Setelah kepergian Rio. Diandra menangis sampai matanya bengkak. Dia meringkuk di atas tempat tidur. Masih dalam kondisi menangis. Mau nafas pun dia susah. Hidungnya mampet banget. "Laperrr..." Diandra berteriak nyaring. Iya.. Dia itu bukanya sedang mencemaskan Rio atau merasa bersalah. Rasa bersalah sih ada tapi yang Diandra butuhin saat ini adalah sekotak pizza. Diandra sedang ingin makan pizza. Ini di karenakkan dia menonton tv. Dan tv nya menayangkan iklan toko pizza. Jadilah debay nya kepengen. Diandra mengambil ponselnya. Mau nggak mau sih dia harus menelpon Rio. Soalnya dia takut kalau pergi sendiri. "Arghss.. di matiin lagi!" Kesal Diandra. Tapi bukan Diandra namanya kalau dia gampang menyerah. Dia tetap berusaha keras menelpon Rio. "Sekali lagi nggak di angkat. Stop jatah setah

