ILYMH - Carlos Tobat

1764 Kata
Diandra meregangkan otot otot badanya. Empat jam tadi benar benar membuat Diandra lelah dan mengantuk. Dua jam awal diisi oleh pelajaran Matematika. Mana ulangan harian mendadak lagi. Yahh wassalam lah sama nilai nanti. Semoga gak jeblok jeblok amat. Dan dua jam selanjutnya diisi sama pelajaran pkn yang banyak menerangkan sejarah sejarah kolonial Belanda datang ke Indonesia. Membuat Diandra terus menguap sepanjang pelajaran. Apalagi guru bidangnya sangat lemah lembut. Dan itu terdengar seperti nyanyian penghantar tidur di telinga Diandra. Tapi untunglah Diandra tidak tertidur dikelas. Jika sampai itu terjadi. Mungkin kepala Diandra bisa benjol terkena lemparan spidol. Setelah otot otot yang kaku tadi sudah agak rilex. Diandra membereskan semua peralatan belajarnya. Dia menengok ke arah pintu. Berharap teman temanya datang menjemputnya dan mengajaknya ke kantin. Sungguh cacing cacing di perut Diandra sudah mulai berdemo.  Lima menit sudah Diandra menunggu namun teman temanya tak kunjung menjemputnya. Biasanya juga satu menit setelah bel. Semuanya pada meringis di depan pintu kelas Diandra. "Haii Dii nggak ke kantin?" sapa Rico teman sekelas Diandra. Sekaligus menjabat sebagai ketua kelas. Diandra tersenyum lalu menggeleng. "Masih nunggu temen Co" "Mau bareng sama aku? Kaya nya kamu laper ya. Muka kamu pucat" "Hehe iya sih aku laper. Tapi ga papalah bentaran lagi mereka juga dateng. Thanks ya buat tawaranya"  Rico tersenyum lalu pergi bersama cs nya yang lain. Diandra mengait ngaitkan tanganya satu sama lain. Berpikir pikir jemput mereka duluan atau tidak. Jujur saja jika Diandra ke kelas teman temanya. Diandra takut bertemu Carlo temen sekelas Zela, Zelo, Bulan, dan Michell. Dulu..dulu sekali saat Diandra Mos. Carlo pernah menembaknya. Namun Diandra menolak terang terangan didepan mata anak anak lainya.  Carlo marah dan dendam pada Diandra. Sehingga waktu itu Diandra hampir saja diperk*sa sama Carlo. Untunglah Michell segera menolong Diandra. Jika tidak..mungkin Diandra sekarang tak berada disekolah. Melainkan mengasuh anak Carlo dirumah. Hii memikirkanya saja membuat bulu kuduk Diandra meremang. Drt..drt.. Getaran ponsel disaku Diandra membuyarkan lamunanya. From: Bulan Dii sorry ya kita kita nggak bisa jemput lu. Atau nemenin lu ke kantin. Dikelas kita ada remedi matematika. Kita semua kena hehe..sorry ya Duhh bagaimana ini. Yasudah deh ke kantin sendiri saja. Lagian temen temen perempuan sekelas Diandra mana ada yang mau mengantar. Karena mereka seperti memusuhi Diandra. Entah apa sebanya. Membuat Diandra pingin pindah kelas. Jujur saja dia sangat tidak nyaman dilirik lirik sinis cabe cabean dikelasnya. Tanpa membalas pesan Bulan. Diandra beranjak dari duduknya dan melangkah keluar menuju kantin. - "Set*n.. Bajing*n gue gak terima pukulin dia sampe habis. Kalo enggak. Mati lo ditangan gue"  Diandra bersembunyi dibalik pilar. Ternyata di kantin ada Carlo cs. Bagaimana bisa Carlo berada di kantin. Seharusnya kan dia juga kena remedi. Pintar juga enggak. Malah bodo nya selangit seabrek abrek. Mana Carlo lagi marah marah sama anak buahnya. Keringat dingin membanjiri kening Diandra. Kakinya sudah melemas. Jantungnya juga berdegup dengan kencang. "Ya ampun ada Carlo. Aku harus gimana nihh" cemas Diandra. Cacing cacing diperut Diandra yang semula berdemo minta diisi. Alias lapar. Tiba tiba saja rasa lapar itu hilang. Melihat wajah Carlo membuat Diandra menjadi muak tak berselara makan. Wajah wajah m***m. Busuk dan kutu kupret. Ganteng sihh. Tapi kelakuanya bejad kaya kucing garong. Apalagi mulut kotornya itu. Minta disumpelin pake kaos kaki yang nggak dicuci sebulan. Biar mampus sekalian. Kalau masih ada Carlo Indonesia nggak bakal maju maju.  Diandra mengintip. Karena suara suara Carlo yang sebelumnya ribut banget tiba tiba jadi sunyi senyap. "Syukurlah kucing garong itu udah pergi" ujar Diandra sambil mengelus dadanya. "Yang lo maksud dengan kucing garong itu siapa?" bisik suara serak tepat ditelinga Diandra. Hembusan nafasnya menerpa tengkuk Diandra. Sungguh merinding jadinya. "Ca...carlo" "Tumben lo sendirian aja. Mana pengawal pengawal lo? Lagi kena remedi ya. Haha"  Diandra ingin menangis rasanya. Tapi di depan Carlo dia tak boleh lemah. Diandra mengangkat dagunya menatap kedua manik mata Carlo. Tanganya berkacak pinggang menantang Carlo. "Lo mau apa ha!" teriak Diandra. "Stt..stt.. lo jangan ketus ketus gitu dong. Gue jadi tambah suka ama lo. Lagian lo tambah cantik aja sih. Kulit lo tambah putih. Uh apalagi bibir lo itu emm.. mungil tapi se-"  Plak Carlo mengusap pipinya. Panas perih tapi tidak sebanding dengan panas di hatinya. "Kotor banget mulut lo ya kaya tong sampah" "Berani ya lo sama gue" desis Carlo sambil meremas tangan Diandra. "Lepas..sakit tau nggak!" Diandra meronta sekuat tenaga. Tapi apadaya..tenaga Carlo lebih besar daripadanya.  Dasar bule tengik. Decih Diandra dalam hati tentunya. Carlo itu bukan asli orang Indonesia. Dia asli Belanda. Pantas saja dia selalu membuat onar dinegara tercinta kita ini. Mungkin dia ingin meneruskan menjajah Indonesia. Apa kurang 3,5 abad nya mas? "Lebih sakit hati gue Dii. Lo tolak gue terus. Emang gue salah apa sih ama lu? Dan gue kurang apa coba. Gue ganteng. Tajir abis. Coba aja lu mau gue tidurin waktu itu. Nyaman deh lo ongkang ongkang kaki dirumah gue. Sambil jagain anak gue" jelas Carlo penuh amarah.  "Lo itu gila..lo sakit jiwa. Lo suka nindas orang lemah. Persis kalau lo gue panggil PEN-JA-JAH" ujar Diandra dengan menekankan kata penjajah. Cekalan di pergelangan Diandra makin mengencang. Diandra hanya meringis kesakitan. Kedua sudut matanya sudah mulai tergenang air mata.  "Karena itu lo gak mau sama gue? Oke..oke gue berubah. Asal lo mau jadi pacar gue. Dan calon istri gue"  "Gak..walau lo berubah sedemikian rupa. Lo tetep Carlo yang jahat yang gila. Gue benci sama lo. Gue muak liat muka lu. Bawaanya pengen muntah tau nggak" suara Diandra sudah berubah bergetar. Ini terlalu menyesakkan. "Kasih gue kesempatan. Gue pasti berubah. Cuman lo Dii yang bisa bikin gue mohon mohon kaya gini. Ini berarti gue serius ama lo.  Seharusnya lo bangga itu" sedikit jeda lalu Carlo melanjutkan lagi. "Disaat cewek cewek lain ngejar ngejar gue. Lo gue kejar kejar. Ini yang pertama dihidup gue. Plis kasih gue satu kesempatan" Diandra terkejut setengah mati saat Carlo bersimpuh masih menggenggam tangan Diandra erat. Murid murid yang lewat. Melirik sekilas adegan drama yang tengah diperankan Carlo. Namun saat tau itu Carlos Van Dirck. Nyali mereka menciut. Berpura pura tidak melihat apa pun. Daripada mata mereka ditinju atau dicongkel. Mending cari aman. "E..eh lo apa apaan sih. Gue malu..gilak. Jadi bahan tontonan" ujar Diandra melihat sana sini. Tak ada yang melihat sih. Jangankan melihat melirik saja tidak. Sebegitu takutkah mereka dengan Carlo. "Jawab dulu Dii. Lo mau gue kaya apa?" tanya Carlo memelas. Diandra bisa melihat kesungguhan dimata Carlo.  Diandra diam saja. "Gue cinta sama lo. Gue tergila gila sama lo!" "Itu bukan cinta Car. Lo cuman terobsesi dan penasaran sama gue" "Nggak!! Gue beneran. Mana ada obsesi sampe dua tahun. Ayolah mau ya jadi pacar gue" ujar Carlo sambil menggoyang goyangkan tangan Diandra yang berada dalam genggamanya. "Maaf gue nggak bisa. Gue udah dijodohin ama Mami Papi gue" Diandra menarik tanganya dari genggaman Carlo yang mengendur. Matanya menatap nyalang mata Diandra. Keterputus asaan tercetak jelas diraut wajahnya. Semoga saja selepas ini Carlo tidak melakukan yang aneh aneh. Bunuh duri misalnya. Apapun bisa dilakukan orang yang sedang patah hati. "Bilang kalo ini cuman bercanda Dii" bentak Carlo frustasi. "Ini gak bercanda. Ini faktanya..dan...dan gue cinta sama calon suami gue" Deg.. Jantung Diandra berpacu dengan cepatnya. Cinta? Sepertinya bohonganya keterlaluan. Jangankan cinta suka saja tidak! NO WAY! Carlo berdiri lunglai. Tubuhnya yang tinggi membuat Diandra harus mendongak.  "Haha..miris ya hidup gue. Lo ogeb banget sih Dii. Coba lo bilang dari awal kalo lo udah punya calon. Gabakal gue kejar kejar lo"  Diandra masih tak bergeming. "Gue lepasin lo" mata Diandra mengerjap ngerjap. Dia mengusap ngusap telinganya. Siapa tau kan dia salah dengar. Seorang Carlo membebaskanya. Ini seperti sebuah keajaiban. Bisa ini masuk tujuh keajaiban dunia. "Beneran?" Carlo mengangguk. "Gue minta ini" Carlo menangkup pipi Diandra dan mencium bibir Diandra sekilas. Nafas Diandra tercekat ditenggorokan. Sialan Carlo mengambil ciuman pertamanya. Seharusnya kan itu untuk Rio. "Itu salam perpisahan kita. Bye" ujar Carlo lalu berlari meninggalkan Diandra yang masih mematung. Diandra meraba bibirnya yang sudah tidak perawan lagi. "Arghh... maaf kak Rio" gumam Diandra. - "Udah kalian kunciin di wc tuh anak ganjen" ujar Nisa kakak kelas Diandra. "Belum Nis. Dia tadi sama Carlo. Kalo gue seret dia di depaj Carlos. Bisa terancam nyawa gue" ujar Tata teman Nisa. Gisele yang berada disampingnya hanya mengiyakan saja. "Arggh gobl*k.. Carlo gila. Kena pelet atau apa sih dia tuh" Nisa meremas ponsel yang dibawanya emosi."Coba kita cek siapa tau Carlo udah pergi" Tata dan Gisele mengangguk. Setelah sampai disana. Mereka tersenyum evil. Diandra sudah sendirian dengan wajah yang memerah.  "Nis ngapain dia pegang pegang bibirnya gitu. Kaya orang stres" ejek Gisele yang melihat Diandra meraba raba bibirnya. "Tauu..emang gue emaknya. Sudah seret dia" perintah Nisa. Baru selangkah berjalan rencana mereka gagal kembali. Dengan datangnya cs nya Diandra. Nisa menggeram marah. Saat Michell brondong incaranya menangkup pipi Diandra yang melamun. Caper aja itu. Bodo.. Dengan menghentakkan kakinya kesal. Nisa pergi dari tempat itu. Diikuti dua serdadunya. - "Wahh anj*ng.. itu Carlos. Gue tau pasti dia abis gangguin Diandra" ujar Michell marah melihat punggung Carlo yang berjalan menjauhi Diandra. Seratus bahkan satu juta persen. Michell yakin kalau Carlo habis menemui Diandra. "Ayo guys kita harus tanya" Diandra agak terkejut saat seseorang menepuk pundaknya. "Carlo abis nemuin lo?" tanya Michell marah. Nyawa Diandra belum semuanya terkumpul. Masih berada di awang awang. Semenjak Carlo sialan itu menciumnya. Jiwa nya seperti tidak rela dan meninggalkan tubuhnya. Zela, Zelo, dan Bulan hanya saling menatap satu sama lain melihat kebungkaman Diandra. Biasanya juga nyerocos. "Dii jawab" Michell yang kesal mengguncang guncang bahu Diandran sukses membuat jiwa Diandra kembali ke raganya. "Apa?!" "Carlo abis nemuin kamu" Diandra mengangguk. Michell meradang berani beraninya Carlo menemui Diandra. Harus diberi pelajaran bule kampret satu itu. Mau bapaknya mafia Michell nggak takut. "Mau kemana?" Diandra menarik tangan Michell saat lelaki itu ingin pergi. "Mau hajar itu bule tengik"  "Nggak usah dia udah lepasin aku. Kalian bisa tenang dia nggak bakal ganggu aku lagi" senyum terpaksa menghiasi bibir mungil Diandra. Deringan ponsel Diandra mengintrupsi perdebatan panas mereka. Tanpa melihat sang penelepon Diandra langsung mengangkatnya. "Assalamu'alaikum. Siapa ya?" "......" Diandra terpekik. Astaga ini suara Kak Rio. Langsung saja Diandra menjauh dari teman temanya yang menatapnya bingung. "Ada apa kak? Aku masih disekolah ini" 'Nanti pulang sekolah kita fiting baju' "Oke kak. Alamatnya dimana?" 'Aku jemput' "Aku bawa mobil kak" 'Oh yaudah datang aja di jalan xx. Disitu ada butik besar. Aku tunggu kamu didepan situ' "Siap kak" Tanpa salam Rio memutus sambungan teleponya. Agak sebal sih. Tapi entah mengapa mendengar suara Rio hati Diandra menjadi berbunga bunga. "Panas ni anak. Abis terima telpon senyum senyum sendiri" ujar Zela memegang jidat Diandra. "Kesambet setan telepon kali" tambah Zelo. "Aku bahagia banget" gumam Diandra sembari berjalan riang ke kelasnya. Meninggalkan teman temanya dengan semiliar pertanyaan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN