Jangan Tinggal Pergi

594 Kata
Pagi menyusup perlahan melalui celah tirai kamar. Matahari belum sepenuhnya naik, tapi cukup untuk menghapus jejak malam. Darren terbangun lebih dulu. Ia membuka mata pelan dan mendapati Aruna masih tertidur di sebelahnya. Wajahnya tenang, napasnya teratur. Ada helaian rambut jatuh di pipinya, dan tanpa banyak pikir, Darren menyelipkannya ke belakang telinga Aruna. Gerakan itu membuat Aruna mengerjap. "Maaf, kebangun ya," bisik Darren. Aruna hanya mengangguk kecil, lalu memejamkan mata lagi. Tapi Darren tahu, dia tak benar-benar tidur lagi. Beberapa menit berlalu dalam diam, hingga suara pelan Aruna memecah keheningan. “Kalau suatu hari aku harus pergi... kamu bakal marah nggak?” Darren menoleh cepat. “Pergi ke mana?” Aruna tak langsung menjawab. Tatapannya menembus langit-langit kamar, kosong tapi penuh tanya. "Aku cuma mikir… hidup ini kadang nggak adil. Kadang orang pergi bukan karena ingin, tapi karena keadaan." Darren bangkit dari tempat tidur, berdiri sejenak sebelum berjalan ke jendela, membelakangi Aruna. “Kamu bakal bilang dulu ke aku, kan? Sebelum pergi.” Aruna menggigit bibir bawahnya. Ragu. “Aku harap aku cukup berani buat itu nanti.” Kata-kata itu seperti hantaman di d**a Darren. Ia menghela napas panjang, mencoba menyembunyikan gemuruh dalam kepalanya. "Aku sudah kehilangan terlalu banyak orang. Ibuku. Mereka yang seharusnya jadi pengganti. Teman-teman. Bahkan diriku sendiri." Aruna duduk di tepi ranjang, pelan. “Aku tahu rasanya,” katanya lirih. "Aku nggak akan kuat kalau kamu juga pergi." Aruna berdiri, mendekatinya. Ia berdiri di belakang Darren, cukup dekat, tapi tak menyentuh. “Aku nggak bisa janji akan tinggal selamanya. Tapi selama aku masih bisa... aku akan tetap di sini.” Darren menutup mata. Napasnya tak stabil. Pelan-pelan, ia berbalik dan memeluk Aruna. Bukan pelukan penuh gairah, tapi pelukan penuh takut. Takut kehilangan, takut dilupakan. Dan Aruna membalas pelukan itu. Erat. Tanpa suara. Dalam. --- Hari itu mereka tak banyak bicara. Mereka menghabiskan waktu di rumah — menonton film setengah hati, memasak sarapan sederhana, duduk di balkon membiarkan sore lewat. Menjelang senja, ponsel Aruna berdering. Suara di seberang terdengar dingin dan tegas. “Kami membutuhkan Anda kembali pekan depan. Progres pasien harus segera dievaluasi.” Aruna terdiam. Ia melangkah menjauh, memastikan Darren tak mendengar. “Saya butuh waktu sedikit lagi. Dia belum siap,” jawabnya pelan. “Kami tak bisa menunggu lebih lama. Ini bukan hanya soal pasien, tapi soal struktur, tanggung jawab, dan keputusan lanjutan. Anda tahu konsekuensinya.” Klik. Sambungan diputus sepihak. Aruna memandangi ponselnya lama. Dunia yang selama ini ia hindari mulai kembali menuntutnya — keras, penuh batas waktu. Dan itu berarti... waktunya bersama Darren mungkin takkan lama lagi. --- Malam itu Darren tampak tenang. Ia bahkan sempat tertawa saat menonton acara televisi. Tapi Aruna tahu... itu bukan tawa yang utuh. Sebelum tidur, Darren berbaring membelakangi Aruna. Lalu tiba-tiba berkata: “Aku tahu sesuatu berubah.” Aruna menoleh. “Kamu dapet telepon tadi siang. Suara kamu beda pas masuk kamar lagi.” Aruna tak mencoba menyangkal. “Aku harus pergi sebentar minggu depan.” “Sebentar?” Darren mengulang, pelan. Aruna mengangguk. “Iya, sebentar.” Darren memejamkan mata. “Kalau kamu nggak balik... aku nggak tahu aku bisa tahan atau nggak.” Aruna menggenggam tangannya erat. “Kamu udah bikin aku percaya, kalau luka bisa dilihat... tapi juga bisa dirawat.” Mereka diam sejenak. Lalu Darren berbisik: “Kalau ini sementara… aku cuma pengin tahu kalau perasaan ini nyata. Kalau kita itu... ada.” Aruna menunduk, menahan air mata yang mulai menumpuk. Dan malam itu, dua jiwa yang terluka saling menggenggam dalam diam — bukan karena mereka yakin tentang esok, tapi karena mereka butuh sesuatu yang nyata hari ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN