bc

Marry Me, Dokter Indira!

book_age18+
175
IKUTI
1K
BACA
family
fated
goodgirl
drama
sweet
bxg
female lead
male lead
city
coming of age
like
intro-logo
Uraian

Mengejar cinta dari wanita yang hatinya telah mati pada satu orang, membutuhkan kesabaran dan juga tenaga yang ekstra untuk mendapatkannya.

Itulah kira-kira yang Angga rasakan, ketika hatinya terpatri pada seorang wanita cantik yang berprofesi sebagai dokter kandungan. Dokter cantik yang hatinya telah mati pada satu orang, yaitu Almarhum suaminya yang ternyata salah satu teman dekatnya.

Bagi Indira, dicintai oleh Angga sama saja dengan mengulang kesalahan seperti dulu. Perbedaan status sosial yang membentang menjadikannya takut untuk kembali merajut kasih.

Menutupi perasaan yang sebenarnya adalah salah satu cara terbaik agar hatinya tidak kembali terluka.

Hinaan, cacian, yang selama ini diterimanya membuat Indira seolah trauma untuk menjalin kembali sebuah hubungan dengan lawan jenis.

Sebutan sebagai wanita pembawa sial seolah melekat dengan pantas pada dirinya. Membuat Indira selalu menarik diri pada siapapun yang mendekatinya.

Begitupun status sebagai janda yang disandangnya, semakin menjadikan Indira sosok yang rendah diri.

"Saya janda dari Almarhum Arkadia Castello, yang juga teman anda bukan? Dan saya rasa, hati saya sudah dibawa pergi olehnya ke liang lahat." Indira Faradiba.

"Apapun status mu, selagi itu bukan istri orang lain, maka aku dan keluargaku akan menerimanya." Angga Putra Arkana.

Bagaimana perjuangan Angga untuk membawa kembali hati Indira yang telah terkubur bersama almarhum suaminya?

chap-preview
Pratinjau gratis
Awal yang Pahit
Wanita itu berjalan ditengah derasnya hujan yang sedang menyapa bumi, semesta bahkan ikut serta mengiringi hatinya yang nelangsa, bahkan derasnya hujan tidak mampu menyembunyikan air matanya yang jatuh membasahi pipi mulusnya. Kebaya pengantin yang masih melekat ditubuhnya menegaskan bahwa dirinya adalah seorang mempelai wanita, kebaya putih itu kotor terkena tanah merah dari sebuah pemakaman. Entah jasad siapa yang baru saja ia saksikan masuk kedalam liang lahat, yang pasti orang itu mungkin sangat berharga baginya. "Mengapa, Tuhan?" tanyanya dalam derai air mata pada Tuhan yang telah menetapkan takdir hidupnya. "Kami baru saja akan melangkah, bahkan kaki kami belum mencapai pintu, tapi mengapa Kau langsung mengambilnya? Apa salahku, Tuhan?" tanyanya lagi dengan menatap nanar sebuah masjid besar yang berada di kompleks perumahan yang ia lewati. Wanita itu tidak menyalakan Tuhannya, ia bertanya akan nasib hidupnya. Benarkah ucapan paman dan bibinya bahwa dirinya seorang pembawa sial? Mengingat orangtua angkatnya pun tiba-tiba bangkrut disaat mengadopsinya. Ia teruskan langkah itu dengan tertatih, jiwa dan raganya sungguh lelah menjalani takdir hidup yang seolah tiada henti untuk mempermainkannya. Ia sadar bahkan sangat yakin, hari kedepannya bahkan akan lebih kejam dan sulit untuk ia jalani. Sesampainya di rumah yang seperti istana itu, ia masuk tanpa sambutan dari sekelompok orang yang ia sebut sebagai keluarga barunya. "Pergi dari sini dan jangan pernah menunjukkan lagi wajahmu dihadapan kami, dasar wanita pembawa sial!" teriak seorang wanita paruh baya dengan melemparkan tas berisi pakaiannya. Lagi, kata pembawa sial tersemat pada dirinya. Wanita itu hanya diam dengan air mata yang terus mengalir deras, tubuhnya bergetar karena menahan tangis yang tak kunjung berhenti. Hawa dingin dari baju kebaya yang basah menjadi penambah lengkapnya penderitaan sang wanita. "Maaf," lirihnya tanpa bisa berkata apapun lagi. "Ucapkan maaf mu jika kau bisa membawa kembali Putraku ke dunia ini!" tekannya yang tak sudi mendengar kata apapun dari wanita yang dianggapnya pembawa sial, karena sudah menghilangkan nyawa putra semata wayangnya. "Maaf, Mih." Walaupun bukan kesalahannya, tetap ia menggumamkan kata maaf, karena putranya meninggal demi menyelamatkan. "Pergi!" teriak wanita paruh baya itu lagi dengan histeris, sungguh ia tidak pernah sudi menatap wajah wanita yang sudah mengantarkan putranya pada jurang kematian. "Aku haramkan kau menginjak rumahku. Jangan pernah berani menyapaku jika suatu saat aku bertemu denganmu dimana pun itu. Aku, Monica Castello dan seluruh keluarga Castello tidak pernah mengenalmu Indira Faradiba, wanita pembawa Sial!" teriaknya lagi penuh emosi Setelah meluapkan semua emosinya, wanita paruh baya itu kehilangan kesadarannya, membuat semua orang panik tak terkecuali Indira. Ya, Wanita itu bernama Indira Faradiba, janda kembang dari Almarhum Arkadia Castello, putra semata wayang dari pasangan Omar Castello dan Monica Castello pemilik dari Castell Corp. Pria keturunan Turki yang telah mampu mengisi kekosongan hatinya, pria yang sangat ia cintai dengan segenap jiwa dan raganya, pria yang selama tiga tahun menjadi pelindungnya, pria yang selalu mendukungnya, dan pria yang hanya beberapa jam menjadi suaminya. Terhitung hanya tujuh jam Arka menjadi suaminya, karena setelah kejadian itu Tuhan mengambil nyawa Arka dari sisinya. Kejadian yang sampai kapanpun tidak akan pernah hilang dari memorinya, karena setelah kejadian itu gelar sebagai wanita pembawa sial kian melekat pada dirinya. "Kau tidak mendengar perkataan Nyonya besar kami?" tanya salah satu asisten rumah tangga yang memang tidak menyukainya. Karena menurutnya Indira sama seperti dirinya, sama-sama miskin dan tidak pantas untuk almarhum Tuan tampannya. Indira melangkahkan kakinya untuk pergi keluar dari rumah yang bahkan belum ia tiduri ranjangnya. Seandainya Arka masih ada, saat ini pasti mereka sedang memadu kasih dalam balutan cinta yang sudah halal. Indira membawa kakinya untuk kembali menyusuri jalanan kompleks menuju ke makam almarhum suaminya. Karena sungguh ia bingung akan pergi kemana, ia tidak mempunyai uang sepeser pun, jadi ia memutuskan untuk kembali ke makan suaminya untuk berdoa dan mengadu. Jarak menuju ke apartemen kecilnya lumayan jauh dari kediaman Castello, apartemen yang cukup mewah pemberian Arka setelah Arka melamarnya satu tahun lalu. Hujan sudah berhenti saat ia sampai ke rumah keluarga Castello tadi, saat ini matahari sedikit menampakkan sinarnya. Bajunya masih basah karena ia belum menggantinya, rasanya sungguh malas dan tidak mempunyai tenaga bahkan hanya untuk berganti baju. "Mas, aku harus bagaimana sekarang?" adunya dengan memeluk pusara sang suami. "Apa yang harus aku lakukan, Mas?" tanyanya setelah tadi sedikit membacakan doa yang ia bisa. Indira baru saru bulan lulus dari fakultas kedokteran, sesuai kesepakatannya dari awal bersama Arka, setelah ia lulus Arka akan langsung menikahinya dan Indira tidak diperbolehkan untuk bekerja, karena Arka tidak mau waktunya terbagi dengan para pasiennya nanti. Arka yang mengetahui bagaimana jam kerja seorang dokter. Selama berhubungan Arka tidak pernah menuntut apapun, selain yang satu itu, dan itupun dimintanya saat mereka sudah halal menjadi pasangan suami-istri. Apapun akan Arka lakukan untuk mendukung dan membuat Indira bahagia, Arka mencintai Indira melebihi dirinya sendiri, itu yang Indira tahu. Jadi wajar jika saat ini Indira bingung akan bagaimana kelanjutan hidupnya, ditambah kondisinya yang masih benar-benar terpuruk. Kehilangan suami bahkan langsung diusir oleh keluarganya, tanpa ada orang yang menguatkannya sama sekali. "Apakah benar aku pembawa sial, Mas? Sehingga kamu pun harus pergi dari kami semua demi menyelamatkan aku?" tanyanya lagi dengan kembali sesenggukan. Kepalanya terasa begitu berat ketika sinar matahari membiaskan sinar jingganya, badannya bergetar lemah, pandangannya berkunang-kunang dan setelahnya gelap menyambutnya. *** Seorang laki-laki dan perempuan dengan usia yang sama tengah mengikuti Indira dari dalam mobilnya, mereka merupakan pasangan suami-istri, yang tak lain adalah orang kepercayaan Almarhum Arka yang bernama Diwa dan Dewi. Sebelum meninggalkan dunia Arka telah berpesan agar mereka menjaga istrinya kelak. Diwa, Dewi dan Arka merupakan sahabat, Mereka mengenyam pendidikan di tempat yang sama dengan fakultas yang berbeda. Diwa yang menjadi asisten Arka, sedangkan Dewi menjadi pengacara untuk Arka, mereka selalu kompak dalam hal apapun. Diwa dan Dewi menjalin komitmen setelah mereka lulus dari pendidikannya. Saat ini mereka berdua tengah menjalankan wasiat dari almarhum sahabat sekaligus bos-nya, yaitu menjaga istrinya. Untuk saat ini mereka hanya akan melihat dari kejauhan, karena mereka tahu Indira butuh waktu sendiri terlebih dahulu untuk mengurangi rasa sesak yang menghimpit dadanya. Melihat kebaya basah dan kotor yang dikenakan Indira membuat Dewi meneteskan air matanya, mereka berdua tahu bagaimana perjuangan Arka dan Indira sampai pada tahap menuju pelaminan, bahkan saat bahagia didepan mata pun seolah semesta tidak merestui mereka dengan dipisahkan nya mereka dari dunia. Restu yang akhirnya di berikan keluarga Arka walau dengan terpaksa tidak bisa mereka nikmati, karena saat ini restu dari semesta yang menghalangi mereka berdua. Mereka mengikuti Indira yang ternyata menuju ke makam Almarhum suaminya, Indira duduk dengan mengangkat kedua tangannya yang sepertinya sedang berdoa, setelah itu mengusapkan pada wajahnya. Indira memeluk pusaranya dan terlihat kembali menangis dari tubuhnya yang bergetar, Diwa dan Dewi masih tetap memperhatikan tanpa berniat turun karena tidak ingin mengganggu. "Aku kira mereka akan merajut kisah bahagia setelah menikah, tapi ternyata alam pun menentang kebersamaan mereka," ujar Dewi dengan menghapus air matanya. "Takdir yang sungguh menyedihkan, kita berdua menjadi saksi bagaimana perjuangan mereka yang tidak pernah sampai di titik bahagia." Diwa membalas ucapan sang istri dan membawanya kedalam pelukan hangatnya. "Kita turun, dia akan sakit jika terus dalam keadaan seperti itu." Dewi mengajak suaminya untuk menghampiri Indira. Mereka berdua akhirnya turun, dan betapa kagetnya begitu mengetahui jika Indira kehilangan kesadarannya. Mereka berlari kecil. "Dia pingsan, Yank. Cepat kita bawa ke rumah sakit." Diwa langsung mengangkat tubuh lemah Indira, Dewi membawa tas yang di bawa Indira. Dewi mendahului untuk membukakan pintu mobil bagian belakang. Setelah Indira berhasil di masukkan ke dalam mobil, Dewi menyusul duduk di bagian belakang untuk menjadikan pahanya sebagai sandaran kepala Indira, disusul Diwa yang duduk di balik kemudi. Diwa melesatkan mobilnya menuju rumah sakit terdekat, memanggil perawat untuk membawakan brankar dan langsung membawa Indira menuju UGD untuk mendapatkan pertolongan pertama. "Semoga tidak terjadi apa-apa pada Indira." Dewi berdoa di dalam pelukan suaminya. "Amin," balas Diwa. 10 menit menunggu seorang dokter keluar, "Keluarga Ibu Indira?" tanya Sang dokter pada Diwa dan Dewi. "Iya, Dok. Saya sepupunya," jawab Dewi segera. "Pasien mengalami demam tinggi yang dipicu oleh baju basah dan juga kelelahan, saya rasa pasien juga mengalami stress ringan. Sebentar lagi pasien akan di pindahkan ke ruang rawat," beber dokter yang sangat dipahami oleh mereka berdua. "Terima kasih dokter," ujar Diwa. "Saya sarankan untuk menjaga kestabilan emosinya, jika kondisinya terus seperti ini, tidak menutup kemungkinan Ibu Indira akan mengalami depresi ringan nantinya. Mau saya rujuk ke spesialis psikologis?" tanya dokter yang ber-nametag Arif. "Kami akan bertanya setelah beliau sadar dokter," jawab Dewi. Karena bagaimanapun keputusan tetap ada di tangan Indira, karena banyak sebagian orang mengartikan dirinya memiliki kejiwaan bila harus mendatangi seorang psikolog. "Baik kalau begitu saya permisi dulu," pamit Sang dokter. "Sekali lagi terima kasih, dok." Dokter Arif pergi setelahnya. "Aku urus administrasi nya dulu ya," pamit Diwa yang diangguki oleh Dewi. Seperginya Diwa, Dewi duduk di atas kursi tunggu, seorang perawat menghampirinya, "Keluarga Ibu Indira?" tanya perawat yang bernama Lani. "Saya, Sus." Dewi bangkit dan menghampiri sang suster. "Pasien akan kami pindahkan ke ruang rawat," jelasnya yang sebenarnya lebih memilih bertanya ruang rawat umum apa VIP. "Pindahkan ke ruang VIP Sus," jawab Dewi yang mengerti. "Baik, silahkan Ibu mengikuti jalan ini lalu belok ke arah kanan. Kami akan membawa Ibu Indira ke Paviliun Marwah kamar nomor tiga untuk ruang perawatannya," jawab Lani dan kembali masuk kedalam UGD. Rumah sakit yang bernama Arkana Hospital yang berdiri di bawah AA Group ini memiliki kamar VIP yang diberi nama Paviliun Marwah, Mina, Safa dan Muzdalifah. Dimana setiap Paviliun berisi lima kamar VIP, dan satu paviliun bernama Arafah yang khusus untuk keluarga Arkana dan Arjuna yang merupakan pemilik rumah sakit tersebut.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.4K
bc

TERNODA

read
199.2K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.0K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
68.2K
bc

My Secret Little Wife

read
132.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook