Pagi ini langit Jakarta terlihat kelabu, rintik hujan bahkan mulai turun sedikit demi sedikit. Aku masih begitu mengantuk mengingat semalam aku baru sampai rumah pukul 10 malam. Setelah mengantar Kia sampai rumahnya, aku memilih untuk pergi menemui Kemal sebelum pulang ke rumah. Tak ada yang bisa aku ajak bicara selain dia, karena jika berbicara dengan Arvin rasanya akan percuma. Apalagi ini tentang Kia, juga semalam saat aku mengatakan bahwa aku serius tentang perkataan ku pada Ando malam itu.
***
"Sekali lagi aku minta maaf, ki." ucapku setelah kami berada di dalam mobil. Aku benar-benar mengajak Kia untuk meninggalkan pesta, meski pesta itu belum sepenuhnya selesai. Mulutku memang tak bisa aku atur, bisa bisanya perkataan itu meluncur dengan begitu mudahnya dari mulutku bahkan di waktu yang sama sekali tidak tepat, membuat keadaan aku dan Kia menjadi sedikit berjarak dan terasa canggung seperti sekarang.
"Gapapa. Lain kali kamu harus pikir apa yang kamu bilang." ucapnya tanpa menoleh ke arahku.
Aku mengangguk, entah dia melihatnya atau tidak. Kemudian menjalankan mobil menjauhi parkiran area pesta itu. Selama perjalanan pulang, keheningan menyelimuti kami berdua. Aku sendiri larut dalam pikiranku, merutuki apa yang sudah aku katakan pada Kia tadi. Ah.. menyebalkan.
Mobil sampai di sebuah rumah sederhana dengan cat berwarna putih, Kia keluar dari mobil setelah mengatakan terimakasih. Aku tak bisa mencegahnya untuk tetap tinggal sebentar saja di dalam mobil, menghembuskan nafas kasar aku pun memilih untuk melajukan mobil kembali.
______
"Ngapain lo?" tanya Kemal saat membuka pintu apartemennya. Tanpa menjawab pertanyaannya, aku langsung memasuki apartemen Kemal, membuat dia berdecak sebal. Aku duduk diatas sofa, memejamkan mata dan masih merutuki diriku sendiri.
"Tumben malem malem kesini. Bukannya tadi lo masih di pesta ya, res." suara Kemal membuatku membuka mata, dia duduk dihadapanku setelah menyimpan dua kaleng minuman dingin di atas meja. Kemal memang datang ke pesta tapi tak lama. Bahkan mungkin hanya menyapa si tuan rumah dan kemudian dia pamit.
"Ada masalah?" lanjutnya.
"Gue baru aja ngelakuin hal konyol, mal."
"Apaan?"
"Ah gue bodoh.."
"Res, lo ngomong apa sih? Gak ngerti gue."
"Tadi lo kan tahu gue ajak Kia ke persta biar gue ada pendamping. Gak terlalu sendiri kaya jomblo."
"Lah lo kan jomblo."
"Ck.. diem dulu. Gue lagi jelasin ini."
"Iya silahkan tuan Ares." ucapnya setengah mengejek.
"Terus gue ketemu si Ando, biasalah lo tahu kan rekan kerja gue yang satu itu, gak bisa kalau gak nanya-nanya pas ada cewek cantik. Nah gue bilang aja kalau Kia itu cewek gue dan sialnya Kia denger itu semua."
"Terus?"
"Gue usir si Ando, terus bilang ke Kia kalau apa yang gue ucapin itu serius. Gue kan gak mau dia malah mikir kalau gue manfaatin keberadaan dia. Tapi dia gak jawab apa-apa, akhirnya gue bilang buat lupain aja." jelasku pada Kemal.
"Bodoh..!!" umpat Kemal.
"Lo gimana sih res, harusnya lo gak usah bilang lagi sama Kia kalau dia lupain aja perkataan lo. Itu malah bikin Kia mikir kalau perkataan lo yang awal gak serius."
"Ya gue baru sadar waktu jalan kesini."
"Sumpah ya, gue baru nemu orang kaya lo. Pinter dalam hal bisnis berbisnis tapi bodohnya gak ketulungan kalau masalah ginian. Mangkanya lo belajar sama gue." cerocos Kemal padaku.
Aku memutar bola mata malas, "Berisik lo, gue itu tujuan kesini buat cerita, bukan denger ceramah lo."
"Yeu.. gue kan cuma berpendapat, lagian lo yang romatis juga dong kalau emang mau bilang begitu."
"Kalau lo rencana mau nembak cewek, yang romatis gitu lah res." lanjutnya.
"Udahlah, gue cuma mau cerita itu doang." ucapku beranjak dari sofa.
"Mau kemana lagi?"
