ILYMH - Ada Apa Dengan Rio?

2363 Kata
13.45 SMA MELATI. Suasana kelas 11- A terasa begitu sepi. Di depan seorang guru berkumis lebat dan berambut botak tengah menerangkan pelajaran Matematika. Semua mata murid-murid memandang kedepan. Tidak ada satu pun yang berani bersuara bahkan melirik ke arah lain. Guru yang bernama Pak Dasuki itu terlihat sangat garang. Suaranya berat dan tatapanya sangat tajam. Seluruh SMA Melati pun tau jika Pak Dasuki adalah seorang guru killer. Dia tidak tanggung-tanggung jika menghukum murid yang salah. Pernah suatu hari ada murid yang tidak membawa jangka saat pelajaranya. Pak Dasuki menyuruh murid itu berlari di lapangan sepuluh kali. Gila! Yahh banyak yang bilang kalau Pak Dasuki itu gila. Beberapa kali Michel menghela nafas kasar lalu menghembuskanya. Penjelasan Pak Dasuki di depan sama sekali tidak menarik. Ia hanya menatap papan tulis saja. Tanpa menyerap pelajaran itu di otak. Masuk telinga kanan. Keluar telinga kiri. Hari ini. Tepatnya tanggal 09-Mei-2017. Michel mengalami kegalauan berat. Dimana situasi hatinya sedang tercabik-cabik. Sedari tadi Michel memikirkan Diandra. Sahabat sekaligus orang yang disukainya. Dulu! Tidak tau sekarang! Apalagi dari yang Michel tau dari teman Diandra yang berada di kelas 11- 4. Gadis cantik itu hari ini tidak masuk dikarenakan sakit. Michel ingin menjenguk Diandra. Tapi takutnya nanti rencana Michel untuk menjahui Diandra gagal. Tapi kalau tidak dijenguk Michel gelisah.  "AARRGHGSS!!!" Michel berteriak lantang saat kepalanya pusing dan ia merasa frustasi. Lama-kelamaan mungkin ia akan depresi. Seluruh mata yang ada di kelas menatap Michel dengan tatapan "Lo cari mati?!" Michel menutup mulutnya dengan tangan. Kelepasan sungguh ia tadi kelepasan. Di depan sana Pak Dasuki menatap Michel dengan tatapan membunuhnya. Ia menurunkan kaca mata sampai ke hidung. "Itu yang duduk di pojok kiri paling belakang! Sini!" Perintah Pak Dasuki. Keringat dingin mulai membasahi kening Michel. Ia menoleh ke sahabatnya Zelo yang sebangku denganya. Zelo hanya menatap Michel miris. Di dalam tatapanya ia sekaan berkata "Yang sabar bro. Ini ujian!" Kepala Michel kembali menengok kedepan. "Sa... sa.. saya Pak!" Ucap Michel sambil menunjuk dirinya sendiri seperti orang bodoh. "Iya kamu siapa lagi! Emang temen kamu yang sok bule itu. Ayo cepet cepet!"  "Aelah gue emang bule Pak." Gerutu Zelo tidak terima. Wajahnya yang turunan Jerman membuat dirinya sering menjadi bahan olokan Pak Dasuki.  Dengan langkah lemas Michel mendatangi Pak Dasuki. Teman-teman sekelasnya hanya menatap Michel dengan kasihan. Pasti sebentar lagi Michel mendapat siksaan dari guru killer. "Iya Pak" Pak Dasuki men-scan Michel dari atas sampai bawah. "Seminggu berapa kali kamu dipanggil ke ruangan BK?" Michel mengerutkan keningnya bingung. Pertanyaan konyol macam apa yang dilontarkan Pak Dasuki. Menginjak lantai ruangan BK saja Michel tidak pernah. Amit-amit deh! Michel kan anak baik-baik. Rajin shalat serta rajin menabung di celengan ayam. "Jawab!!"  "Tidak pernah Pak!" Jawab Michel sangat yakin. "Betul?" "Kalau tidak percaya. Bapak bisa langsung menanyakanya pada Ibu Sri dan teman-teman yang ada disini" "Baik. Itu yang sok bule. Sini sini!"  Zelo yang merasa terpanggil langsung berjalan kedepan. Karena tidak merasa mempunyai salah ya Zelo fine-fine aja.  Bulan dan Zela yang berada di bangku paling depan hanya berdiam saja. Menunggu aksi yang akan di lancarkan oleh Pak Dasuki. "Apa yang dibilang ini anak banar?"  Zelo terlihat berfikir. Michel hanya menatap Zelo aneh. Sahabatnya itu terlihat sedang mengingat-ingat. Tapi dari yang Michel ingat ia sama sekali tidak pernah dipanggil keruangan BK. Di kelas saja Michel selalu masuk sepuluh besar. Dan ia selalu berada di peringkat sepuluh. "Pernah Pak!" Mata Michel membulat. Sedangkan Zelo hanya mengangkat bahu. Seingatnya sih Michel pernah dipanggil ke ruangan BK.  "Nah kan mau nipu bapak kamu!" Murka Pak Dasuki. "Eh tidak Pak saya tidak pernah dipanggil Bu Sri" "Kok lo bohong sih. Apa salah gue sama lo!" Michel menyenggol lengan Zelo yang malah meringis setan. "Michel kamu push-up 100 kali. Setelah itu berdiri di bawah tiang bendera sampai bel pulang!"  Glupp Michel meneguk ludahnya ngeri. Push-up 100 kali. Jangankan 100 kali 10 kali saja Michel sudah megap-megap. Mengapa Pak Dasuki sangat teramat kejam. Why?? Why??!!! "Loh? Bapak gak mau denger alasan ini bocah masuk ke ruangan BK?" Pak Dasuki menatap Zelo penuh minat. "Pasti karena berantem?" "Bukan!" "Atribut tidak lengkap?" "Bukan!" "Menabok p****t siswi perempuan?" Michel mendengus jijik. Guru nya yang satu ini benar-benar c***l. "Big No!" "Terus apa? Jangan mempermainkan saya kamu wahai bocah tengil!" Suara Pak Dasuki mulai meninggi. Zelo hanya meringis sedangkan Michel bersungut-sungut sebal. Baik pada Pak Dasuki maupun pada sahabat durhakanya. "Hehe peace Pak. Jangan suka marah-marah ah. Ntar kepalanya tambah botak loh!" Plakk Pak Dasuki menampol pipi Zelo namun tidak terlalu luat. Hanya sebuah tampolan biasa. "Baiklah saya akan memberitahu bapak" "Sebenarnya Michel diapanggil keruangan BK beberapa bulan yang lalu saat dia masih kelas 10" jelas Zelo. Michel mencoba mengingat-ingat. Yahh sekarang dia ingat. Tapi kan dia dipanggil karenaa... "Ehh tunggu.. tunggu!" "Kan waktu itu gue dipanggil karena ngasih formulir pendaftaran jambore anak PIK remaja!" "Nah itu lo ingat hehe" ringis Zelo. "KAMU MEMBOHONGI SAYA LAGI!" Seru Pak Dasuki. "Tidak Pak! Kan sama saja dia dipanggil ke ruangan BK!" "KAMU BERDIRI DI LAPANGAN SAMPAI PULANG!" "DAN KAMU BOCAH TENGIL. HUKUMAN KAMU SAYA KURANGIN" "Alhamdulillah ya Allah" girang Michel sembari mengusap-usap dadanya legah. Ia menatap Zelo yang tengah lemas dengan pandangan berbinar. "HUKUMAN KAMU BERDIRI TEMENIN DIA DILAPANGAN" BRUKK! Michel langsung jatuh terduduk. Wajahnya kusut memelas. Ia kira hukumanya akan dihapus oleh Pak Dasuki. Ia kira sifat killer Pak Dasuki sudah menghilang. Ternyata Pak Dasuki tetaplah Pak Dasuki. Seorang serigala yang tidak akan melepaskan seorang anak kelinci yang sangat lemah. "Sabar bro ini ujian!" Michel mengangguk lalu ia berdiri dibantu oleh Zelo. Berjalan beriringan keluar kelas. Menjalankan hukuman Pak Dasuki dengan perasaan yang gembira. Kebalikanya! ***** 15.00 Rumah Rio&Diandra Malam nanti Diandra akan menonton ke bioskop bersama Rio. Rasa nyeri dan mual sudah tidak terasa lagi saat mendengar ajakan Rio. Sekarang Diandra sudah merasa sehat. Bahkan sudah lebih dari sehat. Beberapa menit yang lalu Rio pergi meeting ke kantor. Jadilah Diandra sendirian di rumah. Karena bosan ia berjalan pelan ke ruang tv. Mencari-cari channel tv yang bagus. Badanya ia senderkan ke sofa. Tanganya masih asik memenceti tombol remot. "Sebel! Gak ada yang bagus!" Diandra melempar remotnya sampai hancur. "Aduh kok remotnya hancur? Padahal kan Dii ngelemparnya pelan" "Mati deh! Pasti Kak Rio marah"  Diandra memunguti remot yang berserakan tersebut lalu membuangnya ke tong sampah. Beres! Kalau begini Rio tidak akan tau. Bilang saja kalau remote nya hilang. Kemudian Diandra menemukan benda hitam panjang di bufet tv. Diandra membuka bufet lalu mengambilnya. Ternyata itu sebuah psp. Wuhuu!! Diandra mendapatkan mainan baru. Ia kembali duduk di sofa. Memainkan semua permainan yang ada di psp tersebut sampai berjam-jam lamanya. "Hoamz! Kok Dii ngantuk ya!"  Diandra menaruh psp nya. Mengucek matanya yang mengantuk. Lalu ia membaringkan badanya di sofa. Tidak sampai lima menit ia sudah tertidur pulas di sofa dengan posisi yang sama sekali tidak mengenakkan. Kaki yang kanan menjuntai ke bawah sedang yang kiri terangkat sampai ke batas sofa. Tanganya sudah tidak karu-karuan.  Biarlah.. Diandra memang tidak anggun saat tertidur. Bukan seperti aktris ftv recehan yang tertidur dengan menggunakan tanganya sebagai bantalan. Dan sama sekali tidak bergerak. Diandra adalah seorang gadis kecil yang apa adanya. Tidak suka menjadi anggun untuk memikat banyak orang. Yahh begitulah seorang Diandra Ayudia Pratama. ***** 15.00 Kantor Rio. Rio masih setia menghadap laptop. Sudah satu setengah jam ia memandang layar monitor itu. Jarinya yang panjang terus menekan keyboard dengan lincah. Alisnya yang tebal kadang berkerut jika ia melakukan kesalahan. Saat dia sangat pegal ia merenggangkan tubuhnya. Melakukan gerakan mematahkan kepalanya ke kanan dan kekiri.  Kemudian melanjutkan kembali pekerjaanya.  Kring..kring.. Rio mengangkat telepon kantor yang berdering. Terdengar suara sekertarisnya disebrang sana. "Iya?" "Maaf Tuan. Mr. Hans membatalkan pertemuan. Anaknya baru saja meninggal!!" "Ucapkan bela sungkawa kepadanya!" "Baiklah Tuan!" Setelah itu Rio menaruh kembali gagang teleponya. Senyumnya mengembang. Jadi ia boleh pulang sekarang. Arghhss Rio tidak sabar bertemu istrinya. Baru saja Rio meninggalkan Diandra. Rio sudah merasa  kangen saja.  "Kasih kejutan aja kali ya!" Rio tersenyum evil lalu meraih ponselnya.  To: Tuan Puteri Tuan puteri nanti Kakak gak jadi ajak kamu nonton. Kamu nonton sendiri ya. Send.. Tidak sampai beberapa detik Diandra membalasnya. From: Tuan Puteri Hah?!!! Kakak ngajak Diandra bercanda?! Gak! Gak kakak harus tetep nonton sama Diandra! Rio menggelengkan kepalanya. Reaksi Diandra benar-benar membuat pusing dan penat nya hilang. To: Tuan Puteri Kamu nonton sendiri aja ya! Nanti Kakak kirimin tiket nya. Udah Kakak beli kok Send.. From: Tuan Puteri Gak usah! Kakak telen aja tiketnya buat makan siang! Sekalian aja laptopnya Kakak makan juga!  Huakakak.. Rio tertawa nyaring. Balasan Diandra sangat mengejutkan dan mencengangkan. Pasti gadis kecil itu sangat marah besar. To: Tuan Puteri Kalo makan kamu boleh gak?! Kali ini Diandra membalas pesan Rio sangat lama. Setelah sepuluh menit berlalu barulah gadis itu membalasnya. From: Tuan Puteri MENJIJIKKAN! NANTI MALAM TIDUR DILUAR KAMU DELRIO! Huakakak!!! Tawa Rio kembali pecah. Ia sangat tau pasti Diandra sekarang berfikir yang tidak-tidak. Dasar bocah! To: Tuan Puteri Gak ah diluar dingin! Enak tidur di dalam sama kamu! Bisa peluk-pelukkan hehe Send.. From: Tuan Puteri Huwaaaa Mami kak Rio mesum Rio menyandarkan tubuhnya dikursi. Kedua kakinya ia angkat ke meja kerjanya. Kedua sudut bibirnya masih mengulas senyuman geli. Rasanya ia sangat senang bisa mengganggu Diandra seperti ini. Ada kesan tersendiri gitu. Rio kembali ingin mengetikkan balasan pesanya. Namun sebuah ketukan dipintu membuat Rio meletakkan kembali ponselnya. Ia langsung memasang tampang datar tanpa ekspresi. Yahh beginilah Rio. Selalu bersikap dingin dan angkuh kepada para bawahanya. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa merasakan kehangatan seorang Delrio Erlangga Darmawan. "Masuk!" Suruh Rio sangat dingin. Mata Rio sukses terbelalak. Dia? Kenapa dia kemari!  "Hay Yo!" Sapanya lembut Ia duduk di hadapan Rio. Ia melemparkan senyum pada Rio yang masih agak shock. Bahkan Rio tidak berkedip sama sekali.  "Kok ngelamun sih? Gak ada gitu yang mau lo ucapin ke gue?" Tanya wanita itu. Rio tergeragap lalu kembali memasang ekspresi datar. Bahkan lebih datar dari yang tadi. Rio sosok yang pintar menutupi keterkejutanya. "Lo mau apa?" Tanya Rio. "Ya nemuin lo lah. Pertanyaan lo" "Sorry lain kali aja ya! Gue ada janji sama pacar gue"  "Lo udah punya pacar?" Tanya gadis itu dengan ekspresi sangat kecewa. Rio mengangguk pelan. "Yahh padahal jauh-jauh gue kesini cuman mau nemuin lo. Eh taunya lo udah punya cewek lain!" Rio menghembuskan nafas kesal. Wanita di depanya sepertinya sudah mulai menggila. "Oke Felicia apa lo bisa pergi sekarang!" Usir Rio tajam. "Gak mau! Gue masih kangen sama lo. Apa lo gak kangen sama gue?" "Gak sama sekali!" Tolak Rio tegas. Rio kangen? Sampai kiamat 2012 yang pakai pesawat itu jadi  kenyataanpun Rio tidak akan mengatakan kalimat itu. "Oh yaudah deh gue pulang dulu. Besok gue kesini lagi!" "Terserah!" Felicia merapikan rok nya yang pendek. Ia berjalan mendekati Rio. Lalu ia mencium sekilas bibir Rio tanpa Rio duga sebelumnya. Felicia langsung berlari ketika Rio menatap nya marah. "Aishh!" Rio mengusap bibirnya dengan kasar. Ia merasa kotor telah dicium oleh Felicia. Rio kemudian melangkah keluar dari kantornya. Wajahnya menegas dan matanya berkerut tajam. "Gue akan bersihin bibir gue lagi!" Bisik Rio pada dirinya sendiri. ***** BRAAAAKK!! Rio membanting pintu rumah kasar. Ia melemparkan tas kerjanya sembarangan. Kemudian Rio melangkah menuju kamar. Disana tampak Diandra yang memandangnya terkejut. Tapi Rio melengos saja dan masuk ke kamar mandi. ***** BRAAAKK Diandra yang sedang menggerutu sebal berjingkat kaget. Siapa yang menutup pintu sebegitu tidak sopanya. Ia hendak berdiri untuk melihat. Namun seseorang yang ditunggunya muncul di pintu kamar. Wajahnya sangat kusut. Dan matanya memerah. Entah kenapa dengan suaminya itu. Diandra yang tadinya ingin marah segera membungkam mulutnya. Ia jadi tidak tega saat melihat tampang kelelahan Rio. Mungkin memang Rio saat ini sedang banyak pekerjaan. Rio mendekati Diandra. Tatapan matanya tajam. Diandra mulai bergetar. Ia kira Rio akan marah kepadanya. Tapi suaminya itu malah masuk kedalam kamar mandi. Membuat Diandra harus menebak-nebak apa yang sudah terjadi pada Rio. "Kak Rio kenapa? Yang seharusnya marah kan Dii!" "Apa karena aku suruh dia tidur di luar?" "Arghss tau ah! Pusing!" Kesal Diandra. Ia lalu keluar dan ingin menonton serial drama Korea yang biasanya tayang sore.  Diandra duduk dan mulai larut oleh alur cerita. Sampai Rio datang dan duduk disebelah Diandra dengan wajah ditekuk. "Kakak kenapa? Ada masalah?" "Cerita aja sama Diandra. Siapa tau---" "Berisik!" Ucap Rio sangat kasar. Diandra melotot tidak percaya. Rio telah kembali menjadi Rio yang kejam dan dingin. "Hm oke!" Gumam Diandra. Lalu ia kembali menonton acara tv. Walaupun ia tidak konsen sama sekali. Karena fikiranya terus memikirkan suaminya yang uring-uringan gak jelas. Kemudian tangan kekar memeluk perut Diandra dari samping. Diandra tidak menghiraukanya. Ianterlaku takut sekarang ini. Takut Rio lebih kasar lagi kepadanya. "Maaf!" "Kakak gak maksud bentak kamu!" "Kakak lagi setres" "Maaf Kakak buat kamu sebagai pelampiasan kemarahan Kakak" ucap Rio tepat di lekukan leher Diandra. Diandra masih diam saja. Jika ia bicara ia takut salah lagi. Yah mending diam aja lah. "Jangan marah ya" "Seharusnya Diandra yang bilang itu sama Kakak. Jangan marah lagi" ucap Diandra sambil memandang Rio dengan tatapan terlukanya. "Diandra takut kalau Kakak kaya tadi"  Rio memeluk Diandra lebih erat. "Kakak janji gak kaya gitu lagi" "Janji ya?" Tanya Diandra tidak yakin. Rio mengangguk. Lalu ia mengangkat Diandra dan mendudukkan istri mungilnya itu dipangkuanya. Mereka sama-sama saling tatap. "Cium ya?" Izin Rio. "Gak boleh! Kan nanti gak jadi nonton" "Kalo jadi nonton boleh cium?"  "Boleh!"  Rio tersenyum senang. "Oke nanti malam kita nonton" "Jadi sekarang boleh cium" Diandra mengangguk. Rio mendekatkan wajahnya ke wajah Diandra. Bibir Diandra yang lembut di lumat dalam oleh Rio. Mencecapnya penuh perasaan.  "Bersihkan bibir kakak sayang" bisik Rio disela-sela ciumanya. Diandra menjauhkan wajahnya. Rio mendesah kecewa. "Maksud kakak? Bersihkan dari apa" "Gak! Apa-apa" Rio kembali melumat bibir mungil istrinya. Diandra pun juga membalas ciuman Rio. Membuat Rio melayang kelangit ketujuh. Rio menurunkan ciumanya ke leher putih Diandra. Memberikan beberapa tanda disana. "Enghh Kak cukup Kak!" Seru Diandra. Rio menurutinya. Ia manangkup pipi Diandra. Mencium bibir Diandra sekilas lalu memeluknya erat. "I love you!" ***** Tbc Wah wah sorry ya kemaren gue gak update abisnya sibuk banget. Beberapa hari lagi gue rekreasi terus perpisahan dan gue jadu pengisi kesenian. Haha maaf ya kalau gue beberapa hari kedepan lambat update. Soalnya mau fokus latihan dulu hehe. Semoga masih setia ya sama cerira recehan gue ini.  Semoga tambah baper sama chap yang ini. YANG BAPER MANA SUARANYA??  HEHE SALAM MANIS SANDY AULIA AZAHRA_ [Samarinda, 10-Mei-2017] See you!!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN