Rio pov
"Felicia!!" Saat mengucapkan nama itu dadaku bergetar hebat. Rasanya masih sama seperti yang dulu. Tak ada yang berubah.
Felicia..gadis cantik yang kucintai yang selalu menjadi sandaran bagiku jika aku tertimpa masalah. Gadis yang menemaniku dikala suka dan duka. Juga gadis yang menghancurkan hati ku dikala ia pindah ke luar kota.
Jangan tanya bahagianya diriku saat ini. Jika bukan dirumah sakit aku akan berteriak kencang untuk memberitahukan pada dunia bahwa aku sangatlah bahagia.
Rumah sakit!!! Ya ampun gadis kecilku. Bagaimana bisa aku melupakanya.
Aku berputar putar untuk mencarinya. Namun tak ada. Dikoridor ini hanya ada aku dan Felicia. Dan beberapa orang lain yang tak ku kenal.
Oh ya Tuhan dimana gadis kecilku. Bisa digantung Mommy hidup hidup kalau begini caranya.
"Aw..aw.." sebuah cubitan keras mendarat di lenganku.
"Om ih jangan muter muter kepala Diandra kan jadi pusing" omel Diandra.
Kulebarkan bola mataku saking senangnya. Ternyata Diandra masih dalam gendonganku. Tapi mengapa aku jadi lupa begini sih. Padahal kan Diandra berat sekali.
"Sejak kapan kamu aku gendong?" Pertanyaan konyol macam apa itu Yo. Ya pasti sejak dia cabut infusnya lahh. Gerutu Rio dalam hati.
"Sejak tadi om! Masa om lupa sihh" teriak Diandra nyaring. Seperti pakai toa masjid.
"Gak usah pake urat kalii" cibirku.
Diandra menarik narik kerah bajuku. Dia melihat kedepan lalu melihatku lagi.
"Om dia siapa!" Tanya Diandra.
"Oh dia pacarku" jawabku keceplosan. Ingin sekali kubekap mulutku yang ember bocor ini. Tapi yang ada Diandra jatuh entar.
Tak tau ini cuman perasaanku atau mataku yang bermasalah. Wajah Diandra yang tadinya sudah normal. Sekarang kembali pucat. Apakah karena aku keceplosan tadi sehingga dia cemburu dan marah.
Sinting..mana mungkin Diandra cemburu. Dia saja tak menginginkanku jadi suaminya. Aku kan sudah tua. Eh tidak aku masih muda. Masih 27 tahun. Tapi kalau disandingkan dengan Diandra sih aku lebih tua. Ahh sudahlah lupakan masalah umur.
Derap langkah sepatu membuatku memandang kedepan. Felicia menghampiriku dan menatap Diandra penuh tanda tanya. Perasaanku jadi tidak enak. Semoga saja Felicia tak bertanya yang aneh aneh.
"Yo gadis SMA ini siapa?" Tuhkan bener dia bakalan nanya. Terus aku harus jawab apa nih. Masa aku jawab dia calon istriku Fel. Bisa gantung diri dia nanti.
Kulirik Diandra yang juga tengah melirikku. Dimatanya dia juga terlihat bingung. Namun tiba tiba senyuman evil tersungging dibibirnya. Perasaanku kembali tidak enak.
Diandra memalingkan wajahnya menghadap Felicia.
"Oh hai kak. Aku ini ca-"
"Dia sepupuku Fel" potongku cepat. Karena aku tahu bahwa Diandra akan bilang bahwa dia calon istriku.
"Oh gitu ya Yo. Kamu nggak kangen aku Yo?" tanya Felicia.
Aduh harus jawab apa? Kalau aku jawab kangen. Ntar Diandra marah lagi. Dan kalau aku bilang nggak kangen Felicia ngamuk.
Ya sudahlah nekat saja.
"Kangen banget" ujarku manja. Kulirik sekilas Diandra dia sih biasa biasa saja. Tapi aku tahu didalam hati dia marah banget.
"Kalau gitu peluk dong" Felicia merentangkan tanganya minta dipeluk. Tapi bagaimana bisa aku meluk Felicia kalau Diandra masih nemplok sama aku kaya parasit.
"Kamu turun bentar ya" bisikku pada Diandra.
"Nggak mau! Diandra masih pusing om. Kangen kangenanya nanti saja kalau sudah anter aku pulang" kata Diandra sambil memeluk pinggangku erat.
Aku menatap Felicia lagi. Dan dia sudah memasang tampang sedih yang menjadi andalanya untuk membuatku luluh. Tapi maaf saja itu tak akan bisa membuat ku memeluknya. Karena apa? Karena Diandra masih setia memeluk pinggangku erat hampir membuatku kehabisan nafas.
"Om ayo pulang. Tar Papi sama Mami khawatir" ujar Diandra manja.
"Maaf ya Fel. Aku harus pergi" ucapku pada Felicia. Setelah itu aku langsung memutar badan dan pergi dari hadapan Felicia.
"Yo..kamu jahat Yo" teriak Felicia sambil terisak.
Sebenarnya aku ingin memutar balik tubuhku. Tapi Diandra cubit keburu lenganku.
"Nggak boleh" tegas Diandra melotot kearahku.
Baiklah..baiklah aku menuruti semua kata kata Diandra. Masalah Felicia itu urusan belakangan saja. Yang terpenting sekarang pulangin Diandra dulu.
"Maaf Fel" bisikku.
--
Diandra pov
"Maaf Fel"
Walau om Rio hanya berbisik namun aku bisa mendengarkan ucapan penyesalanya. Sakit? Ya tentu hatiku benar benar sakit sekali.
Begitu tak pantaskah aku menyandang status calon istri om Rio. Sehingga Om Rio bilang ke Felicia Felicia itu kalau aku ini sepupunya. Memangnya aku anak dari saudara ortu nya Rio apa!!!
Lihat saja Om Rio kalau kau tak bertekuk lutut padaku. Jangan sebut namaku Diandra.
Begitu sibuknya dengan fikiranku. Sampai aku tak menyadari kalau aku sudah berada didalam mobil Om Rio.
Sebelum tancap gas Om Rio mendekat ke arahku. Kufikir dia akan berbuat yang macam macam. Ternyata dia hanya imgin memasangkan sabuk pengaman.
Selama di perjalanan Om Rio tak ada membuka suaranya. Mungkin saja dia masih marah padaku. Karena mengganggu acara kangen kangenanya dengan cewek genit itu.
Tapi biar aja lah suka suka Om Rio saja. Mau marah. Mau ngambek. Emang apa urusanya sama aku. Ihh tapi kenapa aku jadi kepikiran terus sihh.
"Om" kuberanikan buat panggil Om Rio.
Dia menggumam saja tanpa menoleh. Masih fokus kejalan yang lumayan lengang karena ini udah mendekati maghrib.
"Om..nggak marah kan?" tanya ku takut takut. Kulihat dia senyum. Tapi kurang yakin sih. Antara senyum sama bibirnya lagi gatelan.
"Sedikit"
"Maaf ya Om. Aku nggak suka liat Om deket deket sama pacar Om itu" ucapku menggebu gebu.
"Kenapa kok nggak suka? Dia baik. Cantik. Pengertian. Dan dia-"
"Pacar Om! Makanya aku nggak suka Om. Kata Om kita mau nikah. Tapi kenapa Om masih punya pacar!!" teriak ku lepas kendali.
Memang aku manusia berhati batu apa!! Dengan gampangnya Om Rio puji puji cewek genit itu didepaku. Aku punya hati oii. Sakit tau nggak diginiin.
Citt!!!
Om Rio ngerem mendadak. Membuat kepalaku hampir terhantup dasboard.
"Kamu cemburu?"
Huhh bukan nanya kondisiku. Dia malah nanya aku cemburu atau nggak. Ya jelaslah aku cemburu. Ups..
"Enggak!" Kataku ngelak buat jaga image.
Om Rio naikkin satu alisnya. "Ih beneran aku nggak cemburu. Ngapain juga aku cemburu sama Om om kayak Om"
Om Rio kembali menjalankan mobilnya. Suasananya lebih mengerikan daripada yang tadi. Mau nafas aja rasanya susah. Mau ngapa ngapain susah.
Akhirnya aku diam saja sambil melihat lihat jalanan ibu kota yang lengang. Juga memandangi langit yang mulai berwarna jingga.
Namun tiba tiba mataku membulat tatkala melihat kereta bayi melintas tanpa ada pendorongnya di jalanan. Dan sebentar lagi kereta itu bakalan ditabrak sama Om Rio.
Aku menoleh kearah Om Rio. Namun pandanganya kosong. Dia juga sama sekali nggak kurangin kecepatan mobilnya.
Bodoh sekali Om Rio ini. Buta atau gimana sihh..
Aku noleh kedepan dan...
"OM RIOOOOOO!!!!!!!!"