Malam menyisakan keheningan yang menggantung lama. Darren tertidur lebih dulu, tapi Aruna tetap terjaga. Ia duduk di tepi ranjang, memandangi punggung Darren yang membelakangi cahaya lampu meja.
Ada banyak hal yang ingin dia katakan. Tentang rasa bersalah, tentang pilihan yang tak pernah mudah, tentang ketakutan kehilangan yang sama besarnya dengan keinginan untuk bertahan.
Tapi semua itu hanya tinggal di tenggorokan. Tak pernah menjadi kata.
Ia bangkit perlahan, menyelimuti Darren dengan hati-hati, lalu melangkah keluar kamar menuju ruang tamu. Cahaya dari balkon menyusup masuk lewat tirai, menciptakan siluet samar di lantai.
Aruna duduk di sofa, mengambil buku catatannya — buku yang selama ini jadi tempat ia menuliskan pikiran yang tak sempat ia sampaikan. Di sana, ia menulis satu kalimat yang mengendap di hatinya:
"Aku ingin tinggal. Tapi kadang, yang kita inginkan tidak cukup untuk membuat segalanya berjalan baik."
Tangannya menggenggam pena erat. Di halaman berikutnya, ia menggambar garis—garis kecil seperti denyut. Tidak rata, tidak simetris. Tapi nyata. Seperti hidup.
---
Pagi datang lebih cepat dari biasanya.
Darren terbangun dengan kepala berat. Ia melangkah ke ruang tengah dan mendapati Aruna tertidur di sofa, buku catatannya masih terbuka.
Ia menghampiri perlahan, membaca kalimat terakhir yang ditulis di halaman itu. Ia tidak menyentuh, tidak bertanya. Tapi ada sesuatu di sana — sesuatu yang membuat dadanya sesak.
Aruna terbangun oleh suara ketel air mendidih di dapur. Ia menoleh dan menemukan Darren di sana, sedang membuat dua cangkir kopi.
“Pagi,” gumamnya.
“Pagi,” jawab Darren tanpa menoleh. “Kopi hitam, tanpa gula?”
Aruna mengangguk pelan. Mereka duduk bersebelahan di meja makan, meminum kopi dalam diam.
Lalu Darren berkata:
“Kamu tahu... aku nggak pernah benar-benar percaya sama orang.”
Aruna menatapnya. “Aku tahu.”
“Tapi anehnya... aku percaya kamu. Bahkan kalau kamu nggak janji apa-apa.”
Kalimat itu seperti pelan tapi pasti merobek dinding dalam diri Aruna. Ia ingin memeluknya, ingin bilang bahwa kepercayaan itu tidak sia-sia. Tapi waktu terasa seperti musuh diam-diam yang sudah bersiap menariknya kembali.
Ia hanya menjawab pelan, “Aku juga percaya kamu.”
---
Hari itu mereka berjalan ke taman kecil di dekat kompleks. Tanpa banyak bicara, hanya menikmati langkah-langkah pelan di antara daun yang berguguran.
Darren mengambil ranting kecil dan menggambar sesuatu di tanah: dua lingkaran kecil yang saling menyentuh, tapi tak menyatu.
“Ini kita?” tanya Aruna.
Darren mengangguk.
“Kadang aku pikir, orang yang terluka... bisa saling sembuhkan. Tapi nyatanya, kadang kita cuma bisa berdampingan. Nggak selalu bisa jadi satu.”
Aruna menatap gambar itu lama.
Lalu ia menggambar sebuah garis kecil di antara dua lingkaran — bukan untuk menyatukan, tapi untuk menghubungkan.
“Kalau kita nggak bisa jadi satu... mungkin cukup tahu kalau kita terhubung,” katanya.
Darren menoleh. Tatapan mereka bertemu. Tak ada kata-kata, tapi ada kehangatan yang merayap pelan di d**a.
---
Malam menjelang, dan Aruna tahu, besok pagi dia harus pergi.
Tapi malam ini... ia memilih diam di sini. Di sisi Darren. Di tempat di mana luka tidak selalu harus disembuhkan, tapi bisa dibagi.
Dan ketika Darren memejamkan mata malam itu, Aruna hanya berbisik dalam hati:
"Tolong... tetap kuat, walau aku harus menjauh sejenak."
Ia tidak tahu apakah Darren mendengarnya, atau mungkin hanya merasakannya lewat genggaman tangan mereka yang tetap erat.
Tapi malam itu, dunia terasa sedikit lebih tenang.