20.00 Di Mall
Rio dan Diandra memasuki mall dengan bergandengan tangan. Senyum dari bibir Diandra tidak bisa pudar. Sedangkan Rio. Ia hanya memasang ekspresi datar seperti kartu.
Banyak orang yang bergumam kagum atas ketampanan Rio. Tidak segan-segan mereka yang notabene tidak mengenal Rio. Menyapa dan sok akrab sama Rio.
Diandra hanya bisa mencebikkan bibir kesal. Tidak enak juga mempunyai suami ganteng. Jalan kemanapun pasti tidak tenang. Ada saja fans-fans recehnya.
"Mas ini adeknya ya?" Tanya seorang wanita cantik dengan dandanan menor. Dari bajunya sepertinya ia seorang psg.
Diandra menghela nafas pelan. Ia harus menyiapkan hatinya. Agar tidak sakit hati saat Rio tidak mengakuinya sebagai istri. Diandra harus terbiasa!
Rio menoleh sejenak ke Diandra yang menunduk. Lalu kembali menatap spg itu dengan poker face.
"Bukan! Ini istri saya!" Rio kemudian menarik Diandra untuk menjauh dari spg itu yang melongo ditempat. Dari kejauhan Rio dan Diandra dapat mendengar bahwa spg itu berteriak-teriak tidak jelas.
Rio mengajak Diandra ke cafe. Sembari menunggu film yang akan diputar 20 menit lagi.
"Kamu sini aja. Kakak beliin minum dulu" Rio beranjak tanpa menunggu Diandra mengizinkan.
Diandra menundukkan pandanganya. Hatinya sekarang di penuhi bunga yang bermekaran. Sekarang Rio tidak lagi menutupi hubunganya.
Rio kembali datang dengan dua cup besar cofee latte. Wajahnya dingin dan datar. Namun Diandra tau kalau Rio nya sedang dalam mode kesal. Jadi Diandra maklum saja.
"Makasih" ucap Diandra.
"Hemm"
"Kak!"
"Apa?"
"Gak! Manggil aja"
Tangan Rio terulur dan mengacak rambut Diandra.
"Bisa aja ya kamu. Aneh tau gak" ucap Rio sambil terkekeh geli.
"Gak apa-apa aneh. Yang penting Kak Rio ketawa" Diandra menjulurkan lidahnya mengejek Rio.
"Kamu cantik tau gak sih!" Gemas Rio.
"Iya dong! Udah tau dari dulu"
Rio tersenyum dan mengacak-acak rambut Diandra. Sedangkan Diandra tersenyum sumringah. Ia sangat suka kalau Rio sudah bersikap manis seperti ini. Diandra sangat suka.
"Ehh? Diandra!"
"Kamu Diandra kan!" Tiba-tiba seorang cowok seumuran dengan Diandra berdiri di samping kursi Diandra. Cowok itu terlihat sangat senang dan gembira.
Diandra mengerutkan alisnya. Ia sama sekali tidak mengenal cowok di sampingnya ini. Bagaimana cowok itu bisa mengenalnya. Diandra bukan artis yang sering nongol di tv.
"Maaf siapa ya?" Tanya Diandra hati-hati. Takut menyinggung perasaan cowok itu. Siapa tau saja Diandra lupa. Karena fans Diandra sangatlah banyak. Susah memang jadi orang cantik. Muehehe..
"Ck.. gue Dani temen sekelas lo dulu waktu SMP kelas 9. Masa lo lupa!" Diandra menepok jidatnya. Lalu ia berdiri dan memeluk Dani singkat.
"Astaga Dan gak nyangka gue bisa ketemu lo lagi"
"Hehe gue juga gak nyangka" Dani menggaruk tengkuknya sembari tertawa. Jujur saja Dani sedikit grogi berbicara dengan Diandra. Karena sejak dulu ia menyimpan rasa pada Diandra. Tapi sayangnya Ia takut untuk mengungkapkanya. Yahh begitulah.. Dani memang cowok pengecut.
"Lo tinggian ya Dan! Kan dulu lo sekuping gue. Nah sekarang malah gue yang sepundak lo!" Kaget Diandea melihat perubahan fisik Dani. Karena dulu Dani sangat boncel sekali. Sekarang tingginya malah seperti tiang listrik. Dan juga dulu badan Dani kurus seperti rempeyek. Sekarang Dani punya tubuh yang sangat ideal. Diandra sangat kagum.
"Muehehe... Takdir kali biar gue nanti bisa kecup kening lo!" Ucap Dani setengah bercanda setengah jujur.
"Playboy kelas kakap lo" Diandra menonyor kepala Dani.
"Eh lo sama siapa?" Tanya Dani mengalihkan pembicaraan.
"Ini sama su... pacar gue!" Diandra merutuki kebodohanya dalam hati. Untung saja ia tidak keceplosan. Wajah Dani yang sebelumnya ceria jadi kusut.
"Ohh" desah Dani sedikit kecewa.
"Kenapa lo?"
"Gak apa-apa gue.. gue.. cuman kecewa aja. Ternyata lo udah ada pacar. Gue fikir lo masih jomblo" jujur Dani mungkin ini saatnya ia mengungkapkan perasaanya. Walaupun terlambat sih sebenernya.
"Aelah dangdut banget lo. Banyak kali cewek yang lebih dari gue. Lo ganteng pasti banyak cewek yang lirik lo" Diandra menepuk-nepuk bahu Dani supaya cowok itu kuat.
"Gak apa-apa lah. Kalau udah putus kabar-kabar ya"
"Gila lo" kekeh Diandra. Ia sempatkan melirik Rio. Tapi suaminya itu memasang ekspresi tenang. Tidak ada ekspresi kecemburuan di wajah gantengnya itu. Gak tau sih sama hatinya.
"Sebelum janur kuning melengkung gue masih boleh kan hubungan sama lo!"
"Tanya tuh sama pacar gue!" Suruh Diandra melirik Rio. Dani menatap Rio tidak suka. Dani menganggap Rio sebagai rivalnya. Memang Dani akui kalau Rio berlipat-lipat lebih ganteng dari dirinya. Tapi Dani yakin Dani jauh lebih bisa membuat Diandra bahagia.
"Gue masih boleh kan berhubungan sama Diandra?" Tanya Dani ketus. Ia seperti sedang berkata. 'Berantem yok!'
Rio melengos. Ia mengarahkan pandanganya ke arah lain. Tanganya menumpu di dagunya.
"Terserah" jawab Rio sangat dingin.
"Yes! Oke cantik gue pulang dulu ya. Lain kali kita ketemu lagi" setelah berpamitan Dani keluar dari cafe bersama teman-temanya. Diandra menghela nafas lalu kembali duduk. Ia menatap Rio agak takut. Saat ini suaminya itu terlihat sangat dingin bahkan lebih dingin dari sebelum-sebelumnya.
"Kak"
"Hm"
"Kakak gak marah kan?"
"Gak"
"Beneran?"
"Iya"
"Bohong"
"Gak"
"Huft.. Kakak pasti marah" desah Diandra.
"Gak Diandra. Kakak suami kamu ngapain Kakak marah"
"Kamu gak suka kan sama dia?" Tanya Rio. Diandra menggelengkan kepalanya. Dia sama sekali tidak tertarik pada Dani. Hanya sebatas kagum saja karena penampilan Dani sudah berubah. Tidak lebih!
"Yaudah"
"Kakak gak cemburu gitu?" Tanya Diandra agak aneh. Sebenarnya Rio cinta tidak sih sama dia. Harusnya kalau cinta cemburu dong ya? Ya gak ders?
"Gak ngapain cemburu. Kakak tau kamu sukanya sama Kakak" jawab Rio.
"Iya sih" pasrah Diandra.
Rio melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Kemudian ia berdecak pelan.
"Film dimulai satu menit lagi"
"Ayo" Rio menarik Diandra. Setelah itu mereka berlari-larian seperti adegan di film-film India. Banyak orang yang menatap mereka. Dari tatapan kagum. Aneh. Dan marah. Tapi apa peduli Rio dan Diandra. Toh ini hidup mereka. Ya gak!
*****
20.30 Di Cafe Seventeen
Rizkan mengaduk-aduk jus avocado nya dengan wajah kesal. Bibirnya terus menggerutu tidak jelas. Sudah setengah jam lamanya ia menunggu Nisa si gadis bodoh itu. Tapi ia tidak juga kunjung datang. Padahal yang meminta ralat memaksa Rizkan untuk datang ke cafe alay ini gadis bodoh itu. Malah dia sendiri tidak on time. Mending tadi Rizkan ke rumah adik tercintanya saja.
Di depan sana ada home band membawakan lagu surat cinta untuk starla. Rizkan kembali mengaduk-aduk jus nya. Ia ingat sekali bahwa Diandra suka sekali dengan lagu ini. Pagi... siang... sore... malam. Hanya lagu itu yang memenuhi kamar Diandra. Sampai-sampai suaranya tembus ke kamar Riskan.
"Kangen adek gue Ya Allah!" Desah Rizkan.
"Dasar gadis bodoh! Coba gak ngajak ngafe pasti gue udah sama Diandra ini!"
"Gadis bodoh!"
"Siapa yang bodoh?"
Rizkan memutar kepalanya ke belakang. Tepat dibelakangnya berdiri seorang wanita yang memakai gaun santai selutut berwarna hitam.
"Ya lo lah siapa lagi!" Ucap Rizkan. Ia kembali mengaduk-aduk minumanya. Nisa segera mengambil duduk dihadapan Rizkan.
"Gue gak bodoh! Lo tuh yang bodoh!"
"Terserah!"
"Btw malam ini lo jadi cewek?" Tanya Rizkan sangat sinis.
"Emang kemaren-kemaren gue apaan? Cowok? Waria?" Tanya Nis balik dengan nada tidak kalah sinisnya.
"Lupakan!"
"Pesenin gue minum gih!" Suruh Nisa. Rizkan memandang Nisa aneh.
"Ogah! Memang gue babu lo!" Tolak Rizkan.
Nisa menghela nafasnya panjang. Ia menggigiti kukunya yang bercat putih.
"Aishh gimana ya kalau gue sebarin ke anak-anak kampus lo. Kalau lo udah ngerebut keprawanan bibir gue!"
"Wahh pasti heboh banget tuh ya!"
"Cowok most wanted yang terkenal pinter dan sopan. Tau-taunya punya kelakuan yang memiriskan!"
"Heboh pasti ya!"
"Kira-kira di apain ya ntar!" Nisa mencoba memanas-manasi Rizkan. Benar saja Rizkan langsung berdiri dan memesankan minum untuk Nisa. Tentunya dengan sangat terpaksa. Catat.. TERPAKSA!
Setelah kepergian Rizkan Nisa tertawa lepas.
"Lucu juga ya lo!"
"Lama-lama suka nih gue!"
Nisa menampar mulutnya sendiri.
"Ngomong apaan sih lo Nis. Suka sama Rizkan? Fikir-fikir dulu lah. Siapa coba yang mau pacaran sama patung manequine" gidik Nisa saat mengingat betapa dingin dan kakunya Rizkan.
*****
Lampu bioskop sudah mulai dimatikan. Digantikan dengan sinar layar lebar di depan sana. Sejujurnya Diandra sama sekali tidak tau apa yang akan ditontonnya kali ini. Karena yang membeli tiketnya Rio.
Rio meraih tangan kanan Diandra dan diletakkan diatas pahanya.
Di depan sana film sudah mulai diputar. Awalnya Diandra biasa saja. Tapi lama-kelamaan Diandra merasa janggal dengan cerita ini. Tidak!! Ini sungguh tidak benar. Di depan sana sepasang kekasih sedang b******u di bangku taman.
Diandra mengalihkan pandanganya ke arah Rio. Dan wajah Rio sangat tenang dan seperti menikmati alur film tersebut. Iyalah! Bagaimana tidak menikmati. Orang Rio saja tingkat kemesumanya sudah di atas rata-rata.
Tangan Rio meremas tangan Diandra lembut. Membuat Diandra berjingkat kaget.
"Tangan kamu basah!" Ucap Rio tanpa menoleh. Diandra hanya cengengesan saja.
"Kak pulang yok! Udah malam besok Diandra harus sekolah!" Ucap Diandra mencari alasan agar segera keluar dari tempat j*****m ini. Siapa coba yang menciptakan film tidak senonoh seperti itu. Diandra tidak habis fikir kenapa orang dewasa itu sangat m***m!
"Besok kan minggu"
Diandra menggigit bibir dalamnya. Benar juga ya ini kan satnight. Ya lord alasan apalagi yang harus Diandra paparkan. Diandra sudah tidak tahan berada di neraka seperti ini. Owhh suara desahan nya sangat mengganggu.
"Oh iya hehe!"
"Tapi Kak Diandra haus!"
"Tadi kan sudah minum!" Ucap Rio masih menolak.
Diandra memutar otak. Kali ini alasanya harus logis.
"Kak ayo pulang!" Rio menoleh menatap Diandra. Agak kesal karena konsentrasinya menonton film jadi terbuyarkan.
"Kenapa? Kamu gak suka sama filmnya?" Tanya Rio lembut.
"Nggak suka filimnya m***m. Geli." Ujar Diandra polos. Rio menahan tawanya. Diandra terlihat menggemaskan sekarang ini.
"Haha yaudah kita mesumnya di rumah aja ya" bisik Rio di telinga Diandra. Sontak Diandra menjauhkan badanya. Menatap Rio takut.
"Ih kakak m***m!"
"Haha bercanda aja. Ayo pulang!"
Kemudian Rio dan Diandra keluar dari gedung bioskop terlaknat itu.
*****
23.44 Kamar Diandra dan Rio
Hampir tengah malam barulah Diandra dan Rio bisa merasakan empuknya kasur. Mereka berdua tiduran di kasur dengan posisi menghadap satu sama lain. Mereka saling bertatapan dan melemparkan senyuman manis.
"Cantik!" Rio menarik pipi Diandra.
"Ganteng!" Diandra membalas dengan menarik hidung mancung Rio. Keduanya lantas tertawa bersama.
"Diandra!"
"Iya Kak!"
"Besok Kakak ada kerjaan di Korea. Kamu tinggal di rumah Mami dulu ya. Takutnya nanti kesepian" ucap Rio.
Diandra langsung cemberut. Padahal kan besok hari minggu. Hari dimana bersantai dan menghabiskan waktu bersama. Tapi Rio malah kerja di luar negri. Menyebalkan!
"Iya pergi yang lama ya!" Diandra berbalik memunggungi Rio.
"Tuh kan marah"
Kemudian Rio memeluk Diandra dari belakang.
"Jangan peluk-peluk! Peluk aja tuh kerjaan Kakak!" Sewot Diandra.
"Kan gak anget Dii. Beda sama kamu hehe"
Tuk
Diandra berbalik dan menyentil jidat Rio gemas. Sepertinya otak Rio butuh di reparasi biar tidak m***m teus.
"m***m!"
"Yah kan sama istri sendiri"
"Gak boleh!"
"Yaudah Kakak peluk mantan Kakak aja ya"
Diandra memelototkan matanya kejam.
"Gak boleh juga! Berani Diandra gantung Kakak di tali jemuran"
"Ihh Kakak sayang kamu deh!" Rio kembali memeluk Diandra sayang. Sedangkan Diandra hanya bisa pasrah saja. Dulu kelakuanya dingin kaya kulkas. Sekarang manja banget kaya anak tk. Diandra berasa mempunyai suami berumur 5 tahun. Bukan 27 tahun.
"Aku cinta kamu!" Ucap Rio.
"Iya aku juga" jawab Diandra sambil tersenyum.
"Juga apa?" Goda Rio.
"Pokonya juga!"
"Juga apa!"
"CINTA KAMU! PUAS!" teriak Diandra emosi. Ia mendorong kepala Rio sampai terlempar kebelakang.
"Hehe makasih sweetheart."
Diandra menarik selimut dan mulai bersiap-siap untuk tidur. Baru saja memejamkam mata. Rio. Sudah menggoyang-goyangkan bahunya.
"Diandra.. Diandra!"
"Ck.. apa?" Decak Diandra tanpa membuka mata.
"Ciuman selamat malam nya mana?"
"Gak ada! Diandra ngantuk"
"Aisshh bentar aja!"
"Kaaaaak!!!!! Ciuman sama pintu gitu loh Kak. Diandra ngantuk!"
"Ciuman perpisahan sayangku" paksa Rio.
"No!"
"Dii please."
"Yaudah yaudah cepetan!"
Rio segera mendekati Diandra tidak ingin melewatkan kesempatan emas ini. Saat bibir Rio menempel pada bibir Diandra. Rio melumatnya lembut. Kemudian Rio mendorong Diandra agar berbaring dengan posisi Rio menindih Diandra.
Rio menatap Diandra tajam. "Sekarang boleh?"
Diandra mengerjapkan matanya. Sungguh ia takut. Ia masih belum siap sekarang ini.
"Maaf Kak" Diandra merasa sangat kesal dengan dirinya sendiri karena masih belum bisa melayani suaminya. Rio mengangkat dagu Diandra mengecup bibir Diandra singkat.
"Gak apa-apa. Kakak tunggu sampai kamu siap"
Kemudian Rio menggulingkan badanya kesamping. Yahh walau sedikit kecewa tapi Rio harus faham. Kalau Diandra bukanlah seorang wanita dewasa. Ia masih remaja dan masih takut untuk mencoba.
Sekali lagi Rio katakan. Ia akan menunggu sampai Diandra siap.
*****
"Ck.. cepetan kek lama banget sih lo!" Teriak Rizkan kesal. Sedangkan Nisa masih asik menyantap makananya. Nisa menatap Rizkan sewot.
"Bawel.. besok lo gak ngampus juga kan?"
"Temenin gue aja. Mumpung satnight. Gue jamin hidup lo pasti berkah nemenin jomblo cakep kaya gue" ucap Nisa.
"Cepetan gak lo makanya! Atau gue tinggal" Rizkan mulai emosi. Lama-lama makan hati juga gadis bodoh di depanya ini.
"Kalo lo tega!"
"Tega kok! Gue pergi" Rizkan mengambil ponselnya dan dimasukkan kedalam saku. Kemudian ia keluar dari cafe dengan langkah lebarnya. Nisa hanya menatap punggung lebar Rizkan yang sudah keluar pintu cafe. Nisa mengangkat pisaunya keatas.
"Gue itung sampai tiga pasti balik tuh orang!"
"Satu!"
"Dua!"
Belum habis Nisa menghitung Rizkan masuk kembali kedalam cafe dan duduk dihadapan Nisa. Wajah Rizkan sangat kusut seperti cucian yang baru kering.
"Katanya pulang?" Tanya Nisa.
"Bawel cepet habisin. Gak tega gue ninggalin bocah kaya lo! Kalo nyasar kan nyusahin ntar." Rizkan mencoba berbicara sedingin mungkin. Padahal jantungnya sekarang sedang berdisko ria.
"Oke gue udah selesai" ucap Nisa.
"Akhirnya... Ayo pulang"
"Yaahhh bayar dulu kali. Ngebet banget sih bang pulang sama gue!" Nisa memamerkan senyuman mautnya. Waduh jantung Rizkan semakin berdisko. Ingatkan Rizkan ya untuk membuka club malam di dalam jantungnya. Kan lumayan..
"Arghss tau ah!" Rizkan kesal dengan dirinya sendiri lalu keluar. Mending nunggu di mobil. Daripada disini nanti Rizkan bisa terkena serangan struk mendadak.
*****
Tbc
ALHAMDULILLAH MASIH BISA UPDATE SETELAH MASA-MASA SIBUK DAN MASA-MASA GAK ADA KUOTA
SEMOGA SEMAKIN SUKA YA SAMA CERITA GUE YANG TIJEL PARAH INI. JANGAN LUPA JUGA KASIH VOTE ATAU KOMEN BIAR LEBIH SEMANGAT GUENYA.
YANG MAU NGASIH SARAN PC AJA. ATAU MAU NGASIH IDE IDE KE GUE. PASTI BAKALAN GUE MASUKIN KE BEBERAPA SCENE.
GAK TERASA YA UDAH HAMPIR 30 CHAPTER. DO'AIN AJA YA OTAKKU LANCAR JAYA SENTOSA. HEHE..
DAN MAAF BESOK GUE GABISA UPDATE BESOK GUE REKREASI WKWK DOAIN SELAMAT SAMPAI TUJUAN YA
SALAM♡
SANDY AULIA AZAHRA_