Satu bulan kemudian..
Aku sudah mulai terbiasa dengan suasana kantor, meeting dan segala macam urusan yang ada sangkut pautnya dengan pekerjaanku sekarang. Hari minggu ini, aku berencana mengajak Kia untuk pergi jalan-jalan. Kebetulan dia libur kerja juga. Hubunganku dengan Kia sekarang memang semakin dekat apalagi setelah kejadian yang terjadi di pesta satu bulan yang lalu. Tadinya aku berpikir, apa yang aku lakukan akan membuat hubunganku dan Kia akan kembali ke awal. Canggung dan tak saling mengenal, tapi ternyata semuanya biasa saja bahkan Kia seperti tak terlalu mempermasalahkan apa yang sudah terjadi.
Aku benar-benar beruntung, karena dengan begitu aku hanya butuh usaha untuk mendekatinya lebih jauh. Seperti yang terjadi selama satu bulan ini, aku sudah sering menjemput Kia setelah selesai bekerja di cafe maupun setelah kuliah. Jika memang pekerjaanku sudah selesai atau tak begitu menumpuk, maka aku akan menjemut dia.
Jam menunjukkan pukul 10 pagi, aku sudah siap dengan pakaian santai, berjalan menuruni tangga dari arah kamar. Pagi ini rumah tampak sepi, papa memang sedang pergi ke Semarang karena ada acara bersama teman satu profesinya dulu. Alhasil hanya ada aku dan beberapa perkerja yang berada di rumah, berjalan ke dapur. Sudah ada satu piring nasi goreng dan juga segelas air putih, akupun segera sarapan.
Selesai sarapan, aku bergegas menuju mobil yang sudah terparkir rapi di depan rumah. Dengan penuh semangat aku sudah begitu siap untuk merealisasikan semua hal yang aku ingin lakukan berdua, bersama dengan Kia.
______
Aku mengajak Kia pergi ke salah satu mall, dengan menggengam erat tangannya aku menarik dia untuk memasuki area mall. Kia tampak terkejut saat aku dengan terang-terangan mengenggam sebelah tangannya sementara aku sendiri merasa biasa aja. Meski memang tak bisa aku pungkiri aku juga sebenarnya tampak gugup.
Aku merasa nyaman bersama dengan Kia, meskipun kali ini hanya berjalan-jalan saja kareana dia tak memiliki keinginan untuk membeli apapun saat aku sendiri yang menawarkan dia untuk berbelanja. Akhirnya aku mengajak dia untuk makan, saat meilhat jam di pergelangan tanganku yang sudah menunjukkan jam makan siang.
"Beneran gak mau beli apapun?" tanyaku di sela-sela makan kami.
Dia menggeleng, "Gak ada yang dibutuhin." jawabnya.
"Abis ini mau kemana?"
"Time zone." dia tersenyum lebar.
"Kaya anak kecil." ucapku terkekeh sambil mengacak rambutnya.
"Emang masih kecil, kamu udah tua." ledeknya.
"Enak aja. Kita cuma beda beberapa tahun." protesku membuat dia tertawa lebar, manis -batinku.
"Iya deh yang beda beberapa tahun, tapi tetep aku paling muda." balasnya. Kamipun tertawa bersama.
______
Satu jam. Kita menghabiskan waktu untuk bermain di time zone. Kia tampak bahagia, wajahnya berseri membuatku tak pernah sedikitpun mengalihkan perhatian padanya. Aku suka saat dia tersenyum. Banyak permainan yang kami coba, dari mulai bermain basket, dance yang dilakukan oleh Kia karena aku lebih memilih melihatnya saja, tanpa ikut bermain. Kemudian berlanjut lagi dengan permainan lain, yaitu mecapit boneka. Aku tertawa melihat Kia yang kesusahan untuk mengambil sau boneka, sampai di percobaan ketiga pun, dia masih gagal dan menyerah. Akhirnya aku yang mecoba dan gotcha dengan sekali percobaan aku bisa mengambil satu boneka beruang yang berukuran kecil, hal itu membuat senyum di bibir Kia kembali mengembang.
Puas bermain, kami memutuskan untuk pulang. Saat ini aku dan Kia sedang berjalan menuju parkiran. KIa masih tersenyum lebar berjalan di sampingku dengan memeluk bonekanya yang di dapat tadi, terlihat seperti anak kecil. Aku sepertinya harus bisa memaklumi saat dia bertingkah kekanak-kanakkan seperti ini, ya maklum saja dia masih begitu remaja dan lagi fakta ini sering kali membuatku kembali berpikir "Aku tak terlihat seperti om yang mengajak keponakannya jalan kan?" Aku menggeleng pelan, tidak semua hanya pemikiran anehku saja.
