saat dipersilahkan.
"Ada apa meminta bertemu hari ini? Jika tentang Julian, maaf aku tidak bisa bisa membantunya kali ini. Jadwal Julian sedang padat sekali. Ia akan marah besar jika diganggu. Aku akan mencoba mengaturnya saat ia senggang," ucapnyq bertubi-tubi membuat Erika memutar bola matanya malas. Pria paruh baya ini benar-benar sok tahu.
"Aku tidak membutukan bantuanmu lagi untuk itu, aku bisa mengaturnya sendiri," balas Erika membuka kacamatanya agar bisa lebih fokus dan terlihat serius.
"Aku ingin menanyakan beberapa hal padamu manajer Han, dan ku rasa kau pasti tahu."
"Menanyakan apa?"
"Dari mana Julian berasal?" Dahi manajer Han terlihat mengernyit heran saat mendengar pertanyaan Erika yang sepertinya ingin mengetahui hal-hal pribadi milik Julian.
"Maaf, aku tidak bisa memberi tahu tentang data pribadi Julian, Nona."
"Aku akan menjadi sponsor untuk acara tahunan agensimu. Salah satu grup idol baru dari agensimu akan mengadakan konser bukan?" Kata Erika memberikan penawaran. Manajer Han terlihat cukup terkejut karena Erika tahu tentang hal itu. Erika benar-benar luar biasa.
"Baiklah, apa yang ingin kau tahu?" Erika tersenyum simpul. Sangat mudah untuk merayu manajer Julian ini.
"Tapi berjanjilah untuk menyimpannya. Kau cukup mengetahuinya saja bukan?"
"Ya, aku hanya ingin tahu. Kau tenang saja. Karena aku menyukai Julian jadi aku harus banyak tahu tentangnya. Jadi dari mana Julian berasal?"
"Entahlah, sebenarnya akupun tidak tahu tentang hal ini." Erika menatapnya heran, bagaimana bisa ia tidak tahu?
"Jangankan aku, Julianpun tidak tahu dari mana ia berasal."
"Maksudmu?"
"Saat berusia 15 tahun, Julian mengalami kecelakaan yang membuat ia mengalami amnesia permanen. Saat itu ia dibantu oleh orang yang menabraknya. Tapi karena saat itu ia sendirian dan sudah dicoba cari tahu identitasnya namun tidak kunjung terungkap membuat Julian dititipkan di panti asuhan dan tinggal disana sebelum memilih untuk tinggal sendiri di Seoul dan menjadi trainee di agensi ini." Mulut Erika sampai terbuka saat mengetahui fakta yang begitu mengejutkan. Jadi Julian mengalami amnesia? Pantas saja ia tidak mengingat Erika sama sekali.
"Sepertinya ia berasal dari suatu tempat yang cukup jauh dari Seoul sebelumnya, makanya keluarganya cukup sulit untuk ditemukan. Oleh karena itu Julian ingin menjadi selebritis yang terkenal dan berharap ada keluarganya yang mengenalinya dan menghubunginya atau mengunjunginya," jelas manajer Han lagi.
"Tapi sayangnya sampai sekarang tidak ada seorangpun yang mengakui bahwa pernah kenal dengan Julian. Padahal itulah satu-satunya alasan bagi Julian untuk tetap bertahan di dunia hiburan ini. Ya memang wajah Julian terlihat agak berbeda dari saat dia kecil karena kecelakaan itu mengakibatkan beberapa kerusakan di bagian wajahnya hingga butuh di operasi hingga terlihat agak berbeda."
"Lantas jika memang tidak ada, kenapa Julian tetap ingin mencari tahu? Bisa saja ia cukup melanjutkan hidupnya seperti ini saja."
"Entahlah, bahkan kata Julian jika ia sudah bertemu keluarganya ia ingin meninggalkan dunia hiburan ini dan kembali pada keluarganya," balas manajer Han. Erika terdiam sesaat. Meskipun sudah mendapatkan fakta ini, namun belum tentu juga jika Julian ini adalah Julian yang sama dengan teman masa kecilnya. Apakah ia harus memberi tahu pada manajer Han? Tapi bagaimana jika ternyata mereka adalah orang yang berbeda? Atau bagaimana jika Julian memang benar Julian yang Erika kenal. Julian akan pergi kembali ke desanya yang masih sangat pelosok itu dan kembali meninggalkan Erika. Erika tentu tidak ingin kehilangan Julian lagi.
"Baiklah, aku rasa sudah cukup. Sekretarisku akan menghubungimu secepatnya untuk membicarakan tentang sponsor itu," kata Erika kemudian bangkit dari duduknya merasa sudah cukup mendapatkan informasi.
"Permisi." Erika langsung berlalu keluar dari ruangan manajer Han. Sepanjang jalan ia kembali berpikir. Sebagainya untuk saat ini ia menyimpan segala yang ia tahu saja. Ia masih harus mencari tahu dan memastikan. Ia akan berpura-pura tidak mengetahui apapun.