WF | Malu Mau

1052 Kata
❤❤❤❤ Zion mendesah berat setelah tak lagi melihat punggung Sera. Sebenarnya apa yang membuat Sera berniat sekali menjauhinya seperti ini? Padahal Zion merasa tidak melakukan kesalahan yang fatal kecuali suka mencuri ciuman dari bibir Sera. Itupun hanya sekali. Terjadi atas kemauan mereka berdua pula. Apa itu sebuah kesalahan ketika Sera juga menikmatinya. Mengenai masalahnya dengan Fajri, Zion merasa itu bukan kesalahannya tapi kenapa Sera ikut menjauhinya sejak Fajri menyakitinya. Zion membawa langkahnya meninggalkan kamar yang ditempati oleh Sera itu. Ia tidak bisa memaksakan kehendaknya saat ini juga. Zion berjanji akan pelan-pelan kembali masuk ke dalam hidup gadis itu. Tapi kalau memang tidak bisa pelan-pelan maka Zion akan memaksa masuk ke dalam hati Sera. Lagi pula Zion yakin Sera masih memiliki perasaan untukya. Ini semacam malu tapi mau. Zion cukup mengenal yang seperti ini. Karena dulu dirinya juga begitu kepada Sera. Karena perasaan tidak tegasnya itulah yang akhirnya membuatnya kehilangan Sera. Sudahlah.. Lebih baik Zion kembali ke kamarnya agar pikirannya bisa tenang dan besok bisa menciptakan strategi untuk mendekati Sera lagi. Saat Zion meninggalkan kamar itu, diam-diam Sera mengintipnya. Andai saja waktu bisa berputar, apa mungkin saat ini mereka bisa bersama?? Tetapi waktu tidak bisa diputar. Nasi yang sudah menjadi bubur, tak bisa lagi menjadi padi. Semua sudah terjadi. Tidak ada yang bisa memaksa takdir, mereka bukan dipertemukan untuk dipersatukan. Sera tersenyum sendu. Lagi pula hidupnya terlalu rumit untuk bersama Zion. Tidak ada yang bisa menjamin besok atau lusa ia masih ada di sini sebab ayahnya pasti sedang mencarinya saat ini. Obsesi ayahnya yang ingin menikahkannya dengan pria tua itu masih membayangi Sera. Bahkan mungkin sampai nanti ia kehilangan nyawa. Sera membenci semua itu. Tidak akan pernah ada celah untuk bersatu dengan Zion. Lelaki itu memiliki segalanya. Dia mendekati sempurna. Jadi, jika saja masih ada secuil harapan dalam diri Sera maka ia harus menghempaskan itu sejauh mungkin. Akan sia-sia jika dirinya masih mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Memangnya Zion benar-benar menyukainya, siap berjuang untuknya?? Tidak, kan? Sera mengedikan bahunya sebagai jawaban yang paling masuk diakal. Dia membalikan tubuhnya, membawa langkahnya untuk kembali ke kamarnya sendiri. *** Saat pagi menjelang, Sera sudah terbangun sejak beberapa waktu lalu. Di rumah ini memang ada asisten rumah tangga tetapi dasarnya Sera suka memasak, ia memaksa untuk membantu di dapur. Menunya pun dirinya yang menentukan. Untung saja saat ini yang masih tersisa hanya tinggal pihak keluarga dan orang terdekat lagi. Sehingga Sera tidak perlu merasa sungkan untuk mengapresiasikan hobinya ini. Sera mengernyitkan dahi saat melihat pengantin baru sudah keluar dari kamarnya. Di sana juga ada Zion yang sedang berbincang sambil berjalan bersama Uli dan Danar. "Ra?? Sini bentar!" panggil Uli. Sera berdecak. Kenapa Uli memanggilnya saat ada Zion di sana. Dengan malas ia menghampiri sahabatnya itu. "Ada apa?" tanyanya. Sera sedikit kesal karena harus meninggalkan masakannya. Sudut bibir Uli berkedut melihat tingkah Sera yang jutek. "Zion mau langsung balik ke Aussie pagi ini, mungkin kamu mau ngomong sepatah dua patah kata," goda Uli. Tetapi bukan itu yang menjadi fokus Sera. Uli mengatakan Zion akan ke Australia?? Sera terlihat kebingungan. Memangnya selama ini Zion di Ausi?? "Ohh Sera nggak tau ya," ucap Danar. Ia menjeda kalimatnya untuk melihat reaksi Sera. "Zion selama ini tinggal di Aussie, aku memintanya secara khusus untuk datang ke sini," jelas Danar. Sera membuang wajahnya. Memangnya kenapa kalau Zion tinggal di sana?? Sekalian saja tinggal di planet yang letaknya di entah berantah. Melihat tidak ada reaksi dari Sera, Uli mengambil inisiatif untuk mengajak Zion bicara. "Kamu kapan balik ke sini lagi, Zion?" tanya Uli. Ia yakin itu adalah pertanyaan yang diam-diam ingin Sera ketahui jawabannya. Zion menggelengkan kepalanya. "Entahlah," jawaban Zion membuat Sera menahan napasnya. Sialan!!! Entah kenapa Sera merasa kekesalannya bertambah berkali-kali lipat dari sebelumnya. "Kalau gitu hati-hati," ucap Sera terkesan terburu-buru. Ia berusaha menutupi perasaannya yang kacau. Mendengar itu Zion terkekeh. Pun, Uli dan Danar melakukan hal yang sama. Sera ini sedikit berubah, dulu ia memang cuek namun kejutekannya tidak separah ini. Ada lagi yang mengusik Uli, tatapan mata Sera sedikit lebih sendu dari yang dulu. "Balik secepatnya bro, takut ada yang menunggu," ucap Danar sambil melirik ke arah Sera. "Gampang bro, ntar kalau ada yang nyari kabarin gue secepatnya ya," balas Zion yang juga melirik Sera. Sementara itu, Sera tidak tahu harus melakukan apa. Kemarin adalah pertemuan tak terduganya dengan Zion meskipun hari ini ia yakin semua sudah direncanakan oleh Uli. Tetapi Sera merasa hatinya yang seharusnya bersyukur karena Zion akan pergi, justru keberatan dengan berita mendadak ini. Indonesia, Australia, berapa jauh jaraknya itu? Zion belum tentu kembali lagi ke Indonesia. Tapi bagaimana dengan restorannya?? Sekonyong-konyong, karena penasaran, Sera membuka mulutnya untuk bertanya. "Restoran kamu gimana? Ditinggal?" tanyanya tanpa menatap Zion. "Kamu nanya sama siapa?" tanya Zion yang bermaksud untuk menggoda Sera. Hal itu membuat decakan kesal terdengar di antara mereka. Zion mengangkat tanganya, dia menyerah. Sera tidak bisa diajak bercanda. "Restoran masih di sini. Aku tetap handle tapi dengan jarak jauh." jelasnya. "Aku dengan senang hati memberikan restoranku kalau kamu siap mengambil alih dan jadi nyonya Antranajaga, sayang," ucap Zion. Sial bagi Sera karena ia ditertawakan oleh Uli dan Danar. "Cie merah pipinya," goda Uli. Sera salah tingkah. Ternyata mulut Zion lebih berbahaya dari pada mulut Danar saat lelaki itu menggoda Uli. Karena saat itu Sera akan dengan senang hati memuntahkan isi perutnya saat mendengar Danar merayu Uli dan Uli bersemu seperti yang saat ini dirinya lakukan. Astaga!! Sera ingin sekali bersembunyi dibalik wajan supaya Zion tidak bertingkah seperti ini. "Gimana? Mau?" tanya Zion masih dalam mood menggoda Sera. Ia senang sekali melihat pipi Sera yang memerah karena ulahnya. Sera mendelik. "Apaan sih!" ujarnya sambil membalikan tubuhnya. Ia bermaksud untuk meninggalkan mereka dan kembali ke dapur, meneruskan masakannya. Namun tangannya ditahan oleh Zion. Dengan santai Zion kembali membalikan tubuh Sera hingga Sera menghadapnya. Zion menarik Sera ke dalam dekapan hangatnya. Demi apapun Sera sungguh terkejut dengan apa yang Zion lakukan. "Lepasin!" pintanya tapu Zion tidak peduli dengan permintaan itu. Mana bisa dirinya melepaskan Sera sementara ia tahu Sera juga memiliki perasaan yang sama dengannya. Hanya saja mungkin Zion harus berjuang lebih keras untuk kembali meraih hati Sera. "Aku nggak lama ke Aussie. Minggu depan udah balik ke sini lagi. Jangan khawatir dan jangan rindu," bisik Zion pada kuping Sera. Zion tersenyum dibalik tubuh Sera setelah ia merasakan pujaan hatinya itu diam-diam bernapas lega.   . . . Bersambung. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN