Detik berganti menit...Menit berganti jam... Jam berganti hari.
Tak terasa besok adalah akad nikah Rio dan Diandra. Hari ini Diandra sama sekali tak diperbolehkan keluar rumah. Katanya sihh dipingit.
Sekolah? Sudah hampir lima hari ia absen. Teman temanya juga sering ngirimin pesan ke Diandra. Tapi Diandra bilang kalau dia lagi liburan ke luar negri.
Hanya itu alasan yang mampu membuat teman temanya tak akan ke rumahnya. Jika sampai itu terjadi. Game over!
Teman temanya yang ember bocor itu bakalan ngumumin pake toa sekolahan kalau Diandra akan menikah. 'Kan gaswat.
Diandra pasti dikeluarkan dari sekolah. Kan tidak ada gitu sekolah yang mengizinkan salah satu siswinya menikah.
Yahh sebenarnya dengan menggunakan pengaruh Papinya. Diandra sih bisa bisa saja masih tetap sekolah walau seisi sekolahan tau dia sudah menikah.
Tapi no way! Untuk urusan yang satu ini. Diandra tak ingin melibatkan Papinya. Lagian Diandra juga malu. Mau ditaruh mana mukanya nanti jika seisi sekolahan tau bahwa dia gadis perawan berumur 16 tahun. Menikah dengan om om yang sudah berkepala dua.
Oh my good! Bisa dibayangkan betapa rumitnya hidupnya kelak.
Diandra menekuk wajahnya. Tatkala wajah Rio terlintas di dalam otaknya. Sudah lebih dari dua hari dia tak bertemu dengan Rio. Tersimpan sedikit kerinduan di dalam hatinya.
Mengingat beberapa hari ini dia selalu keluar bersama Rio. Yahh walaupun sepertinya Rio keluar dengan Diandra secara terpaksa. Tapi Diandra tetap menikmatinya. Membiarkan waktu yang merubah sifat dingin Rio padanya.
Saat ini Diandra sedang dilulur oleh Mami nya. Kata Mami sihh biar kulit lebih kinclong dan membuat orang terkagum kagum dengan kecantikan Diandra.
Masa bodo lahh... Diandra sekarang mencoba menuruti perintah Maminya. Tak ingin membuat dosa dengan menolak luluran Maminya. Gratis juga.
Seorang anak laki laki seumuran dengan Diandra tiba tiba saja muncul. Berdiri di hadapan Diandra dan mengamati sesekali tertawa geli.
Kehadiranya sama sekali tak diinginkan oleh Diandra. Mata Diandra melotot kearah anak laki laki itu.
"Lo ngapain di kamar gue! Keluar lo" usir Diandra sadis. Kakinya menendang nendang kaki lelaki itu yang tidak lain dan tidak bukan adalah sepupunya sendiri. Namanya Iqbal. Wajahnya ganteng. Sebelas dua belas sama Iqbal Cjr. Tapi tingkahnya lebih mirip sama setan.
"Idih lo mau kawin juga. Tingkah masih kaya bocah"
"Kawin kawin.. emang gue kambing"
"Gue nggak bilang ya.. lo sendiri yang bilangin diri lo sendiri kambing" Iqbal mengibas kibaskan tanganya. Tak mau disalahkan.
Diandra menutup matanya. Berharap saat ia membuka matanya kembali. Sosok setan yang menjelma jadi sepupunya ini sudah lenyap. Dari hadapan Diandra. Kalau bisa juga lenyap dari muka bumi ini.
"Ngapain lo merem merem gitu. Mau semedi?"
Oh God!! Masih ada. Rasanya Diandra pingin tendang Iqbal sampai bulan. Biar dikerubutin sama alien yang mau minta tanda tangan sama dia.
"Keluar! Nggak sopan tau lo masuk ke kamar cewek!"
"Lo nggak pernah diajarin sopan santun ya"
Plak!
Dengan seenak jidat dan tanganya. Iqbal memukul kepala Diandra dengan gulungan kertas yang dibawanya sejak tadi.
"Udah nggak usah berantem terus. Iqbal jagain Diandra bentar ya. Tante mau nengokin Chello"
"Nggak mau Mi. Aku nggak mau dititipin ke Iqbal" jerit Diandra frustasi. Gimana nggak frustasi. Seruangan sama Iqbal mungkin bisa membuat rambut rambutnya rontok. Dan kulitnya cepat keriput karena kebanyakan marah.
Mami tetap melenggang pergi tak memperdulikan jeritan keputus asaan Diandra.
"Alay tau nggak" seru Iqbal yang sudah berbaring nyaman di atas ranjang Diandra.
"Ehh bangun nggak lo dari situ"
"Entar panu lo nular ke gue"
"Kadas kurap lo juga"
Iqbal mendongakkan kepalanya menatap Diandra dengan tatapan yang sulit dijabarkan oleh otak manusia.
"Enak aja lo ngomong. Gue sekali perawatan kulit langsung ke Korea. Kulit lo aja kalah mulus sama gue" balas Iqbal dingin. Diandra langsung bungkam. Kali ini Diandra kalah telak. Yang diucapin sama Iqbal itu bener banget.
Diandra akui kulit Iqbal lebih putih dan lebih mulus darinya. Tapi kan Arghhhh!!! Diandra benci mengakui itu.
"Alah juga paling operasi plastik disana"
"Suntik suntik silikon"
"Kemaren aja kulitnya gak semulus itu"
"Hidungnya juga. Kemaren nggak semancung itu"
"Bibirnya jadi pink gitu lagi. Uhh pasti dia sulam bibir"
Tak henti hentinya Diandra menggerutu dengan volume kecil tentunya. Jika Iqbal denger habis riwayatnya. Tinggal nama sudah.
"Kalo mau ngomongin orang pelanin volume lo" teriak Iqbal.
Diandra menoleh ke Iqbal. Untunglah dia masih tiduran.
Tanpa memperdulikan adanya Iqbal. Diandra yang hanya memakai lilitan kain yang pendeknya sepaha berdiri dan menghampiri kaca.
"Jangan lihatin gue" tukas Diandra yang melihat Iqbal yang sudah bangun dan duduk dipinggiran ranjang.
"Yee siapa juga yang liatin. Nggak nafsu gue sama lo" balas Iqbal.
Diandra menggembungkan pipinya kesal. Tak perduli dengan maskernya yang mulai retak retak.
Senyum penuh misteri muncul di bibir Diandra.
"Udah gila ya lo. Senyum senyum sendiri" ejek Iqbal.
Diandra tak menggubrisnya. Ia perlahan lahan melangkah kearah Iqbal. Matanya tak henti hentinya menyorot Iqbal dengan lekat.
"Gila ini anak. Woi sadar woi"
"Kerasukan nih Diandra. Woi siapapun tolong gue! Diandra kesurupan" teriak Iqbal yang beringsut menjauh tatkala Diandra semakin dekat. Wajahnya yang bermasker putih menambah kesan seramnya.
Kini Diandra sudah berada di depan Iqbal yang menutupi wajahnya dengan tangan. Sesekali Diandra melihat Iqbal mengintip disela sela jarinya."Apa apaan lo. Turun!" histeris Iqbal saat Diandra duduk dipangkuanya dan memeluk lehernya.
"Ini kerasukan setan b***h kali ya" gumam Iqbal sendiri.
"Lo beneran nggak nafsu sama gue?" tanya Diandra. Suaranya ia buat seserak mungkin. Kalau Iqbal normal pasti dia bakalan terangsang. Dan jika Iqbal terangsang. Semua ucapan Iqbal tadi bohong.
"Ishh Di turun!"
"Gue juga cowok kali Dii. Aelahh"
"Turun sebelum lo menyesal"
Diandra masih menggeleng. Ingin mengetes sejauh mana Iqbal akan bereaksi padanya. Roman romanya sih dia mulai terangsang.
"Mampus! Dia bilang nggak nafsu. Tapi ngeliatin gue segitunya banget. Laki laki suka gitu ya. MUNAFIK!" batin Diandra kesal.
"Turun Dii gue bilang"
"Sebelum gue apa apain lo" Iqbal mulai frustasi sendiri.
"Emang lo mau apain gue?"
"Lo nggak bakal berani macem macemin gue. Gue sepupu elo" tantang Diandra. Membuat Iqbal naik pitam.
Iqbal mendorong Diandra sampai p****t Diandra mendarat tak sempurna di lantai.
"Gue laki laki Dii! Kalo lo godain gue kaya gitu lagi. Gue nggak bakal nahan lagi"
"Biar lo sepupu gue sekalipun" setelah mengatakan kalimat mengerikan terkahirnya. Iqbal segera keluar dari kamar Diandra.
Diandra hanya bisa mengomel dan mengomel.
"Huu katanya nggak nafsu!"
*****
Terlalu penat dan terlalu bosan. Seharian ini Rio sama sekali tak diperbolehkan sang Mommy ke kantor.
Alasanya besok Rio akan nikahan. Nanti capek.
Hell..
Nikahnya kan besok. Bukan sekarang. Lagian apa susahnya tinggal ijab kabul. Udah gitu aja kan?
Besok acaranya juga cuman ijab kabul sama ngumpul keluarga. Resepsi? Kaya nya kalau mau menyelenggarakan resepsi harus dipikir pikir dua kali.
Pasalnya Diandra masih sekolah. Tak enak rasanya jika orang lain selain keluarganya mengetahui hal nista ini.
Mau ditaruh mana muka Rio?!
Rio yang mempunyai wajah ganteng, berwibawa, dan dingin ini. Bersanding dengan gadis umur 16 tahun yang mempunyai wajah baby face.
Sudah dipastikan mereka akan bertanya macam macam. Dan tak henti hentinya menggoda dan menyudutkan Rio. Please! Demi Eyang Subur Rio paling tak suka yang namanya disudutkan. Rio tak suka digoda!
"KAK RIO!"
Rio menutup matanya dan menggosokkan kedua tanganya ke wajah dengan kasar.
Suara cempreng itu membuat kepenatan Rio semakin menjadi jadi.
Sudah mengasingkan diri di rooftop masih aja ditemuin.
"Kak ngapain lo disini?"
"Roman romanya ada yang yang gak suka dipaksa nikah ni yee"
"Ekhem cie cie!"
Kuping Rio memanas. Adiknya ini benar benar ratu pengganggu. Jika ia tak menyayangi adiknya. Mungkin ia akan menendangnya sampai ke Afrika. Biar ditemani gajah Afrika. Sekalian aja kalau bisa dimakan sama harimau atau buayanya.
"Kak lo dipanggil Mommy noh"
"Bilangin gue ogah" tolak Rio ketus.
"Dosa tau nggak ngelawan orang tua!" ujar Nisa memperingatkan.
"Cih! Kaya lo nggak suka ngelawan aja. Kebandelan lo itu lebih dari gue ya"
"Jadi tolong ajalah sadar diri" balas Rio.
"Yee.. biarin. Gue ngebandel nya biasa aja. Nah lo ngebandelnya sampe ke bar mabuk mabukkan" balas Nisa sengit. Mengungkit kejadian beberapa bulan yang lalu saat Rio.pulang dalam kondisi mabuk parah."Gue udah dewasa. Dan itu wajar"
"Emang lo nggak capek buat dosa terus menerus. Malaikat samping kiri lo aja udah bosen nyatat keburukan lo. Kasihan tau nggak malaikat kebaikan lo nggak pernah nyatat. Kertasnya aja hampir berdebu" ujar Nisa panjang lebar.
Rio hanya bisa menghela nafas panjang. Padahal dikeluarganya ini tak ada yang memiliki bakat berpidato ataupun berkhotbah. Baik dirinya Mommy ataupun Daddynya.
Nah ini si kunyuk malah pinter banget rangkai kata kata. Harus banyak banyak nyebut ini mah.
Rio menyentil kening adiknya lalu turun kebawah. Menemui Mommy tercintah.
*****
Sore. Mami Rio mengajak anaknya mengunjungi makam sang kakek.
Terlihat disini makam kakeklah yang terapi dan terbersih. Bagaimana tidak hampir setiap hari Mommy menyuruh Rio ke makam Kakeknya untuk membersihkan.
Rio heran mengapa sang Mommy tak ingin menyuruh juru kunci saja yang membersihkanya. Jika hanya untuk membayar juru kunci membersihkan makam setiap hari. Keluarga Rio tak akan bangkrut.
"Ini nak taburi bunga. Dan mintalah restu kakekmu" ujar Mommy memecah keheningan.Langit sore yang berwarna jingga menjadi saksi Rio. Dengan segenap ketulusanya ia meminta restu pada sang kakek yang sudah berada di alam lain.
Setelah mengecup batu nisan kakeknya. Rio dan sang Mommy keluar area pemakaman dengan perasaan lega yang tak terkira.
*****
Jam beker yang terletak di atas nakas sudah menunjuk ke angka sebelas. Hampir jam setengah dua belas lebih tepatnya.
Namun mata Diandra sulit sekali terpejam. Hanya guling sana guling sini seperti remaja yang sedang falling in love. Hell!
Matanya nyalang menatap langit langit kamarnya. Entah mengapa jantungnya berdegup kencang malam ini.
Hanya membayangkan besok hari pernikahanya dengan Rio perutnya terasa mules dan bulu kuduknya meremang.
Tok..tok...
"Gue tau lo belum tidur. Gue masuk ya" ujar suara Iqbal dari luar.
"I-"
Belum juga diizinin Iqbal sudah main masuk duluan.
"Nggak usah izin deh Bal kalo langsung nyelonong gitu aja" ujar Diandra kesal. Disandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Mood nya untuk tidur sudah menguap. Mending begadang aja sama Iqbal.
"Hehe kaya nggak tau gue aja. Lo udah kenal gue berapa tahun sih?"
"Dari bayi juga gue udah kenal lo" jawab Diandra nggak sellow.
"Kenapa lo belum tidur?"
"You know lah. Besok gue nikah dan gue-"
"Nerveous kan" sahut Iqbal tepat sasaran.
"Iya Bal gue takut. Secara gitu ya gue masih umur 16 dan Kak Rio umurnya 27. Gila jauh banget kan"
"Sebaiknya lo kabur aja deh Dii" usul Iqbal. Diandra menimbang nimbang. Kabur? Sepertinya oke juga. Tapi Diandra mau kabur juga mikir mikir. Ntar makan apa? Kalau mau jajan gimana. Mau kerja kan belum punya ktp masa jadi kuli panggul? Enggak banget sumpah.
Lagian kalau kabur. Memang ada kesempatan kedua buat Diandra nikahin cowok seganteng dan setajir Rio. Kaya nya nggak sih!
"Nggak deh Bal. Kabur banyak resikonya"
"Kabur sama gue aja Dii" ajak Iqbal bersemangat.
Diandra menyatukan kedua alisnya. Iqbal banyak berubah dari terakhir mereka bertemu dua tahun yang lalu.
Sekarang Iqbal tingkahnya aneh. Seperti suka mencuri curi pandang kepada Diandara. Dan banyak sebagainya.
Diandra sih merasa kalau Iqbal suka padanya. Tapi segera ia tepis jauh jauh. Sepupu! Ingat status Iqbal sepupu. Jadi mana mungkin kan? Yah mana mungkin.
"Gila lo ah! Ajak kabur aja noh siapa tuh ya. Ah ya Shilla"
"Ogah matre dia. Bisa miskin gue nanti" balas Iqbal.
"Gue juga matre kali Bal. Dan lagian harta bokap lo nggak bakal habis. Secara bokap lo kan kaya abis"
"Iya juga sih"
"Yaudah sana pergi. Gue mau tidur. Gue nggak mau sampe ada kantong mata gue besok" Diandra segera berbaring dan menarik selimut sampai lehernya.
"Tap-"
"Good night" sela Diandra cepat. Lalu dengan gontai Iqbal keluar dari kamar Diandra.
*****
Tbc
Hayoo ada apa ya dengan Iqbal? Dia suka nggak ya sama Diandra.
Komen yaa!!
Oh iya bagi readers yang mau ngasih saran buat cerita ini silahkan komen.
Kalau saranya bagus. Mungkin gw bakalan masukin ke beberapa scan. Yang mau aja ya..
Ditunggu partisipasinya..
Byee