Darren tidak langsung pulang malam itu.
Ia tertidur di sofa rumah Aruna, selimut tipis menyelimuti tubuhnya.
Aruna duduk tak jauh dari sana, menggenggam cangkir teh yang sudah dingin.
Matanya menatap Darren lama — bukan sebagai pasien tersembunyi, bukan sebagai proyek.
Tapi sebagai seseorang... yang perlahan mulai berarti lebih dari yang seharusnya.
Dan itu menakutkan.
Karena ketika perasaan melibatkan hati, garis batas profesional dan personal jadi kabur.
Dan Aruna, dengan segala luka masa lalu yang belum sepenuhnya sembuh, tahu betul: mencintai orang yang juga sedang pecah... bisa jadi bencana, jika tak hati-hati.
Pagi datang dengan sunyi yang lembut.
Darren terbangun lebih dulu.
Ia menatap sekeliling, mencoba memahami kenapa dadanya terasa lebih ringan dari biasanya.
Bukan karena tempatnya. Tapi karena... seseorang ada di sana.
Aruna, tertidur di kursi dekat jendela, kepala bersandar pada lututnya, rambut sedikit berantakan.
Darren hampir tak tega membangunkannya.
Tapi sebelum sempat bergerak, Aruna membuka mata.
“Pagi,” gumamnya, suara serak oleh sisa kantuk.
“Maaf... aku ketiduran.”
Darren menggeleng.
“Kalau boleh jujur... ini tidur paling nyenyakku selama bertahun-tahun.”
Aruna tersenyum tipis, lalu berdiri, meregangkan tubuh.
“Boleh aku tanya sesuatu?” tanya Darren, pelan.
Aruna mengangguk.
“Kamu... kenapa kamu kayak ngerti banget rasanya sepi?”
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Aruna sempat berpaling ke luar jendela, menatap matahari yang mulai muncul malu-malu.
“Karena aku juga pernah merasa sepi, meski satu rumah penuh orang.”
Ia menarik napas dalam.
“Dulu, waktu umur empat belas, aku kehilangan ibu karena kecelakaan. Dan sejak itu... semuanya berubah. Rumah jadi tempat yang asing. Ayah berubah. Kakakku menjauh. Aku mulai percaya... kalau kehadiranku cuma pembawa sial.”
Darren terpaku. Ia tidak menyangka mendengar itu dari Aruna.
“Aku sempat... menyalahkan diri sendiri. Lalu mulai membenci diriku. Lalu... mulai melukai diri. Aku didiagnosis BPD waktu umur dua puluh.”
Kata-kata itu tidak keluar dengan dramatis.
Tapi dengan tenang yang telah ditempa dari banyak luka yang dipaksa sembuh sendiri.
“Jadi, ya... mungkin aku ngerti sepi itu gimana.”
Darren hanya menatapnya — untuk waktu lama.
Dan untuk pertama kalinya... ada rasa kagum yang berbeda di dalam hatinya.
---
Beberapa hari setelah itu, hubungan mereka mulai berubah.
Masih ada ruang dan batas. Tapi juga ada kenyamanan yang tumbuh tanpa diminta.
Darren mulai mengirim pesan lebih dulu. Kadang hanya satu kata: “Datang?”
Dan Aruna selalu menjawab.
Kadang mereka menggambar. Kadang hanya duduk. Kadang makan roti bakar di balkon sambil mendengarkan lagu-lagu lama.
Satu sore, Darren memberanikan diri bertanya:
“Aruna... sebenarnya kamu kerja apa?”
Aruna terdiam sebentar. Ini pertanyaan yang ia tahu akan datang.
“Aku... semacam pendamping terapi. Tapi tidak resmi. Lebih ke... pribadi.”
Darren mengernyit. “Maksudnya?”
“Ayahmu memintaku mendampingimu. Tapi bukan sebagai dokter. Lebih sebagai... teman.”
Darren menegang.
“Jadi kamu dibayar?”
Aruna mengangguk jujur. “Awalnya, ya.”
Ia menatap Darren dengan serius.
“Tapi setelah beberapa hari... aku tinggal karena aku mau. Bukan karena diminta.”
Darren berdiri, berjalan ke jendela. Bahunya tegang.
“Kamu bohong soal siapa kamu.”
“Aku tidak pernah bilang aku bukan siapa-siapa,” Aruna menjawab tenang.
“Aku hanya memilih untuk tidak langsung membuka semuanya.”
Hening. Udara mendadak berat.
“Aku tahu kamu benci rumah sakit. Benci semua yang berbau terapi. Tapi aku juga tahu... kamu butuh seseorang. Bukan untuk memperbaiki kamu. Tapi untuk menemani kamu.”
Darren menoleh perlahan. Matanya gelap, tapi tidak marah.
Lebih ke... terluka.
“Jadi aku ini... proyek?”
Aruna menahan napas.
Lalu melangkah mendekat.
“Kalau kamu proyek, aku sudah pergi waktu kamu pertama kali diam seharian penuh.
Waktu kamu marah. Waktu kamu usir aku dari depan rumahmu.”
Ia menatap mata Darren, tak gentar.
“Tapi aku tetap datang. Karena kamu bukan proyek. Kamu... manusia. Yang pantas ditemani, bukan dikasihani.”
Lama Darren hanya diam.
Lalu ia berkata pelan, “Aku cuma takut. Takut semua ini cuma sementara.”
Aruna mengangguk.
“Aku juga takut. Tapi kita tetap di sini, kan? Kita tetap berani mencoba.”
---
Saat senja menggulung langit, mereka kembali duduk berdampingan.
Kali ini, lebih dekat dari biasanya.
Tidak menyentuh. Tapi cukup dekat untuk merasakan kehadiran masing-masing.
Dan meski banyak hal belum terjawab, belum selesai, belum sembuh...
hari itu terasa sedikit lebih utuh.
Sedikit lebih hangat.
Sedikit lebih hidup.