16. Insting Fiona

1083 Kata
Pagi ini Jeslin bangun dari ranjangnya dengan senyum merekah terukir di bibirnya. Gadis itu bangun dari tidur dengan perasaan lebih senang dan nyaman daripada biasanya. Hubungannya dengan Bimo sekarang menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Walaupun Bimo belum sepenuhnya menerima keberadaannya di kantor, setidaknya kekasihnya itu setuju ia bekerja di sana selama satu tahun. Jeslin bergegas mandi, lalu berias untuk pergi ke kantor. Namun sebelum itu, ia menyempatkan diri untuk menyantap sepotong roti sandwich dan segelas s**u cokelat yang disiapkan oleh Bi Rina. Jeslin menyantapnya dengan lahap, lalu bergegas mengambil kotak bekal makan siangnya setelah menghabiskan menu sarapan paginya. Jeslin sengaja mengambil mobil termurah yang ada di garasinya. Rasanya tidak etis untuk membawa mobil mahal ke kantor padahal ia hanya seorang staff. Perjalanan pagi ini terasa lancar seperti biasanya. Jeslin tiba lebih pagi dari yang ia rencanakan. Ketika gadis itu telah selesai memarkirkan mobil, tiba-tiba ada yang mengetuk kaca mobilnya. Jeslin pun tersentak kaget. Ia bahkan refleks langsung memegang dadanya. Ia langsung menghela nafas kesal ketika wajah Fadlan terpampang nyata di depan kaca samping mobilnya. "Bener-bener nih orang!" Jeslin langsung menurunkan kaca mobilnya. Fadlan langsung tersenyum sambil menyapa Jeslin. "Pagi, Jes." "Muka lo nongol begitu di jendela... ngagetin tau gak!" protes Jeslin. Fadlan tertawa cekikikan. "Yah maap. Gue tadi beli rujak buah nih. Lo mau gak?" "Emang lo beli dua? Kalo cuma beli satu doang, ngapain nawarin gue." "Gue beli dua kok." Fadlan menunjukan bungkusan kantong plastik yang ada di tangannya. "Lo ngapain beli dua? Niat banget mau ngasih gue satu gitu? Kebanyakan duit lo?" tanya Jeslin heran. "Yah lagi pengen beli dua aja. Siapa tau ada yang bisa gue bagi gitu," jawab Fadlan. "Jadi maksud lo... gue kaum miskin gitu? Jadi perlu disumbang makanan?" Jeslin geleng-geleng kepala. "Yah bukan gitu maksudnya. Mana ada sih orang miskin ke kantor naik mobil. Gue aja naik motor. Berarti gue yang miskin atuh. Hahaha." "Yah ini kan bukan mobil gue. Ini punya orang tua gue. Jadi gue kaga bisa dibilang kaya sih." "NAH... kalo gitu harusnya lo terima dong rujak gue. Hahahaha." Jeslin tertawa sambil geleng-geleng kepala. "Baiklah. Yaudah gue keluar mobil dulu. Daritadi ketahan mulu sama lo." Fadlan langsung menghampiri Jeslin yang baru keluar dari mobilnya. Pria itu langsung menyodorkan satu kotak berisi rujak buah. "Lo bisa makan sendiri atau sharing sama yang lain." Jeslin langsung menerima pemberian Fadlan itu. "Thanks ya, Fad. Nanti gue sharing sama yang lain aja. Gak bakalan sanggup ngabisin ini sendirian." "Bebas. Terserah lo aja," ucap Fadlan sambil tersenyum. Tiba-tiba mobil Bimo telah memasuki gerbang dan terparkir di sebelah mobil Jeslin. Fadlan langsung menyikut pelan lengan Jeslin. Pria itu memberi kode agar ia menyapa Bimo. Jeslin ikut memberi salam, "Pagi, Pak." "Pagi, Pak," ujar Fadlan. "Iya. Pagi," balas Bimo sambil menatap Jeslin. Namun pria itu langsung berjalan memasuki gedung kantor, tanpa mengajak Jeslin dan Fadlan untuk berbincang. "Pak Bimo berwibawa ya, Jes. Tegap gitu badannya. Apa gue perlu fitnes biar kayak dia?" Fadlan langsung mengencangkan ototnya dan membusungkan dadanya. Jeslin tertawa sambil geleng-geleng kepala. Fadlan mulai tampak lucu di mata Jeslin. "Lo gak mungkin kayak dia! Udah lah. Mending kita masuk aja." Fadlan berjalan memasuki gedung kantor bersama Jeslin. "Pak Bimo keren, Jes. Dia gak pernah telat. Jarang bos serajin itu. Apalagi dia anak owner kan." Jeslin mengangguk setuju. "Yaudah. Gue naik ke atas ya. Thanks buat rujaknya." "Your welcome." Jeslin berpisah dengan Fadlan di depan tangga. Ia menaiki tangga dan berjalan menuju ruangannya. Ketika melewati ruangan Bimo, sudut mata Jeslin berusaha mencuri pandang aktivitas kekasihnya itu dari jendela kaca. Bimo tampak sedang menata meja kerjanya untuk bersiap memulai pekerjaannya. Namun Jeslin enggan mengganggu Bimo. Ia memilih untuk langsung masuk ke ruangannya. Di sana ternyata sudah ada Ica dan Fiona. Mereka tampak sedang melepaskan jaket dan meletakan tas kerjanya. "Pagi, guys," sapa Jeslin. "Pagi, Jes," balas Fiona. "Lo bawa apa tuh, Jes?" tanya Ica. "Lo bukannya ucapin selamat pagi, malah matanya ke makanan mulu," tegur Fiona sambil geleng-geleng kepala. Ica tertawa. "Yah maklum. Gue gak sempet sarapan tadi." Setelah meletakan tas kerjanya, Jeslin membuka kotak makanan yang ia pegang, lalu menawarkannya ke Ica dan Fiona. "Mau rujak gak? Tadi si Fadlan ngasih ini ke gue." "Gue mau!" seru Ica. Gadis itu langsung mengambil potongan buah rujak dan memakannya. Jeslin langsung menaruh kotak makanan itu di meja Ica. "Lo makan aja kalo mau, Fi." "Fadlan? Sejak kapan lo deket sama dia?" Fiona sambil mengambil buah rujak. "Siapa yang deket? Tadi gue ketemu doang di parkiran sama dia," sanggah Jeslin. "Lah terus dia beli 2 rujak gitu? Terus random ngasih ke lo?" tanya Fiona heran. "Yaudah sih, Fi. Kepo banget lo! Kalo mereka jadian juga gak papa kali," timpal Ica. "Hah? Gue kan udah punya pacar. Gimana sih lo," protes Jeslin. Ica tertawa. "Iya juga ya. Gue lupa." "Mungkin Fadlan suka sama lo kali, Jes," goda Fiona. "Cuma gara-gara dia ngasih rujak secara random? Lagian gue kebetulan ketemu dia di parkiran. Kalo dia ketemu lo duluan, mungkin lo yang dikasih rujak, Fi," balas Jeslin. "Iya, Jes. Iyah dah. Percaya gue," ucap Fiona sambil tertawa. Namun tiba-tiba pintu terbuka.Ternyata Bimo yang membukanya dan langsung menatap ke arah Fiona, Ica, dan Jeslin. "Clarina belum dateng ya?" tanya Bimo. "Belum, Pak," jawab Fiona. "Oke. Suruh dia ke ruangan saya kalo udah dateng," ujar Bimo. "Baik, Pak," ucap Fiona. Fiona dan Ica tampak menghela nafas lega setelah Bimo menutup pintu. Mereka sangat terkejut akan kehadiran Bimo yang mendadak itu. "Gila! Kaget gue! Mana kita lagi ngerujak pula," ucap Fiona. "Tumben-tumbenan dia ke sini pagi-pagi," ujar Ica. "Mungkin ada pekerjaan mendesak kali. Kan dia nyariin Bu Clarina tadi," kata Jeslin. "Eh... lo ngerasa gak sih. Bu Clarina dan Pak Bimo tuh ada something?" tanya Fiona sambil menatap Ica. "Maksudnya?" tanya Jeslin. "Gue rasa mereka tuh deket deh," ucap Fiona lagi. "Yah deket lah, Fi, Kan mereka atasan dan bawahan. Gimana sih lu," ujar Ica sambil geleng-geleng kepala. "Ah pokoknya berasa beda deh. Kayaknya salah satu dari mereka tuh ada yg suka. Apa mungkin dua-duanya?" ucap Fiona. "Yaudah sih. Kalo mereka sama-sama jomblo ya gak ada masalah harusnya. Cuma jangan ngegosip gitu. Kedengeran Bu Clarina, mampus lu!" seru Ica. "Ah Fiona mah suka ngasal emang. Tadi aja dia bilang Fadlan suka sama gue. Padahal cuma gara-gara rujak doang. Suka berasumsi emang lo, Fi," ucap Jeslin. "Yaudah kalo pada gak percaya." Fiona langsung kembali melanjutkan makan rujaknya. Jeslin langsung berjalan kembali ke kursinya. Ia memilih untuk mengabaikan asumsi tak berdasar dari temannya itu. Jeslin mengambil botol minumnya, lalu melepas dahaganya dulu sebelum akhirnya ia memulai pekerjaannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN