Hal-hal Kecil yang Menyembuhkan

435 Kata
Langit belum sepenuhnya cerah saat Aruna mengetuk pintu rumah itu lagi. Tak ada balasan langsung. Tapi ia menunggu. Beberapa detik kemudian, suara langkah pelan terdengar mendekat. Pintu terbuka, dan Darren berdiri di sana—rambut sedikit berantakan, mata sembab tapi hangat. Ia tidak berkata apa-apa. Aruna pun tidak. Ia hanya mengangkat kantong kertas di tangannya dan tersenyum tipis. "Aku bawa roti. Yang kamu suka, setengah gosong." Darren tertawa pelan. Suara itu muncul seperti air di padang gersang. Ia membuka pintu lebih lebar, memberi jalan. “Masuk.” --- Mereka duduk berseberangan di lantai ruang tengah, roti panggang di tangan masing-masing, dan dua cangkir teh panas mengepul di antara mereka. Tak ada musik, tak ada suara televisi. Hanya bunyi hujan yang turun pelan di luar jendela. “Aku lihat kamu mulai nempel-nempelin kertas di dinding,” ujar Aruna sambil melirik ke arah catatan kecil warna-warni yang menghiasi dinding ruang tengah. Darren mengangguk. “Aku kira itu cara yang cukup aman buat tetap waras.” Aruna tersenyum lembut. “Kelihatannya berhasil.” Darren memandangi catatan-catatan itu, lalu berkata pelan, “Kadang aku nggak yakin hari apa. Tapi waktu aku baca lagi satu per satu, rasanya seperti… aku masih hidup.” Aruna tidak menjawab. Ia hanya menatap Darren—wajah itu tampak lebih kuat dari terakhir kali ia lihat, tapi tetap dengan sorot mata yang menyimpan banyak luka. --- Setelah sarapan selesai, Darren berdiri dan berjalan ke arah jendela. Tangannya menyentuh kaca yang mulai berkabut. “Waktu kamu nggak ada,” katanya pelan, “aku sempat mikir, mungkin aku bakal hancur total. Tapi ternyata… nggak sepenuhnya begitu.” Aruna berdiri di belakangnya. “Karena kamu kuat,” katanya. “Bukan karena aku kuat. Tapi karena kamu ngajarin aku… untuk bertahan.” Hening sesaat. Lalu Darren menoleh, dan untuk pertama kalinya sejak lama, ia berkata dengan jujur: “Aku nggak mau kamu pergi lagi.” Aruna menarik napas dalam. “Aku juga nggak pengin.” “Tapi?” “Aku masih harus selesaikan beberapa hal. Tapi kali ini, aku bakal bilang sebelum pergi. Aku janji.” Darren mengangguk. Tidak puas, tapi menerima. “Kali ini,” katanya pelan, “aku bakal nunggu. Karena aku tahu... kamu bakal balik.” --- Hari itu mereka tidak banyak bicara. Mereka hanya duduk di dekat jendela, menyaksikan hujan turun. Sesekali menyesap teh yang mulai dingin. Sesekali menatap langit yang kelabu. Tapi dalam keheningan itu, ada kehadiran yang terasa utuh. Tidak perlu pelukan. Tidak perlu kata cinta. Hanya dua jiwa yang saling memahami, saling menjaga... dalam bentuk yang paling sunyi dan sederhana. Dan mungkin, justru dari hal-hal kecil seperti itulah—kesembuhan perlahan tumbuh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN