ILYMH - Tidur Sama Om Rio

1147 Kata
Seberkas cahaya menyilaukan memaksa masuk melalui celah celah gorden dan fentilasi kamar Diandra. Inginya bangun. Namun mata Diandra serasa dilem. Bawaanya pingin tidur terus. Untuk hari ini saja dia ingin absen ke sekolah. Biar saja teman teman rempongnya itu khawatir. Sekali membolos tak akan membuat Diandra tinggal kelas kan? Tok..tok Diandra hanya menggeliat dan kembali tidur pulas. Semula hanya ketukan lama lama menjadi gedoran yang akan membuat pintu kamar Diandra roboh. Sungguh mengganggu... Diandra mencoba menulikkan telinganya. Mendekap guling erat.  Entah mengapa sedari tadi gulingnya yang sebelumnya biasa biasa saja menjadi lebih hangat dan wanginya lain. Lebih maskulin. Padahal parfum Diandra berbau strawberry. Apa ini guling tetangga ya? Eh kan adanya selimut tetangga. Oke fix lupakan! "Diandra!!!! Sekolah!!!" Mami yang mulai geram akhirnya mengeluarkan suara delapan oktafnya. "Diandra mau bolos mii" jawab Diandra tanpa membuka matanya. "Kalian ngapain didalem? Dikunci lagi pintunya. Nggak lagi enaena kan?"  Diandra menggelengkan kepalanya. Ena ena sama siapa. Sama guling!? "Ahh ughhh Mami ganggu aja deh" desis Diandra. Yang lebih mirip desahan ditelinga Maminya. Mendengar itu Maminya jadi panik sendiri. Masa belum nikah udah jebol duluan. Maminya mondar mandir di depan kamar Diandra persis setrikaan loundry. "Rizkan kesini nak. Bantuin Mami" panggil Mami saat meilhat Rizkan yang baru keluar dari kamarnya yang kebetulan bersebelahan dengan kamar Diandra.  "Bantu apa Mi? Rizkan mau berangkat kuliah ada kuliah pagi. Jangan lama lama yahh Mi" ujar Rizkan sambil melirik arlojinya. "Ini bantuin Mami dobrak pintu kamar adekmu"  Rizkan melongo. Benar benar adeknya itu pemalas kelas tinggi. Sudah mau nikah masih aja suka bangun siang. Bisa frustasi suaminya nanti. Huh begitu malangnya nasib Rio. "Tap..tapi Mi digedor aja kali. Sayang pintunya Mi kalo didobrak"  "Ishh sudah jangan bantah. Ini demi masa depan adikmu"  "Berisik Mihh..ganggu aktivitas Dii aja" teriak suara serak Diandra dari dalam. Jeder..pryang... Petir terasa menyambar kepala Mami. Anaknya benar benar tak tau malu. Agresif sekali. "Riz cepetan dobrak. Mami bantu" Rizkan mengangguk bersiap siap mendobrak. Yahh walaupun sayang sihh sama pintunya. "Satu....dua.....tiga.." Bruak!!!!!!! "Ah Mami berisik" geram Diandra sambil terduduk dari tidurnya. Rizkan serta Maminya melongo. Memang sih seranjang. Tapi ternyata tak seperti yang Mami fikirkan. "Mami tau kalian mau nikah. Tapi nggak baik tidur sekamar" ujar Mami menasihati. Diandra bingung. "Mami ngomong apa sih? Kalian siapa coba. Maksud Mami aku sama guling" Mami menepok jidatnya. Kemana perginya Diandra yang pintar dan cerdas. Mengapa sekarang yang ada hanyalah Diandra yang cengo. "Coba liat dibelakangmu itu siapa" Mami menunjuk dengan dagunya. Melipat tanganya didepan d**a. Sedangkan Rizkan hanya geleng geleng kepala melihat kelakuan adik cantiknya. "Huwwaaaaa!!!!!" Semua yang ada di kamar Diandra menutup telinganya.  "Kak Rio!!! Kok kakak tidur sama aku? Kakak nggak apa apain aku kan?" tanya Diandra menyilangkan tangan didepan d**a. Seakan akan melindungi tubuhnya. Rio hanya tersenyum saja. Semalam kan Diandra yang menahanya. Mengapa sekarang Diandra yang berteriak. "Semalam kamu nahan kakak"  "Bagaimana bisa kak?" "Semalam kamu ketiduran dibahu kakak. Terus kakak mindahin kamu ke kamar. Eh pas kakak mau pergi kamu nahan tangan kakak. Yahh jadi kakak ikut tidur saja" jelas Rio sambil nyengir.  Diandra menutup wajahnya yang merona dengan telapak tanganya. Pantas saja tadi gulingnya hangat dan wangi sekali. Ternyata itu Rio. "Wahh kaya nya adikku ini ngebet banget ya nikah ama Rio" goda Rizkan menaik turunkan alisnya. "Isshh.. mana ada" gumam Diandra masih menutup wajahnya. Ranjang Diandra bergoyang. Rio turun dan berpamitan pada camer nya. "Tante Rio pulang dulu ya. Rio harus ke kantor"  "Loh nak Rio nggak ikut sarapan bersama kami" Rio menggeleng. Lalu ia segera pergi dari kamar Diandra dengan perasaan kesal tak terkira.  Senyumanya..kehalusan bicaranya tadi hanyalah topeng. Untuk menutupi kekesalanya. Sedari tadi Rio ingin beranjak dari ranjang namun Diandra malah memeluknya dan melilitnya bak anakonda yang akan meremukkan mangsanya. Padahal pagi ini Rio akan ada meeting dengan klien asal Singapore. Mungkin itu akan terancam diundur. Dan semua gara gara gadis kecil itu Benar benar gadis aneh. Dan lebih anehnya. Rio care sama gadis aneh itu... - Diandra yang sudah rapi duduk dengan kesal dimeja makan. Pinginya hari ini bolos tapi Mami tak mengizinkanya.  Menyebalkan bukan? "Dii berangkat sama siapa?" tanya abangnya membuat Diandra behenti menyuapkan sandwich nya. Menoleh kearah Rizkan tak ada minat. "Pakai mobil lah kak"  Si ratu rumah membawakan segelas s**u coklat untuk Diandra. Ya ampun sudah mau nikah masih saja dibikinin s**u. Batin Diandra. "Kamu Diantar Rizkan aja ya Dii. Calon pengantin gak boleh keluar sendirian" "Itu mitos Mi" sanggah Diandra sambil meneguk susunya sampai tandas. "Aku sudah selesai Mi. Dii pamit Assalamualaikum" Diandra mendatangi Maminya dan mencium punggung tanganya. "Ehh aku gak disalimi juga" Rizkan mengacungkan tanganya. Diandra menjulurkan lidahnya. "Ngapain wlee" Diandra lalu berjalan dimana mobil pink kesayanganya diparkir. - Setelah sampai dikediaman keluarga Darmawan. Rio langsung melesat masuk. Tanpa mengucap salam. Tanpa menegur Momy dan Daddy nya yang tengah sarapan. Melihat itu Momy sedikit jengkel. Rio itu benar benar tak tau sopan santun. Kalau didepan Mami Diandra jadi super baik. Kalau sama keluarganya sendiri. Jangan tanya lagi deh. Betapa cueknya dia.  "Arghhh" Rio menggeram kesal. Sudah panik ditambah panik dengan Dira sekertaris Dira yang selalu mengirimi pesan padanya. Bahwa klien nya ingin segera bertemu.  Klien itu sepertinya terlalu kerajinan. Mengajak meeting pagi pagi. Agak siangan kan juga bisa. Rio masuk ke kamar mandi. Tapi dia tidak mandi. Hanya menggosok gigi dan mencuci muka.  Yaa katakan saja Rio jorok. Tapi mau bagaimana lagi. Waktunya benar benar sudah mepet. Dengan cepat Rio memakai kemeja dan jasnya.  "Kemana lagi dasi ku ini" dengan geram Rio membongkar kemari khusus dasinya. "Nah ini" Rio berniat memakainya. Tapi sialnya dia melupakan fakta kalau ia tak bisa memasang dasi. "Ah sudahlah aku minta pasangkan Dira saja" ujar Rio lalu keluar kamarnya. Berjalan cepat seperti orang kesetanan. Sampai sampai menabrak Nisa adiknya. "Kak sakit" aduh Nisa. "Maaf Nis...kakak harus cepat" Rio tak memperdulikan Nisa dan melanjutkan kembali jalanya. Melangkah keluar rumah. Dan lagi lagi mengacuhkan Momy dan Dady nya. - SMA Kusuma sudah terlihat ramai. Dengan pd Diandra melangkah melewati kakak kakak kelasnya. Banyak kakak kelas lelaki yang bersiul dan mengganggunya. Namun itu tak menghentikkan langkah Diandra. Toh keadaan seperti ini sudah sering ia alami. "Hai Dii" sapa Michell yang baru membeli snack di kantin. "Haii Mich. Pagi pagi udah jajan aja" ujar Diandra. "Kamu mau?" tawar Michell sambil menyodorkan Q-tela ukuran jumbo berasa balado itu. Diandra menggeleng. "Udah sarapan dirumah" "Ohh aku anterin ke kelasmu ya?"  "Oke" Sepasang mata gadis cantik kakak kelas Diandra dan Michell menatap Diandra geram. Tanganya terkepal sehingga buku buku jarinya memutih. Bibirnya menipis. Matanya memicing tajam. Dua gadis yang berada disisi kanan dan kirinya mencoba meredam amarah gadis itu yang sudah berada diambang batasnya. Namun apa daya. Dendam itu sudah mendarah daging di dalam dirinya. Biar dikipasin pakai angin tornado sekalipun. Api kebencianya tak akan pernah padam untuk Diandra. "Girls istirahat nanti seret Diandra ke kamar mandi. Dan...teman temanya jangan sampe tau" perinrah gadis itu bagai seorang ratu yang memerintah pelayanya. Dan begonya lagi. Kedua temanya mengiyakan permintaan buruk temanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN