Raya POV Raya kembali bekerja dengan perasaan yang campur aduk. Di satu sisi lututnya masih lemas akibat perbuatan mantan pacarnya di ruang tangga darurat. Di sisi lain perutnya seperti dipenuhi kupu-kupu beterbangan karena pacar barunya. Sungguh hari yang aneh, dan ini bahkan belum jam 2 siang. Raya membatin. Ah udah ah nggak usah mikirin apapun, lihat ini dokumen numpuk. Raya kemudian menyalakan komputernya, mengecek email dan dokumen yang harus ia periksa sebelum diteruskan pada sang bos. “Ray, kok tadi kamu nggak jadi makan ke bawah sih? Udah kutungguin padahal sama yang lain.” “Ah, tadi kebetulan aku ada tamu, Ndah. Jadi aku di kafe aja sama dia.” Raya tersenyum tipis, lalu kembali fokus ke komputernya. “Tamu siapa? Bukan orang-orang yang waktu itu kan?” Tanya Indah, merujuk pad