"Pulang..!!" Aku berjalan keluar dari apartemen Kemal, semoga peristiwa hari ini tak membuatku menjadi berjarak kembali dengan Kia. Ya semoga..
***
Aku berjalan keluar dari kamar mandi, dengan handuk kecil yang ku gunakan untuk mengeringkan rambutku. Aku membuka lemari dan memilih pakaian untuk pergi ke kantor. Setelah selesai dengan urusan pakaian dan juga penampilanku, aku segera keluar untuk sarapan bersama papa.
"Pagi pa." sapaku, lalu duduk di hadapan papa.
"Pagi, res. Semalam pulang jam berapa?" tanya papa.
"Jam sepuluh pa, mampir sebentar ke apartemen Kemal."
"Gimana kerjaan kamu di kantor?"
"Lancar pa, cuma aku masih belajar juga sama Billy. Papa kan tahu aku sama sekali gak ngerti kalau masalah perusahaan ayah."
"Iya, kamu harus terus belajar. Lagiapula itu tanggung jawab kamu sekarang."
"Iya pa."
"Arvin gimana?"
"Akhir-akhir ini dia gak begitu sering muncul sih, dia juga gak ngomong apa-apa." ucapku membuat papa mengangguk.
Arvin memang tak begitu sering mengambil alih tubuhku, bahkan untuk sekarang malah tak pernah. Aku juga tak tahu kenapa, mungkin memang dia sedang tidak menginginkannya. Aku tak masalah, toh sudah terbiasa dengan semua yang ada. Termasuk dia yang tiba-tiba mengambil alih tubuhku. seperti sekarang.
______
Aku baru saja sampai di hotel, bukan pergi ke kantor seperti biasa yang Ares lakukan. Aku kesini karena lagi-lagi ada hubungannya dengan Jaya, rival ayah dulu. Aku merasa dia masih berkeliaran, meski pengadilan memutuskan dua tahun penjara. Sepertinya ada orang dalam yang membantu dia bebas berkeliaran. Aku tak bisa membiarkannya, karena lengah sedikit saja bisa jadi dia menusukku dari belakang. Aku benar-benar harus waspada.
"Jadi benar, dia masih bisa berkeliaran di kota ini?" tanyaku pada Billy yang baru saja masuk kedalam ruangan.
"Iya tuan, saya baru mendapatkan informasi dari orang-orang yang tuan perintahkan untuk mengawasi pergerakan pak Jaya. Sepertinya dia memiliki orang dalam sehingga bisa melakukan hal tersebut."
"Apa yang dimaksud orang dalam itu slaah satu anggota kepolisian?"
"Belum di pastikan tuan. Karena kemungkinan ada orang lain yang membantu dia diluar anggota polisi dan jajarannya. Karena keputusan hakim harusnya dia di penjara selama lima tahun, tapi ternyata kemarin keputusan akhir hanya dua tahun saja bahkan tanpa ada denda."
"Sial..! Pantau terus pergerakannya..!" tekanku. Kali ini aku tak boleh lengah.
"Baik tuan."
"Ah... satu lagi, apa dia mengetahui identitas asliku?"
"Sampai saat ini belum tuan."
"Bagus."
"Saya pamit tuan."
Ternyata lawanku sekarang cukup pintar, aku kira akan mudah menaklukan dia tapi aku salah dan semua itu tak bisa aku biarkan begitu saja. Sepertinya aku harus mencoba dengan rencana kedua.
"Lihat saja nanti, Arvin tak akan pernah menyerah." ucapku menyeringai.
______
"Maksuda lo, pak Jaya bisa berkeliaran padahal udah di ponis hukuman dua tahun?" tanyaku setelah mendengar apa yang baru saja Arvin katakan.
"Iya, gue juga gak tahu. Kayanya dia punya bantuan dari seseorang."
"Terus sekarang gimana? Kalau dia bisa berkeliaran dengan bebas, dia juga bisa tahu identitas kita yang asli dengan cepat kan."
"Ya mungkin saja, tapi sampai saat ini dia belum mengetahui semuanya. Termasuk kita yang menjabat sebagai pemimpin di perushaan ayah."
"Bagus, tapi kita harus bertidak, vin."
"Gue udah punya rencana, tapi gue masih ragu buat ngelakuin rencana tersebut."
"Apa rencana lo?"
"Menghancurkan semuanya."
"Semua?"
"Iya, tanpa terkecuali."
"Jangan gila vin..!!" tegasku karena itu artinya dia juga akan melibatkan keluarga pak Jaya yang bahkan mungkin saja tak mengetahui apapun tentang permasalahan di masa lalu.
"Gue serius. Gue harus menemukan anak perempuan pak Jaya. Karena anak itu adalah kelemahannya." ucap Arvin sungguh-sungguh.