Malam menjelang lebih cepat dari biasanya.
Langit memudar dalam gradasi kelabu yang menggantung berat di atas atap rumah Darren.
Aruna tidak langsung pulang setelah sesi menggambar itu selesai. Ia duduk sebentar di dalam mobilnya, tak jauh dari rumah Darren. Menatap langit yang belum sepenuhnya gelap, tapi juga tak lagi terang.
Ada jeda yang ganjil di dadanya — bukan kekosongan, tapi semacam rasa yang sulit didefinisikan. Mungkin... rasa takut. Takut terlalu dalam. Terlalu cepat.
Di dalam rumah, Darren masih menatap kertas gambar itu. Tangannya yang berlumur noda arang dibiarkan begitu saja. Ia belum bergerak. Belum ingin.
Ada yang berbeda dalam dirinya malam ini.
Entah dari gambar itu, atau dari cara Aruna memandangnya — seperti ia bukan sekadar lelaki yang rusak, tapi seseorang yang masih bisa bertumbuh.
Dan itu... membingungkan.
---
Keesokan harinya, Aruna tidak datang.
Darren duduk di ruang tamu lebih lama dari biasanya, menunggu suara ketukan yang tak kunjung tiba. Tidak ada pesan masuk. Tidak ada pemberitahuan.
Ia bilang ia tidak suka dikontrol.
Ia bilang ia ingin ruang.
Tapi ketika ruang itu datang dalam bentuk keheningan dari Aruna, Darren justru merasa hilang arah.
Sore menjelang malam, ponselnya bergetar.
> “Hari ini aku nggak ke sana. Tapi aku di dekat sini. Kalau kamu mau.”
Lagi-lagi, Aruna tidak memaksa.
Dan anehnya, Darren justru berharap dia memaksa sedikit saja.
Ia membaca ulang pesan itu berkali-kali. Lalu akhirnya membalas:
> “Besok aja.”
Tidak ada balasan. Tapi Darren tahu, Aruna mengerti.
---
Keesokan harinya, hujan turun sejak pagi.
Saat Aruna datang, rambutnya basah sebagian. Jaket krem yang dikenakannya menggelantung berat karena lembab.
Darren membuka pintu tanpa banyak kata.
Dan entah bagaimana, kehadiran Aruna langsung mengisi ruang itu—dengan hening yang familiar, bukan mengganggu.
“Mau teh?” tanya Darren.
Aruna menatapnya, terkejut.
Biasanya ia yang menawarkan.
“Iya, kalau nggak repot.”
Darren mengangguk dan berjalan ke dapur.
Aruna melepas sepatunya perlahan dan duduk di lantai ruang tamu. Ia membuka jaket, menyisakan kaus abu tipis yang sedikit menempel di kulit karena lembab.
Tak lama kemudian, Darren kembali dengan dua cangkir teh panas.
Ia duduk di seberang Aruna, menyerahkan satu cangkir.
“Terima kasih,” ucap Aruna lembut.
Tak ada percakapan besar hari itu.
Mereka hanya duduk. Sesekali saling pandang, sesekali diam.
Dan itu cukup.
Setelah beberapa tegukan, Aruna membuka suara.
“Aku suka suara hujan yang seperti ini. Nggak deras, tapi cukup untuk mengisi kekosongan.”
Darren menatap jendela.
“Suara hujan yang... nggak menakutkan.”
Aruna mengangguk. “Iya. Nggak seperti suara langkah kaki di lorong rumah sakit. Nggak seperti suara alarm yang tiba-tiba.”
Darren menarik napas dalam.
“Kamu tahu banyak hal.”
Aruna menoleh, tatapannya tenang. “Aku cuma belajar... dari mendengarkan.”
Diam lagi.
Lalu Darren berkata, “Kemarin... setelah kamu pergi, aku masih lihat gambar itu lama. Aku nggak tahu kenapa.”
“Kenapa menurutmu?”
Darren menggigit bibir bawahnya. “Karena itu pertama kalinya aku nggak sembunyi. Walau cuma lewat garis.”
Aruna tersenyum kecil.
“Itu namanya bicara. Dengan cara yang berbeda.”
Hujan masih turun.
Teh dalam cangkir sudah tinggal separuh.
Darren memutar cangkirnya perlahan, lalu berkata, “Aku dulu suka musik. Sebelum semuanya jadi berisik.”
Aruna menoleh cepat, hampir kaget. “Serius?”
“Iya. Tapi sejak dikurung di ruangan putih itu... aku nggak tahan suara keras. Nggak tahan harmoni.”
Aruna mendengarkan, menahan diri untuk tidak bertanya lebih jauh.
“Aku... merasa seperti instrumen rusak,” gumam Darren. “Yang nadanya nggak bisa diperbaiki lagi.”
Aruna meletakkan cangkirnya ke lantai, lalu menatapnya.
“Boleh aku bilang sesuatu?”
Darren mengangguk pelan.
“Kamu bukan rusak, Darren. Kamu... diam. Dan itu nggak berarti kamu berhenti menyukai musik.”
Kata-kata itu membuat d**a Darren bergetar aneh. Ia menghindari tatapan Aruna, tapi tidak bergerak menjauh.
Aruna meraih tasnya, lalu mengeluarkan sesuatu.
Sebuah headphone kecil, dan perekam suara genggam.
“Aku rekam suara hujan tadi,” katanya. “Buat kamu.”
Darren menatap benda itu seolah asing.
“Coba dengar nanti. Kalau kamu mau. Nggak ada suara lain di dalamnya. Cuma hujan.”
---
Ketika Aruna pergi sore itu, Darren tidak langsung masuk ke kamarnya.
Ia duduk di sofa, memandangi headphone di tangannya.
Lalu, dengan pelan, ia memakainya. Menekan tombol play.
Suara hujan menyapa pelan di telinganya.
Tidak ada nada. Tidak ada lirik.
Tapi ada kedamaian di situ.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak lama, Darren tertidur... tanpa harus membungkam dunia.