Aku membuka pintu samping, menyuruh Kia untuk masuk kedalam mobil. Tak terasa hari sudah menjelang sore, kita terlalu menikmati permainan tadi sampai tak tahu waktu seperti ini. Tapi itu tak masalah bagiku, karena dengan begitu aku bisa melihat Kia yang tertawa bahagia. Setelah kita berdua masuk kedalam mobil, aku pun segera melajukan mobil keluar dari parkiran maal ini.
"Makasih ya, udah ajak aku jalan." ucap Kia, saat dalam perjalanan pulang sore ini. Jalanan tampak ramai, membuatku beberapa kali memelankan mobil karena lampu merah dan juga mobil yang melaju di depanku.
"Iya, lain kali kita jalan. Tujuannya kamu yang tentuin." balasku melirik Kia sebentar sebelum kembali menjalakan mobil saat lampu sudah berubah menjadi hijau.
"Boleh." ucapnya membuatku tersenyum kecil.
Hari ini tak bisa aku hitung berapa kali aku tersenyum, rasanya sudah lama sekali aku tak merasa senyaman ini. Bersama dengan Kia dan tertawa bersamanya membuatku kembali hidup. Kia benar-benar membuatku kembali merasa bahagia. Pukul 5 sore, kita sudah berada didepan rumah kontrakan Kia. Tapi begitu melihat ke arah samping, gadis itu sudah terlelap mungkin dia kelelahan karena bermain tadi. Bahkan aku sampai tak menyadarinya tidur dalam perjalanan pulang.
Aku memposisikan dudukku menghadap kearahnya, melihat dia sedekat ini saat dia sedang tertidur lelap adalah hal pertama bagiku. Meski sedang tidur, dia tetap cantik di mataku. Rambutnya yang terikat, membuat leher putihnya begitu jelas terlihat. Aku tertegun sejenak sampai aku kembali sadar dengan apa yang aku pikirkan.
"Sadar res, jangan mikir aneh-aneh." lirihku. Perlahan tanganku menyentuh helaian rambut yang menghalangi wajahnya, menyingkirkan dengan perlahan agar dia tak bagun dari tidurnya. Rasanya aku ingin terus seperti ini, berharap waktu bisa berhenti disini. Agar aku bisa terus melihat wajah polos dari gadis yang saat ini berada di hadapanku.
Aku menyentuh pipinya, lembut saampai sentuhan tanganku membuat dia sedikit terusik. Wajahku semakin mendekat, deru nafasnya begitu hangat menyentuh wajahku. Semakin dekat jarak diantar kami, bahkan satu gerakan lagi bisa membuat bibir kita bersentuhan. Ingin aku mencium bibir merahnya, merasakan lembutnya bibir tipis itu. Tapi aku urungkan, ini belum saatnya dan aku tak ingin menyentuh dia sebelum dia menjadi milikku.
Aku lelaki normal, meski aku tak bisa mencium bibirnya. Satu kecupan manis aku berikan di keningnya, kecupan pertama bahkan membuatku berdebar. Matanya bergerak, membuatku sedikit menjauhkan wajah kami. Perlahan mata indah itu terbuka, membuat kita berdua saling bertatapan cukup lama di jarak yang bisa dibilang dekat. Sampai dia menyadarinya dan tampak terkejut.
"Ares.." ucapnya memundurkan wajah, membuat aku tersdar juga dengan posisi kami.
"Sorry.." akupun kembali menegakkan badanku dan menghadap kedepan, menggaruk kepalaku yang tak gatal dan lagi merutuki apa yang sudah aku lakukan. Untung gak ketahuan -batinku.
"Emm.. Udah sampe. Maaf aku ketiduran." ucapnya terlihat gugup.
"Aku masuk dulu." ucapnya lagi akan membuka pintu mobil, tapi aku lebih cepat menarik lengannya membuat dia urung keluar mobil dan menatapku dengan tatapan seolah bertanya "ada apa?"
"Aku mau ngomong bentar." ucapku. Aku sebenarnya masih ragu, apakah memang harus sekarang atau tidak. Tapi jika tidak sekarang, aku takut tak memiliki kesempatan berdua dengan dia lagi seperti ini mengingat kesibukanku akhir-akhir ini.
"Serius banget sih, ada apa?" tanya dia heran.
"Aku suka sama kamu." entah keberanian dari mana, sadar atau tidak bahkan aku tak mengatakan yang lain dan begitu to the point mengungkapkan semua itu. Kia yang mendengar apa yang baru saja aku katakan, terdiam. Aku bisa melihat dari raut wajahnya yang tampak terkejut. Cukup lama dalam keterdiaman, sampai akhirnya gue memberanikan diri untuk menyentuh kedua tangannya, menatap kedalam sorot matanya.
"Ki.." dia membalas tatapanku, saat sebelumnya tertunduk melihat tanganku yang mengenggamnya.
"Aku gak bisa...." lirihnya membuatku dengan begitu refleks melepaskan gengaman kami.
Apa artinya dia menolak gue?
Ada yang patah tapi bukan ranting.