Hamil, kata itu seolah terus terngiang-ngiang, aku masih terdiam mencerna semua yang begitu tiba-tiba terjadi padaku. Kenapa dan kenap, pertanyaan itu terus ada dalam benakku, kenapa harus sekarang, disaat aku bahkan belum sehari aku dan Kia menjadi sepasang kekasih. Aku mengusap wajah kasar, saat ini pikiranku bercabang, berantakan. Kemudian aku menatap ke arah cermin yang memantulkan diriku dengan dua aura wajah yang berbeda. Arvin menatapku dengan penuh tanya, "Gue jadian sama Kia, vin." ucapku pelan bahkan terdengar sangat lirih dan itu membuat Arvin tersentak. "Gue sayang sama Kia, gue tahu lo juga ngerasain itu. Terus kita harus gimana?" tanyaku pada Arvin. "Kita belum bisa apa-apa, cuma satu. Kita harus mastiin dulu kebenaran Chika, res." jelas Arvin tenang. "Jadi kita harus

