Jatuh Pelan-pelan

634 Kata
Pagi itu, hujan turun perlahan. Bukan hujan deras yang mengganggu, tapi gerimis yang membasahi daun dan membuat jendela berkabut. Darren menatap ke luar, cangkir kopinya mengepul lemah di genggaman. Di balkon kecil itu, ia berdiri diam, seperti sedang menimbang sesuatu yang tak bisa ia lihat. Aruna datang tanpa suara, membawa dua selimut tipis. "Udara dingin, kamu bisa sakit," katanya, suaranya lembut. Darren tidak menjawab. Ia hanya meraih selimut itu dan mengalungkannya di pundak. Keheningan di antara mereka bukan karena canggung — tapi karena masing-masing sedang mencoba memahami dunia dalam kepala mereka. "Aku mau cerita sesuatu," ujar Darren, pelan, masih menatap gerimis. Aruna menoleh sedikit, menunggu. "Waktu umur delapan belas, aku pernah coba bunuh diri." Ia tidak menoleh ke Aruna, seolah takut melihat reaksi gadis itu. Tapi ia melanjutkan: "Bukan karena aku ingin mati, sebenarnya. Tapi karena aku... pengin berhenti ngerasa seperti sampah." Tangannya mengepal. Napasnya berat. "Ayahku nemuin aku di kamar mandi. Berdarah, tapi masih bisa diselamatkan. Tapi yang dia bilang saat itu cuma: 'Jangan bikin malu keluarga.'" Diam lagi. Tapi kali ini, Aruna yang mendekat. Pelan-pelan, ia menyentuh lengan Darren. Tidak menarik. Tidak memeluk. Hanya ada di sana. "Aku nggak tahu harus bilang apa," gumam Aruna, jujur. "Tapi kamu masih di sini. Dan itu cukup berarti buat aku." Darren menghela napas panjang. "Sejak hari itu, aku janji... nggak akan percaya siapa pun. Karena bahkan saat aku nyaris mati, nggak ada yang benar-benar peduli soal aku. Mereka cuma peduli soal nama mereka." Aruna menunduk. "Aku paham... gimana rasanya percaya bisa bikin kamu hancur." Darren menoleh pelan. "Aku takut, Aruna." Aruna menatap balik. Matanya berkabut. "Aku juga." Dan di momen itu, dua orang yang sama-sama takut mulai belajar... bahwa mungkin, mereka bisa jatuh — pelan-pelan — ke dalam sesuatu yang lebih dari sekadar keterikatan karena luka. --- Hari demi hari, Aruna dan Darren mulai menciptakan ritme sendiri. Mereka tidak pernah menyebut hubungan mereka dengan label apa pun. Tidak ada "pacaran", tidak ada "terapi", tidak ada "janji". Hanya dua orang — yang memilih untuk hadir. Darren mulai menunjukkan sisi-sisi kecil dirinya yang dulu ia kunci rapat. Seperti caranya suka mendengarkan musik klasik sambil mandi. Atau kebiasaannya menggigit sedotan saat gugup. Atau caranya diam-diam menggambar Aruna saat gadis itu tidak sadar. Sedangkan Aruna... mulai mengizinkan dirinya bercerita. Tentang ibunya. Tentang ayahnya yang dulu penuh cinta lalu berubah menjadi dingin. Tentang malam-malam saat ia merasa seluruh dunia membencinya. Dan di tengah semua itu, mereka tidak pernah saling menyembuhkan. Karena mereka tahu, masing-masing harus menyembuhkan dirinya sendiri. Tapi mereka saling menemani — dan terkadang, itu lebih dari cukup. --- Suatu malam, Aruna menginap di rumah Darren. Tidak direncanakan, hanya karena hujan terlalu deras dan Darren tidak membiarkannya pulang. "Aku nggak nyuruh kamu tidur di kamar gue," ujar Darren sambil menyerahkan bantal dan selimut. Aruna tersenyum geli. "Tenang aja, aku tidur di sofa. Aku nggak gigit." Tapi malam itu, Darren sulit tidur. Ia bolak-balik, tubuh gelisah. Akhirnya ia keluar dari kamar dan menemukan Aruna masih terjaga, memeluk lutut di sofa. "Mau masuk ke kamar?" tanya Darren, berdiri kikuk di ambang pintu. Aruna menoleh. Matanya lelah. "Aku nggak biasa tidur sendirian waktu hujan gede." Darren ragu. Lalu membuka pintu kamar lebar-lebar. "Mungkin... kita nggak harus sendiri malam ini." --- Mereka tidur di ranjang yang sama, tapi tidak saling menyentuh. Hanya berbagi kehangatan dari keberadaan. Lampu redup menyinari wajah Aruna yang damai. Darren memandangi gadis itu lama, sebelum berbisik: "Aruna?" "Hmm?" "Apa kamu pernah takut kalau semua ini cuma sementara?" Aruna membuka mata pelan, menatap langit-langit. "Setiap hari." "Terus kenapa masih tetap di sini?" Aruna berpaling menatap Darren, wajahnya hanya beberapa inci dari wajah pemuda itu. "Karena meski sementara... aku nggak mau nyesel pernah merasakannya." Diam. Darren tersenyum kecil. Dan malam itu, untuk pertama kalinya, mereka tidur berdekatan. Tidak untuk menyembuhkan. Bukan untuk menyelamatkan. Tapi karena... mungkin, mereka mulai belajar untuk percaya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN