1. Bimo Diven Leornado
Bimo Diven Leornado, pemuda itu tampak sangat fokus di ruang kantornya. Matanya masih belum lepas dari layar laptop kerjanya. Jemari tangannya pun juga masih terus mengetik tanpa jeda istirahat. Dia masih sibuk berkomunikasi dengan rekan kerja dan client melalui email. Pikirannya benar-benar tersita penuh pada pekerjaan yang ada di hadapannya.
Bimo tampak masih tak menyadari ponselnya yang terus bergetar sejak tadi. Ia memang tak pernah menyalakan nada dering pada panggilan masuknya bila sedang bekerja. Ia tidak ingin menerima gangguan apa pun saat sedang fokus bekerja.
Mata Bimo akhirnya tertuju ke layar ponselnya ketika sedang minum air putih dari gelasnya. Ia baru menyadari ada notifikasi panggilan tak terjawab pada layar ponselnya. Bimo langsung menelepon balik nomor itu. Namun belum sempat ia menyapa dengan ramah, panggilan teleponnya itu sudah dijawab dengan amarah.
"Kamu kenapa sih baru telepon aku sekarang! Aku tuh udah telepon sepuluh kali tau gak! Kenapa sih itu telepon gak dinyalain deringnya?! Jadi kalo aku telepon tuh kamu tau!"
Bimo menghela nafas, lalu terdiam selama beberapa saat.
"Kamu kok diem aja sih? Kamu dengerin aku gak sih?!"
"Iya. Aku dengerin. Aku lagi kerja. Gak pegang HP soalnya," jawab Bimo. Ia berusaha untuk setenang itu untuk menghadapi emosi kekasihnya itu yang sedang meledak.
"Aku tuh gak minta banyak ya, Bim. Aku..."
Bimo langsung memotong ucapan kekasihnya itu. "Aku lagi kerja, sayang. Waktunya kerja adalah kerja. Kamu tau kan itu prinsipku selama ini. Harusnya kamu gak permasalahin itu. Lagian aku bukannya gak mau angkat, tapi gak bisa angkat. Kamu harus bedain itu," tegas Bimo.
Bimo memang tidak pernah menyentuh ponselnya selagi bekerja. Bila jemarinya sedang menyentuh laptop kerja miliknya, maka jari itu tak akan beralih hingga pekerjaannya selesai. Bimo tidak mengerti kenapa ini menjadi sebuah masalah. Jeslin, kekasihnya itu seharusnya mengerti. Tiga tahun berpacaran harusnya sudah membuat gadis itu mengerti kebiasaannya.
"Setidaknya kamu kasih kabar dong kalau emang lagi kerja dan gak bisa diganggu dulu. Kamu harusnya gak biarin aku harus telepon kamu berkali-kali. Kamu bisa chat aku tuh setidaknya satu kali!"
Bimo menghela nafasnya, lalu terdiam selama beberapa saat. Ia berusaha untuk mengambil jeda sebelum kembali melanjutkan pembicaraan.
"Yaudah... jadi kamu mau apa? Apa yang bikin kamu sampe harus telepon berkali-kali kayak gitu?" tanya Bimo.
"Udahlah. Aku udah males. Kalo aku ngomong sekarang... pasti jawabanku tuh tetep gak akan penting buat kamu, kan?"
Bimo tampak sudah kehabisan kata-kata. "Baiklah. Aku matiin teleponnya ya. Kalau kamu emang gak pengen ngomong apa-apa."
Pada akhirnya Bimo mematikan panggilan telepon itu setelah Jeslin tak menunjukan tanda-tanda untuk melanjutkan percakapan.
Bimo meletakan asal ponselnya ke atas meja. Ia tampak mengatur nafasnya selama beberapa saat. Emosi hatinya memang sempat naik tadi. Kini ia berusaha untuk kembali menenangkan diri.
Bimo lalu menutup laptopnya. Ia sudah tak memiliki suasana hati yang baik lagi untuk melanjutkan pekerjaannya. Semua barang-barang yang ada di atas meja, kini mulai dirapikan. Sebelum turun, Bimo mengirimkan pesan ke supirnya untuk segera bersiap. Kemudian bergegas keluar ruangan, lalu segera berjalan menuju mobil yang sudah terparkir tepat di depan pintu utama gedung.
***
Bimo melemparkan asal tas kantornya, lalu terduduk dengan posisi bersandar di sofa ruang tamunya. Ia membuka beberapa kancing kemejanya supaya bisa bernafas dengan lebih rileks. Sejenak ia melepaskan penat yang mulai dirasakan tubuh dan pikirannya.
Jabatan direktur yang Bimo emban di usia muda, 28 tahun, tentu bukan perkara mudah. Kepercayaan yang ditaruh oleh orang tua angkatnya pada dirinya sungguh berat. Ia harus bertanggung jawab untuk satu bisnis unit perusahaan. Bimo tak ingin mengecewakan ke dua orang tua angkatnya yang telah mengadopsinya dari panti asuhan dan membesarkan dirinya dengan penuh kasih sayang.
Drrrt... drrtt...
Ponsel yang ada di sakunya bergetar. Sebuah panggilan telepon masuk dari adik angkatnya, Jelita. Bimo langsung mengangkat panggilan telepon itu.
"BANG BIMO LAGI APAAA?!" Suara nyaring Jelita langsung terdengar keras hingga Bimo harus menjauhkan sebentar ponsel itu dari telinganya.
Adiknya itu sedang kuliah di Amerika saat ini. Dia pasti sedang bosan dengan kesehariannya, sehingga mencoba untuk mengganggu dirinya.
"Baru pulang kantor. Kamu?" Walau di tengah kelelahan, Bimo mencoba untuk menanggapi adiknya itu.
"Lagi di apartemen. Hari ini lagi gak ada jadwal kuliah."
"Pantes gangguin Abang jadinya."
"Oh... jadi ngerasa keganggu nih jadinya?!"
Bimo langsung meralat ucapannya. Bila Jelita merajuk, maka akan repot urusannya. "Enggak ngeganggu kok. Yah cuma berasa aja kamu udah lama gak telepon Abang. Kirain udah lupa..."
"Bukannya lupa, Bang. Aku tuh masih penyesuaian hidup di sini. Jadi masih sibuk sosialisasi sama temen-temen dan explore daerah sini."
"Cuma hati-hati ya... kamu bukan orang Amerika, tapi Indonesia. Jangan sampe lupa budaya sendiri, apalagi kebawa sama pergaulan yang gak baik," pesan Bimo.
"Iya... enggak kok, Bang. Semua masih dalam batas wajar, Bang."
"Batas wajar kita itu sama apa enggak nih? Kalo beda... repot urusannya."
Jelita terdengar menghela nafas. "Aman kok. Semuanya aman."
"Kamu di sana buat belajar, bukan buat bermain. Jaga diri baik-baik,"pesan Bimo.
"Abang udah kayak Papa aja deh pembawaannya. Isi omongannya sama," keluh Jelita.
Bimo tersenyum. "Papa aja sering ingetin kamu soal itu kan?"
"Huh! Aku tuh udah besar. Kalian memperlakukanku kayak masih bocah balita aja! Yaudah. Aku mau ke supermarket. Mau belanja bahan makanan."
"Baiklah. Selamat beraktivitas."
"Selamat istirahat juga buat Abang akuuh."
Bimo tersenyum sambil menggelengkan kepalanya setelah menutup panggilan telepon itu. Kemudian sejenak terduduk sembari menatap langit-langit ruang tamunya. Rasa lelahnya ia redakan sejenak dalam hening.
Namun tiba-tiba ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk. Bimo langsung menghela nafas ketika melihat nama yang tertera di notifikasi.
Jeslin
Sekarang udah bisa ngobrol?
Tubuhnya sudah terlalu lelah saat ini. Rasanya sudah tidak ada daya lagi untuk memulai pertengkaran dengan gadis itu. Namun bila tidak di jawab... maka drama di dalam hidupnya akan bertambah panjang. Jeslin tidak suka diabaikan.
Bimo langsung menelepon kekasihnya itu. Jeslin ternyata langsung mengangkat panggilan teleponnya.
"Kamu belum tidur ternyata..." ucap Bimo.
"Kamu ngarepin aku udah tidur?"
Bimo bisa menangkap emosi dibalik perkataan Jeslin itu. "Enggak kok, sayang. Cuma kan biasanya kamu udah tidur."
"Aku telepon terus dari tadi. Cuma nomor kamu sibuk."
"Oh... tadi Jelita telpon. Mungkin karena itu telepon kamu gak bisa masuk."
"Baiklah."
Suasana menjadi hening selama beberapa saat. Bimo tau bahwa Jeslin menunggu untuk dirinya terlebih dahulu memulai percakapan terkait masalah sore tadi.
"Aku minta maaf tadi gak bisa angkat telepon kamu." Bimo mencoba untuk menurunkan ego dan memilih untuk mengucapkan kata maaf terlebih dahulu.
"Aku tuh cuma mau tau kabar kamu aja. Aku tau kamu sibuk dan banyak tanggung jawab. Cuma aku mulai ngerasa diabaikan sama kamu. Masa kita cuma komunikasi pas malam hari doang. Itu pun juga kamu udah capek. Udah gak ada energi lagi buat tanggepin aku," ungkap Jeslin.
"Yah mau gimana. Pekerjaan aku memang begini. Aku juga tipe orang yang begini. Kamu kan tau kalau aku udah fokus kerja... ya bakalan beneran fokus. Handphone gak bakalan sempet kepegang." Bimo berusaha menjelaskan kembali ke Jeslin. Sesuatu yang sebenarnya Jeslin sudah paham betul.
"Sejak kamu jadi direktur... kamu tuh makin gila kerja. Kamu makin jarang inget aku. Selalu aku yang hubungin aku duluan," keluh Jeslin.
"Tanggung jawab sebagai direktur itu berat, Jes. Aku gak mau kecewain Papi dan Mami. Kamu kan tau seberapa baiknya mereka ke aku. Tentu aku mau lakuin yang terbaik supaya gak kecewain mereka," tutur Bimo.
"Iya... kamu memang kasih yang terbaik buat pekerjaan, tapi kasih waktu sisa ke aku. Satu bulan ini, kita berapa kali kita ketemuan? Enggak pernah! Kamu selalu meeting dan kerja. Kamu sibuk terus sama laptop kamu itu. Udah satu tahun pola hubungan kita tuh begini, Bim."
"Aku harap kamu ngerti, sayang. Aku baru dikasih tanggung jawab direktur tahun ini sama orang tuaku. Ada banyak penyesuaian yang perlu dilakukan. Aku juga masih banyak gak ngertinya. Aku perlu banyak belajar. Kita tuh udah 3 tahun pacaran. Baru satu tahun aku begini. Jadi emang beneran karna aku sibuk kerja. Bukan karna apa-apa. Maafin aku ya."
Bimo bisa mendengar helaan nafas Jeslin. Ia tau ucapannya itu tidak bsia menenangkan kekasihnya itu. Namun ia memang hanya bisa meminta pengertian. Sejak mengemban tugas sebagai direktur, Bimo memang sulit sekali menemukan waktu untuk bisa bersama Jeslin. Bahkan membalas pesannya itu memang sulit.
"Yaudahlah. Kamu memang hanya bisa minta dingertiin terus. Kamu gak pernah ngertiin apa maunya aku." Jeslin langsung mematikan ponselnya.
Bimo menghela nafas sembari melemparkan ponselnya ke sofa. Ia memejamkan matanya sambal mengacak-acak rambutnya dengan frustasi.