Sudah tiga hari sejak Darren terakhir mendengar suara hujan dari headphone yang diberikan Aruna.
Dan entah bagaimana, setiap malam setelah itu, ia memutarnya sebelum tidur — seperti ritual sunyi yang membantu menenangkan pikirannya yang terlalu gaduh.
Hari ini langit cerah. Tak ada hujan.
Tapi Aruna tetap datang.
Ia mengetuk pintu seperti biasa — dua kali, pelan.
Darren, yang sudah menunggunya di balik tirai, membuka pintu sebelum ketukan ketiga tiba.
Aruna tersenyum. “Kamu cepat hari ini.”
Darren mengangkat bahu, pura-pura cuek.
“Lagi nggak ada suara di kepala. Jadi aku bisa dengar ketukanmu.”
Aruna tertawa kecil. “Itu kabar bagus, kan?”
“Mungkin.”
Mereka masuk. Ruangan terasa lebih hangat dari biasanya. Bukan karena suhu, tapi karena kehadiran yang perlahan-lahan mulai menetap.
Aruna duduk di lantai, punggungnya bersandar ke sofa. “Aku bawa sesuatu lagi.”
Darren melirik. Kali ini Aruna membawa sebuah kotak kecil dari kayu, bentuknya sederhana, tapi terawat.
“Apa itu?”
Aruna membuka kotaknya pelan, dan mengeluarkan beberapa benda aneh — gulungan benang, sisa kain, beberapa kancing yang warnanya tidak seragam.
Darren mengerutkan kening. “Mau menjahit?”
Aruna terkekeh. “Nggak. Ini bukan buat dipakai. Ini cuma... caraku menyusun ulang sesuatu yang hancur.”
Darren menatapnya bingung.
“Dulu, aku suka bikin boneka kain kecil dari sisa-sisa barang nggak kepake. Nggak bagus, tapi rasanya menyenangkan. Kayak... ngasih napas baru buat sesuatu yang dianggap nggak berguna.”
Darren tidak langsung bicara.
Ia hanya menatap benang-benang dan kain perca itu dengan cara yang sama seperti ia memandang arang hitam beberapa hari lalu — curiga, tapi penasaran.
“Kamu mau coba?” tanya Aruna, matanya penuh tantangan lembut.
Darren ragu.
Tapi untuk alasan yang tak ia pahami sepenuhnya, ia mengangguk.
---
Mereka duduk berdampingan di lantai, merakit benda-benda acak itu jadi sesuatu yang bisa disebut bentuk.
Darren mencoba menyatukan dua potong kain dengan benang cokelat tua, tangannya agak kaku.
“Dulu aku pikir... aku akan jadi musisi,” gumam Darren, tiba-tiba.
Aruna menoleh pelan, tak menyela.
“Tapi kayaknya... aku lebih cocok jadi sesuatu yang diam. Mungkin batu. Atau bangku taman.”
Aruna tersenyum tipis.
“Bangku taman juga bisa jadi tempat orang istirahat, loh.”
Darren tertawa pelan, sedikit terkejut. “Kamu selalu punya cara aneh lihat sesuatu.”
“Kadang, yang aneh justru bikin kita bertahan,” jawab Aruna, setengah serius.
Darren diam sejenak.
Lalu berkata, “Kamu tahu... waktu kecil, aku pernah diam di kolong tempat tidur selama dua hari.”
Aruna tidak bereaksi berlebihan.
“Setelah laki laki tua (ayah Darren ) itu marah besar. Aku nggak mau keluar. Nggak mau lihat siapa-siapa. Aku kira... kalau aku cukup diam, semua bakal lupa aku ada.”
Aruna menatap benang di tangannya, mengaitkan satu simpul, lalu berkata pelan,
“Dan hari ini, kamu duduk di sini. Bikin boneka aneh sama aku.”
Darren mendongak menatapnya.
“Kamu belum hilang, Darren. Kamu cuma... sembunyi sebentar.”
Kata-kata itu mengguncang sesuatu yang rapuh di dalam dadanya.
Ia tak menjawab. Tapi ia menyambung kain itu lagi, dengan simpul yang lebih rapi.
---
Menjelang senja, boneka kecil itu selesai.
Jelek, tak proporsional, kepalanya agak miring. Tapi ada sesuatu yang manis di dalam ketidaksempurnaannya.
Darren memandanginya, nyaris tersenyum.
“Namanya siapa?” tanya Aruna.
Darren mengerutkan dahi. “Harus dikasih nama?”
“Harus,” jawab Aruna mantap.
Darren berpikir sejenak.
“...Jeda.”
Aruna tersenyum, matanya membulat pelan. “Kenapa Jeda?”
“Karena... dia bukan awal. Bukan akhir. Tapi dia ada di antaranya. Dan itu cukup.”
Aruna menatap Darren dalam-dalam.
Itu kalimat paling jujur yang pernah ia dengar hari ini.
“Terima kasih udah kasih aku Jeda,” kata Darren pelan.
Aruna tak menjawab dengan kata.
Ia hanya menyentuh ujung boneka kain itu, seperti menegaskan:
aku mendengar.
---
Saat Aruna berpamitan, Darren tidak buru-buru masuk ke dalam.
Ia berdiri di depan pintu, menatap langit senja yang menguning lembut.
Aruna melangkah ke arah gerbang, tapi kemudian berbalik sebentar.
“Kamu tahu?” katanya sambil menyipitkan mata. “Hari ini kamu lebih banyak bicara dibanding biasanya.”
Darren mendengus. “Itu artinya besok aku bisa diam dua kali lipat.”
Aruna tertawa. Lalu, dengan langkah ringan, ia pergi.
Darren berdiri sebentar lagi.
Lalu masuk ke dalam rumah, memandangi boneka kecil itu di meja.
Jeda.
Satu bentuk aneh dari potongan yang pernah ditinggalkan.
Dan entah bagaimana, Darren mulai percaya... bahwa hal-hal rusak juga bisa disusun kembali.
Tak harus sempurna. Cukup... bisa bertahan.