Jarak Kita

435 Kata
Pagi itu, udara terasa berbeda. Darren terbangun sendirian. Ia mengira Aruna masih di dapur atau balkon—tapi tidak ada tanda keberadaan gadis itu di mana pun. Tidak di sofa. Tidak di kamar mandi. Tidak juga di balkon tempat mereka sering duduk berdua. Lalu ia menemukan secarik kertas di atas meja makan. Tulisannya singkat. “Aku nggak pergi jauh. Hanya sebentar. Tolong jaga dirimu, Darren. Aku percaya kamu bisa.” Tangannya gemetar saat membaca baris itu. Rasanya seperti ditarik kembali ke hari-hari ketika semua orang meninggalkan tanpa benar-benar memberi alasan. Ia menarik napas panjang, berusaha tetap berdiri tegak. Tapi hatinya… seolah runtuh perlahan. --- Aruna duduk di dalam mobil yang melaju perlahan menuju gedung besar itu—tempat yang telah ia hindari beberapa minggu terakhir. Tempat yang dulu menjadi zona nyamannya, tapi sekarang terasa seperti ruang asing. Ia kembali bukan karena ingin, tapi karena tahu ia harus. Tanggung jawabnya, komitmennya, dan semua yang tidak bisa diabaikan hanya karena hatinya ingin tinggal. Begitu turun, ia menarik napas dalam-dalam sebelum melangkah masuk. Dan sepanjang hari, ia merasa seperti bayangan. Tubuhnya ada di sana, tapi pikirannya tertinggal di tempat lain. Di sebuah apartemen kecil. Di sisi seseorang yang sedang belajar percaya lagi. --- Darren mencoba tetap berfungsi. Ia mencuci piring, merapikan tempat tidur, bahkan menyalakan televisi dan menonton film yang biasanya mereka tonton bersama. Tapi tak satu pun terasa cukup untuk mengusir kekosongan yang kini menetap. Pada malam ketiga, ia menatap papan gambar mereka. Masih tergantung di dinding, dengan dua karya yang tak pernah selesai. Ia duduk di depannya. Mengambil arang. Dan menggambar. Kali ini, bukan pintu terkunci. Bukan jendela sempit. Tapi dua titik. Dan satu garis di antaranya. Seperti yang pernah Aruna gambar di taman. “Terhubung,” bisiknya pelan. --- Di tempat lain, di ruang istirahat yang terlalu sunyi, Aruna memandangi ponselnya. Tidak ada pesan baru. Tidak ada panggilan. Tapi ia tahu… Darren sedang berjuang dengan caranya sendiri. Ia pun mengetik: "Hari ini berat, ya?" Tapi tak dikirim. Lalu ia menghapusnya, dan menulis ulang: "Aku kangen." Lagi-lagi tidak jadi dikirim. Akhirnya, ia menulis satu kalimat lain, lalu mengirimnya tanpa ragu: “Kamu nggak sendiri.” Dan di apartemen yang sunyi, layar ponsel Darren menyala pelan. Satu pesan masuk. Ia membacanya, lalu menatap langit-langit. Untuk pertama kalinya dalam tiga hari, ia tersenyum kecil. --- Malam itu, meski berjauhan, mereka tidur dengan posisi yang sama—miring ke kiri, satu tangan di d**a, dan bayangan satu sama lain di dalam kepala mereka. Karena cinta yang tumbuh dari luka, mungkin tak selalu butuh jarak nol. Kadang, cukup tahu: di luar sana, ada seseorang yang tetap memikirkanmu… meski dalam diam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN