Tangan yang Tak Terulur

602 Kata
Beberapa hari berlalu. Aruna membiasakan dirinya hadir tanpa banyak bertanya, tanpa banyak menuntut. Ia tidak pernah muncul tiba-tiba, tidak mengacak-ngacak ruang nyaman Darren. Setiap sore, ia akan mengirim pesan singkat — “Aku di dekat sini. Kalau kamu mau.” Dan Darren perlahan mulai belajar... bahwa pilihan itu berarti lebih dari apa pun. Hari ini, setelah beberapa menit berpikir, Darren akhirnya membalas pesannya. "Datang saja." Ketika pintu diketuk, Darren sudah menunggu. Bukan karena ia antusias. Tapi karena... ia merasa resah jika Aruna memilih pergi. Ia membuka pintu, dan seperti biasa, Aruna berdiri di sana dengan senyum kecil yang tidak memaksa. Kali ini, dia membawa sesuatu di tangannya — sebuah papan gambar, lengkap dengan pensil dan arang. "Aku pikir, mungkin kita bisa mencoba sesuatu," katanya sambil mengangkat papan itu. Darren mengerutkan alis. "Menggambar?" Aruna tertawa kecil. "Bukan untuk jadi karya seni kok. Cuma... kadang, lebih mudah meluapkan rasa lewat tangan daripada lewat kata." Darren ingin menolak. Ingin berkata: itu konyol. Tapi sesuatu dalam tatapan mata Aruna — sesuatu yang sabar, yang menawarkan, bukan memaksa — membuatnya menahan lidah. "Aku... nggak bisa gambar," gumamnya. Aruna mengangkat bahu. "Bukan soal bagus atau jelek. Ini soal... melepaskan." --- Mereka duduk di lantai ruang tamu. Aruna meletakkan dua lembar kertas di antara mereka, bersama satu set arang. Ia memulai lebih dulu, menggambar garis-garis tak beraturan, membuat Darren sedikit penasaran. "Aku nggak tahu ini gambar apa," kata Aruna sambil tertawa kecil. "Tapi rasanya... melegakan." Darren memperhatikan goresan-goresan itu — kasar, gelap, membentuk sesuatu yang abstrak, nyaris seperti luka. Tapi ada keindahan aneh di dalamnya. Dengan tangan ragu, Darren mengambil satu batang arang. Ia menatap kertas kosong di hadapannya. Kertas itu... begitu putih. Begitu bersih. Begitu... menakutkan. Sama seperti ruang putih yang dulu mengurungnya. Darren memejamkan mata, berusaha mengatur napas. Tangan kirinya mulai bergerak perlahan. Garis pertama keluar — goresan keras, patah-patah. Lalu garis lain. Dan lain lagi. Tanpa sadar, ia menuangkan isi kepalanya di atas kertas: sebuah pintu terkunci, sebuah jendela kecil, tangan-tangan yang tidak pernah terulur untuk menyelamatkannya. Ketika ia membuka matanya, tangannya gemetar. Aruna menoleh, memperhatikan gambarnya. Ia tidak berkata apa-apa. Tidak bertanya. Tidak menghakimi. Hanya menatap — dalam-dalam, dengan mata yang memahami lebih banyak dari yang diucapkan. Darren menunduk, dadanya terasa sesak. "Aku... maaf. Ini bodoh." Aruna menggeleng. "Bukan bodoh, Darren," katanya pelan. "Itu... jujur." Darren mengatupkan rahangnya, menahan sesuatu yang nyaris tumpah dari hatinya. Aruna menggeser duduknya mendekat, tapi tetap menjaga jarak aman. "Kamu tahu," katanya, suaranya nyaris berbisik, "waktu kecil aku suka sekali menggambar rumah." Darren menoleh sedikit, penasaran. "Aku suka gambar rumah dengan banyak jendela. Banyak pintu. Karena aku percaya... rumah itu tempat untuk pulang. Tempat di mana semua orang ingin kamu ada." Dia tersenyum pahit. "Tapi kadang... rumah itu juga bisa menjadi penjara." Mata Darren membelalak kecil. Ia tidak menyangka — Aruna yang selalu terlihat kuat, cerah... menyimpan luka sendiri. Mereka duduk dalam diam lagi. Tapi kali ini, bukan diam yang canggung. Ini diam yang menyembuhkan. --- Menjelang senja, Aruna berdiri, membereskan papan gambar. Sebelum pergi, dia menatap Darren dengan lembut. "Kamu sudah sangat berani hari ini," katanya. Darren mendengus kecil. "Berani? Aku bahkan hampir kabur tadi." Aruna tersenyum. "Berani bukan berarti tidak takut, Darren. Berani itu... memilih tetap di sini, meski semua bagian dari dirimu ingin lari." Kata-kata itu menusuk lebih dalam daripada yang Darren mau akui. Saat Aruna pergi, Darren menatap kertas gambarnya lagi. Goresan-goresan hitam itu tidak membentuk gambar indah. Tapi untuk pertama kalinya, Darren melihat dirinya — mentah, berantakan, tapi nyata. Dan entah bagaimana, itu cukup untuk hari ini. Mungkin... besok, ia bisa menggambar sesuatu yang lain. Mungkin... besok, ia bisa belajar untuk membuka satu jendela kecil.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN