ILYMH - Felicia

1121 Kata
Author's pov Rio menggendong Diandra yang tengah pingsan ala bridal style. Semua mata yang ada di restauran itu menatap kagum kearah Rio. Apalagi para para wanita. Mereka mengeluarkan ponsel mereka masing masing dan memotret Rio.  Mereka fikir Rio adalah super hero. Iya karena dia menolong gadis SMA yang tengah pingsan.  Tapi biarlah orang berkata apa. Yang terpenting sekarang. Secepatnya Rio harus membawa Diandra kerumah sakit terdekat.  Sedikit merepotkan sih. Harus turun menggunakan tangga berjalan. Habis liftnya rusak jadi mau tidak mau. Rio berlari larian dari satu tangga ke tangga yang lainya. Apalagi dengan Diandra didalam gendonganya. Benar benar berat. Setelah sampai diparkiran Rio memasukkan Diandra kedalam mobil dan dia juga masuk.  Rio lalu memacu mobilnya dengan cepat seperti orang kesetanan. Terlalu lebay sih. Padahal kan Diandra pingsan hanya karena ia mendengar bahwa seminggu lagi Rio akan menikahinya. Tapi tetap saja Rio merasa khawatir.  Tidak.. Rio bukan khawatir pada keadaan Diandra. Tapi dia khawatir kalau nanti kena omelan Momy nya. Terdengar sadis memang. Tapi itulah kenyataanya.  Sesampainya dirumah sakit Rio kembali menggendong Diandra dan berteriak teriak memanggil dokter.  "Dokter...dokter tolong dok istri saya. Eh maksudnya calon istri saya" masih saja Rio itu. Disaat sedang panik masih bisa mengoreksi kesalahan dalam berbicaranya.  Dua orang perawat datang tergopoh gopoh dengan mendorong brankar. Rio meletakkan tubuh lemas Diandra di atas brankar itu.  Kedua suster itu lalu membawa Diandra menuju ruang UGD. Apa tidak terlalu berlebihan ya membawa orang pingsan ke UGD. Ah terserah susternya sajalah.  Rio mengekori kedua suster yang tengah membawa Diandra. Saat brankar masuk kedalam ruang UGD. Rio juga akan ikut masuk. Namun seorang perawat lelaki menghentikanya.  "Maaf Pak. Bapak tunggu diluar saja"  "Tapi Mas itu ahh" Rio mengacak rambutnya frustasi. Kenapa sih dia jadi khawatir gini sama keadaan Diandra si gadis kecil itu. Ini gara gara melihat wajah pucat Diandra tadi. Jadi Rio merasa khawatir setengah mati.  Pintu ruangan sudah ditutup rapat. Rio mondar mandir di depan pintu. Menunggu kembalinya sang Dokter.  Karena lelah mondar mandir Rio memilih duduk dibangku tunggu matanya tak lepas dari pintu UGD.  Drt.. Drt.. Ponsel Rio bergetar. Rio segera merogoh sakunya dan mengambil ponselnya. Ditatapnya layar ponsel itu. Ternyata Daddy yang menelpon Rio.  "Hallo Dad" sapa Rio.  'Kok belum pulang Yo. Lagi dimana?' "Dirumah sakit Dad"  'Siapa yang sakit Yo?'  "Diand-" 'Apa!!! Diandra. Bagaimana bisa? Kamu apain hah!!'  Rio menjauhkan ponsel dari telinganya. Mengapa Daddy nya ini menjelma jadi Mommy sih. Biasanya juga kalem saja menanggapi masalah. Nah ini lebay banget. "Dia cuman pingsan Dad. Setelah mendengar bahwa kita akan menikah seminggu lagi. Dia shock" jelas Rio agar tak terjadi kesalah pahaman. Rio mendengar Daddynya disebrang sana menghela nafas berat. 'Ini memang sedikit mengejutkan untuknya. Tapi Daddy percayakan semuanya padamu. Buat dia yakin untuk menikah denganmu. Dan buatlah dia bahagia' "Dad tapi Rio sudah ada-" 'Felicia kan? Kamu sudah ada seorang yang kamu cintai kan?' Deg.. Bagaimana Dad bisa tau. Padahal kan aku sama sekali belum bercerita tentang Felicia. Pikir Rio. "Dad setelah aku pulamg nanti ada yang harus aku bicarakan denganmu"  'Baiklah Dad tunggu' Tut.. Rio menatap layar ponselnya nyalang. Disana terdapat foto wanita cantik yang beberapa tahun ini mengisi kekosongan hatinya.  Lalu Rio mengutak atik ponselnya dan mengganti wallpaper ponselnya menjadi foto Catty. Kucing kesayangan Rio. Rio juga menghapus seluruh foto kenanganya bersama Felicia. Mungkin dengan ini dirinya bisa melupakan Felicia. Bagaimanapun juga sebentar lagi ia akan menikah dengan Diandra. Rio harus move on. Demi kesejahteraan rakyat dirumahnya. Karena terlalu asik melamun Rio tak menyadari bahwa seorang dokter yang tadi merawat Diandra sudah berdiri dihadapanya. "Pak!" Seru Dokter. "Eh..eh iya Dok kenapa?" Rio merutuki kebodohanya dalam hati. Disaat seperti ini dia masih bertanya kengapa. Ya pastilah dokter itu ingin memberitahu kondisi Diandra. "Itu yang didalam keluarga anda?" "Iya Dok. Bagaimana kondisinya?" "Tak ada yang harus dikhawatirkan kondisinya baik baik saja. Hanya saja dia kelelahan dan kurang tidur. Sehingga tekanan darahnya rendah. Maka dari itu-" "Bolehkah saya masuk Dok" potong Rio. Yah anggap saja Rio tak sopan memotong motong ucapan sang Dokter yang tengah menjelaskan bagaimana kondisi Diandra. Tapi mau bagaimana lagi. Sebelum melihat kondisi Diandra secara langsung Rio tidak akan tenang. "Oh bisa Pak silahkan" Rio langsung bergegas keruangan dimana Diandra dirawat. Dengan pelan Rio memutar kenop pintu. Agar tak menimbulkan suara bising yang mengakibatkan Diandra terganggu.Disana Diandra terbaring lemah dengan infus disalah satu tanganya. Matanya terpejam mungkin sedang tidur. Sehingga Diandra tak tau akan kehadiran Rio. Rio duduk dikursi yang terletak disebelah brankar dimana Diandra berbaring. Memandangi wajah Diandra yang pucat. Menyisihkan anak anak rambut Diandra yang menutupi keningnya. Hati Rio mencelos. Bagaimana bisa ia menikahi seorang gadis SMA. Itu sama saja akan merusak masa depanya. Pasti fikiran Diandra nantinya akan terbagi antara belajar dan mengurusi suaminya.  "Nanti aku akan bicara pada Dad" gumam Rio pada dirinya sendiri. Mata Diandra yang mengerjap ngerjap membuat Rio tersadar dari lamunanya. Sekarang Rio menggenggam erat tangan Diandra yang terasa panas. Diandra memegang kepalanya yang terasa pening. Dia mengernyit saat bau obat obatan menusuk indra penciumanya. Diandra menoleh kesamping dan terkejut tatkala melihat Rio yang sedang menggenggam tanganya sambil tersenyum. "Bagaimana keadaanmu?" Tanya Rio canggung. "Sudah lebih baik" jawabnya singkat. "Oh iya om ayo pulang. Aku ada kerja kelompok sama teman sehabis maghrib" kata Diandra yang ingin duduk namun ditahan Rio. "Lupakan itu. Sekarang beristirahatlah dulu. Jangan kelayapan malam malam"  Diandra bersorak dalam hati. Ternyata om Rio yang dingin dan cuek itu perhatian banget sama dia. Yahh walaupun perhatianya itu diucapkan dengan nada dingin. Tapi Diandra yakin om Rio itu khawatir sekali denganya.  Jangan tanya seberapa bahagianya Diandra saat ini. Diperhatikan om om yang gantengnya setara sama Zayn Malik. Ck..sudah berapa kali ya Diandra ngomong begitu. "Nggak papa Om aku sudah baikan. Lagian kerja kelompoknya dirumah ku ko. Jadi jangan khawatir gitu" kata Diandra denfan senyum lima jari. Tiba tiba saja pusingnya hilang. Apakah ini efek deketan sama om Rio ya.  "Ih siapa yang khawatir. Aku hanya takut kena omelan Mommy aku. Jadi gak usah gr gitu" sanggah Rio. Seketika itu perasaan Diandra yang tadinya senang. Langsung jadi sedih. "Pokonya aku mau pulang" rengek Diandra untuk menutupi kekesalan hatinya. "Oke aku panggil dokter dulu untuk mencabut in-" Belum habis Rio berkata kata. Diandra sudah memcabut paksa infus yang ada ditanganya sehingga mengeluarkan darah dan rasanya sangat sakit. Tapi untuk saat ini hati Diandra yang lebih sakit. "Diandra!!! Apa yang kau lakukan!!" Bentak Rio panik. Diandra langsung turun dari brankar dan keluar. Namun Rio tak membiarkanya begitu saja. Rio.langsung mengangkat tubuh Diandra ala bridal style.  "Om turunin ih" herontak Diandra diiringi pukulan pukulan kecil di d**a Rio. Namun Rio tak menghiraukanya masih asik berjalan menyusuri lorong lorong rumah sakit. "Rio!" Panggil suara seorang wanita yang berada di belakang Rio. Rio membalik badanya. Dan memasang wajah terkejut. Diandra yang masih dalam gendongan Rio bisa merasakan debaran jantung Rio meningkat. "Felicia!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN