ILYMH - Pilih Baju Pengantin

1391 Kata
Malang sungguh malang nasib Diandra. Niatnya ingin segera melesat menemui Rio di butik. Tapi ditengah jalan ia kebelet. Jadi harus muter jalan mencari wc umum. Saat keluar dari wc umum tak sengaja atau memang disengaja. Sebuah mobil truck menciprati Diandra dengan air comberan genangan air hujan. Mengakibatkan wajah dan baju Diandra menjadi bercak bercak kecoklatan. Akhirnya dengan kesal yang tak terkira Diandra pulang dulu kerumahnya untuk berganti pakaian. Dirumah sepi. Diandra mengangkat bahunya. Mungkin Maminya yang biasanya selalu stand by dirumah itu sedang arisan. Debay juga mungkin diajak Maminya. Tapi beruntunglah Maminya tak ada dirumah. Kalau ada mungkin supir truck itu bakalan diincar sama Mami. Karena telah menodai kecantikan dan keimutan Diandranya. Dengan kecepatan kilat melebihi larinya boboboy. Diandra sudah rapi kembali dengan gaun santai tanpa lengan dengan rok yang mengembang lima centi diatas lutut. Aksen di roknya bunga bunga abstrak yang indah. Rambutnya hanya dikelabang sederhana. Poni yang biasanya ia jepit atau diarahkanya kesamping sekarang Diandra mengarahkanya kedepan.  Perfect..dan manis. Dua kata itu yang menjadi kata sanjungan yang cocok buat Diandra kini. Dering telepon menyentak Diandra. "Hallo kak" 'Lama banget sih. Kamu mau kakak jadi gosong nunggu kamu!' bentak Rio disebrang sana. Diandra terkesiap. Baru sekali ini Rio membentaknya apalagi suaranya benar benar dingin dan mengerikan. "I..iya kak. Aku ini mau kesana ta...tadi aku-"  'Sudahlah cepat banyak yang menunggumu. Kau membuatku malu' Tut.. Sambungan telepon diputus sepihak oleh Rio. Dengan hati resah juga bimbang. Diandra pergi ke butik tempat dimana dia akan fiting baju. - Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Itu pepatah yang tepat untuk melukiskan perasaan Rio saat ini. Berjam jam menunggu Diandra dengan keadaan cuaca yang sangat panas. Setelah Diandra datang dirinya di gosipi oleh para karyawati butik.  "Astaga itu adiknya mau dikawinin gila juga" "Tapi ganteng mbak. Aku mah juga mau dikawinin sama mas itu" "Iya sih ganteng tapi kaya nya kelainan. Ngawinin anak dibawah umur. Kasihan adek itu pasti kena tekanan deh. Liat aja Mer badanya cowoknya besar berotot. Kasihan kan adeknya badanya aja mungil gitu bisa patah patah dia" Rio meradang mendengar cemoohan yang dilontarkan untuknya. Pingin deh Rio cabein tuh mulut mbak mbak diujung sana yang sedang bergosip. Memang dia siapa berani beraninya menggosipi Rio. Apa mereka sudah lebih baik? Bajunya aja keketatan gitu. Gak pantes kerja dibutik. Pantesnya kerja di club malam jadi jalang. Ups... Diandra yang mendengar percakapan menyesakkan itu mendongak menatap Rio. Terlihat rahang Rio mengeras sembari menatap tajam mbak mbak yang masih asik bergosip di ujung sana. Tapi naasnya mbak mbak tukang gosip itu nggak menyadari sedang ditatap oleh sang predator. "Kak udah ya gak usah didengerin" ujar Diandra mencoba menenangkan Rio sambil mengelus lengan Rio. Rio menoleh menyentak tangan Diandra yang mengelus lenganya.  "Semua gara gara kamu!" tuduh Rio membuat Diandra sesak kekurangan oksigen. "Arghh ini menyebalkan. Dinikahkan dengan anak bau kencur" ujar Rio frustasi. Mata Diandra berkaca kaca hatinya sakit sangat sakit.  "Maaf kak.. aku memang memalukan" ujar Diandra menundukkan kepalanya dalam. Terbesit rasa sesak didada Rio saat mendengar suara sendu Diandra. Tapi kemarahanya dan rasa malunya mengalahkan rasa sesak itu. Ingin merengkuh tubuh mungil Diandra. Namun egonya terlalu besar. "Sudahlah ayo masuk" Rio berjalan mendahului Diandra memasuki ruang sang designer. Diandra mengekori Rio masih dengan menundukkan kepalanya. Bibirnya menggeretu pelan. Menyumpah serapahi mbak mbak tukang gosip itu. "Semoga ntar dikawinin sama kakek kakek bau tanah" gerutu Diandra. - "Hei Pak Rio mari duduk dulu" ujar designer itu dengan gaya gemulainya. Diandra mengamati designer itu dengan kening berkerut.  'Ini cowo apa cewe?' batin Diandra. Jika dikatakan lelaki dandananya persis perempuan. Jika dikatakan perempuan itu jakun tumbuh subur noh di lehernya. Diandra jadi bingung sendiri. 'Ahh mungkin dia berkelamin ganda' putus Diandra akhirnya. "Ini calon bapak?" tanya disigner itu pada Rio. "Iya" jawab Rio datar. Designer itu berganti memandang Diandra dengan tatapan takjubnya. Karena baru sekali ini ia mendapatkan seorang pengantin wanita yang masih remaja dan cantik luar biasa. Apalagi dengan semburat merah yang menghiasi pipinya.  "Hello darl...perkenalkan namaku Viko tapi itu kalo siang. Kalo malam Vika darl" ujar Viko atupun Vika itu sembari menjulurkan tanganya. Diandra membalasnya dengan gugup.  "Diandra.. jadi emm.. aku memanggilmu apa sekarang ini?" "Panggil saja aku madam. Okey darl... dan kalau aku bisa katakan kau sangat cantik darl. Berapa usiamu?" puji Madam disertai pertanyaan. "Mau tujuh belas" jawab Diandra malu malu. Rio yang merasa diabaikan hanya mendengus sebal.  "Wahh muda sekali. Sungguh Rio sangat beruntung ya" goda Madam dengan gaya centilnya. Berhasil membuat Diandra blushing gak karuan.  Rio jengah lelah mendengar pemujian yang dilakukan Viko terhadap Diandra. Apasih lebihnya Diandra. Cantik sih tapi datar. Bukan tipe tubuh ideal Rio. "Apakah bisa langsung saja. Aku tak punya banyak waktu" ujar Rio mengintrupsi pembicaraan Diandra dan Viko. "Baiklah. Mari Ann aku akan mengukur mu terlebih dahulu" ucap Madam. Rio mengernyit mendengar panggilan Viko untuk Diandra.Ann terlihat menggemaskan' Rio menggeleng kan kepalanya. Mencoba mengusir pikiran gilanya. Menggemaskan dari mananya coba? Menyebalkan mah iya. "Viko apakah tidak ada baju yang sudah jadi? Pernikahanku akan diselenggarakan beberapa hari lagi. Waktunya mepet" ujar Rio setelah mengingat kalau pembuatan baju akan memakan banyak waktu. Sedangkan beberapa hari lagi pernikahan tak wajarnya akan diselenggarakan. Viko terlihat menimbang nimbang dan berpikir.  "Tapi darl.. ukuran pengantinmu ini sangat kecil. Tapi coba aku carikan dulu" Viko berjalan menuju walk in closetnya. Rio dan Diandra membuntutinya.  "Em..ini terlalu besar pinggulnya. Dan ini dadanya terlalu besar" ujar Viko memilah milah baju pengantin yang semuanya serba wah. Pipi Diandra memerah saat mendengar kalimat terakhir Viko. Apa mungkin masih ada baju pengantin seukuran Diandra? Biasanya baju pengantin cembung dibagian dadanya. Sedangkan punya Diandra. Segenggaman Rio saja mungkin masih longgar. Rio mendengus sebal. Beginlah susahnya menikahi anak dibawah umur yang badanya terlalu kecil.  Diandra berlonjak senang tatkala melihat baju yang ditenteng Viko. Baju itu terlihat sangat pas jika melekat ditubuhnya. Warnanya putih tulang aksenya seperti kebaya pada umumnya. Namun panjang dibagian bawahnya. Bisalah buat menyapu jalanan. Viko menghampiri Rio dan Diandra. "Bagus bukan Ann?" tanya Viko sambil memamerkan gaun itu didepan mata Diandra dan Rio. "Cobalah" Diandra mengangguk lalu meraih gaun itu. Berlari lari kecil menuju kamar pas yang berada diujung walk in closet milik Viko. Setelah beberapa saat Diandra keluar dengan mengenakan gaun tersebut. Agak tidak percaya diri sih sebenarnya. Karena bentuk dadanya yang terkesan tidak menonjol. Apalagi bentuk gaunya yang memanjang membuat Diandra agak kesusahan saat berjalan. Rio yang tengah duduk sembari memainkan ponselnya. Langsung mendongak menatap pemandangan indah dihadapanya. Tanpa sadar Rio bangkit dari duduknya. Menghampiri Diandra yang menunduk malu malu. "Wahh cantik sekali..." ujar Viko bahagia sambil bertepuk tangan kecil. Puas akan jahitanya yang melekat sempurna di badan mungil Diandra. Rio memegang dagu Diandra. Mengangkat kepalanya supaya menatap mata Rio. Deg..deg.. Jantung Rio berpacu lebih cepat dari biasanya. Diandra benar benar cantik..sangat cantik. 'Astaga...dia begitu manis dan cantik' puji Rio dalam hati tentunya. Masih gengsi untuk memuji Diandra secara langsung. "Emm..bagus aku ambil yang ini saja. Dan Viko aku ingin memakai jas merah hati okay. Tolong siapkan.." Rio melepaskan dagu Diandra. Membuat Diandra mendesah kecewa. 'Huft..aku fikir kak Rio akan memujiku. Kepedean sekali aku ini' batin Diandra. Viko datang membawa gantungan setelan pakaian yang akan dikenakan Rio. Langsung menyerahkanya pada Rio.  Lalu Rio berjalan santai ke kamar pas. Viko menghampiri Diandra dan mengamatinya intens. "Wajahmu putih dan mulus sekali. Seperti girl band Korea. Uhhh imut hidungmu kecil dan bibir mu mungil sekali seperti bayi" gemas Viko dengan gaya centilnya. "Terima kasih Madam"  Karena terlalu asik berbincang dengan Madam. Diandra sampai tak menyadari kehadiran Rio disisihnya. Rio berdehem untuk mengintrupsi acara mengobrol mereka. Diandra menoleh dengan gerakan slow motions. Mulut Diandra menganga begitu melihat Rio yang tampan dan gagah mengenakan setelan merah hati tersebut. Bahunya yang tegap begitu meanly.  "Pasangan yang begitu serasi. Cantik dan tampan" puji Viko. Diandra mendekat kearah Rio. Tatapanya tak lepas dari wajah tampan Rio. Rio mengangkat sebelah alisnya.  "Kenapa?" "Tampan sekali kak" puji Diandra. "Memang..sudah tidak diragukan" ucap Rio menyombongkan diri. "Aku mau semua ini. Nanti uangnya aku transfer" - Diandra pulang dengan membawa dua paper bag berlogo V. Mami dan Chello menyambut kedatangan Diandra di pintu rumah. Diikuti Rio dibelakangnya. "Mami aku pulang" ujar Diandra sambil mencium pipi Maminya dan Chello bergantian. "Itu apa nak?" tanya Mami Diandra yang memang belum tau kalau Rio dan Diandra sudah fiting baju. "Gaun pengantin aku Mi bagus banget" jelas Diandra antusias. "Oh iya.. Mami senang mendengarnya"  "Ayo masuk Nak Rio" lalu Rio masuk kedalam rumah calon mertuanya. Singgah sebentar tidak akan kena denda kan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN