Satu minggu berlalu.
Dan setiap harinya, Aruna mengirim satu pesan pendek kepada Darren.
Tak pernah lebih dari satu kalimat.
"Sudah makan?"
"Hari ini mendung. Jangan lupa jaket, ya."
"Aku pikir kamu pasti bisa lewatin ini."
Darren tidak selalu membalas. Tapi ia membaca semuanya. Dan setiap pesan itu datang, dadanya terasa lebih ringan, meski hanya sedikit.
Ia mulai mencatat harinya. Bukan seperti jurnal formal—hanya potongan-potongan kalimat yang ia tulis di sticky note dan tempel di dinding.
“Bangun jam 7 pagi. Rasanya aneh tanpa suara kopi diseduh.”
“Makan roti bakar. Terlalu garing. Aku rindu roti buatan Aruna.”
“Hari ini aku keluar sebentar. Beli buah.”
Sedikit demi sedikit, ia menata ulang harinya. Bukan karena ia tidak hancur—tapi karena ia tahu, satu-satunya cara bertahan adalah dengan tetap berjalan.
---
Sementara itu, Aruna mulai merasa asing dengan gedung tempat ia dulu merasa dibutuhkan.
Setiap panggilan rapat, setiap evaluasi pasien, setiap tanda tangan—semuanya terasa seperti potongan hidup yang pernah menjadi miliknya, tapi kini nyaris tidak pas lagi di tubuhnya.
Ia mencoba untuk kembali tenggelam dalam ritme kerja. Tapi di sela-sela kesibukan, pikirannya selalu melayang.
Pada seseorang yang pernah ia ajak menggambar tanpa kata.
Pada seseorang yang dulu memeluknya tanpa bertanya.
Pada Darren.
---
Suatu malam, saat hujan turun perlahan di luar jendela, Aruna membuka catatan kecil yang selalu ia bawa. Di sana, ia menulis:
“Jika aku harus memilih, antara menjadi ‘aku yang dulu’ atau ‘aku yang sekarang’, aku akan pilih yang sekarang—karena di dalamnya, ada kamu.”
Ia tahu tak bisa mengucapkannya langsung. Tapi ia menyimpannya… mungkin suatu hari, ia akan punya keberanian.
---
Di apartemennya, Darren duduk memandangi sticky note terakhir yang ia tempel:
“Aku belum bisa bilang aku baik-baik saja. Tapi aku nggak lagi merasa sendirian.”
Lalu, ia meraih ponselnya. Mengetik pelan.
"Run... kamu masih mau datang kalau aku minta?"
Tidak butuh waktu lama.
Balasannya muncul:
"Selalu."
Dan malam itu, hujan masih turun, tapi untuk pertama kalinya setelah hari-hari panjang yang kosong, Darren merasa... sesuatu sedang tumbuh perlahan di dalam dirinya.
Bukan kebahagiaan. Belum.
Tapi harapan.