Chapter 8: Menolak Ingat

1491 Kata
Damar POV Malam ini, Damar sedang duduk di bar klub langganannya di Senopati, Jakarta, meminum Tequila shot sembari menikmati musik yang diputar DJ. Sengaja ia membelakangi lantai dansa tempat mayoritas pengunjung bergoyang mengikuti irama. Ia hanya ingin menghilangkan penat akibat pekerjaannya dan juga sepi yang mendera setiap ia pulang dari kantor. Damar masih fokus dengan cangkir kecil Tequila di tangannya saat merasakan sesuatu di pundaknya. Ketika menoleh, ia mendapati seorang wanita muda dengan gaun pendek ketat, berdiri terlalu dekat dengannya. “Hai, sendirian aja?” Wanita itu melempar senyum. Damar hanya melengos, malas meladeni siapapun hari ini. Syukur, perempuan itu mengerti penolakannya, hanya berdecak kesal tapi lalu menyingkir, meninggalkannya kembali sendiri di bar itu. Damar lalu memesan cangkir keduanya pada bartender. Badannya mulai terasa hangat, tapi ia belum terlalu mabuk untuk berhenti. Pikirannya masih sadar terhadap situasi di sekitarnya, jadi ia langsung tanggap saat mendengar suara seruan seorang wanita, tak jauh darinya. “Udah gue bilang kan, gue gak mau!” Seru wanita itu lagi. Damar menoleh ke arah kanannya. Wanita muda, duduk di bar dengan kemeja lengan panjang dan rok span selutut, berkata pada lelaki muda yang menyeringai padanya. Meski suasana musik dan klub itu cukup ramai, Damar bisa mendengar ucapan wanita itu dengan jelas. Ia menyatakan ketidaksukaannya pada lelaki yang berusaha merangkulnya itu. Sayang, lelaki itu tampak terus memaksakan kehendaknya, membuat wanita itu tidak nyaman. Damar sebenarnya paling tidak mau ikut campur urusan orang asing begini, tapi rasa kasihannya muncul. Terlebih, wanita muda itu mengingatkannya pada seseorang yang familiar. Jadi tanpa pikir panjang, ia mendekati mereka, dan langsung mencengkram tangan lelaki itu. “Apa-apaan lo??” Ujarnya dengan mata melotot setelah mengumpatinya. “Lo yang apaan? Ngapain lo pegang-pegang cewek gue?” Semprot Damar tanpa ragu. Badannya yang lebih tinggi dari sang pengganggu membuat ia percaya diri, dan ia berharap tindakannya ini tidak membuat wanita yang ditolongnya salah paham. “Cewek lo?” Lelaki itu terbata. Sementara wanita itu memandangnya takjub, dan tampak mengerti isyarat kedipan yang dikirimkan Damar. “Mas!” Pekiknya dengan senyum ramah. “Maaf ya, kamu jadi nunggu lama.” Damar melanjutkan aktingnya dengan senyum, lalu menghempaskan cengkramannya. Lelaki itu terhuyung ke belakang. “Cih!” Ia mendecih gusar, tapi tak membalas dan akhirnya berlalu. Damar yang sempat duduk di seberang wanita itu kini berdiri setelah memastikan tidak ada lagi yang mengganggu. “Maaf…” Ia baru akan meminta maaf saat wanita itu mendahuluinya. “Terima kasih, Mas!” Katanya dengan senyum manis. Ntah kenapa, wajah wanita ini begitu familiar, membuat Damar sedikit terpana melihat senyumnya. “Karena Mas, dia jadi pergi.” Damar mengulum senyum. “Maaf ya, saya jadi ikut campur. Pakai pura-pura jadi pacarnya Mbak lagi. Soalnya tadi saya lihat Mbak terganggu,” “Memang terganggu, Mas. Dia nawarin beli minum untuk saya, udah berulang kali ditolak tetap maksa. Untung ada Masnya pura-pura jadi pacar saya.” “Syukurlah, Mbak nggak marah. Kalau begitu, saya tinggal dulu ya? Enjoy your night.” Damar berniat kembali ke mejanya sendiri, tapi wanita itu menahan lengannya. “Mas, duduk sama saya, mau?” “Eh?” “Iya, saya ngerasa lebih aman kalau Mas temani saya. Mau ya? Saya juga mau traktir Mas, sebagai ucapan terima kasih.” Damar menimbang beberapa saat. Tawaran yang menarik, toh ia sendirian dan wanita ini tampaknya baik. “Oke deh.” Damar kembali duduk, dan wanita itu tersenyum lebar. “Mas mau pesan apa?” “Tequila with ice.” “Oke.” Wanita itu mengangguk, dan mengatakan pesanannya pada bartender. “Masnya baru pulang kantor juga ya?” Ia membuka percakapan. “Iya nih. Mbaknya juga ya?” “Iya, kelihatan banget ya?” Sang wanita tersenyum kecil. “Mana ada orang clubbing pakai kemeja begini ya Mas.” “Kadang kalau stress di kantor, kita perlu begini di hari kerja.” Damar berkomentar. “Oh iya, saya Damar.” Ia mengulurkan tangannya, dan wanita manis itu menyalaminya. “Saya Ra…” *** Damar terbangun karena matanya silau terkena bias cahaya matahari pagi yang masuk dari sela-sela gorden jendela. Hal pertama yang ia sadari adalah infus yang menghiasi tangan kirinya. Lelaki tinggi itu berulang kali mengerjapkan mata, memproses semua sebelum akhirnya ia ingat, sedang berada di rumah sakit di Batam akibat kecelakaan. Ternyata barusan gue mimpi. Mimpi pertama kali ketemu sama Raya. Batinnya, lalu melihat ke kanan, tempat sofa penunggu pasien. Pacarnya Raya, masih tertidur dengan meringkuk di sofa sempit itu. Wajah manisnya tampak begitu lelah. Sudah seminggu lamanya Raya menemaninya di rumah sakit ini, tanpa pernah pulang dan sembari bekerja jarak jauh. Sebetulnya Damar iba sekali melihat kondisi Raya yang menungguinya di rumah sakit, tapi ia benar-benar membutuhkan kehadiran sang pacar demi pemulihan mental dan fisiknya. Syukurnya, Raya yang baik hati mau menemaninya dan mengurus semua kebutuhannya dengan penuh kasih. Meski selama ini mereka menjalani hubungan jarak jauh, tapi tak mengurangi perasaan keduanya. Sungguh, wanita ini benar-benar sempurna, dan Damar serasa jatuh cinta lagi setiap hari padanya. Itulah mengapa ia tak percaya saat keluarganya berkata ia sudah menikah tiga bulan lalu dengan seorang wanita yang tak ia kenali, apalagi penyebabnya karena sudah ia hamili. Rasanya ia tak mungkin mengkhianati Raya karena ia terlalu cinta pada gadis itu. Damar masih memandangi Raya dalam tidurnya saat sang pacar membuka mata tiba-tiba. “Mas, udah bangun?” Panggilnya dengan suara parau. “Udah.” Jawab Damar sembari tersenyum. Raya lalu duduk dan meregangkan badannya. Gadis itu bangkit, mengambilkan air minum di meja samping ranjangnya. “Ini, minum dulu Mas.” “Makasih, Ray.” Setelah menghilangkan dahaganya, Raya meletakkan kembali gelas itu dan duduk di kursi samping ranjangnya. “Gimana perasaan Mas hari ini?” “Baik.. Aku mimpi kamu barusan.” “Oh ya?” “Ya. Mimpi pas pertama kita ketemu, Ray. Kamu masih ingat?” Raya tersenyum tipis. “Ingat dong Mas.” “Iya, waktu itu kita ketemu di klub di Senopati kan, kamu digangguin orang…” Damar bercerita panjang lebar sembari tertawa kecil. Tapi ia berhenti begitu melihat ekspresi Raya berubah serius. “Kenapa, Ray?” “Umm.. Mas. Kita pertama kali nggak ketemu di klub malam di Jakarta, tapi di restoran Ta Wan di Grand Mall, Batam sini.” “Hah? Kamu yakin?” “Yakin dong Mas. Lagipula sejak kapan aku clubbing? Apalagi di Jakarta.” Bantahnya lagi. Benar juga. Raya bukan peminum alkohol seperti dirinya. Damar mengerjapkan mata, berusaha mengingat kembali mimpinya tadi. Kalau bukan Raya, siapa wanita yang ada dalam mimpinya itu? Fisiknya begitu mirip dengan Raya. “Mas… mungkin itu Mbak Ratih.” Raya memecah keheningan. Matanya sendu meski bibirnya tetap memasang senyum lemah. “Ratih?” Damar mengingat-ingat lagi soal Ratih yang sedang hamil. Memang secara fisik, Ratih sekilas mirip dengan Raya. Apa Ratihlah yang sebenarnya ia mimpikan? “Ya, mungkin mimpi mas itu soal pertama kali kenal sama Mbak Ratih, bukan pas pertama kita ketemu.” Lanjut Raya. “Syukurlah Mas, pelan-pelan, Mas mulai ingat sama istri Mas.” Ujarnya lagi, lirih. Damar bisa melihat ekspresi sedih Raya yang berusaha keras ia sembunyikan, dan seketika perasaan berdosanya muncul. Sesuatu yang sejak kecelakaan ini mati-matian Damar tolak, ternyata mulai muncul ke permukaan. Asal muasal penyebab dirinya yang sudah menghamili seseorang dan menikahinya, saat masih berpacaran dengan Raya. Lupa ingatan bukan berarti menghapus apa yang sudah terjadi. Apa gue udah sejahat itu sama Raya? Batin Damar, tak terima. Ia kembali mengingat-ingat mimpinya, berusaha membohongi diri sendiri dan mengatakan bahwa itu hanya bunga tidur. Tapi sia-sia, ia tahu bahwa pertemuan itu benar-benar terjadi. Semakin berusaha dilupakan, semakin jelas ingatan itu muncul. “Aaaarrgghhh…” Damar menumpu dahi dengan dua tangan, sakit kepala hebat tiba-tiba melanda. “Mas? Tenang Mas, tenang ya…” Raya memeluknya, dengan tangannya menepuk-nepuk punggung Damar. “Ray… Aku nggak mau…” Damar terbata. Ia ingin melamar Raya, ingin menikahinya. Meski Raya sudah menolaknya, ia tetap hanya menginginkan Raya. Sungguh Damar tidak terima dengan perbuatan bodoh dirinya di masa lalu. Ia yang sekarang, tidak akan terima bahwa dirinya sudah menikah dengan orang lain. “Sudahlah Mas, tenang dulu. Aku suapin makan, terus minum obat ya? Biar sakit kepalanya hilang.” Raya mengelus punggungnya, berusaha menenangkannya. Damar menggeleng. “Aku nggak mau minum obat, Ray.” Aku nggak mau ingatanku kembali dan pisah denganmu, Raya. Lanjutnya dalam hati. “Jangan begitu Mas, Mas harus cepat sembuh. Nggak mungkin selamanya di rumah sakit.” Bujuknya, raut wajahnya tampak khawatir. “Atau mas lagi ingin makan apa? Biar aku pesankan. Yang penting makan terus minum obat, ya? Pasti Mas senang kalau sudah sehat total.” Aih, betapa hati Raya seluas lautan. Meski Damar terang-terangan menyakiti hatinya, selingkuh lalu memutuskannya, dan sekarang memaksanya menemaninya, gadis itu tetap merawatnya dengan sangat baik. Damar merasa semakin berdosa, tapi juga semakin jatuh cinta. Kini ia yakin, apapun yang terjadi setelah ingatannya kembali, tak akan merubah perasaannya yang kuat ini pada Raya. Untuk itu, seiring ingatannya yang pelan-pelan kembali, ia akan menyusun rencana. Rencana agar tetap bisa bersama Raya dan memilikinya selamanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN