ILYMH - Akad Nikah

1035 Kata
Rio meremas remas tanganya di bawah meja. Tinggal beberapa menit lagi acara akad akan dimulai. Tinggal menunggu kehadiran Pak Penghulu. Walau pernikahan ini sama sekali nggak diminati Rio. Tapi tetap saja ia grogi setengah mati. Kalau salah ngucap gimana? Kan malu banget. Banyak anggota keluarganya yang datang dan mengikuti acara akad ini.  Kalau salah martabatnya sebagai ceo runtuh sudah. Masa ceo yang mempunyai lidah tajam seperti Rio yang mampu mengalahkan para pesaingnya di dunia perbisnisan. Harus salah ngucap di depan Pak Penghulu. Hah enggak banget deh! "Dad.. penghulunya kok lama banget sih" Tanya Rio pada sang Daddy yang duduk tepat di sisi meja lainya. "Satu menit lagi Yo" "Nggak sabaran banget sih! Kaya nya ngebet banget nikah sama Diandra" ejek Daddy. "Biasa aja. Nggak ada feel nya sama sekali"  Saat mengatakan itu tentu saja Rio berbohong. Bagaimana tidak ada feel nya jika jantungnya cenat cenut terus dari tadi. Sekali lagi Daddy hanya tertawa kecil. Yang tampak menjengkelkan dimata Rio. Jika bukan Daddynya bakal Rio mutilasi sekarang juga. ***** Mata Nisa terus mengarah ke tangga tempat kakak iparnya nanti akan muncul bersama kedua orang tuanya. Mungkin. Dari awal mendengar bahwa kakak nya akan dijodohkan Nisa kepo banget sama wajah calon kakak iparnya itu. Dia sama sekali belum tau bagaimana rupanya. Pernah dia berfikir bahwa calon kakak iparnya itu mirip seperti hulk atau alien bermulut monyong dan bergigi tonggos. Sehingga membuat kakak nya selalu uring uringan.  Jika memang benar begitu. Nisa tak akan tinggal diam. Calon kakak iparnya itu bakalan ia bully habis habisan sampai minta digugat cerai. "Nisa kamu kenapa kok senyum senyum sendiri?" Tanya Mommy yang sedari tadi memperhatikan Nisa senyum senyum nggak jelas. "Nggak papa Mom. Cuman nggak sabar aja mau lihat wajah kakak ipar" "Cantik apa nggak"  Mommy menghela nafas pendek pendek. Memilih fokus ke Rio saja yang nampak sekali kegugupanya.  Kali ini Nisa benar benar yakin. Kalau calon kakak iparnya itu mukanya nggak banget. Dilihat dari wajah Mommy yang berubah dramatis itu.  "Kasihan deh kakak gue" batin Nisa yang betul betul kasihan terhadap Rio. Seorang ceo ganteng yang sudah diakui kegantenganya oleh UNESCO. Memiliki istri buruk rupa.  Saat ini Nisa hanya bisa mendo'akanya saja. Semoga kakaknya nggak akan berbuat nekat dengan gantung diri atau minum racun tikus. Maybe! "Nisa" panggil Mommynya. "Apa Mom?" "Mommy mau kamu berjanji. Setelah kamu melihat kakak iparmu jangan pernah beri tahu siapa siapa selain keluarga yang datang kesini" "Mama mohon ya nak" Mommy menggenggam tangan Nisa. Telapak tanganya dingin. Wajahnya juga penuh pengharapan. Nisa yang hanya seorang anak. Akhirnya mengangguk dengan perasaan yang campur aduk. "Gaswat! Beneran nih calon istrinya kak Rio buruk rupa" ***** Diandra sekarang sudah siap dengan gaun pengantinya. Dia akui kalau dirinya sangat cantik. Baru sekali ini ia memakai make up. Wajahnya jadi nampak berbeda dari biasanya. Yang paling mencolok perbedaanya adalah bagian mata. Entah mengapa dari sekian banyak aksen di wajahnya. Hari ini Diandra lebih menyukai dan memuji muji matanya. Terlihat indah dengan bulu mata palsu dan lensa berwarna grey. Walaupun matanya sedikit menjadi berat. Tapi tak masalah. Diandra rela memakai riasan mata seperti ini lagi jika itu akan membuatnya tampak lebih dewasa. "Wah nak kamu cantik sekali" puji Maminya. Diandra memutar bola matanya. Sudah 20 kali Maminya mengatakan itu. Awalnya sih senang bukan main. Tapi lama lama enek juga dipuji puji terus. "Mi! Mami nggak nangis aku mau nikah?" Tanya Diandra. Soalnya Diandra sering melihat di sinetron sinetron. Bahwa kalau anaknya akan menikah sang Mami akan menangis. Tak ingin jauh dari anaknya. Sekalinya sinetron sinetron itu bohong. Sekarang Maminya nggak menangis. Menampakkan wajah sedih pun tidak. Hanya ada senyuman dan kebahagiaan. "Buat apa nangis nak. Mami bahagia kamu bisa nikah sama nak Rio" "Dia ganteng dan sudah dipastikan masa depan kamu terjamin" "Lagian kalau Mami nangis. Riasan Mami luntur. Sia sia aja dong dandan dari subuh" Ujar Maminya sambil cekikikan. "Iya ya.. benar juga ngapain harus menangis? Berarti sinetron sinetron itu bohong ya Mi?" Tanya Diandra polos. "Iya sayang. Itu namanya over acting. Dan Mami paling gak suka kaya begituan. Alay!" Diandra tersenyum. Diandra bahagia mempunyai Mami seperti ini. Tak suka memainkan drama dan ceplas ceplos apa adanya. Walau sering nyakitin dihati. Tapi percayalah Diandra sayaang banget sama Maminya. Suara pintu dibuka mengalihkan perhatian Diandra dan Maminya. Papi yang sangat tampan dengan jas formal berdiri di ambang pintu. Senyumnya merekah lebar. "Ayo nak kita ke bawah" "Nak Rio sudah mengucapkan ijab qabul" ***** "Saya terima nikah dan kawinya Diandra Ayudia Pratama Bin Abraham Pratama dengan sprangkat alat shalat serta emas dua ratus gram dibayar TUNAI!" Ucap Rio sekali tarikan nafas. "Sah?" Tanya Pak penghulu kepada para saksi. "Saaah!!!" Jawab para saksi mantap, bertenaga dan penuh kobaran semangat. "Allhamdulillah" beberapa waktu suasana hening. Saat Pak penghulu melantunkan do'a. "Amin" Rio mengusapkan telapak tanganya ke wajahnya. Rasa lega langsung menyergap. Rio sudah mendapatkan kepuasan batinya. Mengucapkan ijab qabul tanpa ada cacat sedikit pun. Satu tarikan nafas pula. Perlu ini diberi uplause. "Selamat nak" Daddy menepuk nepuk pundak Rio. Merasa bangga sekaligus terharu. Ingin menangis tapi gengsi dong. Tiba tiba ruangan jadi riuh. Para tamu berbisik bisik. Rio dengan gerakan slow motion menengok ke arah tangga. Dimana mata para tamu terpusat. Oh my! Jantung Rio langsung berdebar debar. Melihat Diandra istri sahnya berjalan pelan pelan diantara Mami dan Papinya. Ditanganya dia membawa sebucket bunga mawar putih yang terangkai indah. Sebuah perpaduan yang sangat elegan. Senyumnya mengembang dan Rio akui itu sangat cantik sekali.   "Ini gue dilema banget. Disisi lain gue nggak suka punya istri SMA. Tapi disisi lain juga gue merasa beruntung banget. Istri gue cantik begitu kaya bidadari tanpa sayap" ujar Rio dilema sendiri. Saat Diandra mendekat. Rio langsung berdiri tanpa disadarinya. Matanya masih memandang lekat wajah cantik manis Diandra. Entah faktor blush on atau memang dia sedang malu malu. Pipi Diandra merah padam dan matanya menatap kearah lain. Tak berani menatap mata Rio. Diandra memberikan bucket bunga itu pada Maminya. Saat Rio mengulurkan tanganya. Sangat kikuk dan malu tentunya. Diandra mencium telapak tangan Rio. Lelaki yang sudah sah menjadi suaminya. Setelah itu karena desakkan sang Mommy. Rio mencium kening Diandra singkat. Tak ingin berlama lama menahan debaran jantung yang seakan ingin meledak ini. ***** Tbc Jangan panjang panjang ya! Nanti jadi pada males bacanya. Sedikit dikit aja tapi tiap hari. SE-7!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN