7. First Day

1069 Kata
Jeslin memastikan penampilannya sekali lagi di cermin. Ini hari pertamanya untuk bekerja. Rasanya ia ingin tampil sesempurna mungkin. Karena itu, entah sudah berapa kali iya memastikan riasan wajah dan kerapihan pakaiannya. Setelah semuanya dipastikan rapi, Jeslin langsung turun dari mobilnya. Walau dengan perasaan gugup, ia mencoba untuk terus melangkah memasuki gedung kantor. Setelah melakukan registrasi administrasi, Jeslin menunggu di lobi sesuai instruksi. Sembari menunggu, Jeslin mencoba mengamati lingkungan kerja kantor itu. Lingkungan dimana Bimo biasanya menghabiskan hari-hari kerjanya. Mungkin karena masih terlalu pagi, banyak karyawan yang masih baru tiba dan meletakan barang-barangnya. Ada juga karyawan yang baru selesai menyeduh teh atau kopi, lalu menyantap sepotong roti sebagai menu sarapan. Jeslin menunggu sambil tetap mengobservasi lingkungan di sekitarnya. “Mbak Jeslin?” Jeslin langsung menoleh ke sumber suara yang memanggilnya itu. “Eh.. iya, saya, Bu.” “Saya Rina. HRD dari perusahaan ini. Mari ikut saya.” Jeslin langsung mematuhi perkataan wanita itu dan berjalan mengikutinya dari belakang. Jeslin langsung menyapa seluruh orang yang ada di ruangan HRD itu. Kemudian meletakan tas-nya setelah dipersilahkan untuk duduk. “Kamu isi formulir biodata karyawan dulu ya. Ini juga ada formulir lainnya yang perlu diisi. Kalo sudah selesai, kasih tau saya ya.” Jeslin mengangguk, lalu mulai mengisi formulir-formulir yang ada di hadapannya dengan patuh. Karena begitu banyak, ia memerlukan waktu yang cukup lama untuk menyelesaikannya. “Bu… saya sudah selesai,” ucap Jeslin. “Oke. Kalo gitu saya akan perkenalkan area kantor kita dan orang-orang yang ada di sini.” Jeslin mengangguk setuju. Ia langsung mengambil tasnya, lalu berjalan mengikuti Rina dari belakang. Gadis itu berusaha mendengarkan dengan baik setiap kali Rina memberikan penjelasan atau memperkenalkan karyawan-karyawan yang ada di sana. Jeslin merasa karyawan-karyawan yang ada di sana itu cukup ramah dan menyambutnya dengan baik. Namun karena ini hari pertama, ia memilih untuk menjaga sikap. Jeslin hanya menampilkan senyum ramah sembari menyalami setiap karyawan yang ia temui. “Ini ruangan IT. Kita punya IT Support… namanya Fadlan Prasetyo,” ungkap Rina. “Halo. Panggil gue Fadlan aja.” Fadlan mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Jeslin menyambut tangan itu sambil tersenyum. “Saya Jeslin, Mas.” “Kaku bener. Panggil gue nama aja gak papa kok. Cuma ya… bisa dipahami. Ini hari pertama kan?” “Udeh. Anak baru jangan di godain,” tegur Rina. “Baiklah.” “Oke. Selanjutnya kita naik ke atas dan saya antar ke ruangan kamu ya. Rekan kerja kamu udah pada gak sabar pada pengen kenalan. Hahaha,” ucap Rina. Jeslin tersenyum sambil mengangguk patuh. Dia berjalan pelan mengikuti Rina. Namun tiba-tiba ia merasa gugup. Gadis itu teringat bahwa Bimo juga berkantor di gedung itu. Ia merasa antusias karena bisa satu lokasi kerja dengan kekasihnya itu. Namun di sisi lain, Jeslin tidak bisa membayangkan reaksi Bimo bila mengetahui bahwa ia sedang berada di kantornya, bahkan bekerja di sini. Rina membuka pintu ruangan yang tampaknya akan menjadi ruangan kerja dirinya. Di sana terlihat Clarina Khloe, manager brand development, sedang berdiri di dekat pintu untuk menyambutnya. Jeslin langsung membalas senyuman wanita yang akan menjadi atasannya itu. “Selamat pagi, Bu.” Sapa Jeslin. “Halo Jeslin! Senang akhirnya kamu benar-benar join bareng kita. Ini ruangan kita bersama. Dan mereka yang akan jadi rekan kerja kamu.” Setelah Clarina memperkenalkan satu per satu orang-orang yang ada di ruangan itu, Jeslin menyapa mereka dengan senyuman ramah. Ada tiga orang lainnya di ruangan itu. Jeslin mulai menghafal semua nama mereka yang akan menjadi rekan kerjanya. Gadis itu mulai menyapa Ica, Rena, dan Fiona dengan senyum manis. Semua orang di ruangan itu juga menyambut kedatangan Jeslin dengan hangat. "Oke, Jes. Sekarang waktunya saya perkenalkan kamu dengan direktur kita ya," ucap Clarina. Seketika Jeslin langsung syok hingga keringat dingin mulai menetes ketika mendengar itu. Ia memang sudah menduga bahwa hal ini akan terjadi. Namun ternyata dirinya memang belum siap untuk bertemu dengan Bimo dalam situasi ini. "Sekarang, Bu? Saya enggak enak ganggu beliau. Pasti seorang direktur bakalan sibuk bangetkan di jam sekarang." Jeslin menggigit bibirnya, tanda rasa cemas mulai menguasai dirinya. "Enggak kok. Saya udah bilang ke Pak Bimo kalo pagi ini bakalan perkenalin kamu ke dia. Jadi dia pasti mau ngeluangin waktunya sebentar buat kamu." "Staff harus kenalan sama direktur, Bu? Kan GAP jabatannya jauh. Saya cuma grogi aja harus ketemu seorang direktur, Bu." Jeslin masih terus berusaha supaya tidak perlu bertemu dengan Bimo. "Pak Bimo itu orangnya baik kok. Kamu gak perlu takut. Lagian setiap karyawan baru memang harus menyapa dia di hari pertama. Apalagi divisi kita itu dibawahi langsung oleh Pak Bimo. Kalo kamu gak nyapa, nanti malah terkesan gak sopan. Tenang aja... Pak Bimo itu orang baik." Walaupun Clarina berusaha untuk menenangkan Jeslin, tapi gadis itu tetap terlihat gugup hingga keringat dingin terus menetes dari keningnya. Namun Jeslin memang sudah tidak bisa mengelak lagi. Ia sudah tidak memiliki alasan yang bisa dilontarkan lagi ke Clarina untuk menghindari pertemuan dengan Bimo. "Baik, Bu. Tampaknya saya memang harus bertemu dan menyapa beliau," Jeslin pada akhirnya hanya bisa pasrah. "Oke. Saya info Pak Bimo dulu ya." Clarina langsung mengambil telepon kantor. "Halo, Pak. Saya mau kenalin karyawan baru. Bapak lagi free kan?" Jeslin hanya bisa berusaha menenangkan dirinya. Berusaha bersiap mengatur ekspresi wajahnya agar tidak terlalu cemas. Langkah ini memang adalah pilihannya. Jadi ia harus bersiap untuk menanggung konsekuensi amarah kekasihnya itu. "Baik, Pak. Thank you." Clarina langsung menghampiri Jeslin selepas selesai menelepon Bimo. "Yuk ke ruangan, Pak Bimo." Jeslin hanya bisa mengangguk setuju. Langkah kakinya mengikuti Clarina dengan berat hati. Jeslin mulai menghela nafas ketika tangan Clarina membuka pintu. Ia berusaha memasang senyum manis ketika kakinya mulai melangkah memasuki ruang kerja Bimo. "Pagi, Pak. Saya mau kenalin staff media sosial kita yang baru. Dia juga akan support semua kebutuhan design grafis kita. Jeslin... silahkan perkenalkan diri," ucap Clarina. "Selamat pagi, Pak. Saya Jeslin Wulan yang akan mulai bekerja hari ini. Mohon arahan dan bantuannya Bapak buat ke depannya." Jeslin mencoba tersenyum manis, meski Bimo sedang menatapnya dengan mata terbelalak. Seketika ruangan menjadi hening selama beberapa saat. Keheningan yang terasa mencekam bagi Jeslin. "Pak?" Clarina tampak bingung dengan reaksi Bimo. "Ah... ya... welcome, Jeslin. Clarina... saya baru teringat ada pekerjaan yang harus di urus." "Oh gitu. Baik, Pak. Saya akan lanjutkan arahan ke Jeslin. Kita pamit kalo gitu." Clarina langsung mengajak Jeslin untuk keluar ruangan. Jeslin berpamitan dengan Bimo dengan menganggukan kepala. Ia melangkah keluar ruangan mengikuti Clarina. Namun tatapan tajam Bimo dengan raut wajah penuh amarah masih terus terbayang di benaknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN