Dewi menunggu Diwa terlebih dahulu sebelum menuju paviliun Marwah yang akan menjadi kamar perawatan untuk Indira. Sambil menunggu Diwa, Dewi melihat ponselnya untuk mengecek email yang di kirim oleh Saras sekretarisnya.
Dewi tersenyum ketika ia menerima dokumen yang dikirimkan Saras, dokumen penting yang akan sedikit menyelamatkan Indira dari keterpurukannya dari ekonomi. Karena dokumen itu merupakan surat wasiat dari Arka, satu jam sebelum dirinya melafalkan ijab qobul terhadap Indira Faradiba.
Sebagai orang yang mengetahui bagaimana perasaan cinta mereka berdua, Dewi berpikir jika Indira memang pantas mendapatkannya. Dewi harus menyiapkan otak dan tenaganya untuk melawan Keluarga Castello, yang pasti tidak akan terima dengan keputusan yang dibuat oleh almarhum Arka, tapi Dewi akan memperjuangkannya untuk hak yang memang sudah seharusnya menjadi milik Indira.
Dewi juga harus menyiapkan mental karena setelah ini pasti dirinya di benci oleh keluarga Castello, terutama oleh Monica yang memang begitu menentang hubungan Almarhum Arka dan Indira. Padahal selama berteman dengan Arka, Dewi dan Diwa di perlakukan layaknya anak sendiri oleh kedua orang tua Arka.
"Udah semua?" tanya Dewi setelah Diwa berdiri di hadapannya.
"Udah, di kamar mana?" tanya Diwa
"Marwah no tiga," jawabnya singkat.
"Yuk kita ke sana," ajak Diwa.
Mereka berjalan sesuai arahan perawat yang tadi menunjukkan arah jalan. Berjalan dengan bergandengan tangan layaknya pasangan pada umumnya.
Diwa dan Dewi selalu profesional dalam bekerja, sangat jarang menunjukkan kemesraan di depan umum, lebih sering berdebat jika sedang bekerja. Dewi yang selalu melihat dari segi analisa dan bukti karena dirinya pengacara, sering berdebat dengan Diwa yang lebih mengandalkan logika dalam setiap bekerja. Hal itu yang terkadang menjadi tontonan gratis plus seru untuk almarhum Arka.
"Saras udah kirim salinan dokumen tadi pagi, kamu udah cek email?" tanyanya pada Diwa.
"Belum sempet, yang penting kamu udah tahu, 'kan?"
Dewi mengangguk mengiyakan, ketika mereka akan belok kanan menuju koridor Paviliun Marwah, mereka berpapasan dengan Angga yang merupakan anak dari pemilik rumah sakit tersebut.
Diwa dan Dewi sangat mengenal Angga, terutama Diwa yang memang satu fakultas yang sama dengannya sekaligus sahabat mereka juga.
Jadi ketika mereka menempuh pendidikan di Luar negeri sana, Angga, Diwa, Kemal, Bima dan almarhum Arka merupakan teman karena sama-sama di fakultas Bisnis.
Diwa bersahabat dengan Arka karena mereka memang sudah mengenal dari jaman orok, sedangkan Angga, Kemal dan Bima bersahabat karena berteman dari sekolah dasar.
"Wah! Ketemu Bapak Diwa disini, lagi ngapain?" tanya Angga dengan senang karena bertemu dengan sahabatnya.
"Wedeh! Bapak CEO makin bersinar aja nih," goda Diwa sebelum menjawab pertanyaan Angga. "Nungguin sepupu Dewi tadi pingsan," jawabnya.
Angga memang belum mengetahui perihal kematian Arka, karena sampai saat ini masih tertutup rapat. Angga juga tidak mengetahui jika Arka sudah menikah, karena Arka dan Indira hanya menikah secara siri dan hanya di hadiri oleh keluarga inti saja.
Hal itu sengaja di lakukan oleh keluarga Arka karena sebenarnya mereka memang tidak pernah merestui Arka dan Indira. Waktu itu Arka menyetujui saja, karena keluarganya berjanji akan menggelar pesta pernikahan yang mewah jika Indira hamil, apalagi jika anak yang dikandungnya nanti laki-laki. Orangtuanya bahkan membebaskan mereka memilih pesta dimana pun dan pesta yang bagaimanapun.
Namun itu semua hanya sebagai ilusi bagi Indira, karena jangankan hamil dan pesta mewah, bahkan membuka pintu kamar pengantin pun mereka tidak pernah melakukannya. Oleh sebab itu pernikahan mereka tidak pernah diketahui oleh siapapun.
"Sakit apa?" tanya Angga lagi.
"Kecapean, Oh iya ada lowongan gak nih buat dokter kandungan disini?" tanya Dewi bermaksud untuk Indira. Sambil menyelam minum air menurutnya, ia hanya bercanda tapi berharap juga.
"Buat siapa?" tanya Andra heran.
"Buat sepupu gue yang sekarang lagi di rawat," jawab Dewi.
"Kita belum nanya sama orangnya, Ysng." tegur Diwa pada istrinya.
"Ya 'kan emang Indira dokter, Yang. Dia juga butuh kerjaan," ujar Dewi.
"Tapi 'kan kita belum nanya, orang nya aja belum sadar."
"Lo berdua ngapain debat depan gue sih?" sela Angga yang heran dengan dua orang dihadapannya.
"Oh iya ya?" Diwa malu sendiri dengan tingkahnya.
"Dirawat dimana sepupu lo?" tanya Angga pada Dewi.
"Marwah nomor tiga," jawab Dewi.
"Gue ikut deh ke sana, nanti kita bahas lagi buat pertanyaan lo itu." Angga ingin melihat dulu yang mana sepupu Dewi.
Mereka berjalan menuju ruang rawat Indira dengan diiringi obrolan ringan, di sepanjang koridor yang mereka lewati semua karyawan mengangguk hormat pada Angga.
Menuju ruang perawatan yang memiliki tingkat keamanan yang ketat, karena setiap kamarnya dijaga oleh satu orang security. Hal itu untuk menunjang keamanan dan kenyamanan keluarga pasien, hanya pemegang kartu masuk ruangan yang diperbolehkan masuk.
"Selamat malam Pak Angga," sapa seorang scurity yang menjaga kamar rawat Indira, tanpa memerlukan kartu bagi seorang Angga untuk masuk ke ruangan itu.
"Malam, Pak. Kondisi aman?" tanyanya basa basi.
"Alhamdulillah aman, Pak."
"Alhamdulillah, Saya masuk dulu." Security itu membukakan pintu untuk mereka bertiga.
"Keren sih RS lu, keamanannya gue acungin jempol." Dewi yang melihat penjagaan ketat kagum terhadap rumah sakit yang dimiliki Angga. Menurutnya sangat bagus demi keselamatan dan keamanan keluarga pasien.
"Makasih buat pujiannya," balas Angga dengan tersenyum sok manis.
Angga memang senang menjahili Dewi dengan senyum sok manisnya. Menurut Dewi senyum Angga yang seperti itu sangat menyebalkan.
"Geli gue liatnya," cibir Dewi seperti biasanya.
"Tapi suka, 'kan?" goda Angga lagi.
“Uka anet,” jawab Dewi menirukan gaya bahasa anak kecil.
“Orang gila ketemu sama orang kurang waras ya gitu,” cibir Diwa pada mereka berdua, Angga dan istrinya memang sedikit kurang waras jika sudah bertemu.
“Eh, ini bukannya pacar si Arka?” tanya Angga pada sosok yang masih memejamkan matanya dengan rapat di atas brankar.
“Mantan sih lebih tepatnya,” jawab Dewi.
Sesuai kesepakatan antara dirinya dan Diwa yang akan menjawab pada semua orang bahwa Indira adalah mantan dari Arka. Mereka tidak mau Indira terbebani dengan status janda yang baru di dapatkan nya, hal itu agar tidak ada yang mengetahui bahwa Indira merupakan janda dari seorang Arka. Karena keluarga Arka sendiri tidak mau mendengar hal tersebut.
“Oh, bukannya mereka udah tunangan ya? Kirain gue lanjut ke pelaminan?” tanya Angga masih tidak percaya, karena semua orang yang mengenal Arka sudah pasti mengenal Indira, sosok Wanita yang begitu dibanggakannya disetiap pertemuan.
“Nah dia ini yang butuh kerjaan,” jawaban Dewi melenceng dari pertanyaan Angga.
“Sembuhin dulu aja, kasih berkasnya ke gue, ntar gue pertimbangain,” jawab Angga.
Diwa kemudian mengambil remot Tv untuk melihat berita, Diwa yakin berita kematian Arka sudah menyebar di dunia maya, dan benar saja, disalah satu stasiun televisi sedang di siarkan kabar duka dari Castell Corps.
“Arkadia Castello, Putra tunggal dari pemilik Castell Corps hari ini dikabarkan meninggal dunia akibat terjatuh dari tangga rumahnya, sempat dirawat selama dua jam lamanya di sebuah rumah sakit, Arka menghembuskan napas terakhirnya tepat pukul dua siang tadi. Pemakaman yang cukup tertutup membuat kecurigaan publik apa yang sebenarnya terjadi, karena para wartawan sendiri dilarang mendekati rumah dan area pemakaman yang dilakukan tadi siang. Kepala pelayan keluarga Castello hanya menjelaskan bahwa Sang Tuan rumah sedang berkabung dan tidak ingin diganggu, dan mengharapkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas semua kesalahan yang pernah Arka lakukan selama hidupnya. Sekian berita hari ini, selamat malam dan samai jumpa.”
Angga melongo mendengar berita yang baru saja ia lihat, “Innalilahi wainnailaihi roji’un, Itu serius?” tanyanya masih tidak percaya. Diwa dan Dewi mengangguk mengiyakan. “Tapi kok lo berdua kok disini?” tanyanya lagi yang heran, karena setahunya mereka bersahabat dengan sangat dekat seperti saudara, tapi mengapa Diwa dan Dewi terlihat begitu santai.
“Arka jatuh dari tangga pas mau ke kamarnya, dia gak hati-hati dan buru-buru mangkanya kepleset dari tangga yang hampir mau keujung. Dibawa ke RS, dua jam operasi kepala tapi gak bisa tertolong lagi,” tutur Dewi dengan mengusap air matanya. “Indira kecapean juga karena nangis buat dia,” lanjutnya lagi dengan sedih.
“Innalilahi, tapi kok keluarganya tertutup begitu?” tanyanya lagi heran, mereka keluarga pebisnis, jadi wajar jika berita apapun akan ditayangkan di media.
“Gue gak tau kalo buat kesitu, yang pasti keluarganya gak mau komentar apa-apa,” balas Diwa.
“Ya udah itu hak mereka, gue turut berduka aja sih.” Angga cukup memaklumi, mungkin keluarganya tidak ma terus mengingat hal yang begitu menyakitkan bagi mereka semua. “Gue balik keruangan dulu ya, GWS buat sepupu lo.”
ngga pamit dan segera pergi meninggalkan ruang perawatan Indira. Berjalan santai dengan sesekali membalas sapaan semua karyawannya. Angga dapat melihat jelas wajah sembab Indira. Wanita itu pasti begitu kehilangan menurutnya, karena bagaimana pun Angga juga mengetahui bagaimana kisah cinta mereka yang sama-sama saling mencintai.
Mungkin itu yang membuat Dewi mengatakan bahwa Indira adalah mantan dari Arka. Entah mereka putus sebelum Arka meninggal atau bisa jadi mereka putus karena berbeda alam. Angga menggelengkan kepalanya karena terlalu banyak ikut campur dalam memikirkan hal itu.
“Astagfirullah hal adzim, kenapa gue mikirin hubungan mereka?” tanyanya pada diri sendiri.
Angga melihat jam yang melingkar di tangannya, sudah pukul 20.00 wib cukup terlambat untuk waktunya pulang.
Setelah merapikan meja kerjanya Angga bergegas untuk pulang, badannya terasa begitu lengket ingin segera berendam di air hangat. Hari ini Angga sengaja melakukan keliling rumah sakit untuk melihat dan bertanya langsung pada para pasien dan keluarganya, tentang kepuasan mereka dalam pelayanan rumah sakit. Hal yang selalu dilakukannya secara rutin di hari dan tanggal yang random.