Raya POV
Seminggu menunggui Damar di rumah sakit tampaknya mulai membuahkan hasil. Pagi ini, Damar mulai mengingat sepotong hal yang ia lupakan, yaitu pertemuan pertamanya dengan Ratih. Saat sang mantan menceritakan soal pertemuannya di klub malam yang ia kira pertemuan pertamanya dengan Raya, Raya langsung bisa menebak itu adalah pertemuannya dengan Ratih.
Rasanya sakit juga ternyata, mendengar langsung cerita awal mula perselingkuhan sang mantan dengan wanita yang sekarang telah resmi jadi istrinya. Ini semakin menegaskan bahwa Raya memang harus merelakan Damar, dan mereka tak akan bisa kembali bersama. Sebenarnya Raya sudah bertekad soal ini dari awal ia berada di rumah sakit. Tapi sepertinya sang mantan tidak terpikir hal yang sama, dan malah semakin mesra memperlakukannya. Perlakuannya ini kadang membuat Raya jengah, sayang Damar yang keras kepala tak bisa diingatkan dengan mudah.
“Ray, aku udah kenyang.” Ujar Damar. Ia tidak lagi mengeluh sakit kepala setelah tadi mengingat mimpi pertemuan pertamanya dengan Ratih.
“Oke, Mas. Sekarang minum obat ya.” Raya menyingkirkan piring dan sendok bekas makan, lalu mengambilkan obat-obatan Damar yang diresepkan Dokter Diro. Dengan telaten, ia meminumkan obat-obatan itu pada Damar yang menurut, tidak protes seperti sebelumnya. Setelah meminum obat, Damar kemudian berbaring kembali.
“Mas mau istirahat lagi, sebelum terapi?”
“Iya… Tapi bahu sama punggungku pegel, Ray. Pijetin aku, boleh?” Pintanya dengan mata mengiba, lagi-lagi membuat Raya tak tega.
“Oke Mas.”
Raya kemudian mulai memijati pundak Damar, dan lelaki itu tampak menikmati pijatannya.
“Aaah.. Enak banget, Sayang.”
Raya meringis mendengar panggilan itu. Seketika, ia teringat pada Ratih.
“Mas.”
“Ya?”
“Mas tadi kan mulai nunjukin perkembangan…”
“Terus?” Komentar lelaki itu tak acuh.
“Mau telpon Mbak Ratih? Siapa tahu dengan ngobrol sama dia, Mas jadi lebih ingat…”
“Nggak mau.”
“Kok gitu?”
“Kamu kenapa sih, ngomongin dia terus? Emang kamu nggak sebal sama dia? Aku aja sebal ngeliat dia ngasarin kamu.”
“Ya sebal, Mas.” Raya menghela nafas. “Tapi gimanapun dia kan istri Mas, wajar dia begitu sama aku. Dia cemburu, tandanya dia sayang sama Mas Damar.”
“Hmm.. Kamu ini.” Damar berbalik ke arahnya dan mengecup pipinya. “Kamu ini terlalu baik, tau Ray? Aku pengen sekali-kali kamu egois, nggak usah mikirin orang lain gitu.”
Raya menegang, menangkup pipi yang baru dikecup. Sambil berusaha meredam detak jantung yang meningkat tajam, ia merespon.
“Kalau aku egois, aku mending pulang aja ninggalin Mas disini.”
“Jangan dong, masa kamu tega ninggalin aku sendiri.” Damar meraih tangannya lalu mengecupnya. “Maksud aku, egois sama dia. Nggak usah bahas Ratih melulu. Aku aja masih nggak ngakuin dia istriku, orang aku nggak ingat sama dia. Jadi aku mau kamu juga anggap aku seperti biasa. Pacar kamu, bukan suami dia.”
Raya menelan ludah. “Gak bisa dong Mas… Mbak Ratih kan lagi hamil, Mas bentar lagi jadi ayah, masa Mas nggak mau ngakuin dia? Mending Mas banyakin ngobrol sama Mbak Ratih, biar ingatannya…”
Ucapannya terputus saat sesuatu yang lembut berlabuh di bibirnya, membuat lututnya lagi-lagi lemas. Sang mantan, kembali menciumnya. Tidak selama sebelumnya, hanya kecupan kilat, tapi tetap membuat Raya gelagapan.
“Mas, kenapa sih cium aku terus?” Protes Raya, mengelapi bibirnya sendiri.
“Karena kamu bahas dia terus.”
“Tapi kan..”
“Raya.” Suara Damar menajam, wajahnya berubah dingin, tanda ia mulai marah. Raya terdiam, dan menunduk. Ia agak takut dengan kemarahan Damar, mengingatkannya saat diputuskan waktu itu.
“Begitu aku sembuh, aku akan ceraikan dia. Kamu dengar aku?” Raya mengangkat kepalanya kembali, terbelalak mendengar ucapan itu. Ia kira Damar bercanda, tapi wajahnya yang masih ditekuk adalah tanda bahwa lelaki ini sangat serius. “Aku akan ceraikan dia dan nikah sama kamu. Jadi jangan bahas dia lagi.”
***
“Halo Mas!” Raya tersenyum ceria saat melihat Fajar di balik tirai itu. Damar sedang terapi okupasi setelah ia pijat tadi, dan seperti biasa ketika sang mantan tertidur atau sedang terapi, Raya akan menyelinap ke tirai sebelah dan berbincang bersama Fajar.
“Hei, Ray.” Fajar membalas senyumnya, tak kalah lebar. Lelaki itu sedang memakan sarapannya dengan tangan kiri, karena tangan kanannya diinfus.
“Mas mau aku suapin?” Tawar Raya, yang tentu saja iba melihat lelaki ringkih itu makan dengan kesulitan. Tapi Fajar menolak.
“Nggak usah, udah biasa kok. Ayo duduk, Ray. Makan buahnya ya.” Ia menunjuk ke keranjang buahnya, yang selalu terisi penuh setiap hari.
“Okee.” Raya mengambil apel, dan menggigitnya.
“Aku udah nonton film yang kamu bilang semalam.” Fajar membuka obrolan.
“Oh ya? Terus gimana menurut mas?”
“Jalan ceritanya bagus. Cuma aku kurang suka karakter utamanya, kayanya aktor yang bawa kurang jago deh.”
“Kok gitu?” Raya mengerutkan dahi. “Padahal itu aktor favorit aku. Ganteng banget, aktingnya juga bagus.”
“Aktingnya bagus? Jangan-jangan karena dia ganteng makanya kamu bilang aktingnya bagus?” Fajar meledeknya.
“Ck, emang bagus tau Mas, aktingnya. Mungkin film semalam aja yang kurang pas, kalau di projek dia yang lain, bagus kok aktingnya.”
“Kamu malah nyalahin filmnya,” Lelaki kurus itu terkekeh. “Memang projek dia yang lain judulnya apa? Coba aku tonton juga, biar aku bisa bandingin.”
“Hmm… Judulnya…” Raya lalu menyebutkan judul-judul film aktor Korea favoritnya itu, sembari memperlihatkannya di Netflix ponselnya. Fajar juga membuka tabletnya, dan memasukkan film yang Raya sebutkan ke daftar tontonannya.
Sejak pertama kenal dengan Fajar beberapa hari lalu, Raya memang selalu menyempatkan diri mengobrol dengannya setiap hari. Lelaki itu sangat mudah diajak bicara. Selain karena banyak kesukaan mereka yang mirip, wawasannya pun sangat luas. Fajar juga tidak pernah bertanya soal hal pribadi, sama seperti Raya, jadi obrolan mereka tidak pernah canggung. Keberadaan Fajar membuat hari-hari Raya disini jadi lebih menyenangkan, membuatnya sedikit melupakan rasa bersalah akibat ia yang terjebak bermesraan dengan suami orang dan sedih yang muncul karena sang mantan menyelingkuhinya.
“Mas, bukunya udah aku selesai baca. Nanti aku kembalikan.”
“Nggak usah, Ray. Kan udah kubilang, bukunya buat kamu aja.” Jawabnya santai, sembari membuka bungkus obatnya. Ia tampak kesulitan menggunakan satu tangan, jadi tanpa ragu Raya mengambil obat itu dari tangan Fajar. Tanpa sengaja, jemari mereka bersentuhan, menimbulkan sedikit getaran aneh di hati Raya. Tapi Fajar tampak santai.
“Loh, kok obatku kamu ambil, Ray?”
“Biar kubukakan, Mas.” Raya tersenyum, berusaha terlihat biasa saja. Dengan telaten, ia membukakan semua obat Fajar dan meletakkan kapsul dan tablet berwarna-warni di telapak tangan kurus itu. Setelahnya, ia mengambilkan gelas berisi air putih dan meminumkannya pada teman sekamar Damar itu.
“Wah, Mbak Raya sekarang nemenin Mas Fajar juga ya?” Suster Desi yang tiba-tiba datang, berkomentar dengan senyum. Seminggu berada di rumah sakit membuat Raya jadi mengenal semua suster yang berjaga di sini.
Raya hanya tertawa, tapi Fajar langsung menyanggah. “Nggak kok sus, ini pas kebetulan Raya lagi nemenin saya ngobrol.”
“Oh gitu? Saya kira Mbak Raya jadi nemenin Mas Fajar juga. Soalnya selama ini Mas Fajar kan sendirian, jadi kalau ada apa-apa manggilnya suster.” Wanita itu melanjutkan. “Ini aja saya baru mau ngecek obatnya, eh ternyata sudah dibantu Mbak Raya. Makasih loh Mbak.”
“Tenang sus, selama saya disini, saya nggak keberatan kok bantuin Mas Fajar kalau dia perlu apa-apa.”
Fajar mendelik, tapi suster Desi malah menepuk kedua tangannya, senang. “Pas banget kalau gitu. Tolong ya Mbak.”
“Siap Sus.” Raya mengacungkan jempol.
“Tuh Mas, senang kan sekarang ada yang bisa nemenin? Mas Fajar kelihatan lebih ceria nih sejak ditemani Mbak Raya ngobrol, nggak kebanyakan merengut kaya dulu.”
“Siapa sih yang suka merengut sus?” Omel sang pasien. Baik Raya maupun suster Desi tertawa. Mas Fajar ternyata bisa imut juga, batin Raya dalam hati.
“Saya tinggal dulu ya Mbak, Mas.” Suster Desi melenggang keluar tirai. Raya mengangguk, menoleh kembali ke arah Fajar yang menggaruk kepalanya.
“Malah aku jadi ngerepotin kamu.” Lelaki itu merasa bersalah sekarang.
“Santai, Mas. Tapi aku serius, kapan mas perlu bantuan, panggil aku aja. Ini bukan pertama kali aku ngerawat sekaligus temani pasien di rumah sakit.”
“Bukan pertama kali?”
“Iya, dulu waktu almarhum ayahku sakit juga aku yang temani, Mas.” Cerita Raya. “Terus waktu adikku habis kecelakaan juga.” Lanjutnya, mengingat-ingat hubungan eratnya dengan rumah sakit di masa lampau. Sayang keduanya berakhir cukup memilukan, dengan sang ayah pada akhirnya meninggal setelah sebulan dirawat karena stroke, dan Rayi yang kakinya pincang hingga sekarang akibat ditabrak mobil.
“Oh, begitu. Maaf ya, kamu jadi teringat kejadian lalu.”
“Nggak apa-apa Mas, memang semua sudah takdirnya begitu.” Raya tersenyum. Termasuk takdir dia sekarang yang setelah diputuskan Damar malah jadi menemaninya disini, Raya menerima dengan lapang d**a. Satu-satunya yang belum bisa ia terima adalah Damar yang bersikeras ingin menikahinya. Rasanya ia stress sendiri memikirkan itu. Beruntung pertemanannya dengan Fajar sedikit membuatnya tenang dan melupakan segala perasaan yang carut marut akibat sang mantan.
“Aku nggak nyangka ternyata kamu juga pernah mengalami kejadian seperti itu, Ray.” Celetuk Fajar. “Ditinggal orang tua dan mesti menjaga adik, pasti berat kan?”
“Berat banget Mas, tapi saya nggak mau menyerah. Kalau menyerah, kasihan adik saya.” Jawab Raya, teringat Rayi yang masih membutuhkannya. “Makanya Mas Fajar juga jangan menyerah. Harus selalu semangat, biar cepat sembuh.”
Fajar tersenyum lemah. “Ya.. Aku juga harus semangat, ya..”
“Iya dong.”
Raya masih mengobrol dengan Fajar hingga beberapa waktu kemudian, tanpa ia sadari, Damar sudah kembali ke kamar. Betapa terkejutnya ia saat sang mantan tiba-tiba masuk ke balik tirai itu, menarik tiang infusnya.
“Ray,” Panggilnya. Lagi-lagi wajahnya ditekuk.
“Eh, Mas Damar!” Ntah kenapa, Raya jadi gugup sendiri. Rasanya seperti ketangkap basah berselingkuh, padahal dia dan Fajar hanya berteman, sementara dia dan Damar juga tidak lagi pacaran. Raya lalu bangkit dari duduknya, memperhatikan Damar yang sekarang bertukar pandang dengan Fajar. Wajah Fajar yang ramah juga berubah dingin, tidak seperti biasa.
“Mas udah selesai ya?” Tanya Raya. Damar hanya mengangguk, raut wajahnya masih ditekuk. “Umm… ini mas Fajar, teman sekamar Mas. Mas Fajar, ini Mas Damar.” Raya mengenalkan mereka, berusaha mencairkan suasana yang dingin. Tapi keduanya tetap diam dan saling pandang, tidak saling mengenalkan diri.
“Ehem…” Raya berdehem gugup. “Mas…” Panggilnya pada Damar. Damar tiba-tiba menarik tangannya mendekat.
“Udah selesai ngobrolnya kan, Sayang?” Tanyanya, tangan melingkar di pinggang Raya. Raya tak sempat menjawab saat Damar melanjutkan. “Makasih ya, udah temenin pacar gue ngobrol.” Mantannya itu melempar senyum pada Fajar, yang hanya diam memandangi mereka.
“Mas..” Protes Raya terhenti ketika Damar mencium, lalu dengan lihai memasukkan lidah di antara sela bibir Raya dan menghisapnya. Raya yang kaget tak bisa berkutik, dan setelah beberapa saat mereka berciuman, kesadarannya kembali. Ia lalu mendorong mantannya itu pelan.
“Maass…” Protesnya lagi, sambil menunduk. Ia malu, sangat malu. Dicium begitu di depan Fajar pula, rasanya seperti wanita murah saja. Tapi Damar hanya terkekeh melihatnya.
“Kenapa sih malu-malu begitu? Toh kamu calon istriku.” Ia bertutur santai. “Ayo Ray, suapin aku makan, ya?” Damar menarik tangannya keluar dari sana. Raya menyempatkan diri melirik ke arah Fajar, tapi lelaki botak itu tak memandangnya kembali, dan malah melengos, melihat pemandangan luar jendela.
Apa Mas Fajar marah sama aku? Ntah kenapa, Raya jadi khawatir sendiri.
“Mas, kenapa sih mas kok cium-cium aku depan Mas Fajar?” Protesnya begitu hanya mereka berdua di balik tirai bagian ruangan Damar.
“Emang kenapa?” Damar malah bertanya balik, raut wajah berubah curiga. “Kamu takut dia cemburu?”
“Bukan gitu…” Erangnya. “Kan aku malu mas, kalau ciuman depan orang lain gitu…”
“Aku nggak malu, tuh.” Damar mengangkat bahu cuek, lalu duduk di atas ranjangnya.
“Maas…”
“Suruh siapa kamu dekat-dekat sama dia?”
“Dekat? Aku kan cuma ngobrol, Mas! Dia cuma teman.” Raya merendahkan suaranya, tidak enak dengan Fajar yang mungkin bisa mendengar obrolan mereka.
“Ya sudah, kamu cuma ngobrol sama teman, aku cuma cium pacarku. Selesai kan?”
“Mas, aku udah berapa kali bilang, kita nggak pacaran!” Tolak Raya tegas.
Damar menegang, lalu mencengkram tangan dan menariknya lagi mendekat. Meski lelaki itu duduk di ranjang, dan masih dalam pemulihan, tenaganya benar-benar kuat. Saat Raya menggeliat melepaskan diri, Damar malah memaksanya duduk. Dengan suara rendah, ia berkata di telinga Raya.
“Kamu milikku, Raya. Sampai kapanpun, aku tidak akan melepaskanmu.”