Chapter 10: Terlalu Bucin

1896 Kata
Damar POV Pagi ini Damar sedang disuapi sarapannya oleh Raya seperti biasa, saat tiba-tiba seseorang yang ia kenali menjenguknya. “Hei, Mar.” Ardi, sobat sekantornya ternyata. Ardi dan dirinya berasal dari kampus yang sama dan masuk kantor dalam waktu yang berdekatan, sehingga mereka sangat dekat. “Eh, gue ganggu ya?” Lelaki itu berubah canggung melihat posisi Raya yang menyuapi, dekat dengannya. Damar menggeleng, baru akan mengenalkan Raya saat Raya duluan bangkit. “Nggak kok, Mas Ardi. Ini Mas Damar sudah selesai makan. Duduk, Mas.” “Kamu udah pernah ketemu Ardi, Ray?” “Udah, Mas.” “Kok bisa?” Tanya Damar lagi, masih heran. Ardi hanya diam memperhatikan mereka, sementara Raya menjawab dengan sabar. “Beberapa bulan lalu, Mas Damar yang ngenalin aku sama Mas Ardi waktu Mas berdua business trip kesini.” “Oh.” Ternyata banyak juga hal yang ia lupakan. “Duduk, Di.” Ardi mengambil duduk di kursi dekat ranjangnya, sementara Raya duduk di sofa. “Kapan nyampe Batam, Di?” “Kemarin lusa. Gue mesti nemuin klien dulu, makanya gue baru kesini. Sorry ya.” “Santai. Gue nggak sendirian kok, kan ada Raya.” Ardi melempar senyum canggung pada Raya, lalu berbalik ke arahnya. “Jadi gimana sih kronologis kecelakaan lo?” Damar kemudian menceritakan kronologis kecelakaannya. “Dan katanya lo sekarang amnesia? Tapi lo masih inget sama gue?” “Yang gue lupa cuma ingatan setahun ke belakang, kalau lo kan udah lama kenal.” Dengus Damar. “Oh, gitu. Makanya lo inget sama Raya juga, ya?” “Iya, mana mungkin gue lupa sama calon istri gue.” Komentar Damar dengan senyum lebar, sementara Ardi kembali mengernyitkan dahi. Raya di satu sisi tampak tak mendengarnya, karena sedang mengangkat telepon. “Mas, aku ke kedai kopi di bawah dulu ya, ada Indah, aku mau temui dia.” Ujar sang pacar begitu menutup panggilan. “Indah?” Damar mengingat-ingat. “Ah, teman sekantormu sesama sekretaris ya?” “Iya.” Raya tersenyum. “Yuk, Mas Ardi.” Ia mengangguk pada Ardi, dan berlalu keluar kamar. Begitu Raya menghilang, Ardi langsung menatapnya dengan pandangan serius. “Lo serius balikan sama Raya, Mar?” “Balikan? Emang gue pernah putus sama dia?” “Ya pernah! Lo kan udah nikah. Dan bukan sama Raya.” “Ck.” Damar berdecak. Lagi-lagi masalah itu yang dibahas. “Gue tahu.” “Lo tahu? Kalau lo udah nikah sama Ratih?” Damar hanya mengangguk malas. “Terus kenapa yang temenin lo di sini malah Raya, bukan Ratih?” “Orang gue nggak kenal sama Ratih. Lagian gue nggak yakin gue beneran sayang sama itu cewek. Gue cuma sayang sama Raya.” Ardi menghela nafas mendengar penuturannya. “Lo beneran lupa kejadian setahun ke belakang ya?” “Emang kenapa?” “Sejak deket sama Ratih, lo tuh bucin banget tau sama dia. Makanya lo sama dia cepet banget mutusin mau nikah.” “Ah, gue yakin yang terjadi sebenarnya nggak begitu. Paling gue sama dia lagi clubbing bareng terus mabuk, nggak sengaja kebablasan, terus akhirnya gue nikahin dia karena mau tanggung jawab.” Damar berkomentar santai, tapi sobatnya menggeleng. “Ratih emang hamil duluan, tapi dari sebelum itu lo emang udah mutusin mau nikah sama dia. Begitu tau dia hamil, ya kalian percepat tanggal nikahan itu.” “Lo nggak usah bohong sama gue, Di.” “Ngapain gue bohongin lo? Kurang kerjaan banget. Lo juga bilang, lo udah bosen banget sama Raya, hubungan jarak jauh dengan ujung yang nggak jelas. Plus Raya juga, menurut lo nih ya, nggak bisa diajak enak-enak kayak Ratih.” Penjelasan Ardi semakin membuat perasaan Damar tak menentu. Hampir dua tahun dia berpacaran dengan Raya, sebelumnya ia tak pernah mempermasalahkan soal itu. Memang Raya beda dengannya yang sudah terpengaruh kehidupan bebas ala banyak muda-mudi Jakarta lain. Selain ia sering clubbing, sebelum bersama Raya, Damar beberapa kali menggunakan jasa wanita pekerja malam. Bersama mantan-mantannya pun ia sudah pernah melakukan hubungan bebas. Tapi dengan Raya, semua berbeda. Hubungan pacaran mereka hanya sebatas ciuman paling jauh karena ia tahu Raya menjaga dirinya. Dan selama ini Damar tak keberatan, karena ia terlalu sayang pada gadis itu. Makanya ia selalu menolak mentah-mentah fakta bahwa dirinya sudah menikah dengan orang lain. Ia tak percaya akan bisa mencintai wanita selain Raya. “Mungkin gue waktu itu lagi khilaf.” Akhirnya Damar bersuara. “Khilaf kok berbulan-bulan, sampai nikah bahkan.” Sindir sang sobat. Damar melengos. “Yang jelas, gue sekarang masih pacaran sama Raya, dan gue mau nikah sama dia.” “Jadi lo mau punya dua istri?” “Kagak. Gue bakal ceraikan Ratih dan nikahin Raya. Cuma Raya yang bakal gue jadikan istri gue.” “Ceraikan Ratih?” Ardi menganga. “Lo gila apa? Dia kan lagi hamil anak lo.” “Ya punya anak kan bukan berarti nggak bisa cerai.” Damar mengangkat bahu. “Lagian gue nggak yakin itu beneran anak gue. Nanti gue bakal tes DNA dulu setelah dia lahiran. Kalau bener anak gue, ya gue biayain hidupnya setelah cerai sama ibunya. Kalau bukan, ya bukan urusan gue lagi.” Sobat sekaligus teman kantornya itu menggelengkan kepala mendengar rencananya. “Kayaknya lo bukan cuma hilang ingatan ya setelah kecelakaan ini. Lo jadi hilang kewarasan juga.” “Justru gue jadi waras banget sekarang, Di. Karena perbuatan bodoh yang bahkan gak gue inget, gue jadi hampir kehilangan Raya, orang yang selama ini paling gue sayang. Mumpung masih sempat, gue ingin perbaiki semuanya.” “Emang Raya masih mau balikan sama lo? Lo sendiri cerita sama gue kalau lo udah putusin Raya waktu itu, beberapa hari sebelum acara nikahan lo sama Ratih. Dan lo rasanya lega banget.” “Mau, lah. Raya kan masih sayang sama gue.” Damar berkata yakin. “Yakin banget lho?” “Yakin dong. Kalau nggak sayang, mana mungkin dia ada disini temenin gue.” Raya POV “Jadi sebenarnya kamu masih sayang nggak sih sama mantanmu itu, Ray?” Tanya Indah padanya. Mereka berdua sedang duduk di kedai kopi di lobi rumah sakit itu. Hari ini hari sabtu, jadi Indah bisa mengunjunginya ke rumah sakit setelah sebelumnya mereka hanya berkomunikasi lewat chat atau telepon untuk urusan pekerjaan. “Nggak tau, Ndah.” Raya menunduk, jemarinya memutar mulut cangkir berulang kali. “Pasti kamu masih sayang, Ray. Kamu rela temanin dia disini meski udah diputusin gitu, apalagi coba artinya kalau bukan sayang?” “Hhh…” Raya menghembuskan nafas. Siapa sih yang coba ia bohongi selain dirinya sendiri? Memang benar, dia masih sayang pada sang mantan. Terlepas dari semua yang terjadi, sulit baginya untuk melupakan perasaan itu. “Bagus dong kalau dia sekarang baik sama kamu? Berarti kalian bisa balikan. Jadi masalahnya dimana? Kok mukamu kusut banget.” “Masalahnya Ndah, Mas Damar ternyata udah nikah tiga bulan lalu. Dan istrinya lagi hamil.” “Apaaa???” Indah terbelalak. Beruntung temannya itu tidak sedang meminum kopinya, kalau tidak bisa habis Raya terkena semburan kopi. “Kok bisa?? Gimana ceritanya??” Raya lagi-lagi menghela nafas, dan menceritakan segala hal yang terjadi sejak pertama ia ke rumah sakit. Reaksi Indah dari terkejut berubah jadi kecut, persis seperti adiknya, Rayi. “Jadi kamu ini sekarang ngurusin suami orang, disuruh-suruh ibunya, dimaki-maki istrinya, dan kamu terima aja, Raya?” Indah memijat kepalanya. “Aku ngerti kamu masih sayang, tapi ya jangan berlebihan juga begonya Ray.” “Habis gimana, Ndah. Aku nggak tega biarin Mas Damar sendirian disini.” “Emang setelah ini, apa yang kamu harapin dari dia?” Raya mengangkat bahu mendengar pertanyaan sang sobat. “Aku nggak tahu.” “Terus? Kenapa kamu masih disini?” “Ya karena aku kasihan sama dia, Indah. Kupikir ya sudah, aku temenin aja. Toh nggak lama lagi dia bakal balik Jakarta dan aku nggak akan ketemu lagi sama dia.” “Aku nggak ngerti pola pikirmu.” Indah geleng-geleng. “Terus reaksi mantanmu itu gimana selama kamu disini? Ngajak balikan?” “Bukan ngajak balikan lagi. Dia nganggep aku tetap pacarnya karena dia nggak ingat sama istrinya sama sekali. Bahkan setelah ingatannya kembali sedikit, Mas Damar bilang mau ceraikan cewek itu dan nikah sama aku.” “Ya amplop. Makin rumit aja jadinya. Kamu bilang apa dong? Mau nikah sama dia kalau dia udah cerai?” “Nggak maulah, aku nggak mau jadi perusak hubungan dia sama istrinya. Biar masih sayang, aku nggak ingin jadi penyebab dia cerai dan merusak rumah tangganya.” “Kayaknya udah telat deh Ray.” “Maksudmu?” “Ya dengan Damar memilih kamu daripada istrinya, terus kamu tetap disini, itu sebenarnya udah bikin rumah tangga dia rusak tanpa kamu sadari.” Indah berkata blak-blakan. “Meskipun bukan maumu, Ray.” “Hhhhh….” Lagi dan lagi, Raya menghembuskan nafas pasrah. Meski Damar yang duluan selingkuh waktu mereka masih pacaran, tetap saja sekarang ia yang jadi pelakor. “Harapanku sih Mas Damar bisa cepat ingat istrinya, Ndah. Aku udah lama ikhlasin dia, jadi kuharap kalau ingatannya balik total, dia bisa lupain perasaannya ke aku seperti pas mutusin aku waktu itu.” “Kalau ternyata pas ingatannya balik dia malah tetap mau sama kamu, gimana dong Ray?” Tanya Indah lagi. “Tau ah, aku malas mikirin itu.” Raya bergidik. “Udah nggak usah bahas dia lagi. Jadi gimana cerita di kantor? Maaf ya, aku jadi repotin kamu karena aku kerja dari sini.” “Nggak masalah kok Ray, Pak Adya nggak pernah ngerepotin aku. Kalau cuma masalah kopi atau nerima tamu sih udah biasalah.” “Makasih ya Ndah, secepatnya aku bakal balik ke kantor deh.” “Iya dong, jangan disini lama-lama.” Raya masih mengobrol dengan Indah saat melihat seseorang di kursi roda melewati depan kafe itu. Secepat kilat Raya memanggil dan menghampirinya, setelah sebelumnya pamit pada Indah. “Mas Fajar!” Fajar tersentak dan menoleh, lalu tersenyum padanya. “Eh, Raya.” Ujarnya. “Lagi beli kopi?” Ia bertanya ramah. “Iya Mas, kebetulan ada teman yang lagi kesini.” Jawab Raya sembari menunjuk ke Indah. Ia senang karena sikap Fajar padanya tak berubah meski beberapa hari lalu lelaki ini menyaksikan langsung Damar menciumnya. “Mas Fajar mau kemana? Kok sendirian?” “Mau MRI. Ini sama suster Desi kok, cuma suster Desi lagi ke toilet jadi aku nunggu disini.” “Ooh. Kirain sendiri. Kalau sendirian, aku bisa temenin.” Tawarnya langsung. “Nggak kok.” Fajar tertawa kecil. “Udah, balik sana ke temenmu, dia nungguin. Nanti kita kan bisa ngobrol lagi di kamar.” Lelaki ringkih itu mengerling ke arah Indah yang memperhatikan mereka. “Oke, aku balik dulu ya Mas.” “Yaa.” Raya masih tersenyum lebar saat kembali ke mejanya, yang tentu saja membuat Indah penasaran. “Siapa tuh?” “Teman sekamarnya Mas Damar.” “Akrab banget kamu sama dia?” Indah menaikkan satu alisnya. “Jangan-jangan yang bikin kamu betah disini bukan mantanmu itu ya, tapi dia?” “Ah kamu ini ada-ada aja deh Ndah.” Raya mencubit gemas lengan sang sobat, berusaha menyembunyikan salah tingkahnya sendiri. “Nggak gitu kok, aku cuma sering ngobrol aja sama dia. Enak orangnya dijadikan teman.” “Lebih dari temen juga nggak apa-apa kok Ray. Selama dia juga jomblo, aku dukung kamu sama dia, daripada sama mantanmu yang udah punya istri.” Sindir Indah telak. “Ck, bahas itu lagi kan.” “Makanya, jadi orang jangan terlalu bucin.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN