"Lo ditolak." ucap Arvin meledekku.
"Bukan ditolak, tapi belum di jawab. Beda arti."
"Ck.. Sama aja, lagian lo sih b**o. Pake nembak dia segala, emang lo beneran suka sama dia?"
"Lo juga suka kan." selidik gue menatap Arvin.
"Kata siapa?"
"Gue." Arvin terdiam cukup lama.
"So tahu." balasnya.
"Yaudah liat aja nanti, kalau udah jadian. Gue yakin lo bakal terbiasa sama kehadiran dia." ucapku.
Mengingat malam itu, aku malah menjadi sedikit khawatir. Karena sampai hari ini aku belum juga mendengar jawaban apapun dari Kia. Kita belum bertemu lagi setelah jalan-jalan dua hari yang lalu.
***
"Aku suka sama kamu." ucapku pada Kia.
"Ki.." aku menggenggam tangannya erat. Dengan tatapanku yang tak luput dari matanya. Dalam hati aku berharap semoga dia menerimaku, atau mungkin dia akan menolakku?
"Aku gak bisa." satu kalimat itu membuatku secara refleks melepas genggaman tangan ini. Kenapa aku merasa tak rela saat dia mengatakan kalimat itu.
"Aku gak bisa, jangan minta jawaban sekarang." lirihnya. Aku mengerti, dan aku tahu mungkin dia cukup terkejut dengan apa yang aku katakan. Dia mungkin hanya butuh waktu saja dan aku akan memberikannya asalkan jawabannya adalah aku. Tapi apakah itu bisa menjamin dia menerimaku?
"Oke, aku gak akan minta jawaban kamu sekarang. Tapi aku beneran suka sama kamu, gak tahu sejak kapan tapi setelah kita sering ketemu, bikin aku terbiasa sama kamu." ucapku akhirnya.
Ya, ini begitu klise memang. Cinta datang karena terbiasa, perkataan yang selalu dikatakan oleh beberapa orang. Aku sendiri memang masih ragu, apa benar aku jatuh cinta pada dia karena selama ini aku sudah terbiasa melihat dia di setiap hariku. Kia mengangguk, menyetujui apa yang baru saja aku katakan, aku harap dia memiliki perasaan yang sama seperti apa yang saat ini aku rasakan.
"Aku masuk dulu." ucapnya.
"Iya, good night ki." balasku. Kia keluar dari mobil dan berjalan ke dalam rumahnya. Aku masih diam di tempat yang sama, sampai dia benar-benar masuk kedalam rumah. Sebelum menutup pintu, dia menatap ke arahku dan tersenyum kecil. Sampai kapan aku bisa menunggu jawabannya?
***
Aku menghembuskan nafas pelan, apa begini rasanya menyatakan perasaan pada seorang perempuan dan berakhir tanpa jawaban? Gantung? Apa yang aku lakukan itu benar? atau aku terlalu gegabah dan memutuskan hal yang salah?
Aku memejamkan mataku, hari ini cukup melelahkan karena aku sibuk kerja, ditambah dengan memikirkan jawaban apa yang nanti Kia katakan padaku, bahkan sampai detik ini aku masih belum bisa bertemu dengan Kia. Sore ini aku sepertinya memilih untuk tidur saja dan berharap di dalam mimpi aku bisa bertemu dengan Kia dan tahu perasaan dia padaku. Meski hanya sebuah mimpi.
______
Saat Ares menutup mata, artinya aku bisa bangun.Dua hari ini aku memang tak melakukan apapun, Ares yang mengambil alih tubuh ini. Tapi bukan berarti aku tak tahu kalau Ares menyatakan perasaannya pada gadis yang bernama Kia itu. Aku bahkan cukup terkejut, saat dia mengatakan hal itu pada Kia dua hari lalu di dalam mobil. Entah keberanian dari mana yang telah merasuki diri Ares, aku tak tahu.
Tadi, setelah aku berhasil meledek dia karena pernyataan cintanya yang di tolak atau lebih tepatnya di gantung oleh Kia, dia malah bilang kalau aku menyukai Kia juga. Dia salah, aku tak memiliki perasaan apapun pada Kia kecuali karena dia mengingatkan aku pada sosok Aruna, aku selalu membantah perasaan yang terselip di dalam hatiku, aku tak menyukai Kia karena jika aku menyukai dia bahkan jatuh cinta pada dia, aku takut itu hanya karena Aruna, gadisku.
Aku ragu dengan apa yang saat ini aku rasakan. Kenyamanan yang Kia berikan setiap kali kita bersama, atau bahkan senyum dia yang bisa aku lihat setiap kali dia bersama dengan Ares. Aku meragukan perasaan ketertarikanku ini. Selalu ada saja pertanyaan yang muncul dalam benakku, apakah perasaan yang saat ini aku rasakan sama seperti yang Ares rasakan? Ingin memiliki Kia seperti yang Ares inginkan? Atau perasaan ini adalah rasa sesaat, sebagai sebuah kepuasaan dan pelarianku karena kehilangan Aruna?
Sampai aku menemukan jawaban yang tepat, aku tak akan bertindak gegabah. Aku ingin mencaritahu apa yang aku rasakan pada Kia. Gadis manis yang saat ini mengisi hari-hari aku dan Ares. Memikirkan semua itu membuat terdiam, sampai tatapan mataku tertuju pada sebuah foto diatas meja samping tempat tidur. Lagi, itu adalah foto kami, Aku dan Aruna.
Aku mengambilnya, kemudian kembali bersandar diatas tempat tidur. Ini yang aku ragukan atas perasaan yang hadir karena kedatangan Kia dalam hidup ini. Setiap kali aku melihat sosok Aruna dalam sebuah foto, saat itu juga aku seolah tak bisa melihat objek lain selain dirinya. Bahkan tak terkecuali Kia, Aruna terlalu melekat dalam hatiku. Meski saat ini Ares lebih dominan pada sosok lain dan itu Kia, hatiku tak pernah sama. Meski aku dan Ares berada dalam tubuh sama, sejujurnya kami memang sangat berbeda.
Dulu mungkin kami jatuh cinta pada perempuan yang sama, pada Aruna yang merupakan adik sepupu kami. Tapi sekarang, sangat berbeda. Ares jatuh cinta pada Kia tanpa sebuah keraguan, sementara aku masih diselimutin keraguan yang amat kuat dan aku memang tak bisa memilih begitu saja. Meski aku tahu aku harus melangkah maju, membuka hatiku untuk yang lain. Aku sedang berusaha dan semoga apa yang dikatakan Ares benar, aku akan jatuh cinta pada Kia seperti Ares agar semuanya tak merasa sulit.
"Aku kangen." lirihku sambil melihat foto Aruna.
"Aku mau ketemu kamu."
"Harusnya kamu gak pergi."
"Aku butuh kamu."
Semua seolah tercurahkan, mereka tak pernah tahu di balik sikap dinginku sebenarnya aku menyimpan luka yang begitu dalam. Kepergian Aruna begitu membuatku hancur, meski telah lama dia pergi dari dunia ini. Setiap kali aku melihat fotonya, aku selalu berharap bisa memeluknya, aku merindukannya.
Suara handphone diatas meja membuat fokusku teralihkan, aku kembali beranjak dari tempat tidur. Kemudian menyimpan kembali foto Aruna dan mengambil handphoneku. Pesan dari Billy yang memberitahu tentang anak perempuan pak Jaya, setelah mengirim balasan pada Billy. Aku membuka kontak Kia, dan menuliskan pesan untukknya. Mungkin ini memang yang terbaik, terutama untuk Ares. Aku menyuruh Kia untuk memberikan jawaban tentang perasaannya besok, dan sekeras apapun aku menyangkalnya tak bisa di bohongi bahwa hati kecilku tak pernah menolak kehadiran Kia dalam hidup ini dan aku sedikit demi sedikit telah tertarik pada gadis itu, kepada Kianara.
Aruna.. Apa aku bisa melepas kamu dan memulai semuanya dari awal bersama dengan Kia? Apa kamu bahagia kalau aku bisa menemukan perempuan lain? -batinku.
Aku merebahkan tubuhku sampai saat aku akan menutup mata, suara handphone kembali terdengar. Aku menegakkan tubuhku dan segera meraih handphone itu, mungkin dari Kia. Tapi seolah ada sebuah batu besar yang menghantamku, pesan itu bukan dari Kia melainkan dari nomor asing yang membuatku tertegun. Bahkan mungkin dengan wajah yang sudah pucat pasi. Apalagi saat melihat satu nama yang tertulis di bawah pesannya, aku berulang kali membacanya berharap apa yang ditulis itu salah tapi berulang kali aku melihatnya dan membaca pesan itu, isinya tetap sama.
[Ar, aku hamil.]