Part 14 Tak terduga

1018 Kata
Cafe ini cukup ramai, mungkin karena jam istirahat para pekerja atau memang aku yang baru menyadari situasi di cafe ini. Sudah setengah jam, aku duduk ditemani dengan secangkir kopi, pikiranku melayang, memikirkan pesan yang aku  baca tadi malam. Ares belum tahu, pesan itu langsung ku hapus. Aku tak tahu bagaimana caranya mengatakan hal itu  kepada  Ares. Bahkan sebelum aku mengatakannya, aku sudah menduga bagaimana ekspresi yang akan Ares tunjukan. Tapi aku juga tak bisa terus menutupi semua yang terjadi apalagi hal penting seperti ini. Aku menghembus nafas pelan, memikirkan cara untuk berbicara tanpa membuat Ares terkejut nanti, meski aku tahu itu tak akan mungkin.   Kedua mataku menangkap sosok gadis yang tengah berdiri dibelakang meja kasir. Senyumnya tak pernah pudar, entah apa yang sedang ia bicara dengan teman sesama karyawan disini, sampai aku melihat dia beberapa kali tersenyum. Aku tak bisa mengabaikan apa yang ada di depan mataku, tanpa ku sadari dia terlalu menarik perhatianku. "Ares.." suara indah itu terdengar di telingaku, begitu dekat dan begitu merdu. "Ares..!!" aku terkejut. Sejak kapan dia berada di hadapan gue? -batinku.  "Kamu, aku panggil malah gak nyaut. Ngelamun apa sih? Sampe gak tahu aku panggil kamu." cerocosnya. Sementara aku masih diam menatap dia yang terlihat begitu menggemaskan saat berbicara. Ah.. apa tadi, menggemaskan? Sejak kapan seorang Arvin bisa mengatakan hal itu?  Kia, jadi perempuan itu sekarang sudah banyak bicara bahkan begitu santai saat berbicara padaku. Tak seperti awal kami bertemu dan aku tak menyadari hal tersebut.  "Res.. Mikirin apa?" tanya dia yang sudah duduk di hadapanku.  "Nggak." balas gue singkat seperti biasa.  "Kamu sendiri?" tanya Kia. "Udah beres kerja?" aku balik bertanya, tanpa menjawab apa yang sebelumnya ia tanyakan. Dia mendengus, "Udah, kamu sendiri?" tanya dia lagi. Aku hanya mengangguk. Setelah itu kami sama-sama diam. Aku dengan pikiranku sendiri, dan diapun sama begitu. Lalu, mata kami saling menatap, aku bisa lebih dekat melihat mata dia yang berwarna hitam pekat. Berbeda dengan mata gue, coklat. Garis wajahnya begitu sempurna, alisnya yang tebal, bulu mata yang lentik. Damn..!! Bibir dia, merah merona. Sedetik atau semenit, aku begitu  menikmati apa yang ada di hadapanku sekarang ini. Begitu juga dengan dia, mungkin. "Semalem.. Itu.." "Kenapa?" aku memotong perkataannya. "Kamu chat aku soal yang waktu itu." "Apa?" aku pura-pura lupa, aku tahu dia akan membahas tentang pesan yang aku kirimkan padanya tadi malam.  Dia diam, mungkin sedang berpikir. Kemudian dia menggeleng sambil tersenyum kecil. Aku tahu apa yang akan dia katakan, tentang jawaban Ares yang menyatakan cinta padanya. Semalam dia memang tak  membalas pesan yang sudah aku kirim, mungkin dia belum siap menjawabnya. Tapi ternyata aku salah, aku bisa  melihat matanya yang memancarkan kesungguhan, kalau dia akan menjawabnya sekarang. Kalau saja situasinya masih sama, mungkin aku akan menyuruh dia untuk menjawab pernyataan itu. Tapi, kali ini berbeda. Waktunya sudah tak tepat lagi, semuanya sudah tak sama lagi. Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?  Keheningan menyelimuti kami lagi, aku bahkan tak pernah lepas menatap Kia yang saat ini tengah menunduk memainkan jari tangannya. Aku tahu, dia bingung begitu juga denganku. Bukan sekarang waktunya, aku ataupun Ares belum bisa mendengar jawaban dari Kia. ______  Jalanan sore ini cukup lenggang, aku mengendarai mobil dengan kecepatan rata-rata. Setelah dari cafe tadi, aku kembali ke kantor dan meninggalkan Kia dengan pikirannya sendiri. Aku jahat? Mungkin. Lampu merah membuat aku memberhentikan mobil, beberapa pejalan kaki berlalu lalang di hadapanku yang duduk di balik kemudi mobil ini. Tanpa sengaja, tatapanku tertuju pada seorang wanita yang menggunakan pakaian berwarna biru, rambut yang terurai dengan tas kecil di punggungnya.  "Nggak, itu gak mungkin dia." gumamku yang masih melihat pergerakan dari perempuan itu.  ______  "Lo kenapa sih vin, seharian ini bikin gue jadi gak bisa ketemu sama Kia." protesku pada Arvin. "Vin.." ucapku lagi, sepertinya dia tak mendengar apa yang aku katakan. "Arvindo..!!" teriakku membuat dia mulai menatap ke arahku dengan tatapan tajamnya. Wajahnya terlihat seperti biasa, dingin. Tapi ada sesuatu yang aneh, entah hanya perasaan aku atau memang Arvin sedikit terlihat khawatir? "Vin.. Lo gak bikin masalah kan?" tanyaku serius. Tapi, Arvin masih diam, seolah dia sedang sibuk dengan pikirannya. Semua itu tak luput dari perhatianku, sebenarnya ada apa? Apa dia menyembunyikan sesuatu dariku? Apa itu?  "Arvin.. Gue ngomong sama lo." geramku karena dia sama sekali tak terlihat konsentrasi. Ku lihat dia menghembuskan nafas pelan, menatapku dengan tatapan yang berbeda dari biasanya. Aku tahu, dia menyembunyikan sesuatu. Ya, aku sangat yakin bagaimanapun juga kita berada dalam satu tubuh yang sama, meski sikap kita berdua jauh berbeda tapi sering kali apa yang kita rasakan itu sama. Termasuk sekarang, ke khawatiran yang tampak terlihat dari sorot matanya mampu membuat aku merasakan hal yang sama. Entah alasan apa tapi perasaan ku kali ini sama khawatirnya dengan apa yang Arvin rasakan.  "Gue lihat dia res." ucap Arvin pelan, setelah terdiam cukup lama.  Aku hendak mengeluarkan suara, tapi suara handphone membuatku mengalihkan pandangan ke arah meja yang tak jauh dari tempatku berdiri saat ini. Aku memilih untuk melangkah mendekati meja itu kemudian mengambil handphone yang berada di atas meja lalu kembali mendekati cermin, menatap Arvin. Arvin diam, aku akhirnya membuka pesan itu. Dari Kia. [Ares, tadi aku mau bilang jawaban dari pernyataan kamu waktu itu. Maaf aku bilang ini lewat chat, di cafe tadi aku agak malu, kamu juga kayanya gak nanya lagi. Ares.. Sebenarnya aku juga suka sama kamu.] Selesai membaca pesan itu aku tersenyum, rasanya begitu sulit untuk diungkapkan dengan kata yang lebih dari bahagia. Aku bahkan sudah tak sabar untuk bertemu dengan Kia, pacarku semenit yang lalu. Aku menyimpan handphone ke saku celana dan kembali menatap Arvin masih dengan senyum di wajahku sampai aku ingat dengan apa yang tadi Arvin katakan, soal dia.  "Dia? Maksud lo siapa?" tanyaku pada Arvin. Aku bingung apa yang sebenarnya akan Arvin katakan dan siapa itu "dia".  "Chika." Deg. Hanya mendengar namanya saja, aku langsung terdiam.Waktu seolah berhenti begitu saja, perempuan itu kenapa harus sekarang? bahkan aku baru saja merasakan bahagia karena bisa memiliki Kia, tapi kenapa dia hadir disaat yang tidak tepat dan aku benar-benar melupakan keberadaannya.  "Dia hamil res." lanjut Arvin.  Shit. -batinku mengumpat.  Hamil? Kenapa? Aku benar-benar dibuat diam dengan semua yang Arvin katakan, semuanya terlalu mendadak bahkan aku tak pernah membayangkan ini semua akn terjadi secepat ini dan Chika, perempuan itu hamil? Ada rasa menyesal yang muncul dalam hatiku setelah kembali teringat Kia sudah resmi mejadi kekasihku, aku sudah menarik dia kedalam hidupku dan, sekarang aku harus bagaimana? 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN