***
Apa mau di kata ketika yang berjanji tak juga menepati. Sudah seminggu lebih Zion tak lagi berkabar. Rupanya Aussie sudah menawan hati lelaki itu. Sera tak ingin memikirkan lelaki pendusta dan pengingkar janji itu, hanya saja ia penasaran kenapa Zion gagal menepati janjinya dan berakhir memberinya harapan palsu seperti ini. Sebenarnya Sera tidak peduli, atau lebih tepatnya mencoba untuk tidak peduli, tetapi hati kecilnya bertanya-tanya dan resah secara terus menerus.
Maka, ketika Sera tak lagi sanggup membendung rasa penasarannya, Sera akhirnya memutuskan untuk menghubungi Uli. Ia membuka obrolan lewat telepon bersama sahabat karibnya itu.
"Teman kamu, Zion, udah balik dari Ausie, Ul?" tanya Sera setelah ia berbasa basi menanyakan kapan Uli kembali ke Wedding Fashion. Sera berusaha semaksimal mungkin untuk tidak terdengar penasaran akut. Meski begitu, di seberang sana Uli sedang menertawakan tingkahnya. Kenapa rindu seperti ini ya? Maunya dia berkabar. Namun, malu untuk bertanya. Uli takut Sera sesat di jalan kalau begini terus. Jadi, sebagai seorang sahabat, Uli akan membantu Sera untuk menemukan jalan yang benar.
Uli terkekeh memikirkan itu. Ia berjanji akan membantu Zion bersatu dengan Sera, karena Uli mengerti bagaimana perasaan Sera yang sebenarnya.
"Zion?? Dia kan nggak balik lagi," jawab Uli setelah sekian detik hanya terdiam dan senyum-senyum membayangkan seperti apa wajah Sera sekarang.
Uli tahu setelah mendengar kebohongannya itu Sera akan terdiam. Sahabatnya itu pasti sedang menerka-nerka apa yang telah Zion lakukan di sana, dan kenapa Zion membuatnya diam-diam menunggu seperti ini.
Deheman keras dari Sera yang mencoba membuang serak dalam suaranya membuat Uli tertawa lepas. "Kenapa buk?? Mau nangis karena rindu?" tanyanya penuh goda.
Menolak mengiyakan, Sera menggelengkan kepalanya meskipun Uli tak bisa melihat responnya itu. "Nggak!! Siapa juga yang rindu???!" balasnya dengan suara yang sedikit meninggi. Lagi-lagi Uli terkekeh. Bagaimana mungkin Sera berubah sejauh ini? Ia seperti banyak sekali memiliki rahasia yang tak ingin dibaginya bersama. Padahal Uli hafal betul bagaimana sikapnya.
"Kalau kamu mau, nanti aku tanyain kapan dia pulang," penawaran Uli sangat menggiurkan bagi Sera, tetapi ia menepis semua itu dari pikirannya. Kenapa memangnya kalau Zion benar-benar menetap di sana? Dan, kenapa memangnya jika lelaki pengingkar janji itu kembali pulang?
Sera bukan rumah bagi seorang Zion Antranajaga. Zion tentu berhak tinggal di manapun yang lelaki itu inginkan. Sera menghela napasnya setelah menjauhkan ponsel cukup jauh darinya. Tak seharusnya ia diam-diam berharap hingga hatinya terluka lagi seperti ini.
Mata perempuan itu terpejam rapat sebelum kembali terbuka lebar. Sendu tatapannya. Namun, kepalanya memkasa untuk bergerak tegas, mengangguk singkat demi keyakinan yang tak lengkap. Sera benar-benar berharap ia tak lagi memikirkan Zion.
"Makasih, tapi nggak perlu!" balas Sera terkesan angkuh. "Ya udah aku tutup ya," sambungnya lagi.
Tanpa menghiraukan teriakan Uli yang mengatainya gengsian, Sera mematikan teleponnya. Ia memandang wallpaper layar hpnya yang menampakan dirinya sendiri. Foto itu diambil setahun yang lalu. Kemudian ia membuka galerinya, mulai membandingkan foto lamanya dengan fotonya yang terbaru. Dapat Sera simpulkan betapa berubahnya tatapan matanya itu. Lebih sendu. Padahal beberapa bulan yang lalu matanya begitu tajam. Itu dapat ia lihat dari foto terakhirnya bersama Uli setelah sahabatnya itu selesai mendesain gaun pengantinnya.
Tapi lihat sekarang, matanya sayu. Persis seperti orang kelelahan sepanjang waktu.
Sera menarik napasnya dalam-dalam kemudian mengembuskannya secara perlahan. Semoga apa yang dirinya lakukan bisa mengurangi sesak tak kasat mata yang selama Enam bulan ini menggerogoti bathinnya. Namun, rasanya percuma. Sesaknya tak kunjung hilang. Semakin dirinya mencoba yang terbaik, ia semakin merasakan sakit di hati kecilnya.
Sera benar-benar ingin terbebas dari semua rasa kecewanya pada kehidupan ini. Bukan bermaksud tidak mensyukuri nikmat yang Tuhan berikan, hanya saja ia juga manusia biasa yang rentan terluka.
Tak berani lagi Sera mempercayakan hatinya pada siapapun. Tidak pada Zion apa lagi pada orang tuanya yang tak pernah memikirkannya. Ini adalah patah hati yang paling nyata baginya. Namun, untuk membenci ia tak bisa. Dirinya masih terkalahkan dengan rasa cinta kepada orang tua.
Andai saja diizinkan membenci, maka dengan senang hati Sera akan membenci mereka terutama Ayahnya. Ah, jangan lupakan ibunya yang sampai detik ini tak pernah memberinya kabar sejak memiliki keluarga baru. Itu sudah terjadi bertahun lamanya.
Lantas dengan cerita hidup yang sedemikian rupa, kenapa Sera tak boleh bersedih dan mengeluh?? Sementara dirinya yang rapuh membutuhkan sandaran yang kuat atau ia akan mati secara perlahan.
Sera menggelengkan kepalanya dengan kuat. Ia mencoba melupakan semuanya agar hidupnya menjadi lebih normal.
Di saat yang bersamaan, dering handphonenya memenuhi indra pendengarnya. Dering itu sejenak mengalihkan pikiran Sera yang kusut. Sera menatap layar hpnya. Lagi-lagi nomor yang sama. Si penelpon yang tidak ada dalam kontaknya.
"Hallo?" sapa Sera seramah mungkin. Barangkali ini adalah client mereka.
"Hai mbak cantik," sapaan dari seberang sana membuat Sera mengernyitkan dahinya. Siapa gerangan yang menelponya dengan nomor baru ini. Tetapi Sera tidak asing dengan panggilan itu. Ia mencoba mengingat siapa yang biasa memanggilnya dengan panggilan seperti itu.
Saat satu nama terlintas dalam benaknya, Sera tak dapat menahan senyum di wajahnya. "Faldo???" tanyanya yakin.
Terdengar suara terkekeh di seberang sana. "Iya mbak. Apa kabar?" tanya Faldo Riandofli, kenalan yang sempat menemani Sera kala ia tinggal di rumah ayahnya waktu itu. Mereka bertemu di rumah sakit yang Ayahnya jadikan tempat bersandiwaranya. Faldo adalah dokter di rumah sakit itu. Namun, ia bukan dokter yang menangani ayahnya. Waktu itu ayahnya memiliki dokter pribadinya sendiri yang telah diajaknya bekerja sama untuk membohongi Sera. Dokter tersebut adalah sepupu Faldo. Ia tidak tahu niat ayahnya yang sebenarnya. Ayahnya meminta tolong kepada dokter itu dengan alasan bahwa ini adalah satu-satunya cara agar Sera memaafkannya.
Awalnya sepupu Faldo enggan melakukan itu, tetapi karena ancaman ayahnya yang entah apa, akhirnya dokter muda itu setuju untuk membantu ayahnya mencuranginya. Hingga Faldo mengungkapkan semuanya pada Sera setelah Sera menceritakan perjodohan yang ayahnya paksakan padanya di pertemuan terakhir mereka. Karena setelah itu, Sera dikurung di rumah selama berbulan-bulan. Beruntung ia bisa melarikan diri.
Perihal nomor Faldo yang tak tersimpan di hpnya adalah karena ia lupa memberi nama pada kontak itu akibat dari permasalahannya yang menumpuk.
"Baik, Do, kamu kenapa nelpon aku??" tanya Sera. Ia sedikit was-was mengingat Faldo adalah sepupu dokter yang ayahnya paksa untuk bekerja sama dengannya itu.
Diujung sana Faldo mendesah berat. "Tiba-tiba rindu sama mbak cantik," jawabnya enteng.
Sera terkekeh mendengarnya. Persetan dengan maksud dan tujuan Faldo menelponnya, yang jelas Faldo pernah membantunya dulu. Tak mungkin Faldo kini memiliki niat jahat.
"Masa iya rindu, Do? Kita kan cuma kenalan," goda Sera.
"Memangnya rindu harus sama pacar aja mbak?" tanya Faldo.
"Iyalah," jawaban singkatnya memicu Faldo untuk mengatakan sesuatu diluar prediksi Sera. "Kalau gitu ayo pacaran!" ajaknya.
Sera terdiam sebelum gelak tawa memenuhi ruangannya. Hanya beberapa waktu saja ia mengenal Faldo, tetapi dokter muda itu tak pernah absen dalam menggodanya. Sera akan mengikuti permainannya kalau begitu. "Alah jangan ngomong doang ah Do, nggak seru!" balasnya.
"Siapa yang main-main?? Ini serius, mau jadi pacarku?"
Sera tersedak ludahnya sendiri. Mimpi apa dirinya semalam hingga digoda oleh dokter muda seperti Faldo? Astaga! Sera tidak bisa menahan tawanya setelah sekian lama hanya wajah cemberut yang mengisi hari-harinya. Sera berdehem untuk menetralisir tawanya sendiri. "Maunya langsung jadi istri," balas Sera mencoba mengikuti permainan Faldo.
Entah kenapa Faldo mampu membuat Sera kembali menjadi dirinya sendiri. Ia seakan lupa sedang memikul beban di pundaknya. Ia juga lupa hatinya sedang terluka. Mungkin Faldo adalah sosok teman yang Tuhan kirimkan untuk memenuhi harinya dengan canda dan tawa.
"Bagus kalau gitu, kapan mau dilamar mbak cantik?" Nah, sekarang Sera kebingungan. Kenapa Faldo menanyakan itu tanpa kekehan??
"Enak saja!! Setelah sekian lama nggak saling mengabari, tiba-tiba mau lamaran aja kamu, Do," kekeh Sera.
"Salah siapa ini?? Coba hitung berapa kali aku menghubungi nomor ini tapi nggak ada jawaban???" Pernyataan ataupun pertanyaan yang Faldo berikan benar juga. Sera tidak pernah mengangkat nomor telepon ini karena ia pikir seseorang mungkin saja mengerjainya. Lagi pula, selama dikurung, Sera benar-benar tidak bisa melakukan apupun dan tidak bisa melibatkan siapapun.
"Maaf, Do," ucap Sera dengan tulus.
Faldo menerima maaf itu. Mengalirlah cerita mereka dengan sendirinya. Faldo mengatakan bahwa mulai sekarang ia bekerja di salah satu rumah sakit yang ada di Jakarta, sehingga dapat dipastikan mereka akan sering bertemu. Syukurlah, datangnya telepon dari Faldo hari ini tidak ada hubungannya dengan ayahnya. Sera yakin akan hal itu.
Asyik saling memberi kabar, menceritakan satu sama lain, Sera tidak menyadari ada seseorang yang sedang mengintip dibalik pintu ruangannya yang sedikit terbuka. Adalah Zion, yang langsung menuju ke Wedding Fashion setelah Uli mengabari bahwa Sera merindukannya. Zion merasa senang karena akhirnya Sera memintanya datang secarar tidak langsung.
Namun, hatinya yang tadi berbunga, kini harus merasakan resah yang tak terbendung hanya karena melihat Sera tertawa lepas bersama lelaki yang Zion yakini bernama Faldo, nama itu yang berkali-kali Sera sebutkan selama keduanya saling menyahut kata.
Percuma saja ia datang buru-buru. Bahkan sengaja menyalip kendaraan lain agar secepatnya bertemu dengan Sera. Kedatangannya justru disambut dengan cara yang tidak terduga. Zion penasaran siapa sebenarnya seorang Faldo Riandofli? Teman dekat Sera, kah? Kenapa kesayangannya itu bisa tertawa lepas hingga tak menyadari kehadirannya seperti ini?
"Sial!" maki Zion. Niat hati ingin mengejutkan Sera, tetapi justru dirinya yang terkejut.
Zion menggenggam erat kepalan tangannya. Bukuh jarinya merincing akibat terlalu kesal. Kakinya masih terpaku pada tempat yang sama karena Sera tak juga mengakhiri obrolannya. Bahkan perempuan yang dirinya cintai itu tampak semakin bahagia. Entah candaan apa yang sedang berlangsung di sana, tetapi Zion yakin, lelaki bernama Faldo adalah saingan barunya.
“Sungguh sial! Masalah lama belum kelar, masalah baru sudah menghampiri,” gerutu Zion. Dirinya ragu untuk mengetuk pintu dan mengentikan obrolan keduanya. Mendadak Zion takut kehadirannya menganggu kebahagian Sera. Bagaimana jika ia hanya seseorang yang tidak diharapkan Sera? Bagaimana jika Sera diam-diam sudah memiliki tambatan hati yang lain? Bagaimana pula jika perkiraannya tentang perasaan Sera tak lagi sama?
Zion merasa rahanganya semakin mengeras saja. Kekeasalannya bertambah begitu pemikiran itu menghampiri. Semakin kesal saat mendengar tawa Sera kembali terdengar. Bahkan mata Sera mengecil akibat tawa lepasnya itu.
“Sera,” geram Zion. “Hentikan tawamu itu!” ujarnya tertahan. Zion seperti ingin meledak. Namun, kakinya benar-benar tidak bergerak. Entah kenapa Zion masih berdiri pada tempat yang sama. Tidak kembali, juga tidak maju menemui Sera.
Zion seolah sedang memberi hatinya pelajaran, bahwa ada seseorang yang bisa membuat Sera tertawa bahagia. Zion memberi hatinya peringatan, bahwa Sera pun memiliki sosok lelaki yang bisa membuatnya melupakan kesedihan. Dan, sungguh menyebalkan, sebab bukan dia yang bisa membuat Sera melupakan kesedihan itu.
Desah berat terdengar. Zion tidak rela, tetapi tawa Sera terdengar nyata. Perempuan yang beberapa waktu lalu ia temui lagi untuk pertama kalinya itu, tak lagi menunjukan kesedihan. Tatapannya tak lagi sendu ketika menyahuti obrolan demi obrolan di dalam sana. Tak tega rasanya bila ia harus mengacaukan semuanya. Perasaan tak rela itu lah yang membuat kaki Zion enggan bergerak. Ia ragu menganggu kebahagian Sera.
.
.
.
Tbc.
Hai dear... aku update random di sini ya biar kalian nggak nunggu-nunggu amat. Anginnya dikencengin ya biar bisa up rutinnnn bulan depan wkwk. Aku juga akan up di beberapa ceritaku yang lain. Silakan tinggalkan komentar ya. Makasih :-)