Tidak Pernah Mudah

326 Kata
Malam turun tanpa suara. Darren duduk di ambang pintu, lutut ditarik ke d**a, sementara Aruna duduk beberapa langkah darinya, memeluk lutut sendiri. Tak ada obrolan, hanya suara jangkrik dan angin yang menyusup di antara celah pintu. “Kamu nggak pernah tanya soal masa kecilku,” ujar Darren pelan. Aruna menoleh. “Karena aku nunggu kamu yang mau cerita.” Darren tersenyum kecil. “Lucu ya… waktu kecil aku pengin cepat dewasa biar bisa bebas. Tapi ternyata... dewasa justru rasanya lebih berat.” Aruna menunduk. Ia tahu rasa itu. “Ayahku pernah bilang, laki-laki nggak boleh nangis. Jadi sejak kecil, aku simpan semuanya. Ketakutan, kecewa, marah. Semua dipendam.” Aruna menatapnya. “Tapi sekarang kamu boleh nangis, Dar.” Darren tidak menjawab. Matanya menatap gelap malam, dan suaranya nyaris tak terdengar saat berkata, “Aku takut kalau aku mulai nangis, aku nggak akan bisa berhenti.” Aruna merayap mendekat, pelan. Ia tidak menyentuh, hanya duduk lebih dekat. “Kamu nggak harus berhenti. Nggak malam ini.” Lama mereka duduk dalam diam. Sampai akhirnya, Darren menarik napas panjang dan berkata, “Aku cuma pengin tahu... rasanya disayang, tanpa syarat.” Aruna memejamkan mata. Lalu dengan suara sangat pelan, ia berkata, “Kamu pantas dapetin itu. Bahkan saat kamu nggak percaya, bahkan saat kamu belum bisa kasih balik… kamu tetap pantas.” Darren menunduk. Bahunya berguncang sedikit. Dan malam itu, untuk pertama kalinya, ia membiarkan dirinya menangis — tanpa menutupi wajah, tanpa rasa malu. Aruna tetap di sisinya. Diam. Hadir. Menjadi ruang aman yang tidak pernah ia miliki sejak dulu. --- Malam makin larut. Saat tangisnya reda, Darren bersandar ke dinding, suara parau. “Terima kasih.” Aruna hanya mengangguk. Dan di bawah langit yang sepi, dua orang yang tak utuh duduk berdampingan — tidak untuk menyembuhkan satu sama lain secara ajaib, tapi untuk saling menemani dalam proses yang panjang dan tidak pernah mudah. Tapi malam itu, luka mereka sedikit lebih ringan. Karena kini, mereka tidak harus menanggungnya sendirian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN