Damar POV
Dua minggu sudah Damar dirawat di rumah sakit, dan sedikit demi sedikit, ingatannya mulai kembali dalam bentuk potongan-potongan. Ada yang muncul saat ia terapi, ada yang kembali dalam bentuk mimpi, ada yang ia ingat ketika melewati sesi hipnosis bersama psikolognya.
Salah satu kenangan yang paling banyak muncul adalah ingatannya soal Ratih, seperti siang ini, saat Damar akhirnya ingat kapan ia memutuskan untuk menikahi wanita itu.
“Jadi Damar sudah ingat banyak hal soal istrinya?” Bu Heni, psikolog yang menanganinya, bertanya saat sesi terapi mereka. Damar mengangguk, wajahnya datar.
“Ada yang salah dengan itu? Sepertinya Damar tidak terlihat antusias meski ingatan soal Ratih sudah kembali.” Psikolognya bertanya lagi.
“Saya memang ingat banyak hal tentang Ratih, tapi perasaan saya padanya sekarang tidak tersisa. Yang ada malah perasaan saya pada Raya tambah besar.”
“Begitu ya?” Komentar wanita paruh baya itu. “Mungkin ini jawaban kenapa Damar hanya ingat soal Raya setelah kecelakaan.”
“Maksud ibu?”
“Bisa jadi ini manifestasi perasaan bersalah Damar karena pernah mengkhianatinya. Jadi ketika otak mengalami trauma yang menyebabkan cedera berat, ingatan penting yang diprioritaskan akan tetap ada saat yang lain hilang. Dalam kasus Damar, karena di pikiran bawah sadar Damar masih memprioritaskan Raya, ingatan soal dialah yang muncul.”
“Oh…” Damar mengangguk-angguk. Ia memang merasa bersalah sekali pada Raya sekarang, dan heran kenapa baru sekarang ia merasa begitu, setelah ingatannya hilang. Harusnya sedari awal ia tidak pernah selingkuh.
“Apakah yang saya rasakan ini permanen, bu? Sebetulnya saya ingin menjalin hubungan kembali dengan Raya.”
“Saya tidak bisa berkomentar soal itu, karena seperti ingatan, perasaan pun bisa saja kembali atau hilang nanti.” Bu Heni menjelaskan. “Damar bisa coba berinteraksi dengan Ratih, memperbanyak kontak fisik agar ingatan juga perasaannya bisa muncul. Sementara dengan Raya, sebaliknya, justru dikurangi interaksinya. Agar Damar bisa lebih yakin dengan perasaannya sendiri.”
Kening Damar berkerut mendengar saran itu. “Kenapa jadi terbalik, bu? Saya kan mau menikah dengan Raya, dan ingin bercerai dengan Ratih.”
“Sebelum kecelakaan terjadi, Damar kan sudah memutuskan Raya dan telah menikahi Ratih. Ini pasti ada alasannya yang Damar sekarang mungkin belum ingat. Dengan memperbanyak kontak bersama Ratih, mungkin akan mempercepat ingatan kembali. Kalau setelah semua ingatan kembali perasaan Damar tidak berubah, baru Damar bisa bertindak lebih yakin.”
Penjelasan psikolognya masih terngiang di kepala Damar hingga ia kembali ke kamar rawat inapnya. Kini Damar termenung, memperhatikan Raya yang sedang mengganti perban di kepalanya. Pacarnya yang setia menunggui selama dua minggu ke belakang meski sebenarnya status mereka menggantung.
Ia sayang, sangat sayang pada Raya, tapi apa yang dibilang oleh Bu Heni mulai mempengaruhinya. Pasti ada alasan kenapa ia waktu itu lebih memilih Ratih yang baru ia kenal dibanding Raya yang lebih dulu bersama dengannya. Apa benar ia waktu itu sudah bosan dan malah jatuh cinta pada Ratih?
“Kenapa Mas? Kok Mas ngeliatin aku gitu?”
“Ng.. Nggak apa-apa. Makasih ya, Ray.” Ucapnya tulus. Raya mengernyitkan dahi.
“Tumben, mas?”
“Ya. Aku beruntung, ada kamu yang temani aku disini.”
Gadis manis itu hanya tersenyum lemah, dan hati Damar semakin bergejolak dibuatnya. Seandainya ia tak menikahi Ratih beberapa bulan lalu, Raya pasti tidak setengah hati seperti ini berada disini bersamanya. Mereka mungkin akan mempersiapkan pernikahan mereka dengan penuh semangat. Tapi sekarang, hubungannya dengan Raya berada di ambang kehancuran. Karena kesalahannya sendiri yang bahkan hingga sekarang tak bisa ia pahami alasannya.
Raya melanjutkan memperban kepalanya, dan posisi mereka sekarang begitu dekat. Damar memperhatikan wajah Raya yang fokus pada perban, bibir tipisnya kini begitu menggoda. Ia mendekat, berniat mencuri ciuman dari gadis manis itu untuk yang kesekian kali saat kepala Raya tiba-tiba terhentak ke belakang.
“Jadi selama gue nggak disini, lo kesempatan ya ngegoda Mas Damar??” Seorang wanita hamil muncul di balik badan Raya. Tangannya mencengkram rambut sang pacar, menariknya hingga badan Raya yang kurus terhuyung. Damar terbelalak, kaget melihat Ratih yang tiba-tiba hadir.
“Aduh,” Pekik Raya, berusaha melepaskan tangan Ratih dari kepalanya. “Nggak mbak, sumpah. Saya lagi mau ganti perbannya Mas Damar.” Ringisnya.
“Alasan lo! Gue lihat jelas kok lo mau cium suami gue!!” Ratih masih emosi.
“Dasar pelacurr!” Satu tangannya hampir ia layangkan pada Raya saat Damar menangkapnya.
“Berhenti, Ratih.” Perintah Damar tegas. Ratih tersentak, menoleh ke arahnya sekarang.
“Mas, mas udah inget sama aku?” Wanita berbadan dua itu menatapnya, ekspresinya yang tadi penuh emosi berubah jadi haru. Damar mengangguk, dan Ratih sontak memeluknya.
“Maas…” Suaranya tercekat. Damar menepuk lembut punggung Ratih, berusaha membiasakan diri meski rasanya ia sekarang sedang berpelukan dengan orang asing. Baru sedikit ingatannya yang kembali, tapi perasaannya pada Ratih malah belum kembali.
“Gimana perasaan mas?” Wanita itu menatapnya sekarang.
“Baik.”
“Syukurlah. Aku kangen banget.” Belum sempat Damar merespons ucapan itu, Ratih kini mencium bibirnya.
Harusnya ia mundur, melepaskan diri. Tapi sesuatu terasa sangat familiar dengan pagutan itu. Jadi ketika Ratih memainkan lidahnya, tanpa sadar Damar malah mencumbunya balik. Senang karena bisa bermesraan lagi, istrinya kini mulai mengelusi kejantanannya dari balik selimut, dan Damar hampir kalah dengan gairahnya saat teringat seseorang. Raya.
Buru-buru Damar melepaskan diri dari Ratih dengan memegang kedua pundaknya. Pandangannya celingukan ke tempat Raya berdiri tadi, dan gadis itu sudah tidak ada. Begitu pula dengan tasnya yang tadi ada di sofa. Raya pasti tadi shock melihatnya berciuman begitu sehingga ia pergi tanpa basa-basi.
“Kenapa Mas?” Tanya Ratih heran, tapi Damar tidak menghiraukannya.
“s**t!” Umpatnya saat sadar Raya telah pulang dan mungkin tidak akan kembali lagi. Sementara itu, Ratih tampaknya paham sekarang penyebab mood Damar yang tiba-tiba turun.
“Ngapain sih mas cariin dia? Kan udah ada aku. Biar aku yang urus mas disini.”
“Diam kamu.” Bentakan Damar langsung membuatnya terdiam. “Aku masih ada urusan sama Raya, Raya harus tetap disini menemaniku.”
“Tapi kan mas…”
“Pinjam hapemu. Aku mau telpon Raya. Aku harus bicara sama dia biar dia nggak salah paham.” Ratih mengerutkan dahi mendengar permintaannya.
“Salah paham? Karena kita ciuman tadi?? Wajar dong mas, kan kita suami istri.”
“Aku harus tetap bicara sama dia. Mana?” Tangan Damar masih terulur, menunggu Ratih meminjamkan ponselnya. Tapi Ratih masih bersikeras.
“Kok Mas nyariin mantan mas terus sih? Aku ini istri mas lho!” Protesnya.
“Diam! Kalau kamu nggak mau nurut, mending kamu balik ke Jakarta.” Damar menatapnya tajam, dan wanita itu menunduk, takut. “Sekarang, siniin hapemu.”
Dengan setengah hati, Ratih mengeluarkan ponsel dari tas tangannya, membuka kuncinya lalu menyerahkannya pada Damar. Saat Damar mengetikkan nomor Raya yang masih ia hapal, tiba-tiba nada dering familiar berbunyi dari arah sofa.
“Ini ponsel dia, Mas?” Tanya Ratih yang mengambil dari balik bantal. “Ini yang telpon kayanya ibunya.” Diberikannya ponsel dengan case warna ungu itu pada Damar, yang langsung mengangkat panggilan itu.
“Ya?”
“Loh, ini bukan nomor Raya?” Suara seorang wanita paruh baya. Damar berdehem.
“Ah, benar bu, ini nomornya Raya. Tapi ponselnya ketinggalan disini makanya saya yang angkat.”
“Ini dengan siapa ya?”
“Saya Damar, pacarnya.” Jawab Damar, mengabaikan tatapan mata protes Ratih.
“Aaah, pacarnya Raya ya! Yang kerjanya akuntan di Jakarta itu bukan ya?” Suara sang ibu berubah ramah saat Damar mengiyakan.
“Saya ibunya Raya. Sebelumnya sudah pernah dengar soal pacarnya Raya, tapi Raya nggak pernah mau bawa Damar ketemu sama saya.”
“Iya bu, soalnya saya memang jarang ke Batam, hanya sebulan sekali.” Balas Damar, sembari mengibaskan tangannya asal pada Ratih. Istrinya itu mendengus kesal, tapi menurut dan kini duduk di sofa.
“Hmm, ibu mau bicara dengan Raya? Mungkin bisa telepon ke Rayi saja, biar disambungkan dengan Raya…”
“Eh, nggak kok. Kebetulan sekali nih ibu bisa bicara dengan Damar. Sebetulnya ibu ada perlu, kira-kira Damar bisa bantu tidak ya?”
“Oh, tentu saya akan usahakan bantu bu semampu saya.” Duduk Damar menegak mendengar permintaan itu. Bisa jadi ini tiketnya untuk meminta Raya kembali. “Soal apa ya bu?”
“Jadi begini…”